Hannah pernah kehilangan segalanya—rumah tangga, impian menjadi seorang ibu, dan kepercayaan pada cinta. Saat ia mulai menata hidupnya kembali, Rayyan hadir tanpa memaksa, hanya perlahan membuktikan bahwa cinta yang tulus tidak pernah lahir dari paksaan. Namun ketika masa lalu kembali muncul, Hamnah harus memilih, tetap hidup bersama luka, atau memberi kesempatan pada hati untuk percaya sekali lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nathasya90, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DBL14
MAAFIN, MAS
Langit sudah gelap ketika suara mesin mobil terdengar memasuki halaman rumah.
Hannah yang sejak tadi beberapa kali melihat layar ponselnya spontan menoleh ke arah jendela. Tidak ada satu pun balasan dari pesan terakhirnya. Baru kini ia mengembuskan napas lega.
Akhirnya Romi pulang.
Setelah membersihkan diri dan makan malam bersama, keduanya masuk ke kamar. Di sanalah Hannah akhirnya mengutarakan kabar yang sejak siang ingin ia sampaikan.
“Singapura?”
“Iya.”
“Kok mendadak? Bukannya kemarin kamu bilang ke luar kota? Kenapa jadinya luar negeri?” Protes Romi ketika sang istri memberitahunya jika dia akan ke luar negeri lusa depan.
Hannah menghela napas sebelum menjawab pertanyaan sang suami.
“Ini juga mendadak, Mas. Perintahnya itu langsung dari atasanku. Kita bawahan mah mau bagaimana? Terima nasib saja sebagai bawahan, kecuali suamiku itu CEO atau pemilik saham tertinggi di perusahaan tempatku bekerja ya pasti aku protes lah!” Jelas Hannah, sedikit menggerutu karena sejujurnya ia juga kesal karena susunan acara yang ia dan timnya susun harus berantakan yang otomatis harus mereka ulang dari awal lagi, dan makin kesalnya lagi karena mereka hanya diberi waktu dua hari untuk menyusun semua rangkaian kerja mereka disana nanti.
Romi tertawa kecil sambil menggeleng mendengar perkataan sang istri. Bisa-bisanya dia berandai memiliki suami seorang CEO dan pemilik saham perusahaan. Ada-ada saja pikirnya.
“Oh iya, Mas, kamu kemana sih tadi? Dari tadi aku chat juga telepon kok nggak dibalas atau di telepon balik.”
Setelah ia tadi teralihkan soal dinas dadakan ke negara singa itu akhirnya ia menanyakan juga perihal yang sedari tadi mengganggu pikirannya.
“Oh ya? Kapan?” jawab Romi langsung membuka ponselnya. “Oh iya astaga Sayang maaf ya aku nggak ngeh kalau kamu telepon tadi.”
“Beneran nggak ngeh atau sengaja?”
“Astagfirullah, Na, kamu ngomong apa sih?”
“Ya jangan salahin aku dong kalau aku mikirnya gitu, soalnya kan biasanya juga kamu tetap balas walau sibuk, minimal pasti kamu nge-chat atau telepon balik setelah meeting kamu selesai, ini mah nggak! Kamu sesibuk itu ya sampai nggak ada waktu buat ngecek ponsel?”
“Maaf ya Sayang… sumpah aku tadi memang nggak pegang ponselku,” kata Romi meyakinkan.
Hannah menatap suaminya dalam-dalam, mencoba mencari kebohongan namun yang ia dapatkan hanya ada sebuah keseriusan dimata suaminya.
Hannah kembali menghela napasnya panjang. Entah sudah berapa kali ia menghela napas satu harian ini. Entahlah, rasanya begitu banyak beban yang ia rasakan.
Melihat Hannah diam membuat Romi takut. Takut jika apa yang ia lakukan hari ini diketahui oleh sang istri.
