NovelToon NovelToon
Veto Sang Ketua BEM

Veto Sang Ketua BEM

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Teen / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Kara

​"Bukan lo yang mutusin buat nolak gue. Gue sendiri yang mutusin apa yang bakal gue lakuin ke lo!"
​Arshaka Rumi Wiraguna adalah Presiden BEM yang arogan dan urakan. Bagi Lyana, bendahara BEM yang kaku, Rumi adalah definisi "salah gaul" yang harus dihindari. Namun, takdir memaksa mereka terus bergesekan.
​Saat demonstrasi besar membakar kampus, Rumi mempertaruhkan nyawa demi melindungi Lyana. Sejak hari itu, tembok formalitas "Mas" dan "Mbak" pun retak. Apalagi saat KKN memaksa mereka tinggal satu atap di pelosok desa. Tanpa birokrasi kampus, sisi posesif Rumi muncul. Lyana yang awalnya hanya ingin fokus pada beasiswa, perlahan terseret dalam obsesi sang Presiden BEM.
​Di antara politik kampus dan ego yang tinggi, mampukah Lyana bertahan? Atau justru ia akan tunduk pada aturan main Arshaka Rumi Wiraguna?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayang-Bayang di Balik Pintu Triplek

Hendrik Wiraguna berdiri di sana, di tengah kamar Dito yang pengap dan berbau kapur barus. Kehadirannya terasa seperti benda asing yang dipaksakan masuk ke dalam ekosistem yang rapuh. Jas abu-abu metaliknya yang rapi kontras dengan dinding kayu yang berlumut dan rak buku dari besi berkarat milik Dito. Ia tidak tampak marah, tidak pula terlihat sedang memerintah. Hendrik hanya berdiri dengan tenang, tangan kanannya masih memegang payung hitam yang sudah terlipat rapi, sementara tatapan matanya—yang begitu tajam dan terbiasa menelaah dokumen hukum—terarah lurus pada flashdisk perak di genggaman Rumi.

Suasana di dalam kamar mendadak beku. Dito bahkan lupa cara bernapas, tubuhnya meringkuk di sudut ranjang, menatap pria paruh baya itu dengan ketakutan yang murni.

"Ayah..." Rumi memulai, suaranya parau, jauh dari keberanian yang ia tunjukkan pada Satria tadi. Laki-laki itu mundur selangkah, melindungi Lyana dan flashdisk itu di balik tubuhnya. "Aku bilang, ini masalah organisasi. Aku bisa selesaikan sendiri. Ayah nggak perlu sampai turun tangan ke tempat kayak gini."

Hendrik menghela napas, satu tarikan napas panjang yang terdengar sangat lelah, seperti sedang menghadapi anak kecil yang baru saja memecahkan vas bunga kesayangan. Ia melangkah masuk lebih dalam, mengabaikan genangan air di lantai, lalu berhenti tepat di depan Rumi.

"Masalah organisasi?" Hendrik mengulang kata itu dengan nada yang sangat pelan, hampir seperti gumaman. "Rumi, lihat di mana kamu berdiri. Lihat teman-temanmu. Kamu sedang dihancurkan oleh seseorang yang bahkan tidak selevel dengan kamu, hanya karena kamu ceroboh. Apa ini yang kamu sebut dengan memimpin?"

Rumi menunduk. Bahunya yang tegap mendadak tampak turun. Ia tidak membantah, karena jauh di lubuk hatinya, ia tahu ayahnya benar. Kesalahan kecil tentang amplop BEM itu adalah titik awal dari semua kekacauan ini.

Lyana merasakan detak jantungnya berdegup kencang di balik rusuk. Ia maju satu langkah, mensejajarkan dirinya dengan Rumi, membiarkan kehadirannya di sana menjadi pernyataan bahwa dia tidak akan membiarkan laki-laki itu menghadapi ayahnya sendirian.

"Pak Hendrik," sapa Lyana. Suaranya sedikit bergetar, namun tatapannya tetap teguh. Ia berusaha menatap mata pria di depannya, meski wibawa Hendrik Wiraguna terasa seperti tekanan atmosfer yang menindih. "Saya Lyana. Bendahara BEM. Saya tahu Bapak datang ke sini pasti atas dasar kepedulian pada Rumi. Tapi, ini masalah kami. Kami yang memulai, dan kami yang harus menyelesaikannya."

