NovelToon NovelToon
Dosa Di Balik Gaun Sutra

Dosa Di Balik Gaun Sutra

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat / CEO
Popularitas:69.6k
Nilai: 5
Nama Author: santi.santi

Salsa sangat mencintai Arkan, tapi Arkan tidak sama sekali. Dia sudah punya kakasih sebelum menikahi Salsa karena perjodohan.

Ditambah, Salsa adalah wanita yang sombong, jahat, serakah, manja, namun cintanya sangat besar pada Arlan. Selama satu tahun pernikahan, Arlan tidak pernah menyentuh Salsa sama sekali, hingga Salsa menggunakan cara licik agar bisa tidur dengan Arkan.

Arkan semakin murka, dia semakin membenci Salsa karena menjebaknya dan membuat hubungannya dengan kekasihnya semakin berantakan. Hingga Arkan mengusir Salsa dari rumah.

Beberapa tahun berlalu, Arkan bertemu kembali dengan Salsa di jalanan dalam keadaan GILA, namum Salsa bersama dengan seorang gadis kecil yang begitu mirip dengannya.

Ternyata dulu saat dia mengusir Salsa, Salsa sedang hamil. Timbullah penyesalan yang tiada tara dari Arkan dan dalam keadaan gila, Salsa selalu mengatakan....

"Apa salahku?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi.santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sisa waras di ujung jalan

"Apa Suster Weni mau ikut saya?" Tanya Arkan dengan sorot mata yang dipenuhi binar harapan baru.

"Kebetulan saya belum memiliki perawat khusus yang berkompeten untuk mendampingi dan merawat Salsa di rumah. Mungkin dengan bertemu Suster Weni secara rutin, Salsa bisa mendapatkan kembali sebagian ingatannya yang terkunci. Saya sangat yakin, jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, dia pasti bisa mengenali Suster Weni sebagai orang yang pernah melindunginya"

Suster Weni terdiam seketika. Tubuhnya menegang kaku, dan sepasang matanya kembali meredup, memancarkan keraguan yang teramat berat. Wajah paruh bayanya tampak sendu, menyiratkan ada beban masa lalu yang mengikat pundaknya begitu erat hingga ia tidak bisa melangkah bebas.

"Saya tidak bisa keluar dari rumah sakit itu begitu saja, Tuan Arkan" Jawab Suster Weni dengan suara yang tertahan di tenggorokan.

"Hidup saya sudah terikat seumur hidup di dalam jeruji instansi terkutuk itu. Beberapa tahun lalu, sebelum insiden Salsa terjadi, suami saya mengalami gangguan jiwa berat akibat depresi. Saya terpaksa memasukkannya ke bangsal perawatan khusus di sana tanpa biaya sepeser pun, namun dengan satu jaminan mutlak, saya harus menandatangani kontrak kerja seumur hidup untuk mengabdi di rumah sakit itu tanpa bisa mengundurkan diri walau sekarang suami saya sudah meninggal"

Mendengar kendala tersebut, Arkan tidak mundur selangkah pun. Kekuasaan dan kekayaannya yang melimpah kini akhirnya memiliki tujuan yang mulia.

"Saya yang akan menebus Suster Weni. Berapa pun nilai penalti kontraknya, berapa pun biaya perawatan suami Anda di sana, akan saya lunasi hari ini juga. Bahkan saya akan memindahkan suami Anda ke fasilitas medis terbaik di negeri ini. Tolong, bantu saya Suster. Saya sangat berharap Anda yang bersedia mengurus Salsa" Pinta Arkan dengan nada memohon yang teramat tulus.

Suster Weni menatap dalam-dalam ke arah sepasang mata Arkan yang masih sembap. Kegigihan pria itu perlahan meruntuhkan dinding ketakutannya.

"Berikan saya waktu untuk berpikir dan mempersiapkan semuanya dulu, Tuan" Jawab

Suster Weni akhirnya dengan anggukan pelan.

Setelah menyelesaikan pembicaraan di dalam mobil bersama Suster Weni, Arkan sempat mendatangi gedung perusahaannya selama beberapa menit hanya untuk menyerahkan berkas krusial kepada Gusti.

Setelah itu, dengan gerakan tergesa-gesa, sang CEO membatalkan seluruh agenda pertemuan penting dengan dewan direksi dan kolega bisnisnya sore itu.

