Bumi mengalami kehancuran dengan munculnya banyak Monster melalui retakan dimensi, hingga bencana ini disebut sebagai The Chaos.
Manusia mulai beradaptasi dan berevolusi. Kini setiap manusia punya Status Window sebuah layar hologram mengambang yang hanya dapat dilihat oleh pemiliknya. Dan manusia pun disebut sebagai Userator. Namun tidak semua Userator itu kuat, karena syarat menjadi kuat adalah Awakening.
Arka adalah Userator biasa yang belum Awakening, ia bekerja sebagai kuli bangunan. Tiba-tiba dinikahkan dengan seorang gadis bernama Sisil untuk melunasi hutang Ibunya.
Siapa sangka setelah menikah—Arka malah Awakening, kekuatannya meningkat.
[Bahagiakan Istrimu untuk mendapatkan banyak keuntungan dan meningkatkan kekuatanmu!]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramirisss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 18 Selamat Tinggal Kontrakan
Keesokan paginya, atmosfer di dalam kontrakan sempit distrik bawah terasa sibuk. Arka dan Sisil bahu-membahu mengemas beberapa helai pakaian dan barang-barang penting yang masih layak digunakan. Mereka tidak membawa banyak perabotan, karena rumah baru mereka di PIK 2 sudah dilengkapi dengan fasilitas serba mewah.
Setelah memasukkan beberapa tas ke dalam bagasi hypercar milik Arka—yang sengaja ia bawa pagi ini khusus untuk hari kepindahan mereka—Sisil melangkah masuk dan duduk di kursi penumpang yang empuk.
"Sudah semua kan, Sayang? Tidak ada yang tertinggal?" tanya Arka memastikan, melirik istrinya dari balik kemudi.
"Sudah, Mas," jawab Sisil lembut.
Sebelum mobil melaju, Sisil menoleh ke luar jendela, menatap sekali lagi ke arah bangunan rumah susun tua di hadapan mereka.
Sebuah tempat tinggal kecil yang menjadi saksi bisu awal mula kehidupan pernikahan mereka yang penuh dengan kenangan manis.
Arka yang menyadari tatapan sendu istrinya segera mengulurkan tangan, menggenggam jemari Sisil lalu mengelusnya dengan hangat.
"Aku juga tidak akan pernah melupakan tempat ini, Sayang," ucap Arka, suaranya terdengar emosional.
"Banyak kesulitan dan kepahitan hidup yang sudah kulalui di distrik ini... sampai akhirnya takdir mempertemukanku denganmu di sini."
Sisil menoleh menatap suaminya, seulas senyum haru terukir di bibirnya. "Aku masih tidak menyangka kita akan benar-benar meninggalkan kontrakan ini secepat ini, Mas."
"Itu adalah tanda bahwa roda takdir kita sudah berputar, dan hidup kita menjadi jauh lebih baik sekarang," Arka membalas sembari mengelus pipi lembut Sisil dengan penuh kasih sayang. "Sudah siap untuk berangkat?"
Sisil mengangguk mantap dengan binar bahagia.
Arka menginjak pedal gas pelan. Mesin buas Bugatti itu menderu halus, melaju dengan santai membelah jalanan distrik bawah yang kumuh, meninggalkan masa lalu mereka jauh di belakang.
Di sepanjang jalan raya menuju kawasan elite, atmosfer di dalam kabin mobil terasa sangat hangat. Alunan musik santai mengiringi obrolan seru pasutri Arka dan Sisil.
Sembari mengemudikan mobilnya dengan satu tangan, Arka dengan santai meletakkan telapak tangan kirinya di atas paha mulus Sisil yang dibalut stocking hitam tipis, lalu mengelusnya dengan nyaman.
‘Hah... Menyetir mobil mewah miliaran ITD sambil mengelus paha istri yang cantik... Ini benar-benar impian bagi semua pria di dunia,’ batin Arka dengan rasa bangga yang membubung tinggi di dalam dadanya.