Hendrik menoleh, menatap Lyana untuk pertama kalinya. Tatapan pria itu tidak menghakimi, namun sangat dingin dan mengintimidasi. Ia meneliti Lyana dari ujung kaki hingga ujung kepala, seolah sedang membaca berkas perkara.

"Kamu mahasiswi beasiswa itu?" tanya Hendrik. Tidak ada nada sinis, hanya pernyataan faktual.

"Iya, Pak," jawab Lyana mantap.

"Satria sudah mengirimkan salinan laporan korupsi itu ke pihak yayasan. Kamu tahu itu?" Hendrik bertanya lagi, tanpa menunggu jawaban Lyana. Ia melangkah menuju meja kecil di sudut kamar, memindahkan gelas kopi bekas pakai Dito dengan ujung jemarinya, lalu meletakkan payungnya di sana. "Yayasan tidak akan memedulikan argumen emosional. Mereka hanya akan melihat dokumen, stempel, dan tanda tangan. Bukti di flashdisk itu mungkin bisa membuktikan bahwa Satria memalsukan sesuatu, tapi itu tidak akan menghapus fakta bahwa stempel BEM telah disalahgunakan."

Rumi memotong dengan suara meninggi, "Jadi Ayah mau ambil flashdisk ini supaya Ayah bisa 'membersihkan' semuanya lewat koneksi Ayah? Aku nggak mau itu, Yah! Aku mau menang dengan cara yang benar!"

"Cara yang benar adalah menang tanpa menghancurkan masa depanmu sendiri!" suara Hendrik kali ini sedikit meninggi, memotong kalimat Rumi. Suaranya bergema, membuat Dito di sudut ranjang tersentak. "Kamu pikir di dunia nyata, kebenaran selalu menang dengan sendirinya? Satria punya bekingan di Senat dan jajaran rektorat. Kalau kamu lawan sendirian, kamu cuma akan jadi martir yang dilupakan dalam waktu seminggu."

Rumi terdiam. Ia menatap flashdisk di genggamannya, lalu menatap Lyana, dan akhirnya menatap ayahnya kembali. Keraguan itu terbaca jelas di wajahnya.

Lyana menarik napas dalam-dalam. Ia melangkah maju, meletakkan tangannya di atas tangan Rumi yang menggenggam flashdisk perak itu.

"Pak," Lyana memberanikan diri bicara, suaranya kali ini jauh lebih tenang. "Kalau Bapak ambil flashdisk ini dan 'membereskannya' dengan cara Bapak, mungkin Rumi aman. Mungkin nama BEM bersih. Tapi apa yang terjadi dengan Dito? Apa yang terjadi dengan integritas Rumi? Dia akan merasa menang bukan karena dia benar, tapi karena dia anak Bapak. Itu akan menghancurkan semangatnya untuk berjuang di masa depan."

Hendrik diam. Ia menatap Lyana, sedikit terkejut dengan keberanian gadis itu untuk membantahnya di depan wajahnya langsung.

"Biarkan kami yang menghadapinya besok," lanjut Lyana. "Kami akan bawa bukti ini ke dekanat, kami akan berhadapan dengan Satria di depan forum terbuka. Kami siap dengan segala risikonya. Termasuk beasiswa saya."

Hendrik menghela napas panjang lagi, lalu melirik arlojinya. Ia tidak marah, justru ia tampak seperti seorang profesional yang sedang menilai sebuah proposal bisnis yang konyol tapi menarik.

"Kalian punya waktu sampai pukul delapan besok pagi," kata Hendrik sambil berbalik menuju pintu. "Kalau sampai jam delapan tidak ada hasil, saya yang akan masuk dengan cara saya sendiri. Dan Rumi..." ia berhenti di ambang pintu, menoleh sedikit pada anaknya, "jika kamu memang ingin berjuang sendiri, pastikan kamu cukup kuat untuk menanggung beban dari setiap keputusan yang kamu ambil."

Setelah itu, Hendrik keluar dari kamar kos Dito tanpa menoleh kembali, meninggalkan kepulan aroma parfum mahal yang seketika membuat kamar kumuh itu terasa makin menyesakkan.

Rumi berdiri kaku, menatap pintu yang baru saja ditutup. Keheningan kembali menyerbu. Dito mulai terisak lagi, perlahan, di sudut ranjang.

