NovelToon NovelToon
CINTA HABIS DI MANTAN

CINTA HABIS DI MANTAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Balas Dendam / Diam-Diam Cinta
Popularitas:285
Nilai: 5
Nama Author: AssaZahara

Catalea Yoora merupakan salah satu dari pewaris perusahaan Rotasi Company. Perusahaan yang bergerak di bidang makanan, bakery, dan kuliner yang sudah membuka cabang lebih dari lima provinsi. Beberapa menit menjelang akad nikahnya Alea menghilang. Gosip yang beredar Alea pergi karena ia tidak mencintai calon suaminya karena perjodohan keluarga. Kecurigaan itu beralasan, karena tamu yang dimaksud ternyata mantan Alea, Zahran Adrian Adiguna. Mantan kekasih yang pernah menjalin hubungan dengan Alea. Namun hubungan itu berakhir karena hubungan keluarga. Akhir-akhir ini hubungan kedua keluarga itu membaik. Tapi kejadian hilang nya Alea berkaitan Erat dengan Zahran. Beberapa orang menduga Alea di culik oleh Zahran karena dendam. Namun sebagian orang merasa alasan hilangnya Alea sangat sederhana ia masih cinta dengan mantan kekasih nya. Motif yang hanya bisa di ketahui publik ketika Alea di temukan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AssaZahara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tatapan Mata yang Sama

Sisa malam itu berjalan dengan keheningan yang tidak terasa menyesakkan. Setelah percakapan singkat namun sarat akan kejujuran, Zahran meninggalkan kamar itu untuk memastikan keamanan perimeter luar rumah singgah. Alea kembali ditinggalkan sendirian, namun kali ini rasa sesak di dadanya telah memudar, digantikan oleh kewaspadaan yang mulai tumbuh.

Ia turun dari ranjang kayu yang reot, kakinya yang telanjang menyentuh lantai papan yang dingin. Alea melangkah menuju jendela kecil yang tertutup tirai kain tipis. Ia menyingkapnya sedikit, membiarkan cahaya remang-remang dari bulan yang tertutup awan menyusup masuk. Hutan di luar sana tampak gelap dan tak berujung, namun di bawah sana, ia bisa melihat samar-samar sosok Zahran yang sedang berdiri di dekat mobil, memantau keadaan dengan senjata api yang terselip di balik ikat pinggangnya.

Zahran benar-benar telah berubah. Pria yang dulu hanya memegang pena arsitek dan maket bangunan, kini tampak seperti seseorang yang terbiasa dengan bahaya. Perubahan itu menyakitkan sekaligus mengagumkan bagi Alea.

Pintu kamar terbuka perlahan. Zahran kembali masuk dengan aroma embun gunung yang pekat menempel pada jaketnya. Ia membawa sebuah tas ransel kecil dan sebuah senter.

" belum tidur Al..?" tanya Zahran, suaranya pelan.

"Bagaimana aku bisa tidur setelah mengetahui bahwa kita sekarang adalah buronan nasional?" Alea berbalik, menatap Zahran yang kini sedang meletakkan tas di atas meja.

Zahran mendekat, lalu duduk di tepi ranjang. Ia menghela napas panjang, menatap Alea dengan intensitas yang selalu membuat wanita itu kehilangan daya tahan.

"Aku tidak memintamu untuk merasa tenang, Al... Aku hanya memintamu untuk tetap berada di sampingku."

Perkataan Zahran bukan lah gombalan yang di ucapkan oleh cowok kere. Zahran perlahan mengangkat tangannya, jemarinya menyusuri garis wajah Alea dari pelipis hingga ke dagu. Sentuhan itu tidak lagi ragu. Ada kerinduan yang tertahan, namun di sana juga ada rasa hormat yang mendalam. Mereka berdua terdiam, terjebak dalam memori empat tahun lalu saat mereka masih menjadi mahasiswa di Bandung, saat setiap tatapan mata mereka adalah janji tentang masa depan yang tidak melibatkan korporasi.

"Mata itu..." bisik Zahran, matanya tidak beralih dari iris mata Alea.

"Masih tatapan mata yang sama yang menatapku di toko roti Dago saat kita merayakan keberhasilan pesanan pertama kita. Mata kamu yang ga pernah berbohong, bahkan ketika bibirmu terpaksa mengucapkan kata perpisahan di malam terkutuk itu."

Alea memejamkan mata, membiarkan sentuhan Zahran membakar kulitnya.

