NovelToon NovelToon
SISTEM HEWAN KONTRAK TERKUAT

SISTEM HEWAN KONTRAK TERKUAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Balas Dendam / Summon
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: samsu234

Saat ujian SMA, Rio menjadi bahan tertawaan satu sekolah karena mengontrak seekor monyet kurus dekil tingkat Warrior (Trash-Rank). Semua orang menganggap masa depannya hancur, namun sebuah panel gaib tiba-tiba muncul di hadapannya:

[Ding! Sistem Push Rank Immortal Aktif!][Target: Monyet Lumpur (Identitas Asli: Sun Wukong - Segel Dewa)][Status Pengguna: SSS-Rank Hidden Power]

Di saat murid lain sibuk pamer kekuatan di sekolah, Rio memilih "mabar" di Dungeon terlarang bersama lima hewan mitologi miliknya: Sun Wukong, Serigala Kegelapan, Qilin, Phoenix, dan Ratu Laba-laba. Ketika gerbang bencana dunia jebol, Rio melangkah maju membawa squad top globalnya yang sudah berada di tier MYTHICAL IMMORTAL!

Siapa bilang dia salah kontrak?

#System #SunWukong #Overpowered #HiddenPower #Evolution #Mythology

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pria yang Berdiri Diam di Dunia yang Terus Bergerak

Bel pulang berbunyi pukul tiga sore tepat.

Seperti biasa, SMA Bakti Bangsa langsung mengalami transformasi mendadak dari institusi pendidikan menjadi sesuatu yang lebih menyerupai stasiun kereta di jam sibuk — ratusan murid mengalir keluar dari pintu-pintu kelas secara bersamaan, suara sepatu di tangga, tawa yang tiba-tiba bebas setelah ditahan tujuh jam, dan aroma campuran antara keringat remaja dan mie instan dari kantin yang masih mengepul di lantai bawah.

Rio keluar di gelombang ketiga — bukan yang pertama karena terburu-buru terlihat mencurigakan, bukan yang terakhir karena berlama-lama di kelas tanpa alasan juga tidak perlu.

Gelombang ketiga adalah gelombang yang tidak diperhatikan siapapun.

Ia menyandang tasnya di satu bahu, tangan kiri di saku, Wukong di pundak kanan yang sudah kembali ke mode monyet peliharaan biasa sejak pagi — kepala sedikit tertunduk, bulu yang dikondisikan tampak lebih kusam dari aslinya, gerak-gerik yang dibuat sedikit lambat dan tidak presisi agar terlihat seperti hewan yang tidak punya hal menarik untuk dilakukan.

Kamuflase yang sudah mereka latih tanpa perlu mendiskusikannya.

---

Gerbang sekolah ramai dengan cara yang selalu sama setiap harinya — murid yang langsung naik angkot, murid yang berkumpul di warung es teh seberang, murid yang duduk di trotoar menunggu jemputan, murid yang berjalan dalam kelompok dengan arah yang berbeda-beda.

Rio melewati gerbang, belok kiri menuju halte angkot, dan baru berjalan empat langkah ketika sesuatu membuatnya berhenti.

Bukan suara.

Bukan gerakan.

Justru ketiadaan keduanya.

---

Di seberang jalan, di trotoar yang dipisahkan oleh dua lajur jalan dari tempat Rio berdiri, ada seorang pria.

Usianya sulit ditebak dari jarak ini — bisa empat puluhan, bisa lima puluhan, wajahnya bukan wajah yang tua tapi juga bukan wajah yang muda, jenis wajah yang terbentuk dari waktu yang dihabiskan di tempat-tempat yang tidak ramah dan pengalaman yang tidak bisa dibeli dengan uang.

Pakaiannya sangat biasa. Kemeja abu-abu lengan panjang yang digulung sampai siku, celana bahan hitam yang sudah dicuci terlalu banyak kali sehingga warnanya memudar ke abu-abu tua, sepatu kulit cokelat yang bersih tapi sudah menunjukkan tanda-tanda banyak jalan.