"Aku minta maaf banget, Mas," suara Dito terdengar seperti rintihan. "Aku nggak tahu harus lari ke mana."

Rumi mendekat ke arah Dito, lalu duduk di lantai di sampingnya, membiarkan bahunya bersentuhan dengan bahu sekretarisnya itu. "Udah, Dit. Nggak ada gunanya nangis sekarang. Besok pagi, kita datang ke kampus, bawa flashdisk ini, dan kita selesaikan semuanya."

Lyana berdiri di tengah kamar, memperhatikan interaksi mereka. Ia merasa lelah, tapi di saat yang sama, ada ketenangan aneh yang menyusup ke dalam hatinya. Masalahnya belum selesai, beasiswanya masih di ujung tanduk, dan ayahnya Rumi baru saja memberikan ultimatum yang mencekik. Tapi untuk pertama kalinya, ia merasa tidak sendirian.

Dito akhirnya berhenti menangis. Ia menatap Rumi dengan mata bengkak. "Kenapa Mas Rumi masih mau nolongin aku setelah apa yang aku lakuin?"

Rumi tersenyum tipis, sebuah senyum yang lelah namun tulus. "Karena kita berangkat dari satu tempat yang sama, Dit. Kita sama-sama pengen bikin kampus ini jadi tempat yang lebih baik buat orang-orang kayak lo. Itu jauh lebih berharga daripada stempel BEM atau jabatan presbem yang cuma gelar doang."

Lyana berjalan ke arah mereka, ikut duduk di karpet lantai yang berdebu. Mereka bertiga duduk melingkar dalam keheningan, bertumpu pada satu tujuan: besok pagi, mereka harus menang.

Pagi itu, kampus Universitas Pembangunan tampak seperti biasanya. Mahasiswa berlalu-lalang dengan buku di pelukan, tukang siomay sibuk membunyikan klakson di depan gerbang, dan cuaca tampak lebih bersahabat dengan sinar matahari yang menembus sela-sela pohon mahoni.

Namun bagi Lyana, setiap langkah kakinya menuju ruang sidang terasa seperti langkah menuju tiang gantungan. Di sampingnya, Rumi berjalan dengan punggung tegap, memegang tas ransel berisi laptop. Dito berjalan dua langkah di belakang mereka, kepalanya menunduk, namun jaket almamater biru tua yang ia kenakan terlihat rapi.

Di koridor gedung rektorat, kerumunan mahasiswa sudah memenuhi area depan ruang sidang. Satria berdiri di sana, dikelilingi oleh pengikutnya. Saat ia melihat Rumi dan Lyana datang, senyum culasnya terkembang lebar.

"Datang juga pahlawan kesiangan kita," ejek Satria cukup keras agar didengar orang-orang di sekitar. "Sudah siap buat nyerahin jabatan, Rumi? Atau mau minta tolong bokapmu buat beli gedung rektorat ini sekalian?"

Rumi tidak menggubris. Ia terus melangkah tanpa menoleh sedikit pun.

Mereka masuk ke ruang sidang. Suasana di dalam sudah penuh. Kali ini, bukan hanya Senat yang hadir, tapi juga perwakilan dari Yayasan Lentera Bangsa. Ada seorang pria tua berambut putih yang duduk di meja pimpinan, menatap mereka dengan tatapan dingin.

Satria berjalan masuk dengan sombong, duduk di mejanya, dan segera membuka laptopnya. "Pak, saya minta sidang ini segera dimulai karena sudah ada bukti tambahan mengenai penyalahgunaan dana yang melibatkan saudara Rumi dan saudari Lyana."

Wakil Dekan mengangguk. "Silakan, Satria."

Satria berdiri, memproyeksikan sebuah file ke layar besar di depan ruangan. "Ini adalah dokumen surat pengunduran diri yang ditemukan di sekre, dan ini adalah bukti transfer ilegal yang dilakukan oleh bendahara kepada pihak luar."

Ia berbicara dengan meyakinkan, memutar balik fakta dengan detail yang rapi. Lyana merasa tangannya dingin, tapi ia tetap duduk tegak. Ia menunggu saatnya tiba.

"Sekarang," kata Satria dengan nada penuh kemenangan, "saya persilakan kepada perwakilan Yayasan untuk meninjau bukti ini dan mengambil keputusan mengenai beasiswa saudari Lyana."

