NovelToon NovelToon
Hidayat Bersaudara

Hidayat Bersaudara

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Anak Genius
Popularitas:682
Nilai: 5
Nama Author: Faris Arjunanurhidayat

Guntur Hidayat dan Ali Hidayat awalnya bersekolah di SMA yang mayoritas dihuni anak orang kaya. Karena keterbatasan biaya, keduanya terpaksa putus sekolah. Mereka lalu membantu kakak tertua mereka, Faris Hidayat — sosok yang disegani, ahli memperbaiki dan memodifikasi motor, serta diam-diam pandai mengembangkan uang lewat saham terindeks. Bersama orang tua mereka, Bapak Wijaya Hidayat dan Simbok Arum Sari, ketiga bersaudara ini berjuang membangun masa depan lewat bengkel kecil mereka. Membuktikan: keberhasilan tidak harus selalu lewat bangku sekolah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18: Maya Miya Mulai Sekolah di MI Desa

Tiga hari setelah bengkel resmi beroperasi, hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Pagi itu, langit sangat cerah, udara sangat sejuk, dan suasana rumah terasa sangat istimewa. Hari ini adalah hari pertama Maya dan Miya memulai kembali masa sekolah mereka, masuk ke Madrasah Ibtidaiyah (MI) yang terletak tak jauh dari kediaman baru mereka, hanya sekitar lima menit jalan kaki melewati jalan setapak di pinggir sawah yang indah dan hijau.

Sejak subuh, Ibu Arum Sari sudah sibuk sekali. Ia menyiapkan seragam merah putih dan baju koko serta kerudung putih bersih untuk kedua putrinya itu. Sarung bantal dan selimut sudah disiapkan rapi, bekal makanan dan uang saku sudah diselipkan ke dalam tas sekolah yang baru dibelikan Faris kemarin sore. Maya dan Miya sendiri dari bangun tidur sudah bersemangat luar biasa, tak henti-hentinya tersenyum dan bercanda, rasa malu dan takut yang dulu mereka rasakan karena putus sekolah kini sudah hilang sama sekali, berganti rasa bangga dan semangat belajar yang membara.

Faris sudah siap sejak pagi. Ia mengenakan baju rapi, sepatu bersih, dan tentu saja rokok Gajah Baru Kertek yang selalu menemaninya ke mana pun. Ia berdiri di teras menunggu kedua adik kembarnya itu selesai bersiap, matanya menatap jalan setapak di pinggir sawah dengan pandangan penuh harapan. Bagi Faris, pendidikan adik-adiknya adalah prioritas utama, lebih penting daripada kemajuan bengkel, lebih berharga daripada uang berlipat ganda. Ia ingin memastikan, apa yang dulu sempat terputus karena kesusahan, kini bisa disambung kembali bahkan jauh lebih baik lagi.

"Sudah siap belum itu dik...?" tanya Faris dengan suara lembut namun tegas saat melihat kedua gadis kecil itu keluar dari rumah tampak sangat manis dan rapi.

"Siap, Bang! Sudah siap semua!" jawab mereka berbarengan sambil tersenyum lebar, tas punggung mereka bergoyang-goyang penuh semangat.

Faris mendekat, memeriksa kerudung mereka, merapikan sedikit letak bajunya, lalu menatap mata mereka satu per satu dalam-dalam. Gaya bicaranya berubah menjadi lebih serius, penuh pesan dan nasihat hidup, khas kakak laki-laki yang bertanggung jawab penuh.

"Dengar pesan Abang baik-baik ya... Hari ini kalian masuk sekolah di sini... Di MI desa ini... Ingat selalu ya... Sekolah ini bukan sekadar tempat baca tulis berhitung saja... Tapi di sini kalian belajar agama... Belajar akhlak... Belajar jadi manusia yang baik. Abang dulu juga sekolah di tempat begini... Mulai dari kelas 1 sampai 6... Terus lanjut ke MTs sampai tamat... Abang cuma sampai situ saja dik... Karena keadaan waktu itu belum memungkinkan buat lanjut lebih tinggi. Tapi Abang buktikan kan? Walaupun cuma tamatan MTs... Tapi ilmu dan akhlak yang Abang dapat dari situ cukup buat Abang berjuang sampai punya tanah sendiri, sampai punya usaha sendiri, sampai bisa bahagiakan Bapak Ibu dan kalian semua."

Ia berhenti sejenak, mengambil napas dan menghisap rokoknya sebentar, lalu melanjutkan lagi dengan nada makin berat dan menyentuh hati.

"Makanya... Abang titip pesan... Kalian berdua sekolah yang rajin... Yang tekun... Yang nurut sama Bapak Ibu Guru. Jangan malu kalau ada yang tanya atau tahu kalau kalian sempat berhenti dulu. Itu bukan aib dik... Itu sejarah perjuangan kita. Bilang saja terus terang: 'Dulu kami susah, kami bantu orang tua cari nafkah, sekarang sudah enak, kami lanjut belajar lagi.' Justru orang bakal makin hormat sama kalian kalau kalian berani jujur dan tetap semangat."

Faris menunjuk ke arah jalan setapak di pinggir sawah yang terhampar indah ke arah bangunan sekolah yang sudah mulai terlihat atapnya dari jauh.

