Wang Hao, Kaisar Tertinggi Dunia Dou Li, mati secara misterius di puncak kejayaannya. Murid muridnya bersumpah mencari pelaku. Namun jiwa Wang Hao justru bangkit di tubuh pemuda lemah bernama Chen Nan di tempat lain. Kematiannya sendiri adalah misteri terbesar. Siapa yang mampu membunuh sosong sepertinya? Atau ada rahasia lebih kelam di balik kematiannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zerro One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18. Tetua dari Sekte Awan Ungu
Setibanya di aula, suasana sudah sangat berbeda dari biasanya. Patriark Sheng duduk di kursi utamanya dengan postur yang lebih tegak dari biasanya, tetapi ada ketegangan yang tersembunyi di balik ketenangannya. Di sampingnya duduk dua orang tetua Klan Sheng.
Di hadapan mereka, di kursi tamu utama, duduk seorang wanita.
Wanita itu mengenakan jubah ungu dengan sulaman awan perak di sepanjang lengannya, menandakan statusnya sebagai tetua Sekte Awan Ungu. Rambutnya yang panjang tergerai ke belakang, sementara wajahnya cantik tetapi sedingin es, tanpa emosi, tanpa kehangatan. Kedua matanya yang tajam memancarkan aura seseorang yang terbiasa menilai dan mengendalikan orang lain.
Di belakangnya berdiri dua orang kultivator pria berjubah ungu yang sama. Masing-masing berada di Kondensasi Qi lapis kedelapan dan lapis sembilan, dengan pedang terselip di pinggang mereka.
Ini adalah Tetua Huan Yue, wanita paling ditakuti di Sekte Awan Ungu. Kultivasinya berada di Pendirian Fondasi tahap menengah, dan reputasinya sebagai wanita yang dingin, bijaksana, dan licik sudah tersebar ke seluruh kota.
Begitu Wang Hao melangkah masuk, semua mata di ruangan itu tertuju padanya. Patriark Sheng membuka mulutnya untuk memperkenalkan secara langsung, tetapi Huan Yue sudah lebih dulu berbicara.
"Jadi kau pemuda yang membuat seluruh kota gempar," suaranya dingin seperti angin musim dingin. "Chen Nan."
Wang Hao berjalan ke kursi kosong dan duduk tanpa menunggu undangan siapapun.
"Benar."
Huan Yue menyipitkan matanya. Sikap Wang Hao yang seenaknya jelas bukan sikap yang ia harapkan dari seorang pemuda yang berhadapan dengan tetua sekte.
"Aku mendengar kau membuat Pil Pemulihan Dasar dengan kemurnian delapan puluh lima persen," ucap Huan Yue tajam. "Alkemis di Sekte Awan Ungu bahkan tidak bisa mencapai kemurnian setinggi itu. Dari mana kau mendapatkan resep itu?"
"Dari guru saya."
"Siapa gurumu?"
"Dia tidak menyebutkan namanya."
Huan Yue menatap Wang Hao lama sekali, seolah mencoba menembus topeng ketenangan yang dikenakan pemuda itu. "Aku tidak percaya pada guru tanpa nama. Tapi aku percaya pada apa yang bisa kulakukan jika kau menolak bekerja sama."
"Apa yang Anda inginkan?"
"Resep Pil Pemulihan Dasar itu," Huan Yue menyandarkan punggungnya ke kursi. "Dan resep Pil Pencahar yang kau berikan ke toko itu. Kau harus menyerahkannya ke Sekte Awan Ungu, dan sebagai imbalannya, kau akan diberikan posisi sebagai alkemis tamu di sekte. Kau akan hidup berkecukupan dan mendapatkan perlindungan sekte."
"Dan jika saya menolak?"
Senyum tipis muncul di sudut bibir Huan Yue, tetapi tidak ada kehangatan di dalamnya. "Kalau begitu, aku akan menganggapmu sebagai ancaman terhadap monopoli Sekte Awan Ungu. Dan kau tahu apa yang terjadi pada seseorang yang dianggap sebagai ancaman."
Patriark Sheng menegang di kursinya. "Tetua Huan, Chen Nan adalah tamu kehormatan Klan Sheng. Aku harap Tetua bisa..."
"Diam." Kata itu keluar dari mulut Huan Yue seperti cambukan. "Klan Sheng hanyalah klan kecil di bawah perlindungan Sekte Awan Ungu. Jangan lupa tempatmu, Patriark Sheng."
