Shen Yunan mengalami kematian tragis. Dikhianati keluarga, dikhianati pria yang dia cintai, menghabisii orang yang mencintainya dengan tulus.
Mendengar tawa sang putra mahkota yang baru naik tahta, dengan pedang di tangan yang telah menusuknya, bersama Shen Yuxiao, putri palsu yang mencuri tempatnya di kediaman Marquis selama 17 tahun. Shen Yunan bersumpah, dia akan membalas mereka semua. Dia akan membuat semua orang yang menertawakan kematiannya menangis.
'Jika ada kehidupan kedua, aku akan habisi kalian semua!'
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Cao Cao bergegas membawa sebuah baskom berisi air dan sebuah kain kering.
"Nona... Nona!"
Cao Cao masuk dengan cepat, ke kamar dimana Shen Yunan berada.
Shen Yunan yang sudah berganti pakaian menoleh ke arah Cao Cao yang bahkan kesulitan menjaga keseimbangan air yang ada di dalam baskom.
"Hati-hati Cao Cao..."
Cao Cao meletakkan baskom itu di atas meja.
"Nona, aku punya kabar yang mengejutkan. Nona, nona ingat pelayan sombong yang bicara dengan sangat angkuh pada nona kemarin? pelayan itu mati tenggelam saat mandi!"
Shen Yunan menoleh dengan alis sedikit baik ke atas. Ya, setidaknya dia harus berpura-pura terkejut bukan? di depan Cao Cao.
"Bagaimana bisa?"
"Kata para pelayan lain, mungkin dia terkena penyakit jantung saat mandi. Katanya dia sudah mati sejak semalam. Mayatnya dibuang di kuburan massal! dia sombong sekali sih, akhirnya mati muda kan"
"Jadi..."
"Jadi, aku tidak akan sombong nona. Aku tidak mau mati muda seperti pelayan itu!"
Shen Yunan tersenyum lalu membasuh wajahnya. Dia tidak mau cari masalah dengan putri agung Chengyi.
"Bawa kue itu Cao Cao, simpan untuk kita makan disana nanti!"
Cao Cao segera menganggukkan kepalanya.
"Baik nona!"
Setelah berganti pakaian dan merias diri. Shen Yunan dan Cao Cao yang hanya mengganjal perut mereka dengan dua mantau saja segera pergi ke halaman putri agung Chengyi.
Sampai disana, bahkan tidak terlihat satu pun pelayan. Hanya ada pengawal yang menjaga halaman putri agung Chengyi itu.
"Nona..."
"Tanya pada pengawal itu saja" kata Shen Yunan.
Cao Cao pun segera mendekati pengawal yang berdiri di bawah tangga dimana kamar putri agung Chengyi berada.
"Permisi tuan pengawal, kami dari kediaman Marquis Shen. Kata pelayan yang mengantar kami semalam, nona ku harus memberi hormat jam 5 pagi. Bisa tolong beritahu putri agung Chengyi kalau kami sudah datang?" tanya Cao Cao pada penjaga di depannya itu.
Tapi, penjaga itu segera menoleh ke temannya yang yang ada di sampingnya.
"Bagaimana?"
"Tanya Wen Mama!" kata penjaga satunya.
Penjaga itu pun pergi dari tempat itu. Bertanya pada pengurus yang berada di sisi putri agung Chengyi.
Cao Cao kembali lagi menghampiri Shen Yunan.
"Nona, pelayannya saja belum ada yang bangun. Apa pelayan yang semalam itu berbohong pada kita ya?" tanya Cao Cao bingung.
"Tunggu saja, mana kuenya. Ayo kita tunggu sambil makan!"
Cao Cao mengeluarkan kue yang dia simpan. Dan mereka memakannya berdua.
Tak lama kemudian, seorang wanita paruh baya tampak berjalan dengan sangat santai ke arah Shen Yunan berada.
"Nona, lihat jalannya. Kapan dia akan sampai kesini? atau aku saja yang menghampirinya?"
Shen Yunan menahan tangan Cao Cao.
"Tidak usah, tunggu saja disini!" kata Shen Yunan sambil makan kue kacang bersama dengan Cao Cao.
Wanita paruh baya yang bernama Wen Mama itu menatap sinis ke arah Shen Yunan dan Cao Cao. Dan semakin dekat, wanita paruh baya itu berjalan dengan langkah yang makin lambat.
"Jadi kamu nona Shen?" tanya Wen Mama.
