❣️ Update : 19.00 WIB ❣️
Bagaimana jika skenario hidup yang selama ini kamu anggap menyedihkan ternyata adalah skenario terindah yang Tuhan siapkan untukmu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunes_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25 - A Little Braver
Siang itu aku baru saja selesai memasak ketika Javier tiba-tiba pulang.
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam.”
Aku menoleh sekilas ke arahnya.
Javier berjalan masuk lalu menatapku sebentar. Aku hanya diam. Tak lama kemudian dia masuk ke kamarnya.
Aku pun menuju ruang tamu, menyalakan televisi, lalu mulai makan.
Beberapa menit kemudian Javier keluar dari kamar dengan mengenakan batik.
“Nay...” panggilnya.
Aku menoleh.
Javier berjalan mendekat lalu tiba-tiba duduk bersimpuh di sampingku.
Aku langsung terkejut dan meletakkan piring di atas meja.
“Mas, apa-apaan sih? Kenapa kamu kayak gini?” ucapku.
“Nay, aku paham kekhawatiran kamu kalau ikut aku ke sana.” ucap Javier. “Tapi aku janji kekhawatiran itu nggak akan terjadi. Kalau ada yang berani bandingin kamu sama Ina, aku yang akan bela kamu.”
Aku menatapnya heran.
Ada apa dengan Javier?
Kenapa dia sampai seperti ini?
Apa sebenarnya maunya?
“Jadi...” Javier menarik napas dalam-dalam. “Aku mohon, Nay. Ikut aku ke nikahan temanku. Temani aku. Please...”
Hah?
Pembahasan itu lagi?
Bukannya tadi malam aku sudah menolak?
“Mas...”
“Kalau kamu nggak mau temenin aku sebagai istriku, ya udah.” Javier memotong ucapanku. “Setidaknya temenin aku sebagai temenmu. Aku mohon, Nay.”
Aku semakin tidak mengerti.
Sejak kapan Javier memohon-mohon seperti ini?
Aku menatap wajahnya beberapa detik.
Dia benar-benar serius.
Bukan bercanda.
Bukan menggoda.
Benar-benar serius.
“Dan aku janji...” lanjut Javier.
Aku menghela napas.
“Janji apa lagi?”
“Aku akan ngelakuin apa pun yang kamu suruh asalkan kamu mau temenin aku ke sana.”
Aku langsung menatapnya.
“Hah?”
“Asalkan kamu mau ikut.”
Aku benar-benar tidak mengerti.
Sebegitu pentingkah pergi ke pernikahan temannya itu?
Atau...
Sebegitu pentingkah aku ada di sana?
“Kamu mau ngelakuin apa pun yang aku suruh?” tanyaku.
Javier mengangguk.
“Apa pun?”
Dia kembali mengangguk.
Aku semakin bingung.
“Kenapa sih kamu pengen banget aku ikut?”
“Ya biar aku nggak sendirian aja.” ucap Javier. “Dan biar aku nggak ditanya kapan nikah.”
Aku menghela napas.
“Beneran kamu mau ngelakuin apa pun yang aku suruh?”
“Iya.” Javier mengangguk mantap. “Apa pun.”
Aku berpikir sejenak.
“Ajari aku masak.”
“Masak?” Javier terlihat lega. “Gampang itu.”
“Masakan Korea.”
Senyumnya langsung menghilang.
“Apa?”
“Masakan Korea.”
“Aku nggak bisa.” ucap Javier jujur. “Lebih tepatnya belum pernah coba.”
Aku mengangkat alis.
“Kata temannya Devina kemarin kamu dulu koki hotel. Di hotel masak banyak makanan, kan?”
“Iya.” Javier mengangguk. “Tapi di hotel tempatku kerja dulu kebanyakan masakan Indonesia dan western. Nggak pernah masak makanan Korea.”
“Ya udah. Kalau kamu nggak mau ngajarin aku masak, aku juga nggak mau temenin kamu.”
“Astaga...” Javier mengusap wajahnya sebentar.
Aku menunggu jawabannya.
“Ya udah deh.” akhirnya ia menyerah. “Aku bakal ajarin kamu masakan Korea.”
Aku langsung tersenyum.
“Tapi jangan hari ini atau besok.”
“Kenapa?”
“Aku harus belajar dulu.”
Aku tertawa kecil.
“Oke.”
“Nah, sekarang sana ganti baju.”
“Bentar dong. Aku selesaiin makan dulu.”
“Nanti di sana juga makan.”
Javier melirik piring di atas meja.
“Ngomong-ngomong kamu makan apa?”
Dia mendekat lalu melihat isi piringku.