“Jangan marah dong Sayang?” Bujuknya. Romi membawa tubuh istrinya ke dalam pelukan.
Setelah makan malam memang mereka memutuskan langsung masuk ke dalam kamar karena keduanya sudah sama-sama lelah bekerja seharian ini. Namun kebiasaan mereka yang selalu menyempatkan bercerita setelah berkegiatan di luar tetap mereka lakukan.
“Jangan diulang lagi, Mas, kamu membuatku over thinking seharian ini.”
Hannah melunak dan membalas pelukan sang suami.
Menghela napas, kali ini bukan Hannah melainkan Romi. Perasaan bersalah menyelimuti hatinya.
Maaf Na, maafkan aku.
“Mas sudah tidur ya?” Hannah mengira suaminya sudah tidur karena tak kunjung mendapat balasan.
“Belum, Na, tapi Mas janji akan terus memberikan kabar kamu sebisa yang Mas lakukan.”
Setelah cukup lama diam akhirnya suaminya bersuara, namun sayang karena balasan itu tak sesuai dengan ekspektasinya.
Hannah terdiam.
Entah kenapa, dua kata terakhir itu justru mengusik pikirannya.
Sebisa yang Mas lakukan? Kok….
Hannah kemudian melepas pelukan suaminya lalu duduk menatap pria itu dengan kening berkerut.
“Kenapa?” tanya Romi yang bingung melihat sang istri tiba-tiba bangun dari tidurnya lalu duduk menatapnya dengan tajam.
“Kenapa?” ulang Romi, ia berpikir keras kira-kira apa yang salah dengan ucapannya.
“Mas nggak nyadar ya sama ucapan Mas tadi?”
Romi menggeleng pelan. Karena memang ia tak mendapati ucapannya ada yang salah.
“Ucapan Mas itu seolah kalau aku ini bukan prioritas Mas tahu nggak?!”
Melihat jika ini hal serius membuat Romi melakukan hal yang sama yang istrinya lakukan. Ia bangun lalu duduk berhadapan dengan sang istri. Ia hanya tak ingin membuat semuanya semakin panjang dan rumit.
“Coba kasih tahu Mas dimana letak salahnya? Kata yang mana yang kamu anggap kalau kamu bukan prioritasku?’
“Apa kamu nggak nyadar kalau ucapan Mas yang mengatakan akan mengabari sebisa Mas lakukan, bukankah kata itu seolah jika aku ini bukan prioritas yang akan Mas beri kabar jika Mas bisa saja?”
Romi menghembuskan napasnya panjang. Ternyata itu yang membuat istrinya kesal.
“Baiklah maafkan aku. Sepertinya tadi Mas kurang fokus hingga mengatakan hal itu. Mas janji akan memberi kabar atau membalas pesan ataupun menelepon balik setelah Mas tidak sibuk. Oke? Sekarang kita tidur, pekerjaanmu pasti sangat banyak hingga membuatmu seperti ini.”
“Begini apa? Sensitif maksud Mas? Jadi kamu kira aku terlalu lebay? Begitu pikirmu?”
Romi mengusap wajahnya kasar.
“Ya sudah, kita istirahat dulu, kamu itu capek jadi masalah sepele seperti ini kamu buat besar.”
“WHATT?!”
“Sudahlah, ini sudah malam, kita sama-sama capek, kita butuh istirahat untuk merilekskan saraf kita yang tegang.”
Setelah mengatakan itu, Romi langsung berbaring. Hannah yang melihat itu membuat air matanya keluar. Wanita itu melakukan hal yang sama, ikut berbaring di kasur yang sama seperti malam-malam sebelumnya, namun kali ini sedikit berbeda sebab mereka tidur dengan saling memberi punggung.
“Kamu berubah, Mas,” lirih Hannah, entah ucapannya didengar sang suami atau tidak Hannah tak peduli.