Shen Yunan mengangguk, tapi tidak juga dengan ramah. Hanya mengangguk santai, biasa, bahkan cenderung asal-asalan saja.
Dan ketika mendengar jawaban Shen Yunan. Wen Mama juga merasa kesal.
"Jadi seperti ini sikap seorang nona bangsawan?" tanya Wen Mama dengan nada serius.
Shen Yunan memberikan kue yang dia pegang ke tangan Cao Cao. Dia membersihkan tangannya dengan menepuk-nepuk antara tangan kanan dan kirinya. Sorot matanya tampak datar, tapi jelas dia menunjukkan kalau dia sama sekali tidak takut pada Wen Mama.
Shen Yunan bahkan berjalan dengan pasti ke arah Wen Mama.
"Jadi, seperti ini sikap pelayan dari putri agung Chengyi?" balas Shen Yunan.
Mata Wen Mama melebar.
"Kamu..."
"Cepat beritahu pada majikanmu, kalau aku sudah datang untuk memberi salam!" kata Shen Yunan.
"Tuan putri belum bangun, tunggu saja sambil berlutut di sini!" kata Wen Mama menatap dengan berani pada Shen Yunan.
Shen Yunan mengeraskan rahangnya.
"Apa? aku tidak dengar?"
"Berlutut! tunggu sampai putri agung Chengyi bangun!" Wen Mama bicara dengan nada tinggi, nyaris berteriak.
Cao Cao saja yang berdiri di belakang Shen Yunan sampai terjingkat sangking terkejutnya.
Shen Yunan mendengus pelan. Dia melangkah ke arah belakang Wen Mama. Dan menendang betis wanita paruh baya itu.
Duk
Brukk
"Aduh..."
Wen Mama yang jatuh berlutut, dan lututnya membentur lantai bebatuan itu dengan cukup kencang langsung mengaduh kesakitan.
Kepalanya segera mendongak melihat ke arah Shen Yunan. Tapi Shen Yunan segera menekan salah satu bahu wanita paruh baya dengan cukup kuat. Membuat Wen Mama sama sekali tidak bisa bangkit.
"Kamu, kurang ajar. Aku ini pengurus paling senior di sini. Aku adalah orang kepercayaan tuan putri agung Chengyi..."
"Begitukah? kalau begitu aku akan memberitahu putri agung Chengyi, kalau pengurus senior ini mempermalukan istana Yipping!"
"Kau..."
Melihat keributan yang ada di luar istana, pelayan yang berada di dalam kamar putri agung Chengyi pun segera beranjak ke dalam untuk memberitahukan hal itu pada putri agung Chengyi. Tapi ketika pelayan itu datang ke kamar putri agung Chengyi, sang putri belum bangun.
"Bagaimana ini?" gumamnya bingung.
Sedangkan di luar, Shen Yunan terus menahan Wen Mama sampai orang itu tidak bisa bangun. Lutut tua itu, benar-benar terlihat sangat tersiksa.
Cao Cao terlihat cemas.
"Nona, apakah tidak apa-apa seperti ini? apakah putri agung Chengyi tidak akan marah pada kita?" Cao Cao benar-benar takut.
"Dengarkan aku, saat putri agung Chengyi datang. Bilang saja kamu tidak lihat apa-apa, paham?"
"Hah..." Cao Cao benar bingung.
Dua pengawal itu menatap ke arah Shen Yunan. Mereka pikir, wanita yang sedang membuat Wen Mama tak bisa bangun itu terlalu berani.
"Menurutmu apa dia bisa selamat dari putri agung Chengyi?" tanya salah satu pengawal.
"Sepertinya tidak akan!" sahut yang satunya lagi.
"Pengawal! apa yang kalian lakukan? bantu aku! wanita ini tidak waras!" teriak Wen Mama meminta bantuan dua pengawal yang tak jauh berdiri di belakangnya.
***
Bersambung...
Namun jika lelaki menangisi seorang wanita, maka wanita itu adalah yg paling beruntung di cintai begitu hebat oleh pria yg mencintai nya..
Dan wanita itulah suhu pawang buaya cinta..
bikin lupa diri dll🤭
Namun cinta yg tulus memang butuh pengorbanan..
Walaupun harus mengorbankan diri..
Namun yg namanya cinta, mampu mengalahkan logika..
Dan bagi seorang lelaki..
Wanita adalah kelemahan nya..
Karena bila lelaki patah hati saat mencintai..
Mereka bahkan bisa menangis melebihi balita..