Wajah Patriark Sheng memerah, tetapi ia tidak berani membalas. Perbedaan kekuatan antara Klan Sheng dan Sekte Awan Ungu terlalu besar. Melawan Huan Yue sama saja dengan menghancurkan seluruh klannya.
Wang Hao menyilangkan kakinya. "Saya tidak tertarik menjadi alkemis sekte anda. Dan saya tidak akan memberikan resep itu."
Huan Yue menatapnya dengan mata yang kini berubah menjadi dua bilah pedang tajam. "Kau pikir kau punya pilihan?"
"Saya selalu punya pilihan."
Keheningan panjang menggantung di aula. Huan Yue mengetukkan jarinya ke atas lengan kursi, menimbulkan bunyi berirama yang membuat para pelayan di sudut ruangan gemetar ketakutan.
"Baiklah," katanya akhirnya. Ia menoleh ke arah salah satu pengawalnya, seorang pria bertubuh tegap dengan bekas luka di pipi kirinya. Kultivasinya berada di Kondensasi Qi lapis kedelapan. "Yao Tie, beri pelajaran pada pemuda ini. Jangan bunuh dia, tapi buat dia mengerti bahwa menolak Sekte Awan Ungu adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya."
Pria bernama Yao Tie itu melangkah maju sambil mencabut pedangnya. Bilah pedang itu berwarna abu-abu gelap dengan alur-alur energi spiritual yang samar di permukaannya.
"Aku akan membuatmu berlutut, bocah," katanya sambil menyeringai.
Wang Hao bangkit dari kursinya. Lalu mengeluarkan pedang biasa dari cincin ruangnya. Pedang itu langsung muncul di genggaman Wang Hao. Bilahnya polos tanpa ukiran, tanpa alur energi spiritual, hanya pedang baja tempa biasa. Dibandingkan dengan pedang Yao Tie yang dipenuhi energi spiritual, pedang Wang Hao terlihat seperti mainan anak-anak.
Yao Tie tertawa melihat pedang itu. "Kau akan melawanku dengan pedang itu?"
Wang Hao tidak menjawab. Ia hanya berdiri dengan pedang di tangan kanannya, posisinya santai, seolah-olah ia sedang berdiri di taman, bukan di tengah aula yang dipenuhi ketegangan.
"Anak ini tidak tahu diri," hardik Yao Tie.
Yao Tie melangkah maju dengan cepat, hingga tiba tepat satu meter di depan Wang Hao. Tanpa ragu dia mengayunkan pedangnya dari atas ke bawah ke arah kepala Wang Hao.
Slash!
Serangan itu cepat dan penuh tenaga, cukup untuk membelah batu.
Wang Hao memiringkan tubuhnya ke kanan. Bilah pedang Yao Tie lewat di samping telinganya dan berakhir menghantam lantai batu.
Braakk!
Lantai itu retak, meninggalkan bekas tebasan selebar telapak tangan.
Wang Hao segera menegakkan tubuhnya, melihat Yao Tie masih setengah menunduk hendak bangkit, Wang Hao langsung menusukkan pedangnya lurus ke depan, tepat ke pergelangan tangan.
Slash! Jleb!
Bilah pedang itu menembus pergelangan tangan kanan Yao Tie yang masih memegang pedang.
"AARGH!"
Darah menyembur dari luka tusukan. Pedang Yao Tie terlepas dari genggamannya dan jatuh ke lantai dengan bunyi denting keras.
Wang Hao menarik pedangnya keluar, lalu mengayunkannya ke samping dengan gerakan ringan, tepat ke arah paha kanan. Slash! Bilah pedangnya mengiris paha kanan Yao Tie.
"AARGH!"
Yao Tie roboh ke lantai, memegangi pahanya yang mengeluarkan darah segar. Ia merintih kesakitan sambil menatap Wang Hao dengan mata penuh keterkejutan dan kemarahan.
Huan Yue tidak bergerak dari kursinya. Wajahnya tetap dingin, tetapi ada perubahan kecil di matanya, seolah-olah ia baru saja menyadari sesuatu yang tidak ia perhitungkan sebelumnya.
Pengawal kedua, kultivator Kondensasi Qi lapis sembilan, melangkah maju tanpa menunggu perintah. Ia menghunus pedangnya dan langsung menusukkannya lurus ke arah dada Wang Hao. Serangan ini lebih cepat dan lebih tajam dibandingkan serangan Yao Tie.