Tindakan impulsif ini seketika menggemparkan seluruh jajaran manajemen kantor. Selama ini, Arkan Ferdinan tersohor sebagai sosok pemimpin yang berdarah dingin, sangat disiplin, gila kerja, dan tidak pernah sekalipun menunda pekerjaan demi urusan pribadi. Namun kali ini berbeda. Prioritas hidupnya telah bergeser total. Ada jiwa yang teramat rapuh yang sedang menantinya di rumah.

Bagi Arkan saat ini, urusan korporasi barunya tidak lagi memiliki arti. Bahkan jika perusahaannya harus kembali berada di ambang kebangkrutan total seperti badai krisis yang menghantam keluarganya tujuh tahun yang lalu, Arkan tidak akan peduli lagi.

Persetan dengan tumpukan harta dan takhta. Yang ada di dalam benak dan detak jantungnya saat ini hanyalah satu hal, kesembuhan serta kebahagiaan Salsa dan putri kecil mereka.

Di tengah perjalanan pulang, mobil mewah Arkan sempat berbelok dan berhenti di depan sebuah toko mainan terbesar di kawasan pusat kota.

Pria dengan setelan jas hitam formal itu melangkah masuk, membuat para pelayan toko membungkuk hormat. Arkan berdiri terpaku di depan barisan rak yang dipenuhi boneka, rumah rumahan, dan gaun-gaun miniatur.

Karena kebingungan dan tidak pernah tahu apa yang disukai oleh anak perempuan berusia lima tahun, Arkan akhirnya menunjuk hampir separuh isi rak tersebut.

Ia membeli begitu banyak kotak mainan premium, mulai dari boneka beruang raksasa yang lembut hingga set mainan edukatif, dengan harapan murni bahwa Ayu akan tersenyum dan senang menerima hadiah dari ayah kandungnya yang selama ini absen.

Sepanjang sisa perjalanan, Arkan terus-menerus melirik jam tangannya. Kamar mobil yang sejuk terasa pengap oleh rasa tidak sabar. Perjalanan dari pusat kota menuju rumah mewahnya yang biasanya terasa sebentar, kini menjelma menjadi waktu yang teramat lama dan menyiksa.

Ciiit....

Ban mobil SUV hitam itu akhirnya mencengkeram lantai paving halaman mansion Ferdinan.

Begitu pintu mobil dibuka oleh pengawal, Arkan langsung melangkah turun dengan kedua tangan membawa beberapa kotak mainan besar.

Namun, langkah kakinya mendadak melambat saat pandangan matanya menangkap siluet tidak biasa di area halaman depan.

Hampir seluruh pelayan rumahnya, termasuk Bi Inah, Bi Sri, dan beberapa berkumpul di tepi taman depan mansion.

Mereka berdiri merapat, saling berbisik dengan raut wajah yang dipenuhi kecemasan mendalam sembari membelakangi arah kedatangan Arkan. Firasat buruk seketika menyergap dada Arkan.

"Ada apa ini?" Tanya Arkan dengan suara baritonnya yang tegas, membuat kerumunan pelayan itu tersentak kaget dan menoleh serentak.

"Tuan sudah pulang?" Tanya Bi Inah dengan suara yang bergetar, wajahnya tampak sangat gugup.

"Kenapa kalian semua berkumpul di halaman sore-sore begini? Apa yang terjadi?" Cecar Arkan lagi, meletakkan kotak mainan di atas kap mobil dengan perasaan yang kian tidak tenang.

"Itu... itu, Tuan... Nyonya Salsa..." Bi Inah tidak mampu melanjutkan kalimatnya. Wanita tua itu perlahan menggeser tubuhnya ke samping, membuka barisan kerumunan agar pandangan Arkan tidak lagi terhalang.

Begitu barisan pelayan terbuka, pandangan mata Arkan langsung tertuju pada sebuah pemandangan yang seketika membuat hatinya berdenyut ngilu.

Di atas tanah merah taman yang basah oleh sisa embun, Salsa tampak sedang duduk bersimpuh. Di sampingnya, Ayu setia menemani dengan gaun pink barunya yang kini mulai terkena noda tanah di bagian ujungnya.

Salsa yang sudah mengenakan gaun rumahan mahal itu tampak memegang sepotong ranting kayu kecil di jemarinya yang kurus.

Dengan pandangan mata yang kosong namun fokus, ia menggunakan ranting itu untuk menggores dan menulis sesuatu yang acak di atas permukaan tanah.

