Ia hanyalah seorang "murid sampah" di Sekte Pedang Giok, pemuda tanpa masa depan yang hidup dalam kehinaan dan penindasan. Hingga suatu hari ia mendapatkan kembali ingatan masa lalunya, ketika ia masih seorang Kaisar Agung di alam atas dan pernah memimpin jutaan pasukan di atas medan perang berdarah.
Namun, karena mendapatkan pengkhianatan yang kejam dari murid kepercayaannya sendiri, Ia kini harus memulai segalanya dari awal.
Sampah? Tidak! Ia menggunakan seluruh memori masa lalunya dan mengubah dirinya menjadi sosok tak tertandingi yang dapat menyapu bersih semua semut pengganggu dari jalannya.
"Aku adalah ... Qin Xiang."
Genre: Aksi, Kultivasi, Reinkarnasi, Balas Dendam, Harem.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Devourer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#4: Hutan Kabut Senja
Xiao Jing berlari seolah-olah seluruh iblis dari neraka sedang mencengkeram tumitnya. Napasnya tersengal, dadanya naik-turun dengan hebat saat ia akhirnya mencapai pusat Kota Giok yang riuh. Keringat membasahi seragam sektenya yang rapi, memberikan kesan kacau yang jauh dari citra tuan muda sombong biasanya.
Di bawah naungan sebuah paviliun kayu yang megah, dua sosok telah menunggunya dengan ekspresi yang sangat berbeda. Seorang wanita berparas jelita bernama Li Mei berdiri dengan tenang, jemarinya yang lentik memainkan pita kupu-kupu di rambut hitamnya yang berkilau. Di sampingnya, seorang pemuda bertubuh kekar bernama Han berdiri dengan tangan bersedekap, sebuah kapak besi raksasa yang tampak berat bersandar di punggungnya.
"Senior Li Mei, Senior Han... Maaf, aku sedikit terlambat!" Xiao Jing berujar dengan suara terputus-putus, mencoba menstabilkan napasnya yang tertatih.
Li Mei tidak memberikan respons apa pun; ia hanya mengangguk sedikit tanpa mengalihkan pandangannya, seolah-olah Xiao Jing hanyalah lalat yang tidak sengaja lewat. Namun, Han tidak membiarkannya begitu saja. Ia adalah senior yang suka menekankan hierarki, meski ia juga tahu batas karena latar belakang keluarga Xiao Jing yang cukup kuat.
"Tuan Muda Xiao ternyata sesuai dengan rumor; memiliki banyak urusan penting hingga membuat seniornya menunggu," sindir Han dengan nada yang tajam.
Xiao Jing ingin membalas, tetapi ia tahu status Han di sekte luar jauh di atasnya. Amarahnya pun ia simpan hingga kedua pengikut setianya tiba dengan kondisi yang lebih mengenaskan—baju mereka robek dan wajah mereka pucat pasi karena berlari memutar. Begitu mata mereka bertemu dengan Xiao Jing, sebuah pemahaman tanpa kata terjalin di antara mereka.
"Apa kalian bertemu dengan bocah itu?" bisik Xiao Jing dengan wajah yang masih bersimbah keringat.
"Kami terpaksa mengambil jalan memutar melewati gang-gang sempit agar tidak berpapasan dengan si sampah itu, Bos!" jawab salah satu dari mereka dengan suara lirih yang gemetar.
"Apa yang kalian bisikkan seperti tikus? Ayo pergi, waktu adalah nyawa di hutan nanti!" bentak Han, membuyarkan percakapan rahasia itu. Mereka pun bergerak meninggalkan kota, tanpa menyadari bahwa orang yang mereka hindari justru sedang melangkah menuju tujuan yang sama dengan ketenangan luar biasa.
...
Di sisi lain, Qin Xiang telah meninggalkan riuh rendah Kota Giok. Langkah kakinya mantap memasuki Hutan Kabut Senja. Sesuai namanya, hutan ini selalu diselimuti cahaya kemerahan yang temaram, menciptakan suasana yang indah sekaligus mencekam.
“Tanaman itu tidak tumbuh di sembarang tempat. Mawar Giok Darah biasanya bersembunyi di dalam rahim bumi yang dialiri energi alam yang kental,” gumam Qin Xiang pelan.
Dengan pengalaman ribuan tahun, ia mulai memindai setiap celah bukit dan gua-gua yang ia temui. Satu per satu gua ia masuki, namun hasilnya nihil. Selain tanaman herbal kualitas rendah yang hanya cocok untuk pakan ternak, ia tidak menemukan tanda-tanda keberadaan mawar tersebut. Namun, Qin Xiang tidak membuang waktu. Sembari menelusuri hutan, ia mengumpulkan beberapa akar dan daun herbal yang berguna untuk memulihkan fisik tubuh barunya, memasukkannya ke dalam tas kulit yang baru ia beli di kota.