Tidak ada tas. Tidak ada ponsel di tangan. Tidak ada kopi takeaway, tidak ada koran, tidak ada apapun yang biasanya dipegang seseorang saat berdiri di trotoar menunggu sesuatu.

Ia hanya berdiri.

Di tengah aliran orang-orang yang bergerak di sekitarnya — pedagang dorong yang lewat, murid yang berjalan dalam kelompok, ibu-ibu yang menggandeng anak kecil — pria itu berdiri dengan ketenangan yang berbeda secara fundamental dari orang-orang di sekitarnya.

Bukan ketenangan orang yang sedang menunggu dengan sabar.

Ketenangan orang yang tidak perlu menunggu karena ia sudah tiba.

---

Rio menyadari dua hal secara bersamaan dalam satu detik yang sama.

Pertama — pria itu sedang menatap ke arah gerbang sekolah.

Kedua — dalam satu detik setelah Rio berhenti berjalan, pandangan pria itu bergeser.

Dari gerbang sekolah.

Ke Rio.

Tepat.

Bukan melewati Rio, bukan mendekati Rio, bukan sembarangan menatap ke arah kerumunan murid yang sedang bubar. Tepat ke Rio, dengan presisi yang tidak bisa terjadi secara kebetulan karena kebetulan tidak bekerja dengan presisi seperti itu.

---

Dua puluh meter di antara mereka.

Dua lajur jalan dengan kendaraan yang lalu lalang.

Kebisingan sore hari yang mengisi setiap sentimeter ruang di antara mereka dengan suara yang tidak ada hubungannya dengan apa yang sedang terjadi.

Dan di dalam dua puluh meter itu, di antara semua kebisingan dan pergerakan itu, terjadi sesuatu yang tidak bisa Rio masukkan ke dalam kosakata teknis dungeon manapun yang pernah ia pelajari.

Tekanan.

Bukan tekanan yang bisa diukur dengan sensor energi grade apapun. Bukan tekanan yang akan muncul dalam laporan investigasi atau terdeteksi oleh peralatan Arinda yang paling sensitif sekalipun.

Tekanan yang bekerja bukan pada energi di luar tubuh Rio, tapi pada sesuatu yang jauh lebih di dalam — sesuatu yang berhubungan langsung dengan bagian dari Rio yang tersegel rapat di balik atribut Warrior III F-Rank yang selama ini menjadi wajah publiknya kepada dunia.

Seperti dua magnet yang sangat besar didekatkan — bukan menarik, bukan menolak. Hanya mengenali.

Udara di sekitar Rio terasa dua derajat lebih dingin dari seharusnya.

---

Wukong di pundak Rio berhenti bernapas selama tiga detik.

Bukan karena takut — Rio sudah cukup mengenal Wukong untuk tahu bahwa makhluk itu tidak masuk dalam kategori *takut* terhadap hampir apapun di dunia ini. Tapi ada gradasi yang jauh lebih halus dari takut, gradasi yang bahkan entitas setingkat dewa pun bisa merasakannya, dan gradasi itu namanya adalah *waspada* — bukan terhadap ancaman yang sudah jelas, melainkan terhadap sesuatu yang belum jelas tapi sudah sangat terasa.

Rio merasakan Wukong menegang sangat halus di pundaknya.

Lalu, dalam hitungan detik, menjadi sangat rileks kembali — jenis rileks yang dipilih secara sadar, bukan yang terjadi secara alami. Wukong sedang melakukan hal yang sama yang Rio lakukan setiap hari di sekolah ini — menampilkan kerileksan yang dikonstruksi dengan sangat hati-hati di atas kewaspadaan yang tidak pernah benar-benar pergi.

Mereka berdua, manusia dan kera dewa, sudah terbiasa melakukan ini.

---

Rio tidak berhenti lebih lama dari yang dibutuhkan untuk mengambil satu keputusan.