Yang membuat Arkan semakin perih adalah, sepasang kaki Salsa kini tampak kotor berlumur tanah merah karena ia sama sekali tidak mengenakan alas kaki.

"Salsa, kenapa kamu ada di sini, hmm?"

Arkan langsung melangkah lebar memotong rerumputan taman. Tanpa memedulikan celana kain mahalnya yang akan kotor, pria itu langsung menjatuhkan lututnya, ikut berjongkok tepat di samping tubuh Salsa yang kurus.

"Apa yang sedang kamu lakukan di atas tanah ini?" Tanya Arkan dengan nada suara yang teramat lembut, selembut beludru.

Untaian kata penuh kasih sayang itu adalah sesuatu yang tidak pernah sekalipun Arkan lakukan atau ucapkan semasa dulu Salsa masih waras dan mengemis perhatiannya. Dulu, yang ada hanya bentakan dan tatapan jijik.

Salsa tidak memberikan jawaban. Ia terus menggoreskan ranting kayunya ke tanah, seolah Arkan hanyalah seonggok udara kosong yang tidak kasat mata.

Arkan mengalihkan pandangannya yang layu ke arah putrinya yang berdiri waspada di sisi lain.

"Ayu, kenapa Ibu bisa ada di sini? Kenapa tidak beristirahat di dalam kamar?" Tanya Arkan lembut pada anaknya.

Ayu menatap Arkan dengan sepasang mata bulatnya yang tajam, penuh dengan kedewasaan yang getir.

"Ibu mau pergi dari sini Om. Katanya, Ibu tidak mau tinggal di dalam rumah besar ini. Ibu takut kalau nanti lantai berkilaunya kotor, Om akan menjadi sangat marah lagi dan mengusir kami keluar ke jalanan saat hujan lebat tiba" Sahut Ayu dengan nada datar yang menusuk.

Jleb....

Hati Arkan seketika mencelos ke dasar tak bertepi. Rasa sakit akibat hantaman kalimat itu membuat dadanya sesak bergemuruh. Ingatan dan trauma Salsa benar-benar masih terpaku dengan sangat kuat pada kejadian subuh kelam enam tahun yang lalu. Kamar mewah dan ranjang empuk di dalam mansion ini justru menjelma menjadi teror yang menakutkan bagi jiwanya.

Arkan menarik napasnya yang terasa berat, lalu perlahan mendekatkan wajahnya ke arah Salsa, mencoba memblokir pandangan wanita itu dari tanah.

"Aku tidak akan pernah, tidak akan pernah mengusirmu lagi Salsa. Aku bersumpah!" Ucap Arkan dengan suara yang serak menahan tangis.

"Ini rumah kamu, ini rumah kita bersama Ayu. Mulai detik ini, tidak akan ada satu orang pun di dunia ini yang berani menyentuh atau mengusir kamu dari tempat ini. Sekarang, hari sudah hampir gelap, udara luar mulai dingin. Kita masuk ke dalam ya? Kamu harus mandi dan membersihkan kakimu" Ajak Arkan, perlahan mengulurkan tangan kanannya yang gemetar, mencoba meraih jemari Salsa.

"Tidak! Aku tidak mau! Aku tidak mau sama kamu, Mas Arkan! Aku tidak mau!!!"

Jeritan histeris itu seketika pecah dari bibir Salsa. Begitu mendengar nama Mas Arkan disebut oleh pria di depannya, tubuh wanita itu bergetar hebat.

Ia melempar ranting kayunya ke sembarang arah, lalu merangkak mundur di atas tanah dengan panik, mencoba menjauhkan dirinya dari jangkauan tangan Arkan seolah-olah pria itu adalah sosok monster yang siap mengulitinya.

"Aku tidak mau ikut denganmu! Aku takut, aku takut kamu akan membuangku lagi! Tolong jangan pukul aku, Mas Arkan! Jangan!!!"

Namun, di tengah-tengah hantaman rasa perih melihat histeria sang mantan istri, ada secercah letupan kebahagiaan yang mendadak menyeruak di dalam dada Arkan.

Air mata kebahagiaan menetes di sudut matanya. Salsa, Salsa mengenalinya! Di balik kabut kegilaan dan hancurnya sel-sel saraf otaknya, Salsa ternyata masih tahu siapa dirinya.

Meskipun ingatan Salsa tentang dirinya hanya sebatas sosok suaminya yang kejam dan suami yang membuangnya, namun kenyataan bahwa namanya masih tersimpan di dalam memori Salsa membuat Arkan merasa memiliki harapan.