Pagi harinya…
“Maaf Mas kita sarapan ini dulu ya, nanti misal kamu nggak kenyang kamu sambung sarapannya di kantor kamu saja,” kata Hannah ketika melihat sang suami menatap meja makan.
“Aku nggak bilang apa-apa loh!” balas Romi dengan cepat, tidak ingin sang istri salah paham lagi.
“Aku tahu Mas, aku cuma bilang saja siapa tahu kamu nggak kenyang sarapan roti.” Tutup Hannah, tidak ingin memperpanjang. Sudah cukup kemarin malam ia terlihat tak profesional didepan Gea. Ia tak ingin membuat harinya seperti kemarin yang tidak fokus seharian ketika di kantor.
“Na?”
Langkah kaki Hannah terhenti ketika akan berjalan menuju mobilnya. Hannah berbalik lalu menatap suaminya.
“Kenapa, Mas? Ada yang ketinggalan?” tanya Hannah, perasaannya semua sudah ia siapkan. Wanita itu meneliti penampilan suaminya, tas kantor ada, dasi juga sudah terpasang, kerapian baju? Sudah juga, lantas apa lagi? Kaos kaki? Ah rasanya tadi sudah disiapkan bersamaan dengan dalaman suaminya.
“Kenapa Mas? Aku buru-buru nih.”
Cup!
“Ini yang kelupaan. Hati-hati di jalan,” ucap Romi, kemudian berbalik tanpa menunggu reaksi Hannah.
Hannah mematung diperlakukan seperti itu. Menatap mobil suaminya yang sudah keluar lebih dulu dari pekarangan rumah. Hatinya yang panas tiba-tiba dibuat meleleh atas perlakuan suaminya.
Hannah menghembuskan napas panjang.
“Kenapa baru sekarang, Mas? Kenapa harus membuatku menangis dulu baru kamu melakukan itu?” lirih Hannah menatap mobil sang suami yang kian menghilang dari pandangan.
Ya, semalam Hannah memang menangis hingga ia tertidur. Rasa lelah seharian bekerja dan ditambah dengan pikiran negatifnya pada sang suami sungguh membuat energi Hannah terkuras habis.
Meninggalkan Hannah di rumah, Romi yang sedang mengendarai mobil terus menatap ke spion belakang. Pandangannya masih tertuju pada rumah yang ia tempati bersama Hannah—istrinya.
“Maafin Mas, Na. Maaf sudah membuatmu menangis,” lirih Romi.
Tadi pagi saat di meja makan sebenarnya bukan menu sarapan yang diperhatikan, tapi mata sembab sang istri yang ia perhatikan, namun ternyata istrinya itu salah paham.
Pria itu juga tak menyangka jika apa yang terjadi semalam membuat istrinya bersedih terlebih sampai membuatnya menangis. Ia tak sadar jika ucapan dan responnya semalam itu membuat rasa sakit di hati istrinya.
Padahal sejak kemarin, pikirannya memang tidak benar-benar tenang. Pertemuan yang tak pernah ia duga itu terus berputar di kepalanya, membuatnya beberapa kali kehilangan fokus, bahkan sampai tak menyadari ponselnya berdering berkali-kali.
Romi menggenggam kemudi sedikit lebih erat saat mobilnya berhenti di lampu merah. Ia memejamkan mata sejenak. Andai Hannah tahu apa yang sebenarnya terjadi kemarin, mungkin perempuan itu tidak akan menangis hanya karena sebuah pesan yang terlambat ia balas.
"Semoga hari ini aku tidak perlu bertemu dia lagi," gumamnya lirih.
Sebab ia sendiri belum tahu, apakah pertemuan kemarin benar-benar hanya sebuah kebetulan... atau justru awal dari sesuatu yang jauh lebih rumit.
Jangan lupa kasih ⭐⭐⭐⭐⭐ biar othor makin semangat up nya ya.
Ditunggu semua komenannya.
Love sekeboon buat kalian💐