"Aku harus membohongimu saat itu, ran. Aku tidak punya pilihan. Jika aku tidak pergi, Ayah akan menghancurkan setiap karya arsitektur yang kamu bangun sebelum kamu sempat dikenal dunia."

"Aku tahu," jawab Zahran lirih.

Ia menarik tubuh Alea lebih dekat, hingga jarak di antara mereka nyaris tak ada.

"Aku sudah tahu alasannya sejak enam bulan lalu. Aku menghabiskan tiga tahun membencimu karena menganggapmu wanita yang haus akan kemewahan, namun ternyata aku menghabiskan tiga tahun itu dengan membohongi diriku sendiri."

Alea membuka matanya, dan ia menemukan tatapan itu masih ada di sana, tatapan yang sama, penuh dengan pengabdian yang nyaris fanatik. Zahran tidak lagi menatapnya sebagai seorang direktur, melainkan sebagai pria yang kehilangan dunianya dan baru saja menemukannya kembali.

"Zahran.., gimana kalau nanti mereka menemukan kita?" tanya Alea, kali ini suaranya penuh dengan ketakutan yang nyata.

Zahran menangkup wajah Alea dengan kedua tangannya, memaksanya untuk menatap tepat ke dalam jiwanya.

"Aku ga akan membiarkan mereka mengambilmu. Bahkan jika seluruh dunia harus runtuh, aku akan membangun tempat baru untukmu. Aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Tiga tahun lalu, aku membiarkan keadaan menentukan nasib kita. Kali ini, aku yang menentukan."

Zahran mencondongkan tubuhnya, dan untuk pertama kalinya setelah ribuan hari yang penuh dengan kesunyian dan jarak, ia menyatukan bibirnya dengan Alea. Itu bukan ciuman yang menuntut atau terburu-buru, melainkan sebuah ciuman yang penuh dengan permintaan maaf, kerinduan, dan janji. Alea memejamkan mata, membiarkan air matanya jatuh saat ia membalas ciuman itu dengan seluruh keputusasaan yang selama ini ia pendam.

Di dalam ruangan kayu yang sederhana itu, di tengah hutan yang sunyi, mereka tidak lagi membicarakan tentang saham, jabatan, atau ancaman ayah mereka. Yang ada hanyalah dua jiwa yang telah menemukan kembali rumah mereka.

Namun, di balik keintiman itu, Zahran sadar bahwa waktu mereka sangat terbatas. Ia bisa merasakan getaran dari alat pemantau frekuensi di sakunya yang mulai menangkap sinyal transmisi radio dari jarak jauh. Musuh mereka tidak pernah tidur. Reynald Pratama dan tim logistiknya sedang bergerak, menyisir setiap inci tanah di wilayah ini.

Zahran melepaskan ciumannya perlahan, dahi mereka masih bersentuhan. Ia menatap Alea dengan tatapan yang penuh dengan ketegasan.

"Besok pagi, saat matahari pertama muncul, kita akan berangkat lebih jauh lagi menuju perbatasan provinsi," ujar Zahran dengan suara yang kini kembali dingin dan berwibawa.

"Kita akan menghilang sepenuhnya dari peta. Siap atau tidak, kita harus terus bergerak."

Alea mengangguk pelan, menyandarkan kepalanya di dada Zahran. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi besok, ia tidak tahu apakah mereka akan berakhir di penjara atau di tempat yang jauh lebih baik. Namun, selama tatapan mata Zahran masih sama, atapan yang menjanjikan perlindungan dan cinta yang tak tersyaratkan, Alea tahu satu hal pasti: ia tidak akan pernah ingin berada di tempat lain selain di samping pria ini.

Malam itu, di dalam pelukan Zahran yang hangat, Alea tertidur untuk pertama kalinya dengan damai, tanpa mimpi buruk tentang gaun pengantin atau ruang rapat direksi yang dingin. Dan di luar sana, di tengah kegelapan hutan yang pekat, sebuah sorot lampu mobil mulai terlihat di kejauhan, perlahan merayap mendekati persembunyian mereka. Badai sudah benar-benar dimulai.

'Kedepannya mungkin memang akan banyak rintangan, boleh kan malam ini aku tidur tenang dulu Tuhan... ' Ujar Alea dalam hati.

'Untuk kali ini Izinkan aku egois Ya Tuhan.. ' Zahran pun juga tak kalah berbisik dalam hatinya.

***

1
Ana Dww
elu nekattt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!