Putu Saraswati, seorang gadis yang tidak pernah percaya dengan mistis, harus dihadapkan pada sebuah kenyataan menyakitkan, dimana sepupunya Kadek Dwi, harus mengalami sakit keras setelah acara Metatah dan pernikahan yang dilaksanakan secara bersamaan.
Segala upaya di lakukan, dari dokter dan juga dukun, tetapi tidak ada yang sanggup mengobatinya...
Bagaiamana kondisi Kadek Dwi, dan perjuangan Putu Saraswati dalam mengungkap teror yang menimpa keluarga dan juga warga desanya...
ikuti kisah selanjutnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan
Putu Gantari tersentak kaget saat melihat ibu mertuanya yang biasa berjalan bungkuk kini tegak, dan tatapannya tampak berbinar.
"M-Meme?" ucap Putu Gantari dengan wajah pucat. Entah mengapa ia selalu merasa tak nyaman saat berdekatan dengan ibu mertuanya.
"Iya, tadi Ketut Candra datang menjemput, katanya Wayan mau ketemu, dan ternyata sudah pulang duluan,"
Wajah Gantari mendadak berubah kesal, sebab merasa jika ibu mertuanya bersikap biasa saja saat melihat anak perempuannya sendiri meninggal.
"Ya, sudah. Kalau sudah meninggal di pendem saja dulu di setra (Kuburan), kalau ada ngaben massal baru di daftarkan, atau juga di kremasi dengan harga yang lebih murah," ucapnya dengan nada santai, sembari memperhatikan wajah Wayan Bintari yang sudah pucat tak bernyawa.
Putu Gantari melongo. Bahkan ia tak melihat wajah kesedihan dari sang ibu mertua.
Sementara itu, Ketut Candra melajukan motornya dengan kecepatan yang cukup kencang, ia menuju puskesmas untuk meminta bantuan ambulans.
Setibanya di depan puskesmas, ia langsung memarkir dan setengah berlari menuju ruang pendaftaran.
Braaak!
Tanpa sengaja, pemuda itu bertabrakan dengan Saraswati yang berjalan dengan terburu-buru.
"Aaaaw...." Saraswati hampir limbung, dan dengan cepat Ketut Candra menangkapnya, membuat pandangan mereka beradu.
Akan tetapi, tiba-tiba saja Saraswati merasakan sesuatu yang berbeda di dalam binar mata Ketut Candra, ia melihat ada darah kegelapan di sana.
"Hah!"
Saraswati bergegas menyeimbangkan tubuhnya, lalu merapikan pakaiannya. "Ada perlu apa?" tanyanya dengan sikap yang tenang.
"Saya butuh ambulans, ibu saya sedang kritis, dan tidak dapat di bawa menggunakan motor," ucapnya dengan cepat.
Wuuuussh!
Seketika Saraswati menangkap bayangan jika sosok wanita tua yang di tutupi kabut hitam sudah mengambil jiwa dari ibu sang pemuda. Ia seolah berada di lokasi kejadian.
Wuuussh!
Saraswati kembali tersadar, dan tubuhnya tersentak kaget saat kesadarannya kembali menyatu.
Ia menatap Ketut Candra dengan datar. "Pulang lah. Nanti kami akan mengirimkan ambulans, jika kamu masih membutuhkannya," ucap Saraswati berusaha tenang.
Pemuda itu menatap Saraswati dengan geram. "Aku memang butuh, maka itu aku datang kemari," jawabnya kesal.
"Kamu daftarkan saja di ruang pendaftaran. Setelah itu, kamu pulang, nanti akan kami jemput jika masih di butuhkan," jelas Saraswati.
Ketut Candra mengepalkan tinjunya, ia merasa jika Saraswati sudah sangat keterlaluan, ingin rasanya ia meninju sang gadis saat ini, sebab nyawa ibunya seolah di permainkan.
"Apa kau tak punya ibu? Sehingga begitu jawabanmu? Kau sebagai petugas medis, tetapi bahasamu sangat tidak sopan," Ketut Candra merasa geram.
"Ibumu sudah meninggal!" sahut Saraswati dengan tegas, sebab ia menahan kesal karena imelan sang pemuda.
Mendadak Ketut Candra melongo. "Kau bahkan tidak tahu siapa ibuku, dan bagaimana kondisinya! Lalu seenaknya kau mengatakan ia sudah meninggal!"
Kericuhan terjadi antara Saraswati dan pemuda bernama Ketut Candra yang memiliki wajah mirip aktor Korea, hanya saja saat ini, emosi sang pemuda sedang meledak.
Trrrt!
Trrrrt!
Panggilan masuk dari nomor sang ayah.
Ia mengangkatnya dengan cepat. "Ya, Bapa. Aku masih mengurus ambulansnya," jawabnya cepat, sebelum pria di seberang telepon menjawab.
"Tidak butuh ambulans, kamu cepat pulang, ibumu sudah meninggal," ucap Putu Gantari dari seberang telepon.
