NovelToon NovelToon
Sinyal Terakhir

Sinyal Terakhir

Status: tamat
Genre:Sci-Fi / Dunia Masa Depan / Fantasi / Tamat
Popularitas:262
Nilai: 5
Nama Author: Mirage Ink

SINYAL TERAKHIR

Sinopsis

Tahun 2487.

Persemakmuran Persatuan Manusia (PPM) telah berkembang menjadi peradaban antarbintang yang menguasai ratusan sistem bintang. Dengan bantuan jaringan gerbang antarbintang dan kecerdasan buatan AURA, manusia berhasil membangun koloni di berbagai penjuru galaksi. Meski teknologi berkembang pesat, satu pertanyaan besar belum pernah terjawab: apakah manusia benar-benar sendirian di alam semesta?

Semuanya berubah ketika jaringan observatorium PPM menangkap sebuah sinyal misterius dari Galaksi Asterion, sebuah galaksi yang tidak pernah tercatat dalam jalur eksplorasi resmi. Sinyal itu memiliki pola yang tidak mungkin dihasilkan oleh fenomena alam dan terus berubah seolah merespons sesuatu.

Untuk menyelidikinya, Dewan PPM membentuk ekspedisi rahasia menggunakan kapal eksplorasi tercanggih, ESS Horizon. Misi tersebut dipimpin oleh Kapten Idris, didampingi Wakil Kapten Kael, bersama sepuluh anggota lain yang dipilih langsung dari berbagai bidang keahlian

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mirage Ink, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29 – Dewan Kapal

Alarm di Pos Observasi akhirnya berhenti.

Namun tidak ada seorang pun yang merasa tenang.

Retakan hitam masih terlihat di layar utama.

Bayangan raksasa di baliknya tidak bergerak.

Seolah sedang menunggu.

Kapten Idris menatap seluruh anggota tim.

"Kita berkumpul di ruang rapat."

"Tidak ada keputusan sebelum semua pendapat didengar."

Semua mengangguk.

Beberapa menit kemudian...

Seluruh kru ESS Horizon berkumpul melalui hologram.

Kael.

Lyra.

Reza.

Darius.

Rina.

Leo.

Hana.

Mira.

Niko.

Owen.

Sofia dan Adrian juga ikut hadir dari Pos Observasi.

Victor Hale tetap berada di luar bersama armadanya.

Wajah semua orang terlihat tegang.

Kapten Idris membuka rapat.

"Kita punya tiga fakta."

Ia mengangkat satu jari.

"Pertama."

"Penghalang mulai melemah."

Jari kedua.

"Kedua."

"Galaksi Asterion masih menjadi sumber semua kejadian."

Jari ketiga.

"Ketiga."

"Kita hanya memiliki waktu yang sangat sedikit."

Ia memandang semua orang.

"Aku ingin mendengar pendapat kalian."

Reza menjadi orang pertama berbicara.

"Aku tidak percaya Victor."

"Alasannya?"

"Kita hanya mendengar pengakuannya."

"Kita belum punya bukti bahwa dia benar-benar membantu kita."

Kael mengangguk pelan.

"Itu masuk akal."

Lyra mengangkat tangan.

"Aku melihatnya sedikit berbeda."

Semua menoleh kepadanya.

"Kalau Victor ingin menyerang..."

"...dia memiliki dua puluh tiga kapal."

"Dia bisa melakukannya sejak awal."

"Tapi dia tidak melakukannya."

"Itu berarti ada alasan kenapa dia memilih berbicara."

Reza tidak membantah.

Ia hanya tetap terlihat waspada.

Leo membuka beberapa data di layar.

"Aku memeriksa semua transmisi Victor."

"Hasilnya?"

"Tidak ada tanda manipulasi suara."

"Dia juga mengetahui informasi yang tidak pernah dipublikasikan."

Rina menambahkan,

"Arsip Pos Observasi juga mendukung sebagian ucapannya."

Mira ikut berbicara.

"Aku lebih khawatir pada kondisi kru."

"Apa maksudmu?"

"Dengungan yang didengar Leo."

"Kalau penghalang terus melemah..."

"...bisa jadi seluruh kru akan mengalami hal yang sama."

Leo mengangguk.

"Sekarang memang sudah jauh berkurang."

"Tapi sesekali masih terdengar."

Hana menampilkan peta galaksi.

"Kalau kita tetap di sini..."

"...retakan akan terus membesar."

"Kalau kita pergi?"

"Kita belum tahu."

"Tapi semua jalur tetap menuju Asterion."

Darius bersandar di kursinya.

"Aku ingin bicara soal kapal hitam."

Semua memperhatikannya.

"Kalau benar kapal itu jauh lebih maju..."

"...kenapa kita tetap memakai ESS Horizon?"

Owen langsung menjawab.

"Karena kita belum tahu cara mengoperasikannya."

Darius mengangguk.

"Itulah yang harus kita pelajari."

Kapten Idris menoleh kepada Adrian.

"Selama ini..."

"...apa tidak pernah ada orang lain yang mencoba mengaktifkan kapal itu?"

Adrian menggeleng.

"Tidak."

"Pintunya tidak pernah terbuka."

"Sampai kalian datang."

Sofia memandang Idris.

"Elias pernah mengatakan satu hal."

"Apa?"

"'Navigator tidak akan mewarisi jawaban.'"

"'Navigator hanya mewarisi pilihan.'"

Ruangan kembali sunyi.

Lyra mengulang pelan.

"Mewarisi pilihan..."

Saat semua masih berpikir...

AURA tiba-tiba berbicara.

"Permintaan komunikasi masuk."

"Dari Victor Hale."

Kapten Idris mengangguk.

"Tampilkan."

Wajah Victor kembali muncul.

Ekspresinya tetap tenang.

"Aku tidak akan meminta kalian percaya kepadaku."

"Tapi aku bisa memberi kalian bukti."

"Bukti apa?"

Victor mengangkat sebuah benda kecil ke depan kamera.

Sebuah lencana logam tua.

Sofia langsung berdiri.

"Itu..."

Adrian ikut membelalak.

"Lencana Direktur."

Victor mengangguk.

"Itu milik Elias Voss."

"Aku diminta menyimpannya..."

"...untuk diberikan kepada Navigator."

Kapten Idris memandang benda itu beberapa saat.

"Lalu bagaimana kau akan memberikannya?"

Victor tersenyum tipis.

"Datanglah ke kapalku."

Reza langsung menyela.

"Itu jebakan."

Victor tidak tersinggung.

"Kalian boleh membawa siapa pun."

"Kalian juga boleh membawa senjata."

"Aku hanya ingin menyerahkan sesuatu yang bukan lagi milikku."

Sambungan komunikasi terputus.

Ruangan kembali sunyi.

Tidak ada yang langsung berbicara.

Semua sadar...

keputusan berikutnya akan menentukan arah misi mereka.

Apakah mereka akan tetap bertahan di Pos Observasi...

atau untuk pertama kalinya sejak menemukan armada itu...

mereka akan menaiki salah satu kapal ekspedisi yang telah hilang selama lebih dari satu abad.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!