Ia melanjutkan langkahnya ke arah halte angkot.

Tidak membelok. Tidak mempercepat. Tidak memperlambat. Ritme langkah yang persis sama seperti sebelum ia melihat pria itu — irama orang yang tidak memiliki alasan untuk terburu-buru maupun alasan untuk berlambat-lambat.

Di sudut matanya, ia bisa melihat bahwa pria di seberang jalan tidak bergerak dari posisinya.

Tidak mengikuti. Tidak memanggil. Tidak melakukan apapun selain berdiri dan menatap dengan ketenangan seseorang yang sudah memutuskan bahwa hari ini bukan hari untuk bergerak.

---

Panel sistem menyala saat Rio sampai di halte, berdiri di antara tiga murid lain yang sedang sibuk dengan ponsel masing-masing.

---

**[Analisis Aura Eksternal — Selesai]**

**[Sumber: Pria, usia estimasi 45-52 tahun, posisi: trotoar seberang gerbang sekolah]**

**[Tingkat Energi Terdeteksi: LEGEND — Tier 4 ke atas]**

**[Kemampuan Pasif Aktif: Suppression Field Tingkat Tinggi — Radius 30 Meter]**

**[Kemampuan Deteksi Personal: Melampaui Grade SSS Standard]**

**[Catatan: Energi ini sudah pernah terdeteksi sistem sebelumnya dalam bentuk jejak. Kemungkinan besar identik dengan sumber pemindaian pasif di koridor sekolah siang tadi.]**

**[ID Estimasi: R-PRATAMA — Konfirmasi: 94.7%]**

---

Rio menatap angka 94.7% itu dengan ekspresi yang tidak berubah sama sekali dari ekspresi seorang murid yang sedang menunggu angkot sambil mengecek ponselnya.

Raymond Pratama tidak mengirim tim.

Tidak melalui Arinda, tidak melalui jalur resmi, tidak melalui apapun yang bisa meninggalkan jejak birokrasi.

Ia datang sendiri.

Berdiri di trotoar seberang sekolah dengan kemeja abu-abu dan sepatu kulit yang sudah banyak jalan, tanpa atribut, tanpa peralatan, tanpa siapapun yang menemani.

Datang sendiri untuk melihat dengan matanya sendiri.

---

Angkot datang dengan suara khas mesinnya yang sudah perlu servis sejak dua tahun lalu tapi entah kenapa masih berjalan.

Rio naik, mengambil tempat duduk di pojok dekat jendela, meletakkan tas di pangkuannya.

Dari balik jendela angkot yang sedikit kotor, saat kendaraan itu mulai bergerak keluar dari halte, Rio menatap sekali ke arah trotoar seberang jalan.

Pria dengan kemeja abu-abu itu masih berdiri di tempat yang sama.

Tapi kali ini pandangannya sudah tidak ke arah gerbang sekolah.

Pandangannya mengikuti angkot yang bergerak, dengan cara yang sangat halus dan sangat terkendali — bukan gerakan kepala yang jelas, hanya pergeseran pandangan yang nyaris tidak terlihat dari jarak ini.

Pandangan yang mengikuti tanpa terlihat mengikuti.

Rio memalingkan wajahnya dari jendela.

---

"Ayah Kevin," gumam Rio sangat pelan, cukup pelan untuk tenggelam dalam suara mesin angkot yang berisik.

Wukong mencicit satu kali di pundaknya — nada yang Rio terjemahkan kurang lebih sebagai *ya, dan sekarang kita harus bagaimana?*

"Kita tidak melakukan apa-apa yang berbeda," jawab Rio, sama pelannya. "Kita pulang. Kita kasih makan serigala. Kita cek perkembangan laba-laba. Kita tidur lebih awal dari biasanya."

Wukong diam sejenak.