Sisil sendiri sama sekali tidak merasa risih atau terganggu. Baginya, suaminya memiliki hak untuk menyentuh bagian tubuhnya di mana saja. Gadis itu justru sedang asyik menatap layar ponsel, sibuk berbalas pesan dengan sahabatnya, Chika.
—Isi Pesan Singkat—
Sisil: Chik! Hari ini aku resmi pindah ke rumah baru, lho!
Chika: Eh, seriusan?! Suamimu yang membelinya?
Sisil: Iya dong, hehe. Aku senang banget sekarang.
Chika: Syukurlah kalau begitu... Setidaknya kamu bisa pindah ke tempat yang jauh lebih layak dibanding kontrakan sempit kemarin. Jadi, kamu pindah ke daerah mana sekarang?
Sisil: Rahasia~
Chika: Ih! Dasar kamu ya, pelit banget sama sahabat sendiri! Awas kamu ya!
Sisil tertawa kecil, memeluk ponselnya dengan wajah merona bahagia setelah membaca balasan kesal dari sahabatnya.
Arka yang mendengar tawa manis itu melirik sekilas. "Kamu kelihatan senang banget, Sayang. Memangnya lagi melakukan apa?"
"Ini, Mas. Lagi chatting-an sama temen dekatku yang kemarin," jawab Sisil gembira.
"Oh, iya. Kalau boleh tahu... siapa sebenarnya nama temanmu itu, Sayang? Aku baru ingat kalau kemarin belum sempat menanyakan namanya," tanya Arka santai, ingin memperluas informasi sosial istrinya.
"Hmm? Namanya Chika, Mas. Kenapa memangnya?" Sisil menoleh penasaran.
"Tidak ada apa-apa kok. Mas cuma ingin tahu saja nama teman istriku. Biar nanti kalau tidak sengaja bertemu lagi di luar, suasananya tidak canggung karena aku sudah tahu namanya," ucap Arka beralasan.
Namun, di dalam hatinya, nama itu mendadak memicu gelombang ingatan ganjil. ‘Chika? Rasanya nama itu sangat tidak asing belakangan ini...’ Arka berpikir keras, mencoba merunut benang merah di otaknya.
Detik berikutnya, mata Arka sedikit melebar saat sebuah realisasi mengejutkan menghantam pikirannya. ‘Tunggu sebentar... Chika? Gadis modis pemilik jaringan dealer otomotif mewah tempatku mengambil Bugatti dan membeli mobil Bentley kemarin... bukankah namanya juga Chika?! Apakah benar mereka berdua adalah orang yang sama? Coba aku pastikan.’
"Sayang," panggil Arka dengan nada kasual. "Temanmu yang bernama Chika itu... apakah dia memiliki bisnis dealer mobil?"
Sisil mengerjap bingung. "Aku kurang tahu soal itu, Mas. Dia jarang membahas bisnis secara mendalam denganku. Coba aku tanyakan langsung sekarang ya."
Jemari Sisil kembali mengetik cepat di atas layar ponsel.
Sisil: Chik, mau tanya dong. Kamu... punya bisnis dealer mobil ya?
Chika: Lho? Iya, itu dealer cabang utama pemberian Ayahku sebagai hadiah. Darimana kamu bisa tahu, Sil?!
Sisil: Ah, tidak apa-apa kok, cuma tiba-tiba ingin bertanya saja, hehe.
Chika: Bohong! Gak mungkin kamu tiba-tiba tahu bisnis rahasiaku kalau tidak ada yang memberi tahu! Jujur gak!
Sisil mendongak, menatap Arka dengan mata bulatnya yang takjub. "Iya, Mas! Chika bilang dia memang punya dealer mobil mewah sendiri pemberian ayahnya. Kok Mas bisa tahu?"