"Kamu tahu ini Mas, Salsa?" Tanya Arkan dengan senyuman yang merekah di tengah tangisnya. Ia kembali merangkak maju, mendekati Salsa yang masih meringkuk ketakutan di bawah pohon taman.

"Kalau begitu, tolong dengarkan kata-kata Mas, ayo kita masuk ke dalam rumah. Mas janji tidak akan pernah marah lagi sama kamu. Mas tidak akan membuang kamu lagi, asal kamu menurut dan mau ikut Mas masuk sekarang, mau ya?"

Arkan kembali memohon dengan tulus, mengerahkan seluruh sisa kelembutan yang ia miliki di dalam suwung jiwanya.

Ia kembali mengulurkan telapak tangannya yang terbuka ke hadapan Salsa, berharap ada keajaiban di mana Salsa mau membalas sambutan tangannya.

PLAK...

Sebuah suara tamparan keras menggema di kesunyian taman sore itu.

Tanpa pernah Arkan duga sebelumnya, telapak tangannya yang terbuka di udara didepak dengan sangat kasar oleh sepasang tangan mungil milik putrinya sendiri.

Ayu menempatkan tubuh kecilnya tepat di depan dada Salsa, berdiri kokoh bagai benteng tameng yang siap mati demi melindungi sang ibu.

"Jangan sentuh Ibu! Ibu tidak suka sama Om! Om orang jahat!" Teriak Ayu dengan lantang, sepasang matanya menatap Arkan dengan kilatan permusuhan yang teramat pekat.

Hati Arkan seketika terasa robek mendengar penolakan mentah-mentah dari darah dagingnya sendiri. Rasa perih itu menjalar hingga membuat napasnya tersendat.

Namun, Arkan segera menekan ego dan rasa sakitnya dalam-dalam. Ia tahu, ia pantas mendapatkan kebencian ini dari anaknya. Pria itu segera mengulas sebuah senyuman tipis yang teramat pedih, menatap Ayu dengan pandangan mata penuh kelembutan seorang ayah.

"Iya Nak, maafkan Om" Ucap Arkan lirih, menurunkan tangannya yang memerah.

"Kalau begitu, sekarang Ayu yang bantu Ibu untuk berdiri dan masuk ke dalam rumah, ya? Hari sudah mau malam, Ibu harus segera mandi dan membersihkan badannya. Ayu mau kan melihat Ibu kembali cantik dan wangi seperti tadi pagi?"

Mendengar kalimat Arkan, sepasang mata bulat Ayu yang selalu waswas itu tampak melirik ke arah wajah Arkan dengan sangat tajam, seolah sedang menakar apakah pria di depannya ini sedang merencanakan tipu muslihat atau tidak.

Setelah beberapa detik dalam keheningan, Ayu akhirnya memberikan anggukan kecil yang sangat tipis.

Anak perempuan berusia lima tahun itu membalikkan tubuhnya, lalu dengan sangat telaten merangkul lengan ibunya, membantu Salsa yang masih gemetar untuk bangkit berdiri di atas rumput.

"Ibu, ayo kita masuk. Ayo ikut Ayu!" Bisik Ayu lembut. Di bawah tuntunan jemari mungil anaknya, Salsa akhirnya menurut, melangkah gontai tanpa alas kaki masuk menuju ke dalam mansion mewah.

Arkan tetap bertahan di posisi berlututnya di atas tanah taman yang kotor. Pandangan matanya menatap lurus ke arah punggung kurus Salsa yang perlahan menghilang di balik pintu kaca besar mansion.

Arkan mengepalkan kedua tangannya di atas tanah merah, lalu sebuah senyuman getir terukir di bibirnya.

"Salsa, aku bersumpah demi hidup dan matiku, aku akan membuatmu kembali seperti dulu lagi" Gumam Arkan pada angin sore yang berembus pelan.

"Aku akan mengembalikan sosok Salsa yang dulu, Salsa yang cantik, yang memiliki rasa percaya diri yang tinggi, dan... yang selalu bersikap sombong itu"

Pria itu mendadak terkekeh pelan di tengah sisa air matanya, merindukan satu kata sifat yang dulu paling ia benci dari mantan istrinya, kesombongan.

