Di SMA Nusantara Jaya, aturan mainnya sangat sederhana: Uang adalah hukum, dan E4 (The Elite Four) adalah penguasanya. Dipimpin oleh Alvaro Pramudya, pewaris tunggal konglomerat terbesar di Indonesia yang angkuh dan tak tersentuh, geng E4 mengendalikan sekolah dengan sistem "Kartu Merah"—sebuah vonis perundungan kejam yang membuat siapa pun targetnya memilih untuk putus sekolah.
Namun, roda takdir berputar secara instan ketika Kayla Shaqueena, seorang gadis tangguh anak pemilik laundry kiloan, masuk ke sekolah elit tersebut lewat beasiswa jalur khusus. Kayla bukan tipikal gadis yang akan tunduk pada intimidasi. Ketika kartu merah mendarat di mejanya, alih-alih menangis dan memohon ampun, Kayla justru merobek kartu tersebut dan melayangkan
Di antara benturan kasta, harga diri, cinta segitiga yang rumit, dan intrik keluarga kaya yang kotor, akankah Kayla bertahan sebagai rumput liar yang merusak taman indah E4?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aera_yong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RAHASIA YANG MULAI RETAK (2)
Kehadiran Alvaro di bawah naungan pohon mahoni itu membuat atmosfer taman belakang seketika berubah menjadi medan laga yang mencekam. Langkah kakinya terdengar konstan namun berat, membawa aura dominasi yang selama ini melekat pada dirinya. Bedanya, kali ini kilat di matanya bukan lagi bentuk kesewenang-wenangan, melainkan naluri protektif yang murni untuk melindungi Kayla.
Devan perlahan memutar tubuhnya, melepaskan sisa pandangannya dari Kayla untuk menatap langsung ke arah sahabatnya sejak kecil itu. Sudut bibir Devan terangkat, membentuk seulas senyuman sinis yang sangat dingin—sebuah ekspresi yang menandakan bahwa batas kesabarannya telah habis.
"Urusanmu, Alvaro?" Devan terkekeh hambar, melangkah maju menantang posisi Alvaro. "Sejak kapan kamu menganggap manusia lain sebagai urusanmu, selain sebagai mainan untuk memuaskan egomu? Kamu mengabaikannya saat dia menderita, dan sekarang setelah dia mulai melihat sisi lain dari dunia ini, kamu datang dan mengklaimnya seolah dia adalah salah satu aset perusahaan keluargamu?"
"Jaga bicaramu, Devan!" Alvaro menggeram, rahangnya mengatup rapat. Jarak di antara kedua pangeran sekolah itu kini hanya tersisa setengah meter. "Aku mengakui kesalahanku di masa lalu, dan aku sedang berjuang untuk menebusnya. Tapi kamu... kamu menggunakan topeng pahlawan pelindung hanya untuk mencuri apa yang seharusnya menjadi milikku sejak awal!"
"Milikmu?" mata Devan menyipit tajam, memancarkan kilatan amarah murni. "Kayla bukan barang, Alvaro! Dia tidak akan pernah menjadi milik seseorang yang hanya tahu cara menginjak-injak harga diri orang lain!"
*Bugh!!!*
Satu pukulan mentah yang dilepaskan dengan kecepatan dan kekuatan penuh oleh Alvaro mendarat telak di rahang kanan Devan. Hantaman itu begitu keras hingga membuat Devan terhuyung beberapa langkah ke belakang, sudut bibirnya seketika robek dan mengeluarkan darah segar.
"Alvaro! Stop!!!" jerit Kayla histeris, menutup mulutnya dengan kedua tangan karena syok melihat bentrokan fisik pertama yang terjadi di antara dua anggota inti E4 tersebut.
Namun, Devan tidak tinggal diam. Ia menyeka darah di sudut bibirnya dengan punggung tangan, lalu menatap Alvaro dengan senyuman iblis yang mengerikan. Tanpa aba-aba, Devan merangsek maju, membalas dengan sebuah pukulan lurus yang menghantam telak pipi kiri Alvaro—tepat di bagian yang masih memar akibat tamparan Kayla tempo hari.
*Bugh!*
Alvaro tersentak mundur, meringis menahan rasa sakit yang luar biasa di wajahnya. Amarah yang membakar kepala kedua pemuda itu membuat mereka buta mata dan tuli telinga. Mereka kembali saling menerjang, melayangkan pukulan demi pukulan dengan brutal di atas rumput taman, mengabaikan seluruh sejarah persahabatan yang telah mereka jalin selama belasan tahun.
"Cukup! Aku bilang cukup!!!" Kayla berlari menerobos ke tengah-tengah mereka, berdiri tepat di antara Alvaro dan Devan dengan kedua tangan yang terentang lebar, memisahkan tubuh kedua cowok yang kini tengah terengah-engah dengan baju seragam yang berantakan dan wajah penuh luka lebam.
Air mata Kayla mengalir deras, membasahi pipinya yang pucat karena rasa takut dan bersalah yang amat sangat. "Jika kalian berdua ke sini hanya untuk saling membunuh demi memuaskan ego kekanak-kanakan kalian... maka silakan lakukan! Tapi jangan pernah bawa-bawa namaku lagi di dalam pertarungan kotor kalian!"
