Menelusuri lorong kota itu setelah sekian lama meninggalkannya mengusik ingatanku.
Beberapa tempat yang tak berubah, mengingatkan sebagian kisah masa laluku yang menempaku menjadi seperti sekarang .... Laki-laki yang masih tetap menjadi dirinya sendiri.
Aku bisa selembut kapas dan berubah sekeras batu padas seiring kedewasaan hidupku yang dikelilingi kepalsuan dan intrik penumpang gelap di sekitarku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A.T. Setiawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18. Perploncoan
Namanya murid baru di SMA, tentu saja hari-hari pertamaku dipenuhi dengan perkenalan basa basi dari kakak kelas.
Intinya sih semua murid kelas satu bakalan jadi bulan-bulanan mereka selama satu mingguan ini. Terutama murid laki-lakinya. Kata mereka sih supaya mental murid laki-laki semakin setrong saat kesebelasan SMA kami ikut turnamen 17 Agustusan nanti.
Siapa sih yang gak kenal dengan tim sepakbola SMA Dua yang berkali-kali menjuarai turnamen itu dan selanjutnya lolos sampai tingkat Propinsi ?
"Mas Pras kayak wong gemblung !" teriak Dion adikku di hari pertamaku masuk SMA. Christ tak ayal ikut terkekeh melihat pakaianku yang aneh.
"Sialan bener nih kakak kelas." Aku hanya bisa menggerutu kesal menerima nasib sebagai murid baru.
Celana panjang harus dilinting separo sampai lutut, baju separuh dimasukkan, separuh dikeluarkan dari celana. Kumis dari spidol dibuat melintir kayak Salvador Dali seniman lukis Spanyol yang terkenal.
Pokoknya hari pertamaku itu benar-benar menyebalkan. Apalagi dandanan itu harus dipakai dari rumah .... Sialan !
"Hush hush ....." Bapak yang akan mengantarku ikut-ikutan mengejek dandananku. Tak henti-hentinya dia terbahak saat menggambarkan kumis palsu yang dibuat di bibirku.
Hanya Ibu yang tak tega dengan penderitaanku. Tak henti-hentinya dia mengomel mengomentari Masa Orientasi Siswa yang menurutnya sangat tidak masuk akal.
Sebenarnya Bapak sudah membelikan Aku sepeda motor bekas yang akan dipakai pulang pergi sekolah bareng Christ dan Dion. Tentu saja dengan dandanan aneh itu, Aku tak mau berangkat sendiri. Dari pagi Aku merengek minta diantar Bapak sampai Masa Orientasi Siswa sialan itu selesai.
Jam setengah tujuh tepat, akhirnya Bapak mengantarku ke sekolah.
Walau semalam Bapak sudah menjelaskan apa itu Masa Orientasi Siswa, yang kata Bapak disebut perploncoan pada jamannya. Aku tetap saja jengkel di hari pertama itu.
"Bahasa belanda nya plonco waktu itu adalah ontgroening Pras .... Kata groen artinya hijau. Murid baru kan masih hijau, dan ontgroening dimaksudkan untuk menghilangkan warna hijau itu. Dia harus diberi perlakuan agar dalam waktu singkat menjadi dewasa dan merasa sepenanggungan," kata Bapak semalam. "Jadi kamu harus ndableg menghadapinya," kata Bapak lagi.
Kata-kata Bapak itu terus terekam sepanjang jalan. Paling tidak Aku harus kuat bertahan selama satu mingguan ini, sampai acara sialan itu selesai.
Untungnya Bapak mengantarku dengan mobil dinas. Paling tidak rasa maluku tak akan terlalu lama menyiksaku di jalan.
Aku tak bisa membayangkan Erwin, Firman, dan Juli yang rumahnya tak terlalu jauh dari sekolah. Mengharuskan mereka berjalan kaki dari rumah masing-masing. Belum lagi murid baru yang rumahnya jauh dan harus naik angkutan kota atau dibonceng motor untuk berangkat .... "Wah kayaknya masih mending Aku nih." Aku menghibur diriku sendiri.
"Dah Pras, turun. Tuh sudah banyak temanmu yang senasib," kata Bapak sambil terkekeh di depan gerbang SMA ku.
Tak mau terlalu lama mendengar Bapak yang terus meledekku, Aku bergegas turun dan berbaur dengan murid kelas satu yang mulai berdatangan.
Tentu saja walau belum saling kenal, penderitaan itu malah menjadikan kami saling tertawa. Dan kali ini Aku membenarkan kata-kata Bapak semalam.
"Bakalan seru nih kalau dah ketemu Erwin," gumam hati kecilku lagi.
***
"Asuuuu ...!"
Tepat seperti dugaanku, Erwin mulai mengeluarkan bahasa kekesalannya saat Aku bertemu dan mentertawakan dirinya di warung belakang sekolah.
"Kenapa ngomel Win," Aku masih terbahak mendengar gerutuan bocah jabrik itu.
