Demi uang, Asia menerima tawaran menikah kontrak dengan Kapten Hugo, seorang tentara yang mengalami kelumpuhan parsial karena cidera tugas. Baginya pernikahan itu hanyalah jalan tercepat untuk melunasi utang seratus juta rupiah yang ditinggalkan ayahnya setelah kabur karena kalah berjudi.
Namun ia harus menjadi ibu tiri bagi putra bungsu yang super aktif dan sulit dikendalikan. Serta putri kelas 3 SMP yang membencinya karena merasa Asia telah menggantikan posisi mendiang ibunya.
Asia tak berniat menjadi istri yang baik atau ibu yang penyayang. Targetnya hanya satu: mengumpulkan uang sebanyak mungkin, lalu pergi saat kontrak pernikahan berakhir.
Hanya saja, keluar dari keluarga itu ternyata jauh lebih sulit daripada masuk ke dalamnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 19
"Aku duduk di belakang ya."
"Jangan. Kamu duduk depan saja. Karena kamu enggak punya helm," kata Asia hingga akhirnya bocah itu mau duduk di depan.
Rasa malas bocah ini sudah lenyap. Berubah jadi binar antusias karena akhirnya ia bisa berangkat sekolah tanpa naik mobil jemputan yang membosankan. Tangannya memegang motor.
"Gimana, Nero?" tanya Asia, melirik dari kaca spion motor matik tua yang mesinnya sudah menyala halus.
"Ini bagus. Aku enggak pernah naik motor."
"Kita gas agak cepat?"
"Ya! Gas!" seru Nero riang.
Asia tersenyum, lalu menarik tuas gas perlahan. Membawa motor matik itu menuju TK khusus anak-anak tentara yang terletak di dalam kompleks militer.
Begitu motor Asia memasuki gerbang kompleks persekolahan, atmosfer disiplin langsung terasa pekat. Di depan gerbang, beberapa anggota provos berjaga dan memberikan hormat pada mobil-mobil dinas yang lewat.
Di area drop-off, pemandangan didominasi oleh deretan ibu-ibu yang sedang mengantar anak-anak mereka.
Kedatangan Asia yang mengendarai motor matik dengan pakaian kasual santai tapi sopan seketika menarik perhatian. Beberapa pasang mata ibu-ibu di dekat koridor kelas langsung tertuju pada mereka, berbisik-bisik kecil. Mereka tahu Nero adalah anak dari Kapten Hugo. Salah satu perwira di markas komando, tapi mereka belum pernah melihat wanita yang membonceng bocah itu.
Asia menepikan motornya di area parkir khusus roda dua. Ia turun terlebih dahulu, lalu membantu Nero turun.
"Nah, sudah sampai."
"Yah, akhirnya sampai," keluh Nero.
"Kenapa?" tanya Asia sambil merapikan rambut Nero yang sedikit berantakan.
"Aku enggak suka sekolah," katanya jujur.
"Iya. Aku juga dulu enggak suka sekolah. Capek."
"Iya, capek sekali."
"Tapi aku tetap berangkat sekolah. Ayo, turun hati-hati," ajak Asia.
"Kenapa?" tanya Nero tertarik. Mungkin karena ada kata sama-sama tidak menyukai sekolah jadi bocah ini antusias. "Kenapa harus sekolah?"
"Karena ibuku miskin jadi aku harus sekolah."
"Bukannya miskin tambah enggak bisa sekolah? Kan kalau miskin enggak punya uang."
"Benar. Karena itu aku mau punya banyak uang jadinya harus sekolah. Kalau sekolah kan bisa kerja di tempat yang bagus. Jadi aku bisa punya uang banyak."
"Kalau enggak sekolah enggak bisa dapat uang banyak?"
"Enggak bisa. Mana mau tempat kerja dapat orang yang bodoh karena enggak enggak sekolah."
Tepat saat Asia hendak menyerahkan tas ransel Nero, sebuah suara bernada tinggi menyela dari arah belakang mereka.
"Lho, ini Nero, kan? Waduh, kok tumben hari ini tidak diantar mobil jemputan biasanya? Dan... maaf, Mbak ini siapa ya? Pengasuh barunya Nero?" tanya ibu paruh baya itu pada Asia.
Asia menoleh pelan. Seorang wanita paruh baya menatap Asia dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan pandangan menilai yang sangat kentara.
Beberapa ibu Persit lain yang berada di dekat sana mulai memperlambat langkah, sengaja memasang telinga untuk ikut mendengarkan.
Asia yang mendengarkan pertanyaan bernada meremehkan itu tetap tenang. Ia tidak terlihat gugup sama sekali. Dengan gerakan anggun ia merapikan letak tas ransel Nero.