Arka melepaskan kekehan geli, menggelengkan kepalanya tak percaya. "Lho... dunia ternyata sempit sekali, Sayang. Mobil yang sedang kita kendarai saat ini, aku beli dari dealer milik Chika itu. Kebetulan kemarin dia sendiri yang melayaniku sebagai VVIP."
Mata Sisil berbinar riang mendengarnya. "Wah! Jadi kalian berdua sebenarnya sudah saling bertemu dan saling tahu dong? Kalau begitu, sekalian saja ini aku beri tahu Chika lewat pesan kalau Mas adalah suamiku!" ucap Sisil, bersiap mengetik pesan.
"Eh, jangan, Sayang!" potong Arka buru-buru, memegang jemari Sisil untuk menghentikannya.
"Kenapa, Mas?" tanya Sisil bingung.
Sebuah seringai licik penuh kejahilan terukir di wajah tampan Arka. "Kebetulan saat transaksi kemarin, Chika sama sekali tidak tahu kalau aku adalah suamimu. Dia hanya tahu namaku sebagai salah satu pelanggan VVIP Serikat."
Arka mengedipkan sebelah matanya jahil. "Beberapa hari lagi kamu pasti akan bertemu dengannya lagi. Biarkan saja dia tahu sendiri nanti saat melihat kita bersama. Bukankah reaksi terkejutnya pasti akan sangat seru untuk dilihat?"
Sisil tertegun sejenak, lalu ikut tertawa kecil memikirkan betapa hebohnya Chika nanti. "Yaudah deh, aku ikut ide nakal Mas saja, hehe. Sekalian rumah baru kita ini juga akan terus kurahasiakan darinya."
Beberapa menit kemudian, saat mobil mereka sudah memasuki kawasan PIK 2 yang megah, ponsel Arka yang diletakkan di dalam boks konsol tengah tiba-tiba bergetar nyaring memancarkan panggilan masuk.
"Tolong bantu angkat dan lihat siapa yang menelepon, Sayang. Tanganku sedang fokus menyetir di jalur pemeriksaan gerbang magis," perintah Arka.
Sisil mengambil ponsel tersebut, namun begitu membaca nama kontak yang tertera di layar, matanya membelalak ganjil. "Chika, Mas... Dia meneleponmu!"
Arka tersenyum misterius, segera mengambil alih ponselnya dan menekan tombol hijau. "Halo."
"Selamat siang, Tuan Arka!" sahut suara akrab Chika dengan nada yang luar biasa takzim dan hormat.
"Saya ingin mengabarkan. Unit mobil mewah pesanan khusus Anda sudah tiba di garasi utama kami hari ini. Jika Anda berkenan, saya sendiri yang akan mengantarkan unitnya langsung menuju ke alamat Anda sekarang."
"Baguslah kalau begitu," jawab Arka tenang. "Aku sedang berada di jalan raya. Nanti koordinat lokasi tujuannya akan kukirimkan lewat pesan singkat. Kamu bisa langsung mengantarkannya ke sana."
"Siap, Bos Besar! Siang nanti saya akan segera meluncur bersama tim pengantar! Terima kasih banyak atas kepercayaan Anda!" ucap Chika dengan semangat membara sebelum panggilan diputus sepihak.
Sisil menatap Arka dengan pandangan menuntut, mencubit pelan lengan suaminya. "Kalian berdua sebenarnya sedang membicarakan apa?"
"Rahasia~" goda Arka, tanpa sadar meniru balasan pesan Sisil ke Chika tadi.
"Ih, Mas Arka!!" pekik Sisil gemas, memukul pelan pundak bidang Arka yang hanya dibalas oleh tawa lepas sang suami di sepanjang sisa perjalanan.
Bersambung...
like+ bunga🌹✍️
kalo berkenan mmpir y thor😉
Btw saya pun baru mula menulis novel, kalau ada masa boleh singgah profile dan like .. terima kasih /Grin/