Tiba-tiba, langkahnya terhenti. Matanya yang tajam mengunci permukaan tanah yang sedikit lembap. “Hmm, jejak kaki?”
Ada bekas seretan sepatu dan patahan ranting yang masih baru. Seolah-olah ada rombongan yang baru saja lewat dalam satu atau dua jam terakhir. Qin Xiang menyipitkan mata, menganalisis arah jejak tersebut.
“Tampaknya aku bukan satu-satunya pemburu di hutan ini,” gumamnya waspada.
Sebagai mantan Kaisar, ia tahu betul hukum rimba: pejuang kecil sering kali menjadi korban pertama dari mereka yang merasa kuat. Di dunia ini, membunuh demi kesenangan atau sekadar menghilangkan saksi mata adalah hal yang lumrah. Qin Xiang memilih jalan memutar, mengambil arah berlawanan untuk menghindari konflik yang tidak perlu. Ia butuh hasil, bukan keributan yang membuang energi.
...
Tiga hari berlalu dengan kegagalan yang beruntun. Tubuh Qin Xiang mulai merasakan kelelahan fisik, namun semangat jiwanya tetap membara. Ia menemukan sebuah gua tersembunyi yang tertutup oleh jalinan akar pohon tua. Pikirannya sempat ragu; ia menduga gua ini pun akan sama kosongnya dengan puluhan gua sebelumnya.
Namun, begitu ujung sepatunya menapaki pintu masuk yang dingin dan gelap, indra penciumannya bereaksi. Sebuah aroma manis yang kental, berbaur dengan bau amis yang tajam layaknya karat besi, menusuk hidungnya.
“Ini dia... Aroma khas Mawar Giok Darah!” batinnya penuh semangat. Rasa lelahnya sekejap lenyap, digantikan oleh kewaspadaan yang tinggi.
Begitu ia masuk lebih dalam, pandangannya menangkap puluhan gundukan hitam yang bergantung terbalik di langit-langit gua. Kelelawar Pelahap Aura. Makhluk ini adalah mimpi buruk bagi murid sekte biasa; mereka tidak memiliki mata, namun sangat sensitif terhadap fluktuasi energi Qi. Jika seseorang masuk dengan energi yang meluap, mereka akan terbang menyerbu dan menghisap Dantian korbannya hingga kering.
Tanpa keraguan sedikit pun, Qin Xiang merapal teknik penyembunyian aura tingkat tinggi yang ia simpan dalam ingatannya. Seketika, keberadaannya seolah lenyap dari dunia; napasnya menjadi sunyi, dan aliran Qi-nya membeku di dalam meridian. Ia melangkah dengan anggun, melewati koloni monster itu seolah sedang berjalan-jalan di halaman belakang rumahnya sendiri.
Di ujung gua, pemandangan itu akhirnya muncul. Sebuah kolam alami dengan diameter sepuluh kaki berdiri di tengah ruangan bawah tanah. Di tengah kolam, terdapat gundukan tanah yang disinari oleh kristal-kristal bercahaya dari atap gua. Di atas gundukan itu, tumbuh beberapa mawar dengan kelopak semerah darah dan batang yang tampak seperti giok transparan.
“Mata air spiritual!” serunya dalam hati saat melihat air kolam yang berkilau bening dan memancarkan energi murni.
Qin Xiang tidak terburu-buru. Ia mengulurkan tangannya, memanipulasi Qi di telapak tangannya untuk mengendalikan air kolam tersebut. Dengan kendali yang sempurna, ia menarik air spiritual itu ke udara, membentuk gelembung besar yang kemudian ia padatkan secara ekstrem menjadi seukuran kelereng kecil yang sangat padat. Kristal cair ini adalah harta karun yang lebih berharga daripada mawar itu sendiri.
Setelah mengamankan air spiritual, ia melompat ringan menuju gundukan tanah di tengah kolam. Dengan gerakan jemari yang sangat hati-hati agar tidak melukai akar yang rapuh, ia mencabut satu per satu Mawar Giok Darah tersebut. Setiap helainya ia bungkus dengan kain sutra tipis sebelum dimasukkan ke dalam tas kulitnya.
“Semuanya berkualitas tinggi... Air spiritual di gua ini tampaknya telah memelihara mereka menjadi obat tingkat atas,” pikirnya puas. Ia sudah membayangkan wajah terkejut tetua sekte saat ia membawa hasil ini kembali. Mawar-mawar ini bukan hanya akan menyelesaikan misinya, tapi bisa ia gunakan untuk menaikkan posisi harga Mawar Giok Merah di sekte.
Namun, ia tahu aromanya mulai menyebar. Tanpa air spiritual yang mengikat aroma darah tersebut, kelelawar-kelelawar di atas sana akan segera menyadari ada yang tidak beres.
“Waktunya pergi sebelum penghuni gua ini mengundangku untuk makan malam,” bisik Qin Xiang sinis.
Bersambung!