"Selamat pagi," sapa Asia dengan senyum ramah yang sangat sopan. "Saya Asia. Saya yang bertanggung jawab mengurus Nero sekarang."
Asia sengaja memilih kalimat yang ambigu. Karena dia belum tahu siapa perempuan yang menyapanya ini.
Nyonya Ratna menaikkan satu alisnya, tersenyum sinis. Oh, jadi pengasuh baru. "Saya Nyonya Ratna. Istri dari Mayor Andre."
Asia mengangguk.
"Suami saya jabatannya berada sedikit di atas Hugo," imbuh Nyonya Ratna mengejutkan.
Ow, dia tipe pamer, batin Asia.
"Kenapa Nero enggak naik mobil? Apa Kapten Hugo sudah tidak punya mobil?"
Bisikan-bisikan kecil langsung terdengar dari kerumunan ibu-ibu di belakang Nyonya Ratna. Kalimat itu jelas sebuah sindiran tajam yang berniat menjatuhkan harga diri keluarga Hugo.
Nero yang merasakan aura tidak enak dari ibu ibu di depannya. Ia langsung bersembunyi di balik kaki Asia, meremas ujung baju Asia dengan erat.
Asia merasakan perubahan sikap Nero. Ia meletakkan satu tangannya di bahu Nero untuk menenangkan bocah itu, lalu kembali menatap Nyonya Ratna.
"Maaf sebelumnya, Nyonya," ucap Asia, suaranya terdengar jelas dan tenang, sengaja agar didengar oleh ibu-ibu yang lain. "Nero sengaja saya antar pakai motor pagi ini atas keinginannya sendiri. Sebagai anak seorang prajurit, Saya rasa Nero sedang di ajari untuk belajar mandiri."
Kalimat Asia membuat alis Nyonya Ratna naik lagi. Mungkin sedikit terkejut.
"Benar, kamu benar. Apalagi kaki kapten Hugo masih belum pulih ya. Jadi anak-anaknya wajib mandiri." Ada nada hinaan di dalam kalimat ibu ini.
Kurang ajar. Perempuan ini aku kasih bintang satu. Dia orang yang harus dihindari biar enggak ada konflik, batin Asia geram.
Seorang ibu guru TK berjalan mendekat ke arah mereka, memecah ketegangan. "Selamat pagi, Nero sudah datang? Ayo Nak, masuk ke kelas. Bel sudah mau berbunyi."
Asia tersenyum manis pada sang guru, lalu menunduk menatap Nero. "Ayo, Nero masuk kelas," kata Asia.
Nero menggeleng. "Aku enggak mau sekolah."
"Hmmp." Bu Ratna tergelak mencibir. Asia dan ibu guru menoleh. "Aku pikir Nero sudah siap sekolah ternyata sama saja. Enggak mau sekolah."
Hei! Asia tidak setuju, tapi dia masih belum cukup infomasi untuk membungkam mulut mereka. Ini hari pertamanya mengantar Nero ke sekolah.
"Iya Bu Ratna. Saya pikir Sudah siap sekolah," ujar ibu lain ikut-ikutan.
"Jangan begitu ibu-ibu. Namanya anak kecil. Banyak kok anak-anak yang memang enggak mau sekolah, bukan cuma Nero," ujar Bu guru menengahi.
Asia melirik wanita berseragam guru itu sekilas. Ibu guru ini baik dan cerdas. Aku kasih dia bintang 5 untuk sekarang.
"Ayo, ibu Nero. Anda bisa masuk untuk menemani Nero dulu," ajak ibu guru ramah.
Asia kembali berlutut di depan Nero. "Kalau aku masuk ke dalam kelas, kamu mau sekolah?" rayu Asia lembut.
Nero masih diam dengan bersandar padanya. Bola matanya melihat ke sekelilingnya.
"Jangan takut. Nanti kita beli sugar Glider lagi. Kamu bisa tunjukkan sugar Glider mu pada mereka," bisik Asia membuat Nero menoleh padanya dan tersenyum.
"Oke."
Asia langsung berdiri tegak. "Nero mau masuk sekolah, Bu guru," kata Asia.
"Syukurlah," Bu guru senang.
Sementara itu respon Nyonya Ratna mengejutkan. "Kamu bilang apa ke dia?" tanya beliau sedikit tersinggung.
"Saya?" tanya Asia tidak menduga.
"Ya. Tadi dia menoleh ke saya lalu tersenyum. Kayak mengejek saya," kata Bu Ratna yakin.
Ibu guru mengerjap heran. Dia tahu setelah Asia membisikkan sesuatu, Nero menoleh pada orang-orang itu lalu tersenyum. Namun dia tidak yakin kalau itu mengenai ibu-ibu ini.