Sebuah kecelakaan mengubah hidup Nara Anindya selamanya. Saat membuka mata, dia terbangun di tubuh Bianca Ardhana, istri CEO tempatnya bekerja, sementara tubuhnya sendiri telah dimakamkan. Di balik rumah tangga yang tampak sempurna, tersimpan pengkhianatan, ancaman, dan rahasia yang belum terungkap. Mampukah Nara mengembalikan kebahagiaan keluarga itu tanpa kehilangan hatinya sendiri?
Jangan lupa like dan votenya ya. terimakasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waya520, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Yang Berbahaya
Pagi ini, Nara sama sekali tidak berselera makan. Dia sibuk mengaduk makanannya dengan sendok. Semalaman ia memikirkan pesan dari Damian.
Datang sendiri ke Taman Kota. Jangan libatkan Elvano.
Tangannya yang memegang sendok terlihat sedikit gemetar. Elvano yang duduk di seberangnya memperhatikan perubahan itu. "Kamu sakit?" tanyanya memastikan.
Nara buru-buru menggeleng. "Tidak. Hanya kurang tidur." jawabnya gugup. Dia bahkan tidak berani menatap langsung ke arah suaminya. Persetan dengan semuanya, tapi dia memang tidak bisa tidur semalam.
Elvano Mengerutkan Keningnya. Melihat gerak-gerik istrinya, dia yakin, pasti ada yang disembunyikan oleh Bianca.
"Kalau badanmu tidak enak, jangan memaksakan diri." ujar Elvano yang kembali menelisik wanita itu. Mata Bianca terlihat tidak fokus dan beberapa kali dia melihat kepanikan di wajah istrinya.
"Aku baik-baik saja." jawab Nara sambil tersenyum. Meskipun dia sudah tersenyum, Elvano tetap bisa membedakan, mana senyum tulus dan senyum yang di paksakan.
Meski menjawab demikian, Nara tidak berani menatap mata pria itu. Dia takut Elvano membaca kegelisahannya.
Sayangnya pria itu memang sudah paham jika dirinya menyimpan sesuatu.
Nara, Nara, percuma saja bertingkah laku seperti biasa. Jika pada akhirnya Elvano akan mencari tahu kebenarannya.
....
Setelah sarapan selesai, Elvano berdiri lalu mengambil jasnya. "Aku berangkat." pamitnya pelan.
Nara mengangguk. "Hati-hati."
Elora yang sedang memeluk boneka kelincinya berlari menghampiri. "Papa. Peluk dulu." ucapnya lalu merentangkan kedua tangannya ke arah sang papa.
Tanpa ragu, Elvano langsung mengangkat putrinya. "Papa, nanti pulangnya cepat ya." pinta anak itu. Elvano mengangguk.
"Janji?" Balita itu mengacungkan jari kelingking.
"Janji." Elvano mengaitkan jarinya sambil tersenyum.
"Pinky promise."
Melihat pemandangan itu, hati Nara semakin berat. Bagaimana jika Damian benar-benar menyakiti keluarga ini?
Dia tidak mau keharmonisan keluarga ini hancur karena keegoisan Damian. Dia harus melindungi keluarga ini.
....
Pukul satu siang...
Nara akhirnya mengambil keputusan. Dia mengenakan pakaian sederhana, lalu menghampiri kepala pelayan. "Aku ingin keluar sebentar." pamitnya.
"Perlu sopir, Bu?" tanya pelayan itu lagi.
"Tidak usah. Aku hanya ke toko buku." jawab Nara bohong. Kebohongan kecil itu sebenarnya membuat hati Nara terasa tidak nyaman.
Namun dia tidak punya pilihan. Sebelum keluar, dia menyempatkan diri untuk mencium kening Elora yang sedang tidur siang.
"Mama tidak lama." janjinya.
....
Taman Kota siang ini tampak cukup ramai. terlihat anak-anak mulai berlarian. Beberapa pasangan juga duduk di bangku taman untuk bermesraan.
Suasana yang damai itu sangat bertolak belakang dengan perasaan Nara. Dia melihat Damian sudah duduk di sebuah bangku, pria itu mengenakan kemeja putih dan kacamata hitam.
Seolah hanya sedang menikmati hari libur. "Kau datang juga." Damian tersenyum tipis.
"Apa maumu?" Nara langsung bertanya tanpa basa-basi.
Damian menyandarkan tubuhnya. "Kenapa terburu-buru?"
"Aku tidak punya waktu." sahut Nara cepat.
"Sayang sekali." Damian mengeluarkan sebuah amplop cokelat dari tasnya.
"Lihat ini."
Nara menerimanya lalu membukanya perlahan. Di dalamnya terdapat beberapa foto Bianca. Foto-foto itu memperlihatkan Bianca bertemu Damian di berbagai tempat.
