Pernikahan mewah Rowan Vale-Knight dan Cathez hampa tanpa kehadiran buah hati.
Terobsesi pada kebebasan, Cathez terus menolak hamil hingga melontarkan tantangan gila: mengizinkan Rowan mencari wanita lain untuk melahirkan keturunannya.
Dikuasai rasa dikhianati, Rowan menerima tantangan tersebut.
Di malam yang sama, takdir mempertemukannya dengan Rossi Widmer—gadis terbuang yang nekat melompati mobil Rowan demi melarikan diri dari jebakan penjualan diri oleh ayahnya sendiri.
Terdesak ancaman bahaya dan pengaruh obat perangsang, penyatuan tak terduga terjadi di antara mereka.
Rowan yang terkesan oleh kemurnian Rossi memboyong gadis itu dalam pernikahan sah demi mendapatkan anak, tanpa menyadari rahasia besar bahwa Rossi sebenarnya adalah adik kandung Istrinya yang diasingkan sejak kecil.
Di antara keputusasaan, perlindungan tulus, dan intrik masa lalu yang membayangi, akankah benih cinta sejati tumbuh di tengah hubungan transaksi mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#35
Suara keriuhan khas jam istirahat memenuhi area kantin utama Chicago International High School.
Ruangan berdesain modern dengan kaca-kaca besar yang menghadap langsung ke taman dalam sekolah itu tampak dipenuhi oleh ratusan siswa.
Aroma makanan lezat bercampur dengan kehangatan pendar matahari siang, menciptakan atmosfer yang sedikit melonggarkan ketegangan setelah empat jam pelajaran tanpa henti.
Di salah satu sudut meja bundar terbaik yang terletak di dekat jendela utama, tim inti perwakilan sekolah tampak sedang berkumpul.
Di sana duduk Chelsea, Olivia, Reese, dan beberapa siswi unggulan lainnya.
Chelsea Lambert, seperti biasa, menjadi pusat gravitasi dari percakapan meja tersebut. Gaya bicaranya yang tegas, ekspresif, dan berapi-api mendominasi seluruh ruang dengar orang-orang di sekitarnya.
Tiba-tiba, mata tajam Chelsea tertuju pada salah satu siswi dari tim ballerina—seorang gadis bernama Sarah—yang sedang mengoleskan lip gloss dari tabung kaca elegan di depan cermin kecilnya.
Chelsea menaikkan satu alisnya, lalu meletakkan garpunya dengan dentingan pelan di atas piring marmer.
"Sarah," panggil Chelsea dengan nada suara yang seketika membuat riak percakapan di meja itu terhenti.
Gadis bernama Sarah itu menoleh menanggapi, "Ya, Chels?"
Chelsea memiringkan kepalanya, menunjuk tabung lip gloss di tangan Sarah dengan dagunya. "Warna shade dan kemasan yang kau pakai itu... bukankah itu edisi terbatas dari koleksi prive NARS edisi musim dingin kemarin?"
Sarah tersenyum polos lalu mengangguk bangga. "Ah, iya! Cantik sekali, kan? Aku baru membelinya dari butik langganan ibuku minggu lalu."
Raut wajah Chelsea tidak menunjukkan kekaguman sedikit pun.
Sebaliknya, mimik mukanya berubah dingin dan datar. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi dengan kedua lengan terlipat di depan dada.
"Dengar, Sarah," ujar Chelsea dengan nada dominan yang begitu mengintimidasi, "warna shade itu persis sama dengan yang aku pakai sejak bulan lalu. Kau tahu betul kan, aturan tak tertulis di lingkaran kita? Barang-barang pribadi atau barang koleksi yang sudah ku kenakan... aku tidak suka kalau ada orang lain yang menyamainya di depan mataku."
Sarah membeku, senyum di wajahnya memudar seketika. "T-tapi Chelsea, dan ini kan dijual umum—"
"Aku tidak peduli," potong Chelsea cepat tanpa memberi ruang untuk negosiasi. "Segala sesuatu yang menyangkut barang milikku, penampilanku, atau gaya pribadiku... tidak boleh ada yang kembar di lingkungan ini. Jadi, pastikan besok kau mengganti warna bibirmu itu dengan koleksimu yang lain. Aku tidak suka melihat tiruan."
Atmosfer di meja itu mendadak canggung dan tegang.
Sarah hanya bisa menundukkan kepalanya, mengangguk pelan dan menyimpan kembali lip gloss mewah itu ke dalam tasnya tanpa berani membantah kepribadian dominan Chelsea yang terkenal tanpa ampun.
Melihat tingkah sahabatnya yang teramat posesif dan cerewet soal barang-barang mewah tersebut, Olivia dan Reese yang duduk berdampingan hanya bisa saling bertukar pandang.