Kemudian mencicit lagi dengan nada yang sangat jelas merupakan versi monyetnya dari *itu rencana?*

"Itu bukan rencana," Rio menyandarkan kepalanya ke jendela angkot yang bergetar pelan. "Itu kehidupan sehari-hari yang kita jalani sama seperti kemarin dan besok. Karena orang yang paling sulit untuk diikuti adalah orang yang tidak melakukan hal-hal yang perlu diikuti."

---

Angkot berbelok di persimpangan ketiga, meninggalkan area sekolah, masuk ke jalan-jalan yang lebih kecil menuju kawasan tempat Rio tinggal.

Rio membuka panel sistem satu kali terakhir sebelum menutupnya untuk sisa perjalanan.

---

**[Abyssal Goddess Weaver — Status: 34.2%]**

**[Satu kaki. Masih terentang setengahnya. Masih belum kembali.]**

---

34.2%.

Rio menutup panel itu dan menatap jalanan yang bergerak mundur di luar jendela angkot.

Ada sesuatu yang hampir lucu — dalam artian yang sangat spesifik dan tidak mengandung kegembiraan sama sekali — tentang fakta bahwa pada hari yang sama ketika seorang Hunter Legend peringkat tujuh nasional datang sendiri ke sekolahnya untuk melihat langsung siapa Rio Albert, hal yang paling signifikan yang terjadi bukan ancaman itu.

Yang paling signifikan adalah seekor laba-laba kecil yang kelelahan oleh delapan dekade trauma, di dalam kotak biola tua di dalam tas di pangkuan Rio, yang masih mempertahankan satu kaki setengah terentang dengan keras kepala.

Memilih untuk tidak menarik kembali.

---

Gang sempit itu menyambut Rio dengan cara yang sama seperti setiap sorenya — bau masakan Bu Heni yang naik dari bawah, suara TV tetangga lantai satu yang selalu volumenya terlalu keras di jam-jam ini, dan cahaya sore yang sudah berubah warna menjadi keemasan dan masuk miring melalui celah-celah antara bangunan-bangunan yang berjejal terlalu rapat.

Rio menaiki tangga, membuka pintu kontrakan.

Serigala sudah berdiri di dekat pintu sebelum Rio selesai memutar kuncinya — indera pendengarannya rupanya sudah hafal dengan sempurna suara langkah Rio di tangga dan bisa membedakannya dari langkah siapapun yang lain.

Mata kuning pucat itu menatap Rio sebentar, melakukan pemeriksaan cepat yang sudah menjadi ritualnya setiap kali Rio pulang — bukan pemeriksaan yang diperlihatkan secara eksplisit, hanya tatapan dua detik yang entah bagaimana sudah cukup untuk memberitahu si serigala bahwa Rio baik-baik saja dan tidak ada hal yang perlu ditangani.

Serigala mundur selangkah, memberikan Rio ruang untuk masuk.

Pengawal yang puas dengan laporannya.

---

Rio meletakkan tas di atas meja, duduk di tepi kasur, dan baru saja akan membuka panel sistem untuk cek update malam ketika ia memutuskan untuk tidak melakukannya.

Bukan karena tidak perlu.

Tapi karena ada saat-saat tertentu ketika angka dan notifikasi dan proyeksi sistem bisa menunggu, dan yang lebih penting adalah duduk diam di tepi kasur kontrakan yang sewanya murah, merasakan berat hari yang sudah berlalu tanpa harus segera mengkalkulasi hari berikutnya.

Wukong sudah menemukan posisi tidur siangnya di kursi meja belajar.

Serigala kembali ke pojok jendelanya, berbaring dengan kepala di atas cakar depan, matanya setengah terpejam menghadap ke arah pintu.

Di dalam tas yang tergeletak di atas meja, di antara dua buku tebal yang menjadi bantalannya, sebuah kotak biola tua menyimpan seekor laba-laba dengan tiga puluh empat koma dua persen dari dirinya yang sudah memutuskan bahwa dunia mungkin layak untuk dicoba lagi.

