NovelToon NovelToon
Ceo'S Plus Size Wife

Ceo'S Plus Size Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / CEO
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Sejak kematian istrinya, Darren, seorang CEO kaya raya, hidup dalam kesepian. Bukannya mendapat dukungan, ia justru dimanfaatkan oleh ketiga anaknya yang hanya peduli pada harta warisan. Saat mencari ketenangan di taman, hidupnya berubah ketika bertemu Jihan, gadis baik hati yang baru saja dihina dan ditinggalkan kekasihnya karena penampilannya.
Ketika Darren tiba-tiba terkena serangan jantung, Jihan tanpa ragu menolongnya dan bahkan menghabiskan tabungan terakhirnya untuk biaya rumah sakit. Ketulusan Jihan menyentuh hati Darren hingga ia melamar gadis itu sebagai bentuk rasa terima kasih dan kekaguman.
Akankah Jihan menerima lamaran pria kaya yang jauh lebih tua darinya? Dan mampukah mereka menghadapi amarah anak-anak Darren yang merasa posisi mereka terancam oleh kehadiran calon ibu tiri yang tak pernah mereka bayangkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Tangan Darren bergetar hebat saat merogoh saku jasnya.

Dengan napas yang memburu dan penglihatan yang mulai kabur oleh air mata penyesalan, ia mencari nama Deacon di daftar kontak.

Begitu panggilan tersambung, Darren tidak bisa lagi menahan suaranya yang pecah dan panik.

"Deacon, Jihan, Deacon! Jihan jatuh ke jurang! Jalur perbatasan desa, cepat bawa bantuan kemari!" teriak Darren histeris, suaranya terdengar begitu parau dan kehilangan wibawa seorang CEO yang biasanya tenang.

Di seberang telepon, Deacon yang saat itu sedang berada di teras rumah lama Jihan memantau Andre dan Riko, seketika melompat dari kursinya.

Ponsel di genggamannya hampir saja terjatuh mendengar kabar mengerikan tersebut.

"APA?!" Deacon berteriak syok, wajah bule-nya mendadak memucat pasi.

"A-aku lekas ke sana, Darren! Pertahankan posisimu!"

Klik.

Panggilan terputus. Deacon langsung berbalik dengan tatapan mata yang dipenuhi kilatan amarah dan kepanikan.

Ia menatap Andre dan Riko yang kebetulan sedang berada di ruang tengah.

Melihat Deacon yang panik, kedua bersaudara itu diam-diam saling melempar lirikan puas di balik punggung pria Kanada itu.

Rencana mereka berhasil. Si gajah benar-benar telah lenyap.

"Kalian berdua, ikut aku sekarang! Mama kalian kecelakaan di jurang perbatasan!" bentak Deacon dengan suara menggelegar, langsung menyambar kunci mobilnya tanpa memedulikan apa pun lagi.

Sementara itu, di tepi jurang yang sepi, gerimis mulai turun semakin deras, membuat jalur pegunungan itu semakin dingin dan mencekam.

Darren mengabaikan mobilnya yang ringsek. Pria paruh baya itu berlutut di tanah yang basah dan berlumpur, mencengkeram rumput di tepi tebing dengan jemari yang memutih.

"Jihan, maafkan aku, Sayang. Maafkan aku..." bisik Darren lirih di sela tangisnya yang pecah.

Rasa cemburu yang beberapa menit lalu membakar otaknya kini berubah menjadi belati yang menusuk-nusuk jantungnya sendiri.

Andai saja ia mendengarkan penjelasan Jihan, andai saja ia tidak buta oleh ego posesifnya, istri suburnya yang berhati malaikat itu pasti masih berada di dalam dekapannya saat ini.

Mengingat bagaimana tubuh Jihan terlempar ke dalam kegelapan jurang yang curam membuat Darren merasa seolah separuh nyawanya ikut mati malam itu.

Deru mesin mobil Deacon memecah keheningan malam yang pekat di jalur perbatasan.

Mobil itu berhenti dengan sentakan kasar tepat di belakang Rolls-Royce milik Darren yang posisinya masih menggantung mengerikan di bibir tebing.

Deacon langsung melompat turun, disusul oleh Andre dan Riko. Kedua bersaudara itu sengaja memasang wajah syok dan panik yang dibuat-buat, meskipun di dalam hati mereka tengah bersorak merayakan kemenangan besar atas hilangnya Jihan.

Suasana di sekitar lokasi berubah menjadi sangat sibuk dan bising dalam waktu singkat.

Tak lama setelah Deacon tiba, beberapa mobil dari Tim SAR dan puluhan warga desa yang membawa senter besar serta peralatan tali tambang berdatangan.

Sorot lampu-lampu senter mulai membelah kabut tebal yang merayap naik, dan proses pencarian tubuh Jihan di dasar jurang yang curam dan gelap itu pun resmi dimulai.

Deacon berlari menghampiri Darren yang masih terduduk lemas di atas tanah yang basah berlumpur.

Kondisi sang CEO paruh baya saat ini sangat mengenaskan.