Pria berambut putih di meja yayasan berdiri, berjalan mendekati layar. "Dokumen ini sangat serius. Jika ini terbukti asli, maka Saudara Rumi dan Saudari Lyana harus bersiap menerima konsekuensi hukum."

Rumi berdiri. Ia tidak menunggu dipersilakan. "Pak, sebelum Bapak mengambil keputusan, saya punya bukti pembanding."

Rumi melangkah ke depan, mencolokkan flashdisk perak milik Dito ke laptop yang terhubung ke proyektor.

"Di dalam sini," suara Rumi tenang, merambah ke seluruh penjuru ruangan, "ada log file printer sekretariat BEM yang menunjukkan jam berapa surat itu dicetak. Dan ada juga salinan asli draf laporan keuangan yang asli, yang bisa dibandingkan dengan dokumen yang Satria paparkan."

Satria tertawa kecil. "Itu gampang banget dimanipulasi, Rumi. Siapa pun bisa ngedit log file."

"Benar," Lyana menyahut, berdiri di samping Rumi, memegang tumpukan berkas dari ordner birunya. "Tapi bagaimana dengan tanda tangan di draf surat yang Bapak pegang itu? Kami sudah mengecek ke bagian verifikasi dokumen kampus, dan ada satu kesalahan kecil yang bahkan Satria lupa periksa."

Lyana menunjuk ke arah layar. "Itu tanda tangan Mas Rumi. Tapi, jenis tinta yang digunakan di situ adalah tinta printer laser berwarna hitam biasa. Sedangkan tanda tangan Mas Rumi yang asli di setiap surat resmi BEM selalu menggunakan tinta pena fountain pen berwarna biru tua yang hanya dia miliki."

Ruangan mendadak riuh. Bisik-bisik mulai terdengar dari barisan anggota Senat. Wakil Dekan mengernyit, mengambil kaca pembesar dari mejanya dan mendekat ke layar proyektor.

Satria terdiam, wajahnya mulai kehilangan warna.

"Tunggu," Pak Haris bangkit berdiri, menatap layar dengan tajam. "Lyana benar. Ini tanda tangan palsu."

Satria mencoba memprotes, "Itu nggak mungkin! Saya—"

"Anda apa, Satria?" tanya Rumi dingin, mendekat ke meja Satria. "Anda mau bilang kalau Anda punya pena yang sama dengan saya? Atau Anda mau bilang kalau printer di sekretariat itu rusak?"

Tiba-tiba, pintu ruangan sidang terbuka lebar. Bukan staf rektorat, bukan mahasiswa.

Itu adalah seseorang yang tidak disangka-sangka akan datang.

Pintu terbuka dan sosok itu melangkah masuk dengan napas yang memburu, memegang sebuah map tipis di tangannya.

Dito, yang tadinya berdiri di belakang Rumi, langsung mematung. Satria menatap orang yang baru datang itu dengan mata terbelalak, seolah baru saja melihat hantu.

Orang itu tidak menatap siapa pun. Ia langsung menuju meja Wakil Dekan dan meletakkan map tersebut.

"Maaf saya terlambat, Pak," suara orang itu bergetar. "Saya punya bukti rekaman percakapan Satria yang memerintahkan saya untuk memalsukan semua dokumen ini."

Ruangan itu benar-benar meledak dalam kekacauan. Lyana menatap orang itu, lalu menatap Rumi, dan menyadari bahwa permainan ini baru saja berubah arah sepenuhnya.

Namun, di tengah keriuhan itu, pandangan Lyana teralih ke arah jendela besar di sisi ruang sidang. Di seberang lapangan kampus, ia melihat sebuah mobil hitam mewah berhenti tepat di depan gedung rektorat. Seseorang turun dari mobil itu, memperhatikan gedung sidang dengan tatapan yang sulit diartikan.

Ayah Rumi. Dan di sampingnya, ada seseorang yang membuat jantung Lyana benar-benar berhenti berdetak.

Ibunya.

Ibu Lyana berdiri di sana, dengan baju kebaya yang tampak kusut dan wajah yang penuh dengan kebingungan, menatap gedung rektorat seolah-olah ia tidak tahu mengapa ia berada di tempat itu.

Lyana merasakan dunianya benar-benar runtuh. Apa yang dilakukan ibunya di sini? Dan mengapa ia datang bersama ayah Rumi?

1
Lilik Juhariah
mulai baca
Emi Sudiarni
kren kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!