Dan di sebuah trotoar di seberang gerbang sekolah yang sudah sepi sore ini, seorang pria dengan kemeja abu-abu dan sepatu kulit yang banyak jalan mungkin sudah pergi, atau mungkin masih berdiri di sana — Rio tidak tahu dan memutuskan bahwa untuk saat ini, tidak tahu adalah pilihan yang lebih bijak dari pada tahu dengan cara yang salah.

---

Rio berbaring di kasurnya, menatap langit-langit.

Retakan baru di sudut kiri atas yang ia perhatikan pagi ini masih ada di sana, persis seperti yang ia tinggalkan.

Tentu saja masih ada. Retakan tidak pergi hanya karena seseorang meninggalkan ruangan.

Tapi ada sesuatu yang berbeda tentang cara Rio menatapnya sekarang dibanding cara ia menatapnya pagi tadi — bukan retakannya yang berubah, tapi sesuatu dalam cara matanya berhenti di sana, seperti seseorang yang menatap titik yang sama tapi dari jarak yang sedikit berbeda dan karena itu melihat hal yang sedikit berbeda.

Raymond Pratama datang sendiri.

Bukan karena ia curiga pada F-rank lemah yang monyetnya kebetulan mengalahkan harimau anaknya.

Tapi karena seorang Hunter Legend yang sudah dua puluh dua tahun di lapangan, yang kemampuan deteksi energi personalnya melampaui peralatan grade SSS, sudah merasakan sesuatu yang cukup berbeda untuk membuatnya meninggalkan kantornya di lantai dua puluh tiga gedung nasional dan berdiri sendiri di trotoar sekolah menengah atas di pinggiran kota.

Itu bukan tanda bahaya.

Itu tanda bahwa rayuan gravitasi yang paling sulit dilawan di dunia ini — rasa ingin tahu seorang profesional terhadap anomali yang tidak masuk dalam kategorinya — sudah mulai bekerja pada orang yang tepat.

Dan rasa ingin tahu, tidak seperti kecurigaan, tidak seperti tuduhan, tidak seperti ancaman — rasa ingin tahu tidak bisa dilawan dengan bukti palsu atau alibi yang rapi atau modus operandi yang bersih.

Rasa ingin tahu hanya bisa dikelola.

Diarahkan.

Diberi cukup makanan agar tidak mati, tidak cukup makanan agar tidak tumbuh terlalu besar.

---

Rio menutup matanya.

Bukan untuk tidur.

Hanya untuk berpikir dalam gelap sebentar, di mana satu-satunya hal yang bisa ia lihat adalah apa yang ada di dalam kepalanya sendiri, tanpa gangguan dari retakan di langit-langit atau cahaya sore yang masuk dari jendela atau pandangan dua detik serigalanya yang selalu ingin tahu apakah tuannya baik-baik saja.

Besok Raymond Pratama mungkin akan kembali.

Atau mungkin tidak — mungkin satu kali melihat sudah cukup untuk sesuatu, dan pertemuan berikutnya akan terjadi di tempat yang berbeda dengan cara yang berbeda.

Yang pasti adalah bahwa papan caturnya sudah bertambah satu bidak yang sebelumnya belum Rio perhitungkan masuk ke dalam permainan secara langsung.

Bidak yang paling sulit diprediksi bukan bidak yang kuat.

Bidak yang paling sulit diprediksi adalah bidak yang cerdas, berpengalaman, dan tidak terikat oleh kepentingan yang bisa dipetakan.

Raymond Pratama datang bukan karena perintah. Bukan karena laporan resmi. Bukan karena Kevin memintanya.

Ia datang karena penasaran.

Dan penasaran tidak punya jadwal, tidak punya prosedur, tidak punya jalur resmi yang bisa dimonitor oleh panel sistem manapun.

---

Setengah jam kemudian, ketika cahaya sore sudah berubah menjadi remang-remang awal malam dan suara TV tetangga di bawah sudah berganti ke siaran berita, Rio membuka matanya dan duduk.