Olivia menyenggol lengan Reese dengan siku, lalu kedua gadis anggun itu kompak menggeleng-gelengkan kepala mereka pelan.
Mereka sudah sangat hapal dengan tabiat Chelsea yang angkuh dan selalu ingin menjadi nomor satu dalam segala hal, sehingga tidak ada gunanya meladeni atau mendebat argumen spontan gadis itu.
Tidak jauh dari meja mereka...
Di meja panjang berseberangan, Reagen Vale-Knight duduk menyendiri sembari menikmati makan siangnya.
Pemuda jangkung itu memang belum berniat membaur dengan siswa laki-laki dari keluarga konglomerat Chicago lainnya. Baginya, anak-anak kaya di kota ini terlalu membusungkan dada hanya karena harta milik orang tua mereka.
Pendengaran Reagen yang tajam tak sengaja menangkap seluruh ocehan dan intrik kecil yang baru saja terjadi di meja Chelsea.
Reagen yang sedang mengunyah steak dagingnya menyunggingkan senyum sinis yang amat tipis. Pria muda dari dinasti Vale-Knight itu membatin dalam hati dengan keheranan yang mendalam.
Astaga... wanita itu benar-benar cerewet dan gila, umpat Reagen dalam hati, memutar bola matanya malas.
Dia pikir hanya dirinya yang sanggup membeli barang-barang edisi terbatas seperti itu? Mengatur orang lain sampai ke warna bibir... benar-benar dramatis dan sangat tidak penting.
Reagen mendengus pelan, berniat mengalihkan pandangannya dari Chelsea yang masih sibuk mengomeli hal lain.
Namun, saat matanya bergeser sedikit ke samping Chelsea, gerakan jemari Reagen yang memegang pisau makan mendadak terhenti.
Pandangannya tertambat pada sosok gadis yang duduk paling tenang di meja tersebut.
Teman sebangkunya—Reese.
Reagen menatapi Reese dengan pendar mata yang penuh penilaian dan rasa ingin tahu yang mendalam.
Sejak pertama kali ia menginjakan kaki di Kelas 12-A tadi pagi hingga saat ini di kantin, gadis bernama Reese itu sama sekali tidak banyak bersuara.
Di tengah suasana kantin yang riuh dan sifat Chelsea yang meledak-ledak bagaikan mercon, Reese duduk dengan keanggunan alami yang luar biasa. Punggungnya tetap tegap, cara memegang cangkir tehnya sangat elegan, dan wajahnya dipenuhi pendar ketenangan yang murni.
Saat Olivia membisikkan sesuatu padanya, Reese tidak ikut tertawa lepas atau menimpali dengan kalimat panjang.
Gadis itu hanya mengulas senyuman manis yang begitu simetris, lalu mengangguk-anggukkan kepalanya dengan sangat halus.
Reagen menyandarkan punggungnya di kursi, menyipitkan matanya sembari terus mengamati gerak-gerik Reese dari kejauhan.
Gadis itu... batin Reagen heran, mengusap dagunya yang tegas.
Apa memang ada gadis di zaman sekarang yang sependiam dan sehalus itu?
Sebuah pemikiran konyol tiba-tiba terlintas di dalam kepala Reagen yang nakal.
Atau... jangan-jangan dia gagu? pikir Reagen asal.
Sejak tadi di kelas sampai di kantin ini, dia hampir tidak pernah membuka mulutnya untuk bicara kalimat panjang. Dia hanya tersenyum, mengangguk, atau menjawab seadanya dengan suara yang pelan sekali.
Reagen tertawa terkikik pelan di dalam hatinya sendiri saat membayangkan teori konyol tersebut. Baginya, kontras antara Chelsea yang terlampau bising dan Reese yang terlampau hening adalah pemandangan paling unik yang ia temukan di hari pertamanya di sekolah baru ini.
Tanpa Reagen sadari, matanya tidak lagi beralih.
Posisinya yang merupakan putra tunggal dari keluarga Rowan Vale-Knight yang selalu dikelilingi oleh gadis-gadis energik dan agresif di Los Angeles membuat keheningan serta keanggunan murni milik Reese menjadi sebuah enigma menarik yang secara perlahan mulai mencuri perhatiannya.
Reese yang menyadari dari sudut matanya bahwa Reagen sedang memperhatikannya secara intensif dari meja sebelah tidak menunjukkan kegugupan terbuka. Gadis itu hanya menyesap teh hangatnya pelan, lalu menoleh singkat ke arah Reagen.
Saat pandangan mata hitam mereka bersibobrok di udara, Reese kembali memberikan senyuman manisnya yang paling halus—senyuman anggun yang membuat Reagen di tempatnya mendadak berdehem canggung dan berpura-pura sibuk memotong daging di piringnya.
bikin semua kejahatan catzhes terbongkar
aku pasti baca thor mpe abis🥰🥰🥰