"Bajindul tenan. Bisa drop si Arin melihatku seperti ini." Dia terus menggerutu sambil cengar cengir melihat penampilanku yang senasib dengannya.
Tentu saja mendengar nama Arin disebutnya, Aku semakin terpingkal.
Tak bisa kubayangkan jika nanti benar-benar dia bertemu Arin, pasti segala macam sumpah serapah akan dikeluarkannya jika Arin mentertawakan dirinya.
"Eh Pras lihat tuh, kelihatannya si Firman lagi ke sini !" Erwin mengalihkan perhatianku ke arah yang ditunjuknya.
"Setaaaaan ...!"
Dari jauh Firman sudah berteriak kesal melihat Aku dan Erwin terpingkal melihat dandanannya.
Apalagi setelah tahu bocah aneh di sampingnya itu ternyata Juli. Kami semua akhirnya mentertawakan nasib kami.
Dari dandanan perploncoan kami berempat, Juli menurutku yang paling menderita dan aneh. Bocah cina sipit, kulit kuning kerempeng dengan kumis melintang yang katanya barusan digambar Firman membuat kami sakit perut pagi itu.
"Sudahlah, yuk kita masuk. Tapi jangan sampai ketemu Arin ya," pinta Erwin setelah kami puas mengobrol. Sepertinya dia juga merasa aneh dengan tatapan pengantar murid lain yang mentertawakan kami.
"Ok, tenang saja Win, nanti kamu ngumpet aja kalau Aku melihat Arin atau Eliza di lapangan," kataku sambil beringsut menuju lapangan sepakbola tempat acara perploncoan akan dimulai.
***
"Ada Arin gak ?" Bocah jabrik itu masih nyerocos di belakangku. Mukanya menempel rapat di punggunggku, berharap tak ada yang mengenalinya.
Aku yang mulai risih dengan ulah Erwin tentu saja merasa geli sekaligus kesal. Setiap kali Aku bergeser ke kanan dia ikut bergeser. Begitu juga kalau Aku berjalan, dia terus nempel di belakangku. Mukanya di tekuk ke bawah.
Pagi mulai terasa panas tepat ketika upacara pembukaan akan dimulai.
Kakak kelas perempuan yang galaknya minta ampun mulai menyiapkan barisan.
Firman dan Juli entah kemana, terpisah dengan Aku dan Erwin.
"Dah baris yang bener Win," kataku.
"Aman, gak ada Arin kan ?" Bocah itu masih saja berharap tak bertemu dengan pujaan hatinya.
"Gak ada !" gerutuku.
"Hehehe ..... Makasih Pras," seringai Erwin.
Untungnya barisan murid perempuan dan laki-laki dipisah oleh kakak kelas. Jadi Aku tak terlalu terganggu lagi dengan ulah Erwin saat upacara dimulai.
Melirik barisan murid perempuan di sebelah kiri kami, Aku mengumpat. "Sialan !"
"Ada apa Pras ?" tanya Erwin yang mendengar umpatanku.
"Tuh lihat kakak kelas laki-laki kita."
Betapa liciknya mereka mudah terbaca olehku. Mereka sengaja tak mendadani murid perempuan dengan pakaian yang terlalu aneh. Dan yang bikin kesal mereka sengaja menyuruh murid kelas satu perempuan untuk memasang nama di dadanya.
"Ariiiin ! ... Eliza ! ... Sini maju !"
Dari loudspeaker jelas sekali nama yang ditakutkan Erwin dipanggil satu-satu ke depan.
Harus kuakui lagi betapa lihainya cara kakak kelas laki-lakiku untuk lebih mengenal murid perempuan sesuka hati mereka.
Ada sekitar sepuluh bocah perempuan yang terpilih maju ke depan. Dan sialnya mereka ternyata dipilih untuk memimpin barisan murid laki-laki.
"Bangkrek !" umpat Erwin, "Bukan Arin kan ?" ujar Erwin lagi dengan memelas. Mukanya makin ditekuk saat Aku menoleh ke arahnya.
"Gak tahu. Moga-moga sih si Arin yang pimpin barisan kita," bisikku.
"Aduh mati aku !" gumam Erwin lagi.
Untungnya yang memimpin barisan kami bukan Arin atau Eliza.
"Barisan siaaaap !"
Suara lantang pemimpin barisan kami mulai terdengar tegas. Pilihan kakak kelas laki-laki untuk pemimpin barisan kami mengalihkan perhatian Erwin.
"Eh siapa namanya Pras ?" Tiba-tiba saja si jabrik itu menyinggung pemimpin barisan kami.
Bocah perempuan putih langsat, tinggi, dan tentu saja cantik yang kami singgung sepertinya mendengar bisik-bisik kami. Matanya mendelik sengit ke arah Aku dan Erwin .... Sejenak Arin dan Eliza terlupakan dari benak kami berdua ....
***
*Wong gemblung : Orang gila
*Dilinting : Dilipat
*Ndableg : muka tembok
*Asu : Anjing
*Bangkrek : Bangke