NovelToon NovelToon
Aku Kecanduan Mantan Istri

Aku Kecanduan Mantan Istri

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: yuningsih titin

Kenan, CEO berkuasa, menjatuhkan talak pada Kinasih hanya untuk melindunginya. Tanpa ia tahu, wanita itu pergi membawa buah cinta mereka.

Kini Kinasih menjadi dokter muda yang berjuang sendirian, sementara Kenan terjebak dalam pernikahan hampa, hatinya tetap hanya untuk mantan istrinya itu.

Takdir mempertemukan mereka kembali. Kenan pun bertekad merebut kembali apa yang hilang, menghadapi cemburu buta istri barunya dan saingan baru yang ingin memiliki Kinasih. Akankah ia berhasil menebus kesalahan dan menyatukan keluarga mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuningsih titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rencana Kelam di Balik Bayang-Bayang Cinta

Kenan tersenyum pahit, seolah sudah menduga jawaban itu.

“Aku tahu dia akan bersikap begitu.”

“Oh iya, Pak… ada satu hal lagi yang ingin saya sampaikan.”

“Apa itu?”

“Tadi saat jam makan siang, Dokter Firdaus juga sempat duduk dan makan bersama beliau di kantin.”

Suasana hening seketika di sambungan telepon itu.

“Mereka makan bersama?” tanya Kenan, nada suaranya mendadak terasa lebih berat dan dingin.

“Benar, Pak.”

“Apakah Firdaus terlihat sangat perhatian padanya?”

“Cukup perhatian, Pak. Beliau mengingatkan Dokter Kinasih untuk makan dengan teratur, minum yang cukup, dan jangan terlalu memaksakan diri bekerja.”

Kenan hanya mengembuskan napas kasar, menahan rasa sesak yang kembali muncul di dadanya.

“…Aku mengerti.”

“Tapi jangan khawatir, Pak. Sejauh yang saya lihat, Dokter Kinasih tetap menjaga sikap dan batasan. Beliau tidak menunjukkan sikap lebih dari sekadar rekan kerja biasa.”

Kenan menghela napas panjang, berusaha menenangkan diri.

“Baiklah. Terus awasi dia dari kejauhan, pastikan dia dan bayinya aman dan sehat.”

“Siap, Pak.”

“Tapi ingat satu hal penting: jangan sampai Kinasih tahu kalau semua ini atas perintahku. Jangan sampai dia curiga.”

“Tenang saja, Pak. Sampai sekarang beliau mengira saya hanyalah asisten rumah tangga yang direkomendasikan oleh teman lamanya.”

“Bagus sekali. Kalau ada apa pun yang terjadi, kabari aku segera.”

“Baik, Pak. Terima kasih sudah percaya padaku.”

“Terima kasih juga, Rey. Tolong jaga dia dengan baik.”

Panggilan telepon pun berakhir.

Reyna menatap layar ponselnya yang sudah gelap selama beberapa detik, lalu menghela napas pelan.

“Semoga suatu hari nanti semua kesalahpahaman ini selesai, dan kalian bisa kembali bersama,” gumamnya lirih dalam hati.

Ia segera menyimpan kembali ponselnya dan melanjutkan menyiapkan makanan di dapur. Sementara di balik pintu kamar yang tertutup, Kinasih sudah terlelap dalam tidurnya karena kelelahan, tanpa pernah menyadari bahwa setiap hari ada seseorang yang diam-diam memantau dan memastikan dirinya serta buah hatinya tetap aman—atas perintah pria yang pernah menjadi suaminya, dan masih sangat mencintainya.

Malam mulai larut, menyelimuti kota dengan kesunyian yang sesekali terpecah oleh suara kendaraan yang melintas.

Di salah satu kamar hotel mewah di pusat Surabaya, Kamila berdiri tegak di depan jendela kaca lebar. Di tangannya tergenggam segelas anggur yang belum tersentuh, sementara sorot matanya tajam menatap gemerlap lampu kota yang terhampar luas di bawah sana. Di balik wajahnya yang terlihat tenang, tersimpan amarah yang sejak tadi berusaha ditahan agar tidak meledak.

*Tok... tok... tok...*

Suara ketukan pintu terdengar pelan namun tegas.

“Masuk,” perintah Kamila tanpa menoleh.

Pintu kamar terbuka perlahan. Seorang pria bertubuh tegap dengan penampilan rapi melangkah masuk, lalu sedikit menundukkan kepala sebagai tanda hormat.

“Selamat malam, Bu Kamila.”

“Sudah dapat laporan yang aku minta?” tanya Kamila, suaranya datar namun menyiratkan ketidaksabaran.

“Sudah, Bu.”

Kamila pun berbalik, menatap pria bernama Jhon itu dengan pandangan tajam yang menusuk.

“Kalau begitu, cepat katakan semuanya. Jangan ada yang disembunyikan.”

Jhon mengangguk mantap, lalu mulai menyampaikan apa yang telah diketahuinya.

“Selama beberapa minggu terakhir ini, Pak Kenan memang diam-diam terus mengawasi setiap gerak-gerik Dokter Kinasih.”

Rahang Kamila langsung mengeras mendengar nama itu disebut.

“Lanjutkan.”

