Setelah sang ayah—ketua mafia legendaris—tewas misterius, Livana ikut terlempar ke dunia novel dan menjadi Bellamy, si antagonis manja yang ditakdirkan mati tragis.
Kejutan besar menantinya! Jiwa sang Papa ternyata ikut bertransmigrasi menjadi ayah Bellamy. Namun, sang Papa terikat Sistem Novel yang akan mengurangi umurnya jika ia berani mengubah alur cerita.
Untungnya, jiwa barbar Livana adalah sebuah glitch yang kebal dari hukuman Sistem!
Menggunakan celah ini, duet maut ayah-anak mafia ini kompak bekerja sama mengacak-acak plot, menendang parasit manipulatif, dan memikat Dallas—si penguasa bayangan yang dingin.
Dua jiwa mafia vs satu Sistem Novel. Siapa yang akan menang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10: Skenario Baru dan Siasat Gaun Hitam
Sepuluh menit kemudian, atmosfer di dalam ruang kerja James terasa begitu mencekam. Odelia duduk bersimpuh di atas lantai sambil menangis histeris, meremas kemejanya yang kusut. Di sudut lain, Pak Dodi berdiri dengan kepala tertunduk dalam, wajahnya pucat pasi bercampur sisa-sisa kebingungan akibat efek obat yang baru saja menguap dari kepalanya.
"Tuan James... demi Tuhan, saya dijebak! Saya tidak tahu kenapa saya bisa ada di kamar Dodi!" ratap Odelia dengan suara melengking, mencoba mencari simpati. "Wanita terhormat seperti saya... tidak mungkin melakukan hal sehina ini dengan seorang sopir!"
James yang dirasuki jiwa Sylvester hanya menatap mereka dari balik meja kerjanya dengan pandangan sedingin es. Tidak ada riak kemarahan, yang ada hanyalah wibawa mutlak seorang penguasa dunia bawah.
"Cukup, Odelia," potong James, suaranya berat dan datar namun seketika membungkam tangisan wanita itu. "Nasi sudah menjadi bubur. Rumah ini adalah rumah terhormat, dan aku tidak akan membiarkan skandal menjijikkan seperti ini mencoreng nama baik Guinevere."
Odelia mendongak penuh harap. "Kalau begitu, Tuan, Anda harus mengusir Dodi! Dia yang sudah merusak saya!"
James tidak memedulikan tuduhan itu. Ia beralih menatap Pak Dodi. "Dodi, kau adalah sopir pribadi keluarga ini. Kau tahu apa konsekuensi dari perbuatanmu semalam?"
Pak Dodi menelan ludah dengan susah payah, tubuhnya gemetar. "S-Saya siap menerima hukuman apa pun, Tuan... Saya benar-benar minta maaf."
"Hukumanmu sederhana," James mengetuk meja sekali dengan tegas. "Sebagai laki-laki, kau harus bertanggung jawab. Hari ini juga, aku memintamu untuk menikahi Odelia secara sah."
"Apa?!" Odelia menjerit seketika, matanya membelalak horor. "Menikah dengan dia?! Tidak sudi! Tuan James, Anda tidak bisa melakukan ini padaku! Aku—"
"Kau tidak punya hak untuk menolak, Odelia," sela James, tatapannya begitu menusuk hingga membuat Odelia menciut seketika. "Ini adalah jalan satu-satunya agar kalian berdua tidak didepak ke jalanan tanpa sepeser pun uang. Urus pernikahan kalian minggu ini, atau angkat kaki dari sini sekarang juga."
Di dekat pintu, Bellamy yang memperhatikan dari balik bayangan hanya tersenyum sinis. Skenario ranjang Odelia untuk menjebak papanya kini justru berbalik menjadi tali yang menjerat leher wanita itu sendiri untuk selamanya.
Beberapa jam setelah kegemparan di mansion, fokus Bellamy langsung beralih. Alur cerita harus terus berjalan, dan kini saatnya bagi sang nona mafia untuk mulai 'menjinakkan' target utamanya: Dallas Enrique.
...****************...
Sore itu, sebuah aula megah menjadi tempat pertemuan bisnis kelas atas untuk pelelangan wilayah komersial terbaru di pusat kota. Semua petinggi korporasi dan konglomerat hadir, tak terkecuali Dallas Enrique yang duduk di barisan depan dengan setelan jas hitam formalnya yang rapi tanpa cela. Wajahnya sekaku es, memancarkan aura intimidasi yang membuat orang lain segan untuk mendekat.
Namun, ketenangan Dallas terusik saat mendengar suara ketukan sepatu hak tinggi yang anggun mendekat ke arah kursinya. Saat ia menoleh, napasnya sempat tertahan selama satu detik penuh.
Bellamy Guinevere berjalan ke arahnya. Penampilannya berubah total secara drastis. Tidak ada lagi gaun merah muda mencolok, riasan tebal yang norak, atau perhiasan berlebihan seperti kebiasaan Bellamy yang dulu. Sore ini, ia mengenakan gaun beludru hitam polos yang pas di tubuhnya, menonjolkan lekuk tubuhnya yang proporsional. Rambut hitamnya disanggul modern dengan menyisakan beberapa helai di rahangnya. Ia terlihat begitu kalem, luwes, dewasa, dan memancarkan kelas sosial yang jauh lebih tinggi dan elegan.
