Di dunia di mana ibu tiri selalu dicurigai sebagai penyihir jahat, Clara harus menerima nasibnya.
Mantan Penyembuh Agung yang telah kehilangan seluruh kekuatan sihirnya ini terpaksa menjalani pernikahan kontrak dengan Kapten Alden, komandan militer yang dingin, kejam, dan ditakuti di seluruh Samudra Langit.
Tugas Clara sederhana namun nyaris mustahil:, menjadi "pengasuh" bagi tiga anak blasteran mistis sang Kapten di atas kapal layar terbang raksasa, The Sky Leviathan.
Anak sulung setengah Phoenix yang siap membakar siapa saja, anak kedua setengah Sirene dengan kutukan suara mematikan, dan si bungsu yang bisa melihat roh pelahap jiwa.
Mereka semua membenci Clara. Namun, berbekal ketulusan hati, keberanian bertaruh nyawa, dan sisa pengetahuan magisnya, Clara bertekad menjinakkan kekuatan liar anak-anak tersebut sekaligus mengusut misteri kutukan masa lalu yang menghantui mereka.
Mampukah seorang wanita tanpa sihir mencairkan hati beku sang Kapten Langit dan mengubah kapal penuh b
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Author Raf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 Hadiah di Ruang Kerja Kapten
Ruang kerja Kapten Alden terletak di bagian tertinggi dek kabin, tepat di bawah menara kemudi utama.
Ruangan itu luas, namun terasa padat oleh rak-rak buku besar yang penuh dengan gulungan peta navigasi langit, catatan militer, dan berbagai instrumen kuningan khas pelaut udara.
Sebuah meja kayu besar diletakkan di dekat jendela bundar raksasa yang menyajikan pemandangan hamparan awan putih yang bergulung seperti hamparan kapas di bawah langit pagi.
Clara mengetuk pintu kayu jati yang kokoh itu sebanyak tiga kali.
"Masuk." Terdengar suara berat Alden dari dalam.
Clara mendorong pintu dan melangkah masuk. Ia menemukan Alden sedang berdiri di dekat jendela, memandangi kompas magnetik sihir berukuran besar yang melayang di udara.
Pria itu menoleh saat mendengar langkah kaki Clara, lalu memberikan isyarat agar Clara duduk di salah satu kursi berlapis kulit di depan mejanya.
"Bagaimana keadaan tanganmu sekarang?" tanya Alden, membuka percakapan tanpa basa-basi seraya berjalan mendekati mejanya.
"Rasa perihnya sudah jauh berkurang, Kapten. Ramuan dari Bernet bekerja dengan sangat baik," jawab Clara jujur, sembari melipat kedua tangannya di atas pangkuan.
Alden tidak langsung menjawab. Ia membuka salah satu laci mejanya yang terkunci sihir dengan menempelkan cincin lambang militernya. Dari dalam laci, ia mengeluarkan sebuah kotak kayu kecil berwarna biru tua dan meletakkannya di hadapan Clara.
"Buka," titah Alden singkat.
Clara memandang kotak itu dengan dahi mengernyit, lalu perlahan membuka tutupnya dengan tangan kirinya yang sehat. Di dalam kotak itu, di atas bantalan sutra putih, terletak sepasang sarung tangan tipis berwarna putih tulang.
Sarung tangan itu tidak terbuat dari kain biasa, melainkan dari pintalan serat tanaman mistis yang memancarkan pendaran perak yang sangat tipis dan menenangkan.
"Ini... Sutra Laba-laba Salju dari Pegunungan Frost?" bisik Clara, matanya membelalak lebar karena terkejut.
Sebagai mantan Penyembuh Agung, ia langsung mengenali material langka tersebut.
"Benar," kata Alden, menyandarkan tubuhnya pada tepian meja kayu dengan melipat tangan di dada. "Sutra itu memiliki sifat menyerap hawa panas ekstrem dan mempercepat regenerasi sel kulit yang rusak akibat elemen api mistis. Pelindung militer biasa tidak akan mempan untuk menahan efek luka bakar dari seekor Phoenix. Tapi benda ini bisa meredamnya."
Clara menyentuh permukaan sarung tangan itu dengan ujung jarinya. Sensasi dingin yang menyegarkan langsung merambat, seolah-olah mengalirkan energi kehidupan baru ke dalam kulitnya yang terluka.
Benda ini sangat berharga tinggi di pasar gelap kekaisaran, dan Alden memberikannya begitu saja.
"Ini terlalu berharga untuk saya, Kapten," kata Clara, mendongak menatap Alden dengan binar keraguan. "Pernikahan kontrak kita tidak mengharuskan Anda membelikan saya barang mewah seperti ini."
"Benda itu bukan barang mewah, Clara. Itu adalah investasi keselamatan," koreksi Alden dengan nada suaranya yang datar namun tegas. "Jika kau bersikeras untuk terus berada di dekat anak-anakku dan memeluk mereka setiap kali kekuatan mereka lepas kendali, maka kau harus memastikan dirimu sendiri tidak mati terlebih dahulu. Aku tidak ingin dituduh menyiksa istri baruku di atas kapal ini."