“Beliau juga menugaskan seorang wanita bernama Reyna untuk tinggal di rumah tempat Dokter Kinasih mengontrak. Secara resmi, wanita itu berperan sebagai asisten rumah tangga, padahal tugas utamanya adalah menjaga keamanan dan melaporkan segala hal yang terjadi kepada Pak Kenan.”

“Reyna?” ulang Kamila, matanya menyipit curiga.

“Benar, Bu. Setiap hari wanita itu melaporkan kondisi kesehatan, kegiatan, hingga siapa saja yang bertemu dengan Dokter Kinasih.”

Genggaman tangan Kamila pada gelas anggur itu semakin kuat.

“Aku sudah curiga sejak lama… tidak mungkin dia tiba-tiba begitu tertarik pada urusan orang lain tanpa alasan.”

Jhon melanjutkan lagi, “Selain itu, Pak Kenan juga beberapa kali terlihat berusaha mendekat dan bertemu langsung dengan Dokter Kinasih, meskipun sering kali ditolak secara halus.”

“Jadi dia masih saja mengejar perempuan itu?” tanya Kamila dengan nada yang mulai meninggi.

“Sepertinya begitu, Bu. Dari semua gerakannya, jelas terlihat bahwa Pak Kenan belum bisa melupakan mantan istrinya itu.”

*Kriiiing…*

Suara gelas di tangannya terdengar berderit pelan karena digenggam terlalu erat, hampir saja pecah.

“Jadi selama ini… posisiku di matanya hanyalah sekadar pajangan untuk menutupi rasa rindunya pada perempuan itu?” gumamnya dengan nada pahit.

Jhon hanya menunduk dalam, memilih diam karena sadar jawaban apa pun tidak akan memuaskan hati wanita yang sedang terbakar cemburu itu.

Kamila pun tertawa sinis, suara tawanya terdengar dingin dan menyakitkan.

“Pantas saja dia tidak pernah benar-benar menatapku, tidak pernah peduli padaku. Selama ini hatinya tetap terkunci rapat hanya untuk Kinasih.”

Ia menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri agar tetap bisa berpikir jernih. Setelah beberapa detik, tatapannya kembali tajam mengunci wajah Jhon.

“Rencana yang sempat kita bicarakan kemarin…”

Jhon mengangkat sedikit wajahnya. “Maksud Ibu… rencana itu akan dilanjutkan?”

“Benar. Lanjutkan.”

Jhon terdiam sesaat, seolah ragu dengan keputusan itu. “Apakah Ibu sudah yakin? Jika sampai ketahuan, risikonya sangat besar.”

Kamila menyipitkan matanya, suaranya berubah menjadi dingin dan penuh tekanan.

“Aku sudah lelah hidup dalam bayang-bayang perempuan itu. Selama aku hidup, dia selalu menjadi alasan Kenan tidak pernah melihatku. Jadi ya… aku sudah sangat yakin.”

“Tapi, Bu—”

“Aku bilang lanjutkan!” potongnya tegas. “Pastikan semuanya berjalan rapi dan tidak meninggalkan jejak sedikit pun.”

Jhon mengangguk pelan, menerima keputusan itu. “Saya mengerti, Bu.”

Kamila lalu melangkah mendekat, hanya berjarak beberapa langkah dari pria itu.

“Ingat satu hal penting: aku tidak mau ada petunjuk apa pun yang bisa mengarah kembali padaku atau pada kita. Semua harus terlihat seperti musibah biasa yang terjadi begitu saja.”

“Saya paham betul, Bu.”

Kamila menatapnya dalam beberapa detik, lalu melanjutkan, “Jika pekerjaan ini selesai dengan baik sesuai rencana, bayaranmu akan dua kali lipat dari kesepakatan awal.”

Ekspresi wajah Jhon perlahan berubah menjadi lebih tegas dan percaya diri. “Kalau begitu, saya akan segera memulai persiapan.”

“Bagus. Jangan sampai kau membuatku kecewa, Jhon.”

“Siap, Bu. Saya pastikan semuanya berjalan lancar.”

Jhon pun membungkukkan badan singkat sebagai tanda pamit, lalu berbalik dan melangkah keluar kamar. Begitu ia pergi, pintu tertutup kembali rapat, meninggalkan Kamila sendirian dalam keheningan.

Sekali lagi ia berdiri di depan jendela, namun kali ini senyum tipis yang sulit diartikan terukir di bibirnya—senyum yang menyimpan niat tersembunyi.

“Kenan…” bisiknya lirih hanya untuk dirinya sendiri.

“Jika kau terus memilih Kinasih dan menolak menerima kehadiranku… jangan salahkan aku jika semuanya berubah menjadi tidak sesuai harapanmu.”

Di luar kamar hotel, Jhon berjalan menyusuri koridor dengan wajah datar tanpa emosi. Di dalam pikirannya, ia mulai menyusun langkah demi langkah, sekaligus mempertimbangkan segala risiko yang mungkin muncul dari perintah berbahaya yang baru saja ia terima.

Malam sudah makin larut, menyisakan kesunyian yang hanya dipecah oleh suara kendaraan sesekali melintas di jalan raya.

1
sunaryati jarum
Apa yang kamu lakukan sudah benar Kinasih,Kenan bukan suamimu walau ayah anakmu
sunaryati jarum
Semoga terwujud Kenan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!