Sebelum aku sempat menjawab, Javier tiba-tiba mengambil sendok yang ada dipiringku.
Lalu...
Dengan santainya dia menyendok makanan itu dan memasukkannya ke mulutnya.
Aku langsung membelalak.
“Mas!”
“Hm?”
“Kenapa kamu pakai sendokku?”
Javier terlihat bingung.
Dia mengunyah beberapa detik lalu menelan makanannya.
“Lumayan.” ucapnya. “Rasanya udah enak.”
“Mas!”
“Apa lagi?”
“Kenapa kamu pakai sendokku?”
“Aku cuma pengen tahu rasa masakan kamu.”
“Kan bisa pakai sendok lain.”
“Kenapa harus repot-repot cari sendok lain?”
Aku langsung terdiam.
“Ya karena...” aku menunjuk sendok di tangannya. “Itu kan bekas aku. Udah masuk mulutku.”
“Iya. Terus?”
“Emangnya kamu nggak jijik?”
“Nggak.”
Jawabannya terlalu cepat.
Terlalu santai.
Seolah pertanyaanku aneh.
Aku hanya bisa menatapnya.
Sementara Javier malah meletakkan kembali sendok itu ke piringku.
“Udah sana.” ucapnya. “Ganti baju.”
“Iya, iya.”
Aku berdiri lalu masuk ke kamar.
Namun begitu pintu kamar tertutup, pikiranku langsung kembali ke kejadian tadi.
Kenapa Javier dengan santainya memakai sendok yang sudah kupakai?
Dan kenapa dia tidak jijik?
Seolah-olah aku adalah keluarganya.
Atau...
Orang yang dia cintai.
Aku langsung menggelengkan kepala.
Tidak mungkin.
Tanpa memikirkan lebih lanjut, aku membuka lemari lalu mulai mencari pakaian yang akan kupakai.
Setelah berganti pakaian, aku merias wajah secukupnya.
Tidak terlalu natural.
Tapi juga tidak menor untuk menghadiri acara pernikahan.
Setelah selesai memakai jilbab dan mengambil tas, aku pun keluar dari kamar.
Saat keluar dari kamar, kulihat Javier sedang duduk di sofa.
Makananku yang tadi ada di meja sudah tidak terlihat. Mungkin sudah dia pindahkan ke meja makan.
“Ayo, Mas.” ucapku sambil berjalan mendekatinya.
Namun Javier tidak menjawab.
Dia hanya menatapku.
“Mas...” panggilku lagi.
Tetap tidak ada jawaban.
Aku mengernyit lalu berjalan lebih dekat.
“Mas!”
Aku menepuk pundaknya.
Javier langsung tersentak.
“Hah?”
“Kenapa malah bengong sih?” tanyaku heran.
“Nggak apa-apa.”
Aku mengangkat alis.
Jelas-jelas ada apa-apa.
“Nay...” ucap Javier pelan.
“Hm?”
“Kenapa kamu dandan kayak gini?”
“Kenapa? Jelek ya? Padahal aku mencoba sebisaku agar riasanku bagus biar nggak bikin kamu malu di depan teman-teman kamu.” ucapku.
“Nggak jelek, kok.” ucap Javier.
Aku menatapnya.
“Cantik.”
“Hah?”
Aku sampai mengira salah dengar.
“Cantik.” ulang Javier.
Aku tidak tahu harus menjawab apa.
“Tapi menurutku ini terlalu berlebihan buat kondangan temanku.”
Aku mengernyit.
“Berlebihan?”
“Iya. Kamu dandan secantik ini buat apa?”
“Ya buat kondangan lah.”
“Menurutku kamu kayak mau menarik perhatian cowok lain.”
Aku langsung membelalak.
Hah?
Dia pikir aku apa?
“Kamu istriku, Naya.” lanjut Javier. “Udah sana hapus make-up-nya. Dandan yang kayak biasa kalau kamu kerja.”
“싫어! (Nggak mau!)”
“Apa?”
“Aku nggak mau!” ucapku kesal. “Aku udah effort dandan gini demi kamu, lho. Biar kamu nggak malu. Malah disuruh hapus.”
Javier langsung terdiam.
“Aku kayak gini demi kamu, bukan buat menarik perhatian cowok lain.”
Begitu kalimat itu keluar, aku langsung sadar dengan apa yang baru saja kukatakan.
Astaga.
Apa yang baru saja aku katakan?
“Apa?” ucap Javier terkejut. “Coba ulangi.”
“Nggak ada siaran ulang.” ucapku cepat. “Udah ayo berangkat. Nanti telat.”
Aku langsung berjalan keluar rumah begitu saja.