Sekilas, semuanya tampak seperti hubungan perselingkuhan.
Namun Nara kini tahu. Foto-foto itu hanyalah bagian dari ancaman yang selama ini dialami Bianca.
"Untuk apa kau menunjukkan ini?" tanyanya pura-pura tidak paham.
Damian tersenyum. "Agar kau ingat. Kalau foto-foto ini sampai ke media, nama baik Ardhana Group akan hancur."
Nara mengepalkan tangannya. Sekarang dia sudah paham bagaimana cara Damian mengancam Bianca selama ini.
"Aku sudah menuruti semua maumu. Lalu kenapa kau masih mengejar kami?" tanya Nara yang mulai terpancing emosinya.
Damian tertawa pelan. "Karena aku belum mendapatkan apa yang kuinginkan."
"Apa yang kau inginkan?" tanya Nara penasaran.
"Dokumen proyek terbaru Ardhana Group." Nara langsung menggeleng. Gila!, itu sama saja menghancurkan perusahaan yang Elvano bangun dari nol.
"Aku tidak akan memberikannya." ucapnya cepat. Dia saksi bagaimana tersiksanya Elvano saat membangun perusahaan itu, terlebih, Elvano mati-matian untuk mengembangkan perusahaan itu tanpa bantuan siapapun.
"Benarkah?" Damian mengeluarkan ponselnya. Di layarnya muncul sebuah video.
Video itu memperlihatkan Elora yang sedang bermain di taman mansion, diambil dari luar pagar.
Napas Nara seketika tercekat. "Kau... Kau mengawasi Elora?" dia menujuk wajah pria itu dengan kesal. Siapa yang tidak kesal jika anaknya dimata-matai oleh pria sinting seperti Damian.
"Aku hanya ingin memastikan. kau tidak membuat keputusan yang salah." jawab Damian enteng.
Mata Nara memerah. "Jangan libatkan anak kecil."
Damian berdiri. "Itu tergantung padamu."
.....
Di saat yang sama...
Di kantor Ardhana Group.
Elvano baru saja menyelesaikan rapat ketika Raka masuk dengan wajah serius. "Pak. Ada yang aneh."
"Apa?" tanyanya dengan kening mengerut.
"Tadi saya menerima laporan dari satpam mansion." ujar Raka kemudian terhenti. Saat Elvano menoleh. Ke arahnya.
"Ibu Bianca keluar sendirian. Katanya ke toko buku." jelasnya yang membuat pria itu terkejut.
"Lalu?"
Raka menyerahkan sebuah foto dari kamera pengawas gerbang yang dia simpan tadi. "Mobil Ibu ternyata menuju arah yang berlawanan."
Tatapan Elvano berubah tajam. "Ke mana?"
"Taman Kota." jawab Raka.
Entah mengapa, hati Elvano langsung dipenuhi firasat buruk. "Siapkan mobil. Sekarang." dia tidak bisa membiarkan wanita itu pergi sendirian.
"Baik, Pak!"
.....
Kembali di taman.
Damian mendekat selangkah demi selangkah ke arah Nara. "Aku beri waktu tiga hari. Kalau dokumen itu tidak sampai ke tanganku, semua orang akan mengetahui hubungan Bianca denganku." ucapnya mulai mengancam seperti biasanya.
Nara menatap Damian dengan penuh amarah. "Aku tidak takut." bohongnya, jantungnya berdetak kencang, keringat dingin mulai mengucur deras dari tubuhnya. Wajahnya memerah karena menahan amarahnya.
"Oh?" alis Damian terangkat. Dia cukup terkejut dengan tatapan tajam Bianca yang dilayangkan ke arahnya. Selama beberapa tahun terakhir, wanita itu selalu menuruti permintaannya, namun kali ini terasa sangat berbeda.
Bianca seperti tidak takut lagi dengan ancamannya.
"Yang aku takutkan adalah, kalau Elora terluka karena ulahmu." sambung Nara yang membuat pria itu terdiam.
Untuk pertama kalinya, Damian melihat tatapan yang berbeda dari Bianca. Tatapan itu bukan lagi ketakutan. Melainkan keberanian seorang ibu yang siap melindungi anaknya.
Damian tersenyum tipis. "Menarik. Kau benar-benar berubah." ucapnya santai.
Nara berniat untuk menghentikan percakapannya dengan Damian, Saat dirinya hendak pergi, tiba-tiba terdengar suara yang sangat dikenalnya.
"Bianca!" teriak seorang pria.
Nara membeku. Perlahan dia menoleh ke arah sumber suara yang memanggilnya tadi.
Di kejauhan, terlihat Elvano yang berjalan cepat ke arah mereka dengan wajah yang sulit ditebak.
Jantung Nara seolah berhenti berdetak. Yang paling dia takutkan akhirnya terjadi.
Elvano melihatnya bersama Damian.
Mampus......