Clara tertegun mendengarnya, namun sedetik kemudian seulas senyum geli terbit di bibirnya. Ia menyadari bahwa di balik kata-kata yang terkesan dingin dan kaku itu, Alden sebenarnya sedang menunjukkan rasa khawatir dan kepedulian dengan caranya sendiri yang khas seorang komandan perang.
"Baiklah, saya terima hadiah ini dengan rasa terima kasih yang besar, Kapten," ujar Clara. Ia perlahan mengenakan sarung tangan tipis tersebut.
Begitu sarung tangan itu melekat pas di tangan kanannya, rasa perih yang sempat menyiksanya sejak kemarin sore mendadak sirna sepenuhnya, berganti dengan rasa sejuk yang sangat nyaman.
Alden memperhatikan gerakan Clara dengan seksama. Setelah Clara selesai memakai kedua sarung tangan tersebut, atmosfer di dalam ruangan kembali menjadi hening.
Keheningan kali ini tidak terasa mengintimidasi seperti hari pertama mereka bertemu, melainkan terasa lebih intim dan penuh pengamatan.
"Bernet memberi tahu saya sesuatu hal lagi," kata Alden tiba-tiba, memecah kesunyian. "Dia bilang kau menggunakan mantra dari Kuil Agung untuk mengusir roh-roh pengembara di kamar Toby."
Gerakan tangan Clara seketika membeku. Ia tahu rahasianya sebagai mantan Penyembuh Agung yang hancur sihirnya bukanlah sesuatu yang bisa disembunyikan selamanya dari pria setajam Alden.
"Benar, Kapten. Sebelum inti sihirku hancur karena... sebuah pengkhianatan di masa lalu, saya adalah kandidat Penyembuh Agung di ibu kota."
Alden berjalan memutari mejanya, lalu duduk di kursi kebesarannya yang berada di balik meja. Ia menatap Clara lekat-lekat, sepasang mata abu-abu badainya seolah-olah ingin menembus langsung ke dalam jiwa wanita di hadapannya.
"Aku tidak peduli dengan masa lalumu, Clara. Siapa pun yang mengkhianatimu hingga kehilangan sihirmu, itu adalah urusanmu. Namun, yang membuatku heran adalah mengapa kau mau mempertaruhkan sisa energi kehidupanmu demi anak-anak blasteran yang bahkan bukan darah dagingmu sendiri?"
Clara membalas tatapan Alden tanpa ada rasa takut sedikit pun. "Karena mereka adalah anak-anak, Kapten Alden. Mereka tidak memilih untuk lahir dengan darah mistis yang liar, dan mereka tidak seharusnya menanggung ketakutan luar biasa sendirian di dalam kapal yang besar ini hanya karena orang-orang dewasa menganggap mereka sebagai monster."
Clara menarik napas dalam, lalu melanjutkan dengan suara yang melunak. "Ketika saya kehilangan sihir saya, seluruh dunia berbalik memunggungi saya dan menganggap saya tidak berguna. Saya tahu persis bagaimana rasanya diisolasi dan ditakuti oleh lingkungan sekitar. Karena itu, saat saya melihat Leo, Rin, dan Toby... saya tidak melihat monster. Saya hanya melihat anak-anak kecil yang sedang terluka dan butuh seseorang untuk menggenggam tangan mereka."
Jawaban yang keluar dari bibir Clara menghantam dinding hati Alden dengan telak. Pria itu terdiam untuk waktu yang cukup lama.
Sebagai seorang komandan perang, ia terbiasa menyelesaikan segala masalah dengan kekuatan militer, strategi taktis, dan perintah yang tegas.
Namun, untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa hal-hal logis tersebut sama sekali tidak berguna untuk menyembuhkan luka batin di dalam hati ketiga anak-anaknya.
"Kau... wanita yang sangat aneh, Clara," bisik Alden dengan nada suara yang bergetar samar, sebuah pengakuan jujur yang jarang sekali keluar dari mulutnya.
"Saya menganggapnya sebagai sebuah pujian, Kapten," jawab Clara dengan senyum tulus yang memikat, membuat kerutan di dahi Alden perlahan-lahan mengendur.
Alden mengambil selembar peta navigasi baru dari tumpukan dokumennya, bersiap untuk kembali bekerja. "Kembalilah ke kabin bawah dan istirahatlah. Sore nanti, kapal akan melewati wilayah udara barat yang berangin kencang. Pastikan anak-anak tetap berada di dalam ruangan bersama denganmu."
"Baik, Kapten Alden. Selamat bekerja," kata Clara seraya berdiri dari kursinya. Ia membungkuk sedikit memberikan penghormatan sebelum melangkah menuju pintu keluar dengan hati yang terasa jauh lebih ringan.
Saat pintu kayu itu bergeser menutup di belakangnya, Clara memandangi sepasang sarung tangan perak tipis yang kini melekat indah di tangannya.
Hadiah dari Alden bukan sekadar obat untuk menyembuhkan luka fisiknya, melainkan sebuah bukti nyata bahwa keberadaannya di atas The Sky Leviathan kini mulai diakui bukan lagi sebagai orang asing, melainkan sebagai bagian penting dari kapal terbang ini.