Wang Hao melangkah satu langkah ke kiri. Tusukan pedang itu lewat satu jari di samping rusuknya. Begitu tubuhnya stabil, Wang Hao mengayunkan pedangnya dari kanan ke kiri. Sret, lengan kanan pengawal itu langsung terkoyak.
"ARGH!"
Darah menyembur. Pedang pengawal itu jatuh dari tangannya yang terluka.
Wang Hao tidak berhenti. Ia menusukkan pedangnya ke depan, mengenai bahu kiri pengawal itu, lalu menariknya keluar dengan gerakan halus. Darah menyembur lagi, dan pengawal itu roboh di samping Yao Tie.
Kedua pengawal itu kini terbaring di lantai aula, merintih kesakitan dengan darah menggenang di sekitar tubuh mereka.
Wang Hao memasukan pedangnya kembali dengan gerakan tenang, lalu duduk di kursinya seperti tidak ada yang terjadi. "Apakah Sekte Awan Ungu hanya memiliki kultivator sekelas ini?"
Huan Yue menatapnya dengan sorot yang kini benar-benar berbeda. Tidak ada lagi seringai meremehkan. Yang ada hanyalah perhitungan dingin, seperti seorang pemain catur yang baru menyadari bahwa lawannya bukan pion biasa.
"Kau baru saja melukai dua orang murid Sekte Awan Ungu," suaranya pelan, tetapi setiap katanya mengandung ancaman yang lebih berat dari sebelumnya. "Itu adalah tindakan yang bisa membuatmu dihukum mati."
Wang Hao menatapnya balik. "Mereka menyerang saya lebih dulu. Saya hanya membela diri."
"Dan kau pikir Sekte Awan Ungu peduli dengan alasanmu?"
"Saya pikir," Wang Hao menyandarkan punggungnya ke kursi, "Anda tidak akan membunuh saya sekarang."
Huan Yue menyipitkan matanya. "Kenapa?"
"Karena Anda belum mendapatkan resep itu."
Keheningan kembali menggantung di aula. Keduanya saling bertatapan, dua pasang mata yang sama-sama tajam, sama-sama penuh perhitungan. Patriark Sheng dan kedua tetuanya menahan napas, tidak berani bersuara.
Akhirnya, Huan Yue bangkit dari kursinya. "Aku akan kembali dalam tiga hari. Jika kau masih menolak bekerja sama pada saat itu..." Ia berhenti sejenak, menatap Wang Hao dengan sorot yang menusuk. "Aku akan menghancurkan Balai Ramuan Giok Hijau, menangkap semua orang yang terkait denganmu, dan memastikan kau tidak akan pernah bisa meninggalkan kota ini. Pertimbangkan baik-baik, Chen Nan."
Ia berjalan keluar dari aula tanpa menunggu jawaban. Kedua pengawalnya yang terluka berusaha bangkit dan mengikutinya dengan langkah terseok-seok, meninggalkan jejak darah di sepanjang lantai batu.
Setelah suara langkah kaki mereka menghilang, Patriark Sheng menghela napas panjang. Wajahnya pucat, dan tangannya masih gemetar di atas lengan kursi.
"Chen Nan... apa yang baru saja kau lakukan? Kau baru saja membuat musuh dari Sekte Awan Ungu. Itu adalah kekuatan yang bahkan tidak bisa dilawan oleh gabungan tiga klan besar sekalipun."
Wang Hao menatap ke arah pintu tempat Huan Yue baru saja menghilang. "Dia tidak akan kembali dalam tiga hari."
"Apa maksudmu?"
"Dia akan kembali lebih cepat. Mungkin besok, mungkin lusa. Tiga hari hanyalah gertakan untuk melihat reaksi kita." Wang Hao bangkit dari kursinya.
Patriark Sheng menelan ludah. "Lalu... apa yang harus kita lakukan?"
Wang Hao berjalan ke arah pintu, lalu berhenti sejenak. "Saya akan memikirkannya, dan patriak tenang saja. Untuk sekarang, pastikan Gu Yan dan Lao Fan tetap aman."
Ia melangkah keluar dari aula, meninggalkan Patriark Sheng dan kedua tetuanya dalam keheningan yang dipenuhi ketakutan.