Arkan terkekeh karena ia menyadari satu hal yang teramat pasti, keangkuhan dan kesombongan Salsa di masa lalu saat mengejar cintanya, kini terasa seribu kali jauh lebih baik dan berharga, dibandingkan dengan tatapan mata kosong tanpa jiwa pada salsa yang saat ini.

1
Rina Wati.S
bawangnya kpn habisnya kak San.
🌿🌺WINA🌸🌿
Arkan itu karma buat kamu dulu tega sekali mengusir salsa tanpa belas kasian, katanya kuat arkan menerima kebencian dari salsa dan ayu menebus semua kesalahanmu...
wajar ayu sangat membencimu arkan, karena kamu penyebab ibunya sangat menderita sampai gangguan jiwa dan depresi, salsa dan ayu sangat menderita hidupnya...

Arkan sabar meluluhkan hatinya ayu, gercap arkan cari dokter yg terbaik menyembuhkan salsa, dan dibantu suster weni merawat dan menjaga salsa...

Kamu jangan samapai kelihatan lemah arkan didepan salsa dan ayu berusaha kuat, tunjukan ketulusanmu dan niat baik pasti salsa dan ayu akan luluh hatinya dan menerimamu kembali....
semua butuh proses arkan pelan-pelan dekat salsa dan ayu, ditolak terus
jangan sampai menyerah pasti salsa dan ayu memaafkanmu lama-lama arkan....

salsa sangat tulus mencintaimu arkan, mungkin caranya salah ingin memilikimu sampai menjebakmu pake obat perangsang sampai tidur bareng...
kamu sangat kasar tega sekali mengusir salsa, semua penderitaan salsa dimulai...

kamu lebih percaya wanita rubah itu arkan, penuh tipu daya nabila sok polos dan lugu....
Felycia Fernandez
😭😭😭😭😭😭😭😭
Cahaya
lanjut
Cahaya
aduhh ayu 😭😭😭😭 ngga kuat tisu sampay habis ini 😭😭😭😭😭
mb peppy
ketidak berdayaan salsa dan penolakan ayu adalah hal yg teramat menyakitan buatmu arkan
Ari Atik
next.....
Ari Atik
gk bisa ngomong apa2..
yg jelas setiap part bikikn aq trenyuh dan mewek...
dyah EkaPratiwi
lekas Carikan dr Arkan biar salsa bisa pulih lagi
Yeye 🐱
baru 3 hari, Sallsa aja 1 thn kamu cuekin, kamu maki2,, dih 😏
Nar Sih
penolakan lgi dan lagi ,mungkin ini lah blsan untuk mu arkann,tpi tetap lah berusaha berdoa mohon ampunan yg di atas yg maha membolak balikkan hti seseorang ,semoga usaha mu mendekat lgi dgn salsa juga putri mu sgra di kabul kan yg di atas
Linda Gunawan
pagi menjelang siang ini udah menangisi Ayu. /Sob/
Melly
masa kalah sama Salsa yg 1 tahun dicuekin, dimaki, terakhir diusir sama dibikin bangkrut
Teti Hayati
Harus tahan....
harus kuat...
sudah jadi resiko..
pecinta novel lealistis
sambil nungguin update terbaru aku baca baca ulang part nyesek
Nureliya Yajid
lanjutkan
Silvia
berusaha lebih keras lagi Arkan
Hanima
Hikssss
Semoga Arkan menjadi Gila
dan semua harta nya buat Ayu
itu rasa nya baru setimpal 🔥😡
SasSya
🥺🥺🥺🥺😥😢😓
anak usia 5 thn sekritis iniiiii
Dunia memaksa tumbuh dewasa sebelum waktunya
Felycia Fernandez: anak jalanan emank tumbuh lebih cepat kk... karena mereka udah terlatih untuk selalu mawas diri dari mulai mengenal dunia...
aku pernah liat anak kecil manggil ibunya karena ada razia ,bahasanya itu kayak orang dewasa bagi info ke ibunya😓
total 1 replies
Agnezz
di bab Neraka, Ayu mengatakan ayahnya adalah bintang dilangit yg tidak bisa mereka jangkau. tapi disini dibilang Ayahnya hanya mau dengan wanita baik 🤔🤔 mana yg bener, mungkin Salsa suka berubah2 juga cara menerangkan pada Ayu ttg keberadaan ayahnya. 🤔🤔
Agnezz: iya ingatan Salsa terjebak di 6 th yg lalu. raganya dimasa kini, tapi jiwanya ada dimasa lalu.
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!