Sementara di belakangku, aku bisa merasakan Javier masih menatapku.
Begitu keluar rumah, aku melihat sebuah mobil baru saja masuk ke carport rumah Tara.
Aku langsung menghentikan langkah.
Siapa dia?
Rasa penasaran membuatku berjalan mendekat.
Tak lama kemudian, pintu mobil terbuka.
Seorang pria keluar dari dalam mobil. Umurnya mungkin sedikit lebih tua dari Javier.
“Eh, rumah sebelah udah ada yang nempati.” ucap pria itu ramah.
“Iya, sudah.” jawabku sambil tersenyum. “Ehm... maaf, Mas ini suaminya Mbak Tara, ya?”
“Oh iya.” Pria itu tersenyum. “Saya suaminya Tara.”
Dia berjalan mendekat lalu mengulurkan tangan.
“Perkenalkan, saya Rafli.”
“Oh... saya...”
Belum aku sempat memperkenalkan diri atau menjabat tangannya, tiba-tiba seseorang lebih dulu menyambut uluran tangan itu.
“Saya Javier.”
Aku dan Rafli sama-sama terkejut.
Javier entah sejak kapan sudah berdiri di sampingku.
“Ini Naya, istri saya.” lanjut Javier.
“Oh iya, iya.” Rafli tertawa kecil. “Senang bertemu dengan kalian.”
Tak lama kemudian terdengar suara kecil yang berlari dari dalam rumah.
“Papa!”
Rena berlari menghampiri Rafli, disusul oleh Tara dari belakang.
Rafli langsung mengangkat putrinya ke dalam gendongan.
“Papa, Rena kangen.”
“Iya.” Rafli tersenyum. “Papa juga kangen Rena.”
Aku tanpa sadar ikut tersenyum melihat mereka.
“Kalian mau ke mana?” tanya Tara.
“Oh, kami mau ke pernikahan teman saya.” jawab Javier.
“Oh...” Tara mengangguk.
“Kalau begitu kami permisi dulu.” ucap Javier.
Aku ikut mengangguk.
Namun sebelum sempat melangkah, Javier tiba-tiba menggenggam tanganku.
Aku langsung menoleh kaget.
“Ayo, sayang.”
Hah?
Aku menatapnya.
Apa katanya?
Sayang?
Apa aku tidak salah dengar?
Javier memanggilku sayang?
Sementara aku masih terdiam, Javier sudah menarikku pelan mengikuti langkahnya menuju mobil.
Aku bahkan tidak sempat bereaksi.
Begitu sampai di samping mobil, Javier membukakan pintu penumpang untukku.
Aku masuk dengan masih setengah linglung.
Setelah memastikan aku duduk, Javier menutup pintu lalu berjalan memutari mobil menuju sisi pengemudi.
Beberapa detik kemudian, dia masuk dan menutup pintu.
Aku masih diam.
Masih berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi.
“Mas, kenapa tadi...” ucapku sambil menoleh ke arahnya.
Namun ucapanku langsung terhenti.
Wajah Javier berada tepat di depanku.
Sangat dekat.
Terlalu dekat.
Aku bahkan bisa melihat dengan jelas kedua matanya.
Satu detik.
Dua detik.
Tiga detik.
Jantungku langsung berdetak tidak karuan.
Refleks aku mendorong bahunya.
“Apa sih? Deket-deket kayak gitu!”
Javier langsung mundur.
Ekspresinya terlihat bingung.
“Tadi aku nyuruh kamu pakai sabuk pengaman. Tapi kamu diem aja."
Aku terdiam.
“Jadinya aku mau pasangin.” lanjut Javier. “Eh, malah kamu noleh.”
Aku langsung memalingkan wajah.
Astaga.
Jadi dia bukan mau melakukan apa-apa?
Dia cuma mau memasangkan sabuk pengaman?
“Ngapain pasangin sabuk pengamanku? Aku bisa sendiri.”
“Tapi tadi kamu diem aja.”
“Ya gimana aku nggak diem...”
Aku menghentikan ucapanku.
“Kenapa?” tanya Javier.
“Nggak apa-apa.”
Aku buru-buru memasang sabuk pengaman sendiri.
Setelah itu aku langsung menatap ke luar jendela.
Diam.
Sementara mobil mulai bergerak meninggalkan rumah.
Namun entah kenapa, pikiranku sama sekali tidak memikirkan acara pernikahan yang akan kami hadiri.
Pikiranku justru terus terjebak pada dua hal.
Sayang.
Dan wajah Javier yang tadi berada terlalu dekat denganku.
Aku menghela napas pelan.
Hari ini benar-benar aneh.