Demi melunasi utang keluarga dan menyelamatkan ayahnya dari kehancuran, Laras terpaksa menerima pernikahan yang dipaksakan—menjadi istri Arga Pratama, pewaris konglomerat yang dingin, angkuh, dan memandang pernikahan ini sekadar kewajiban bisnis semata. Tidak ada restu hati, tidak ada janji manis; hanya kesepakatan: hidup bersama, tapi tak perlu saling mencintai.
Awalnya, rumah tangga mereka bagai dua kutub yang bertabrakan. Arga bersikap dingin bagaikan es, sementara Laras berusaha menjaga harga diri di tengah cemoohan lingkungan dan tekanan keluarga besar. Namun seiring berjalannya waktu, di balik sikap kasarnya, Laras mulai melihat sisi lain Arga—rasa tanggung jawab, perlindungan diam-diam, dan luka masa lalunya yang tersembunyi. Sebaliknya, ketulusan serta ketabahan Laras perlahan mencairkan hati beku Arga.
Apa yang dimulai dari keterpaksaan dan permusuhan, perlahan berubah menjadi getaran rasa yang tak terduga. Ketika ancaman luar dan rahas
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Hari Penuh Doa
Hari yang dinanti-nanti akhirnya tiba. Langit pagi itu tampak bersih dan cerah, seolah ikut menyambut hari bahagia penyatuan dua hati yang telah melewati banyak ujian. Suasana di kediaman Pratama dan juga di tempat Daffa menyiapkan diri dipenuhi rasa syukur dan doa dari setiap orang yang hadir.
Laras duduk tenang di kamarnya yang telah dihias indah, namun pikirannya melayang pada perjalanan panjang yang telah ia tempuh. Dari pertemuan yang tiba-tiba, kesalahpahaman, perpisahan, hingga kembali bertemu dengan jalan yang terbuka lebar. Ia bersyukur karena takdir telah membawanya sampai di titik ini dengan selamat.
“Kau terlihat sangat cantik, Nak,” ucap Ibu pelan sambil menahan haru bahagia saat merapikan sedikit hiasan di rambut putrinya. “Dulu Ibu sempat khawatir dan salah menilai, tapi ternyata Tuhan telah menyiapkan jalan yang jauh lebih indah dari apa yang pernah kita bayangkan.”
“Terima kasih atas segala doa dan keikhlasan Ibu, Bu,” jawab Laras lembut sambil memeluk ibunya.
Di sisi lain, Daffa berdiri tegak ditemani Arga Muda dan Ayah Laras di tempat akad akan dilaksanakan. Hatinya terasa penuh, bukan karena gugup semata, melainkan karena rasa syukur yang begitu besar. Ia tidak pernah menyangka bahwa hari ini akan tiba—di mana ia bisa berdiri dengan terhormat untuk mempersunting gadis yang telah menjadi kekuatan terbesarnya.
“Ingatlah satu hal, Nak,” ucap Arga Muda sambil menepuk bahu Daffa dengan lembut. “Perjanjian yang akan kau ucapkan sebentar lagi bukan sekadar kata-kata manis di hadapan orang banyak. Itu adalah janji seumur hidup untuk mendampingi, melindungi, dan saling menguatkan dalam segala keadaan, baik saat senang maupun susah kelak.”
“Aku mengerti, Kek. Dan aku siap menepatinya sekuat tenagaku,” jawab Daffa dengan mantap.
Saat waktu yang dinanti tiba, suasana menjadi hening seketika. Hanya suara lembut ucap janji yang terdengar jelas di udara. Ketika kalimat itu selesai terucap dan disaksikan oleh para saksi, ada rasa damai yang seketika menyelimuti hati kedua keluarga dan semua orang yang hadir.
Setelah segala prosesi selesai, Laras dipersilakan duduk di samping Daffa. Saat pandangan mereka bertemu, tidak banyak kata yang terucap, namun senyum yang tersungging di bibir mereka menyampaikan segalanya. Segala lelah, cemas, dan penantian yang panjang kini terbayar lunas dengan kebahagiaan yang begitu tulus.
Sari yang duduk di barisan depan tampak bertepuk tangan riang dengan mata yang berbinar bahagia. “Selamat ya Kakak, selamat Nona Laras! Sekarang kita benar-benar menjadi satu keluarga utuh!” serunya polos namun menyentuh hati semua orang yang mendengarnya.
Perayaan hari itu pun berlangsung sederhana namun penuh kehangatan. Sesuai rencana mereka sebelumnya, banyak tamu undangan yang turut terharu ketika mengetahui bahwa sebagian besar biaya perayaan ini disalurkan untuk membantu pengobatan anak-anak yang kurang mampu. Banyak dari mereka yang kemudian tergerak hati untuk ikut memberikan bantuan pula.
Menjelang sore, ketika sebagian besar tamu telah berpamitan, Daffa mengajak Laras sebentar ke bangku kayu tua di sudut taman—tempat di mana kisah lanjutan mereka bermula.
“Terima kasih karena tidak pernah menyerah pada kita, meski dunia terasa seakan memisahkan,” ucap Daffa sambil menggenggam lembut tangan istrinya.
“Terima kasih juga karena kau berani pergi dan berjuang, demi bisa kembali dengan cara yang paling terhormat,” balas Laras dengan lembut. “Sekarang kita memiliki seluruh waktu di dunia ini untuk melangkah bersama.”
Matahari mulai turun perlahan, menyinari mereka berdua dengan cahaya keemasan yang hangat. Seolah ada dua sosok leluhur yang tersenyum bangga dari kejauhan, melihat bahwa warisan cinta dan ketulusan yang mereka tanamkan puluhan tahun silam kini tumbuh kembali dengan indah pada generasi penerusnya.
(Bersambung ke Bab 35) ✨