"Dan ingat jadwalnya ya dik... Jam setengah sepuluh pagi itu istirahat. Pas istirahat itu jangan cuma main saja... Ada jadwal hafalan surat-surat pendek. Kalian harus ikut itu... Hapalkan semuanya sampai lancar, sampai bisa dibaca kalau sholat. Terus jam Zuhur pas... Begitu adzan berkumandang, langsung berhenti belajar... Kita sholat berjamaah di masjid sekolah bareng-bareng. Habis sholat Zuhur itu baru boleh pulang. Jangan main telat pulang ya... Jalannya deket kok... Cuma lewat sawah saja... Aman, bersih, sejuk. Abang atau Ibu bakal nungguin di ujung jalan."

Maya dan Miya mengangguk mantap, mata mereka berkaca-kaca terharu mendengar nasihat panjang lebar itu. "Siap Bang! Kami ingat semua... Kami janji bakal jadi anak paling rajin, paling pinter, dan paling sopan di sekolah itu. Kami bangga sekali sekolah di tempat yang sama jejaknya sama Abang," kata Maya serius.

"Baguslah kalau gitu..." Faris tersenyum puas, lalu mengusap kepala mereka berdua dengan kasih sayang. "Yaudah... Ayo berangkat... Abang antar sampai gerbang sekolah sekalian... Mau kenalan sama Bapak Kepala Sekolah sama Guru-gurunya. Dulu Abang kenal dekat sama mereka semua... Pasti mereka masih ingat anak laki-laki Wijaya Hidayat yang rajin meski sering bolos kalau ada kerjaan hehe."

Mereka pun berjalan beriringan melewati jalan setapak berdebu halus di pinggir sawah. Angin pagi berhembus lembut menggoyangkan padi yang mulai menguning, burung-burung berterbangan riang, seolah ikut mengantar kebahagiaan langkah kedua anak kembar itu. Sepanjang jalan, warga desa yang berpapasan menyapa ramah, sudah kenal sebagai anak-anak dari pemilik bengkel baru yang terkenal jago dan jujur itu.

Sesampainya di gerbang MI, suasana sudah ramai sekali dengan anak-anak sekolah yang berdatangan. Bangunan madrasah itu sederhana namun bersih dan asri, banyak pepohonan rindang di halamannya, dan terdengar suara anak-anak mengaji bersahutan dari dalam kelas. Begitu melihat Faris, seorang Bapak Guru yang sudah tua tapi masih tegap langsung berjalan mendekat, wajahnya kaget sekaligus senang.

"Lho... Ini Faris Hidayat ya? Anaknya Pak Wijaya? Ya Allah... Masih ingat sekali sama kamu! Dulu anaknya cerdas, rajin, cuma kalau musim tanam sering minta izin bantu bapaknya hehe..." seru Bapak Guru itu sambil menjabat tangan Faris erat sekali.

Faris tertawa lebar, menunduk hormat. "Iya, Pak Guru... Betul sekali... Masih ingat rupanya. Alhamdulillah sehat selalu Bapak. Ini Pak... Saya antarkan kedua adik kembar saya, Maya sama Miya... Mulai hari ini mereka sekolah di sini, lanjut kelas 3. Saya titipkan ya Pak... Didik mereka sebaik mungkin, sama seperti Bapak mendidik saya dulu."

Bapak Guru itu menatap kedua gadis kecil yang manis dan sopan itu, lalu tersenyum puas. "Pasti Faris... Tenang saja. Anak-anakmu pasti kita jaga, kita didik. Kalau punya dasar baik seperti kamu, pasti mereka juga bakal jadi anak hebat. Selamat ya... Selamat memulai lembaran baru di sini."

Faris mengangguk lega, mencium tangan Bapak Guru itu, lalu berpaling ke adik-adiknya yang sudah mau masuk ke barisan kelas.

"Nah... Masuklah... Belajar yang rajin... Nurut sama Guru... Nanti habis sholat Zuhur Abang atau Ibu jemput di sini. Semangat ya... Kalian pasti bisa... Abang bangga banget sama kalian," ucap Faris terakhir kali sambil melambaikan tangan.

Melihat punggung kedua adiknya masuk ke dalam gerbang sekolah dengan penuh percaya diri, hati Faris terasa sangat damai dan bahagia. Salah satu cita-cita besarnya sudah terwujud: menyekolahkan kembali adik-adiknya di tempat yang baik, aman, dan berilmu. Ia berjalan pulang pelan sambil merokok, menatap sawah yang luas, hatinya penuh rasa syukur. Di Desa Ketajen ini, segalanya berjalan indah dan sesuai rencana. Bengkel maju, warung laris, dan pendidikan adik-adik terjamin. Faris tahu betul, ini adalah pondasi kuat untuk masa depan keluarga Hidayat yang jauh lebih gemilang lagi.

1
falea sezi
semangat nanti q kirim hadiah
falea sezi
author orang mana
FARIZARJUNANURHIDAYAT: Sidoarjo
total 1 replies
falea sezi
bima kn otaknya kosong🤣 cm ngandalin harta orang tua nya aja😒
Ilham
BG jangan gantung gtu cerita nya npa bg
FARIZARJUNANURHIDAYAT: Siap Kak Ilham
😌 Jangan khawatir… cerita ini nggak bakal jadi ,gantungan kunci doang, bakal lurus sampai garis finis persis di lintasan balap Nanti bab-babnya menyusul cepat kok 😂
total 1 replies
Ilham
lanjut bg
Ilham
lanjut bg👍
Ilham
lanjut BG jangan gantung bg
Ilham
lanjut bg
Ilham
lanjut BG cerita dari awal mantap bg
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!