Jas mewahnya kotor, rambutnya acak-acakan, dan pandangan matanya menatap kosong ke arah kegelapan jurang.

Darren mencengkeram erat tangan Deacon dengan jemarinya yang gemetar hebat dan dingin.

Air matanya luruh bersama tetesan air hujan yang mulai membasahi wajah matangnya.

"Aku bodoh, Deacon. Aku sangat bodoh..." bisik Darren dengan suara yang teramat parau, tercekat oleh rasa penyesalan yang membakar dada.

"Aku tidak mendengarkannya... Aku membiarkan cemburu buta menguasai otakku hingga dia terlempar dari mobil. Andai aku menahan emosiku, Jihan tidak akan pernah ada di bawah sana..."

Deacon mencengkeram balik bahu sahabatnya, mencoba memberikan kekuatan meskipun hatinya sendiri diselimuti kecemasan yang luar biasa.

"Tenang, Darren. Berdoalah, Jihan wanita yang baik, Tuhan pasti melindunginya. Tim SAR sedang turun ke bawah."

Di belakang mereka, Andre dan Riko berdiri berdampingan sambil menatap ke arah dasar jurang.

Riko menyilangkan tangan di dada, menyembunyikan senyuman sinisnya di balik kegelapan malam.

Bagi mereka, ratapan penyesalan Darren adalah musik yang paling indah didengar.

Mereka yakin, dengan jatuhnya Jihan dari tebing setinggi ini, tidak akan ada keajaiban yang bisa membawa wanita bertubuh subur itu kembali dalam keadaan bernyawa.

Langit di atas jalur pegunungan semakin menghitam pekat, bergulung dengan awan badai yang membuat malam terasa jauh lebih dingin dan mencekam.

Hujan yang semula rintik-rintik kini turun semakin lebat, menyapu tanah tebing menjadi lumpur yang licin dan mempersulit pergerakan semua orang yang ada di sana.

Sorot lampu senter dari Tim SAR dan warga desa tampak bergerak naik turun di antara pepohonan rimbun di bawah jurang. Namun, setelah hampir dua jam menyisir medan yang curam dan berbatu, tanda-tanda keberadaan Jihan belum juga membuahkan hasil.

Seorang komandan Tim SAR dengan pakaian oranye yang basah kuyup akhirnya memanjat kembali ke atas tebing.

Ia menghampiri Darren dan Deacon dengan wajah yang dipenuhi rasa sesal.

"Maaf, Pak Darren," ucap komandan SAR tersebut, mengatur napasnya yang memburu di tengah deru hujan.

"Medan di bawah sangat gelap, licin, dan kabut terlalu tebal menghalangi jarak pandang kami. Kami sudah menyisir radius seratus meter dari titik jatuh, namun Tim SAR tidak berhasil menemukan petunjuk apa pun di bawah jurang. Tidak ada pakaian yang tersangkut, tidak ada jejak tubuh, bahkan aliran sungai kecil di dasar jurang juga nihil."

Mendengar laporan itu, Darren seketika merasa dunianya runtuh sepenuhnya.

Ia bangkit berdiri dengan sisa tenaganya, lalu mencengkeram kerah baju komandan SAR itu dengan tatapan mata yang liar dan putus asa.

"Apa maksudmu tidak ada petunjuk?! Istriku jatuh di depan mataku sendiri! Cari lagi! Saya akan bayar berapa pun, bawa pasukan lebih banyak! Cari istriku sampai ketemu!" teriak Darren histeris, suaranya pecah bersaing dengan suara gemuruh guntur di langit.

Deacon dengan cekatan langsung menarik tubuh Darren, mendekap sahabatnya yang sudah kehilangan kendali diri akibat depresi mendalam.

"Darren, tenang! Hujan terlalu deras, berbahaya untuk tim jika dipaksakan sekarang!"

Sementara itu, di bawah payung hitam tak jauh dari sana, Andre dan Riko saling berbalas pandangan dengan senyum yang nyaris meledak.

Kenyataan bahwa Tim SAR tidak menemukan petunjuk atau tubuh Jihan di bawah sana justru membuat mereka semakin yakin bahwa tubuh wanita itu mungkin sudah terseret arus atau hancur di dasar terdalam yang tak tersentuh.

Bagi mereka, tidak ditemukannya jasad Jihan adalah akhir yang sempurna dari skenario berdarah.

Si gajah telah lenyap tanpa bekas, dan posisi mereka sebagai pewaris tunggal kekayaan Bramantyo kini kembali aman di atas penderitaan sang ayah.

1
sri hastuti
punya anak2 laki2 biadab semuanya thor, jangan dikasih harta, biar tau rasa ,pengrn tak bikin mati aja 2 anak itu 😡😡😡
my name is pho: iya kak
total 1 replies
falea sezi
gugat cerai aja deh laki bego
falea sezi
laki goblok😒 g tau diri
sri hastuti
jd anak kok durhaka spt itu thor, pengen tak lenyap o aja 2 anak gak tau diri itu, atau semua hartanya jangan dikasih, kasih ke panti aja,biar tau rasa 😡😡😡😡
Vie
hadir kak.... 👍👍👍
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!