"Selamat sore, Tuan Muda Dallas," sapa Bellamy, langsung mengambil tempat duduk kosong tepat di sebelah Dallas tanpa meminta izin.
Dallas berdehem pelan, mencoba menguasai keterkejutannya dengan memasang wajah kaku andalannya. "Sore. Mengapa kau duduk di sini? Kursi keluarga Guinevere ada di sebelah barat."
Bellamy terkekeh pelan, sebuah tawa yang terdengar seksi namun blak-blakan. "Kursi di sana terlalu membosankan. Aku lebih suka duduk di samping pria yang akan menemaniku ke pesta gala minggu depan."
Mendengar kata 'pesta gala' keluar langsung dari bibir Bellamy, jantung Dallas berdesir. Pertanyaan yang sejak tadi malam menyiksanya kini berada di ujung lidah. Ia sangat penasaran, ingin memastikan apakah undangan dari Hans itu nyata atau hanya permainan. Namun, sifat kaku dan gengsinya yang setinggi langit membuatnya ragu-ragu dan memilih untuk diam, kembali menatap lurus ke arah panggung lelang dengan bibir terkatup rapat.
Di tengah keheningan yang kaku itu, Hans tiba-tiba melangkah mendekat dari belakang kursi Dallas, lalu membungkuk untuk membisikkan sesuatu di telinga tuannya.
"Tuan Muda, ada laporan dari orang kita di lapangan," bisik Hans dengan suara yang sangat rendah. "Semalam... Tuan Muda Javier terdeteksi masuk ke kamar hotel bintang lima bersama Nona Lucianna Francesca. Dan mereka baru keluar dari kamar itu pagi tadi."
Rahang Dallas seketika mengeras mendengarnya. Sisi pelindung di dalam dirinya mendadak bergejolak hebat. Ia melirik Bellamy yang berada di sampingnya dari sudut mata. Ada rasa khawatir yang membuncah di dada Dallas, ia tahu betapa gilanya Bellamy mengejar Javier selama bertahun-tahun. Jika Bellamy mengetahui kenyataan bahwa pria yang dicintainya baru saja bermalam dengan wanita lain, gadis ini pasti akan sakit hati bukan main dan mungkin akan histeris di tempat ini.
Dallas mengepalkan tangannya di atas paha, merasa tidak tega. Namun, ia tertegun saat melihat ekspresi wajah Bellamy.
Gadis itu sama sekali tidak menunjukkan riak kesedihan. Malahan, Bellamy sedang menatap ponselnya sendiri dengan senyuman santai, membaca sebuah pesan dari orang suruhannya yang berisi informasi yang sama persis dengan apa yang baru saja didengar Dallas. Tanpa Dallas ketahui, insting mafia Bellamy jauh lebih cepat dalam mengumpulkan informasi.
Bellamy melirik Dallas yang sedang menatapnya dengan pandangan khawatir yang disembunyikan. Ia sengaja memajukan tubuhnya, memperkecil jarak di antara mereka hingga aroma parfum elegannya menusuk indra penciuman Dallas.
"Kenapa menatapku seperti itu, Tuan Muda?" tanya Bellamy dengan nada agresif yang menggoda. "Apakah kau sedang mengkhawatirkan perasaanku tentang berita Javier dan si white lotus itu?"
Dallas tersentak kecil, tidak menyangka Bellamy akan bicarakan hal itu secara blak-blakan. "Kau... sudah tahu?" suaranya terdengar agak serak.
"Tentu saja aku tahu," Bellamy menyandarkan punggungnya kembali, melipat kakinya dengan anggun. "Dan asal kau tahu saja, Dallas... aku sama sekali tidak peduli. Pria bodoh seperti adik tirimu itu memang sangat cocok bersanding dengan wanita manipulatif seperti Lucianna."
Dallas mematung. Sudut matanya menatap lekat-lekat wajah Bellamy yang tampak begitu tenang dan berkelas. Perubahan sikap yang begitu radikal ini membuat rasa penasarannya semakin membubung tinggi.
"Kau... benar-benar berubah," ucap Dallas dingin, berusaha menutupi rasa penasarannya yang mulai tak terbendung.
"Manusia harus berkembang, Dallas," Bellamy menoleh, menatap tepat ke dalam manik mata hitam pria itu dengan senyuman tipis yang memikat. "Dan fokusku saat ini bukan lagi kerikil kecil seperti Javier, melainkan pria jenius yang sedang duduk di sampingku ini. Jadi, bagaimana? Kau belum menjawab undanganku untuk pesta gala nanti."
keren nih othor...
jadi alasan Sylvester masuk ke dunia novel untuk menyelamatkan ponakannya kali yaa... tapi belum tentu pasti plot twist lagi ah nanti... 🤣
ah di othor nih... bikin penasaran aja.. dibuat nama-namanya huruf depannya D semua lagi🤣
lagi tegang gini malah ngelawak Bellamy sama Dallas mah..🤣🤣
cerita nya seru, like + bunga🌹 , semangat😉