Ia meraih tasnya, mengeluarkan kotak biola tua itu, dan meletakkannya di atas kasur di sampingnya.

Tidak membukanya.

Hanya meletakkannya di sana.

"Hari yang cukup panjang," ucapnya pelan, ke arah kotak itu, dengan nada yang persis sama seperti seseorang yang baru pulang kerja dan berbicara ke arah ruangan yang sudah familiar tanpa benar-benar butuh respons. "Besok mungkin lebih panjang."

Tidak ada jawaban dari dalam kotak.

Tapi panel sistem, yang masih berjalan di sudut penglihatan Rio tanpa diminta, memperbarui satu angka dengan sangat diam.

---

**[Abyssal Goddess Weaver — 36.1%]**

---

Rio menatap angka itu beberapa detik, kemudian menutup panel sistem sepenuhnya untuk malam ini.

Cukup untuk hari ini.

Di luar jendela, gang sempit yang tidak pernah benar-benar gelap karena lampu warung Bu Heni selalu menyala sampai tengah malam mulai menampilkan kehidupan malam versinya yang sederhana — langkah-langkah pulang yang lelah, suara motor yang lewat sesekali, angin yang membawa bau makan malam dari dapur-dapur yang tidak terlihat.

Kehidupan yang sangat biasa.

Yang Rio, dengan segala sesuatu yang tersembunyi di balik atribut F-rank dan hewan kontrak yang dikira monyet sirkus, tidak pernah benar-benar lelah untuk menjadi bagiannya.

Setidaknya untuk saat ini.

Setidaknya selama masih bisa.

1
SANG
Lanjut cek....
SANG
Iklan untukmu brooooo👍💪💪💪👍👍👍👍
SANG
Hadiah bunga untukmu thor👍💪👍💪/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/
SANG
Semangat ya💪💪💪💪💪
SANG
Aku datang sebagai tamu baru👍👍👍👍
,
lanjut
the misterius author 🐐: nanti malam kita lanjut kan ua bg
total 1 replies
Benni Yong
mantab
Jacky Hong
jadi gk sabar pengen liat si MC jadi kuat thor
semangat upnya thor
Benni Yong: dah tak kasih vote hari ini thor
akun baru soalnya yang akun Jacky kena hapus😁
total 2 replies
Jacky Hong
gas trus up thor
semangat dah tak krim kopinya👍
the misterius author 🐐: setiap hari minggu update 3 bab bg kalau hari biasa update 2 bab bg nanti kan jadwal nya ya bg jangan lupa ajak teman teman abg baca juga
total 1 replies
SANG
Beken deh, sip deh, tenar deh, mantap deh, keren deh, pokonya top mar ko top deh. Bintang sepuluh untukmu Thor.
SANG
Namanya mulai beken💪👍
the misterius author 🐐: udah mulai tenar kah bg 🤣
total 1 replies
SANG
Namamu pasti ku ingat💪👍
the misterius author 🐐: jangan di ingat thor 🤣
total 2 replies
SANG
Semangat. Lanjut💪👍
the misterius author 🐐: parah parah emang wkwk
total 9 replies
SANG
Bunga untukmu thor/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/Sembilan belas
SANG: Haha🤣🤣🤣👍👍👍
total 2 replies
SANG
Mantap banget💪👍
SANG
Pokonya keren deh💪👍
SANG
Keren deh💪👍
the misterius author 🐐: ok thor😍
total 3 replies
SANG
Wah novel baru lagi ya Thor💪👍
the misterius author 🐐: pokok nya fresh trus thor
total 6 replies
Jacky Hong
buat chpter 6 tak kasi kopi biar semungut upnya Thor
klo bsa up besok 2 chpter🤣
the misterius author 🐐: novel kita ogah main tingal bg
total 4 replies
Jacky Hong
lanjut up thor👍
the misterius author 🐐: sudah up bg 🤣
total 6 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!