Mendadak Ketut Candra merasakan kaki lemahnya. Dadanya terasa sesak, dan ia mencoba menjaga keseimbangan tubuhnya.
Sekilas ia melirik ke arah Saraswati, gadis berwajah cantik itu baru saja membuatnya kesal, tetapi ucapannya benar, ia ambulan akan datang jika masih di butuhkan, tetapi darimana ia mengetahuinya?
"Kau tau darimana ini semua? Apakah kau seorang Jro Mangku?"
"Aku perawat puskesmas, dan sebaiknya kau segera pulang, daripada mencari tau siapa aku," tegas Saraswati dengan cepat.
Ketut Candra menatap Saraswati sejenak, sepertinya ada yang ingin ia ungkapkan, tetapi ia urungkan, dan langkahnya tersurut mundur, kemudian kekuar dari puskesmas dengan mata basah.
Setelah kepergian Ketut Candra, Kalandra melesat datang menghampirinya dalam wujud yang hanya Saraswati saja dapat melihatnya.
Kesembuhan Dwi, sudah membuatnya mengambil jiwa yang lain, dan itu akan ia lakukan sampai batas perjanjian berakhir," bisik Kalandra di telinganya.
Saras tersentak kaget. Ia mengjela nafasnya dengan berat.
"Aku harus bagaimana? Saat ini, ingatanku terhadap kedua orangtua dan adikku benar-benar hilang, aku harus terbiasa hidup bagaikan orang asing bersama mereka," ucapnya dengan berguman.
"Aku akan tetap membimbingmu, tetapi kamu harus tetap kuat dalam hal ini," bisiknya.
Saraswati hanya menatap nanar, dan ia kembali bertugas untuk melayani pasiennya.
Sementara itu, Ketut Candra sudah berada di rumahnya. Terlihat sangat ramai tetangga dan juga keluarga yang datang melayat.
Saat ia masuk ke dalam rumah, keluarga sudah melakukan mereresik (memandikan jasad dan membersihkan dari kotoran, lalu di hias menggunakan pakaian adat). Dan setelahnya akan langsung di makingsan di pertiwi (di makamkan ke setra, untuk menunggu ngaben massal)
Sepanjang saat acara tersebut, Ketut Candra melihat ada hal aneh pada sang dadong (nenek) yang terus saja memandangi jasad Wayan Bintari dengan tatapan layaknya orang sedang baru saja melepaskan dahaga laparnya.
"Apa yang terjadi pada dadong? Aku merasa jika ia menyimpan sebuah rahasia besar." gumamnya dengan lirih, dan membuat ia merasa bergidik ngeri saat menatap dadongnya.
Terlihat bibinya—Kadek Cempaka berjalan kepayahan saat membantu proses penyucian ibunya.
Ketut Candra menghampirinya. "Bibi istirahat saja, biar Ketut yang bawa sajen canang sarinya," ia meminta sang bibi untuk beristirahat.
Saat tanpa sengaja, ia melirik sang dadong Wayan Ratri tampak menelan salivanya, seolah ia merasa lapar kembali ketika mengamati perut anaknya sendiri yang sedang hamil tua.
Saat kepergok oleh sang cucu lelakinya, Wayan Ratri menatap dingin, lalu berjalan mundur, dan memilih untuk pulang, sedangkan ritual masih berlangsung.
Ketut Candra semakin merasa mencurigai sang dadong. Tetapi ia belum punya bukti.
Tiba-tiba saja, Ketut Candra merasa tubuhnya bergidik ngeri, dan wajahnya menatap kepergian Wayan Ratri yang terus menjauh.
****
Seminggu berlalu setelah kepergian sang ibu, Ketut Candra sedang duduk menatap pantai yang berpasir putih.
Ia berniat untuk membangun pondok wisata dari kayu hutan, dan memulai usaha, sebab ia melihat ada beberap pengunjung yang datang setiap harinya menikmati keindahan pantai di depan rumahnya.
Ia ingin mengusir kesedihan tentang kepergian sang ibu dengan kegiatan yang lebih menyibukkan dirinya.
Sementara itu, Dwi terlihat lebih cerah, wajahnya tampak sumringah, dan menikmati malam indah pengantin barunya di kamar yang penuh keromantisan.
Sedangkan di sisi lain, Ketut Candra yang baru saja membangun mimpinya, tiba-tiba melihat ada bola api yang melayang dan melintas di atas atap rumahnya, lalu menuju ke rumah bibinya—Kadek Cempaka.
Karena bagaimanapun Saraswati anaknya.. 🤧
hadeh punya bapak kok bisa ya memlilih kasta dr anak
aq bgg deh
gila ya hany kasta yg di pandang nya gemblung
kyk keturunan ningrat ya kek gtu
tp skrg udah g sih hehehehe
kmaren akun yg dulu khapus. 😌
hadeh smownkapan itu akan berkahir kasiham saras
Kayaknya Wayan Ratri nggak akan berhenti, sebelum mendapatkan apa yang ia mau.. 😌
masa iya air lebih kental dr darah
weeh piye iki
ada ya pepatah mantan anak
ini gila deh