Kayla menoleh ke arah Devan dengan tatapan mata yang terluka. "Devan... aku minta maaf jika tindakanku kemarin menyakitimu. Tapi melihatmu menjadi brutal seperti ini membuatku sadar bahwa kamu tidak ada bedanya dengan orang-orang kaya lainnya yang menyelesaikan masalah dengan kekerasan."
Mendengar kalimat itu meluncur dari bibir Kayla, tubuh Devan seketika menegang kaku. Sepasang mata teduhnya meredup, memancarkan rasa sakit hati yang teramat dalam. Kata-kata Kayla bagai belati yang menusuk langsung ke ulu hatinya, menghancurkan seluruh citra pahlawan yang selama ini ia bangun demi memikat hati sang rumput liar.
Kayla kemudian beralih menatap Alvaro yang masih memegangi rahangnya. "Dan kamu, Alvaro... jika kamu benar-benar ingin menebus kesalahanmu, buktikan dengan tindakanmu, bukan dengan kepalan tinjumu! Aku muak melihat kalian berdua!"
Setelah meluapkan seluruh emosinya, Kayla berbalik dengan sentakan kasar dan berlari meninggalkan taman belakang secepat mungkin, meninggalkan keheningan yang mencekam di antara dua pangeran yang kini berdiri termangu di bawah bayangan pohon mahoni.
---
Sore harinya, setelah badai emosi di sekolah mereda, Kayla pulang ke rumah dengan langkah kaki yang teramat berat. Kepalanya berdenyut nyeri memikirkan keretakan hubungan antara Alvaro dan Devan yang kini berada di titik paling kritis karena dirinya.
Namun, begitu ia sampai di depan ruko laundry keluarganya, ia mendapati suasana yang tidak biasa. Pintu besi ruko terbuka lebar, dan di dalam sana, ibunya sedang duduk di lantai sambil menangis sesenggukan, dikelilingi oleh beberapa tetangga sekitar yang menatap dengan pandangan iba.
"Ibu?! Ada apa?! Kenapa Ibu menangis?!" Kayla berlari masuk, langsung berlutut dan memeluk tubuh ibunya yang bergetar hebat.
Sarah, ibunya, mendongak dengan wajah yang dipenuhi air mata dan ekspresi ketakutan yang luar biasa. Tangan ibunya yang kasar memegang selembar surat resmi berlogo emas mewah—logo yang sangat Kayla kenal.
**Pramudya Corporation.**
"Kayla... kita hancur, Nak..." bisik Sarah dengan suara yang pecah oleh tangisan histeris. "Kontrak kerja sama eksklusif dengan keluarga Pramudya mendadak dibatalkan sore ini oleh pihak pusat. Bukan itu saja... kita dituntut untuk membayar denda penalti sebesar lima ratus juta rupiah karena dituduh melakukan pelanggaran manipulasi berat terhadap pakaian-pakaian mewah mereka!"
Napas Kayla tercekat seketika, seluruh tubuhnya mendadak terasa dingin seperti es. Surat di tangan ibunya bergetar hebat.
"Pelanggaran? Manipulasi? Itu tidak mungkin, Bu! Kita selalu mencuci semuanya dengan jujur dan bersih!" seru Kayla tidak terima, dadanya naik turun dengan cepat karena kepanikan yang luar biasa.
"Ibu tidak tahu, Nak... Tapi surat ini ditandatangani langsung oleh kuasa hukum Nyonya Sofia Pramudya, ibu dari nak Alvaro," Sarah memeluk Kayla erat-erat, menangis sejadi-jadinya. "Jika kita tidak membayar uang itu dalam waktu tiga hari... ruko ini akan disita, dan ayahmu akan dikeluarkan dari rumah sakit karena seluruh biaya pengobatannya dibekukan oleh pihak yayasan mereka."
Kayla mematung di dalam pelukan ibunya, sepasang mata bulatnya menatap kosong ke arah dinding ruko yang kusam. Pikirannya berputar cepat, mencoba merangkai potongan teka-teki mengerikan ini.
Alvaro tidak mungkin melakukan ini; cowok itu baru saja mengorbankan harga dirinya di depan umum dan terluka demi melindunginya semalam. Ini adalah perbuatan **Sofia Pramudya** atau mungkin **Airlangga Pramudya**—orang tua Alvaro yang mengamuk karena menganggap anak laki-laki mereka telah melemah dan dipermalukan oleh seorang gadis dari kelas bawah. Mereka sedang menggunakan kekuasaan absolut mereka untuk menghancurkan eksistensi keluarga Kayla dari muka bumi sebagai bentuk peringatan keras.
Rantai rahasia dan ketenangan yang baru saja terbentuk di antara sang rumput liar dan sang penguasa kini telah resmi retak secara total, hancur berkeping-keping oleh intervensi kejam dari penguasa yang sesungguhnya. Kayla mengepalkan tinjunya dengan air mata yang kembali menetes di pipinya, menyadari bahwa ia kini harus masuk ke dalam jantung pertahanan musuh untuk menyelamatkan nyawa keluarganya.
Bersambung