Bagi orang lain, mendapat warisan adalah jalur cepat menjadi kaya. Namun, berbeda dengan Budiman. Warisan yang ia dapat, malah membuat hidupnya nelangsa karena mendapat warisan toko kelontong yang mau bangkrut karena hutang warga yang tak kunjung dibayar.
Lelah menagih dan kesal setiap hari ditipu janji manis, Budiman justru berharap warung itu bangkrut saja. Ia ingin menutupnya dan bekerja sebagai karyawan biasa, hidup tanpa pusing memikirkan hutang orang lain.
Namun, takdir berkata lain.
Saat ia benar-benar mencoba menghancurkan warung peninggalan orang tuanya dengan menjual murah semua, menolak pembeli, bahkan membiarkan stok habis, sebuah suara aneh tiba-tiba muncul di kepalanya:
[ Sistem Kompensasi Finansial 'Makin Bangkrut Makin Kaya' Resmi Diaktifkan! ]
Bagaimanakah kisah Budiman yang berusaha bangkrut tetapi tak kunjung sukses? Ikuti alur cerita ini yah ....
#kehidupandidesa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Lelang Cinta
Melihat suasana yang lebih mirip rapat pleno adat raksasa bercampur dengan kongres fengshui internasional di pelataran parkir tokonya, Budiman hanya bisa memegangi tiang ruko dengan tubuh lemas.
Kepalanya yang belum sempat keramas semenjak pulang dari Siberut kini terasa berdenyut bagai mau lepas. Jalur lintas barat Sumatera di depan kedainya benar-benar lumpuh, tertutup oleh kombinasi iring-iringan dua puluh truk tronton Jakarta dan tiga sedan mewah milik keluarga Vilmey.
"Tunggu dulu, Pak Cik! Tidak bisa main serobot begitu dong?!" Uni Linda tiba-tiba maju beberapa langkah sambil berkacak pinggang di depan paman tertua Vilmey. Ia terdengar mendengkus dengan matan melotot menatap koper hitam yang diduga berisi uang mahar dengan jumlah besar, yang tak bisa mereka tandingi.
"Mahar dalam koper itu tidak berlaku di kampung kami! Budiman ini asli putra daerah, orang Minang tulen. Kalau dia mau menikah, ya harus patuh pada aturan adat matrilineal kami."
"Lagipula, coba dipikir pakai logika, anak saya Vini ini sudah berjasa besar bikin viral toko Budiman Mart ini lewat video-videonya! Kalau bukan karena anak saya, mana mungkin kedai ini bisa terkenal dan bisa membuka cabang hingga penjuru Sumbar!" cerocos Uni Linda berapi-api merasa menjadi pahlawan.
Padahal, di dalam hatinya, Uni Linda sudah menyusun rencana licik.
‘Kalau Budiman sampai jatuh ke tangan gadis China ini, melayang sudah kesempatanku untuk mengambil kembali uang denda dua puluh juta kemarin! Kalau dia jadi menantuku, jangankan denda, semua minyak goreng dan mi instan di dalam toko itu bisa kuangkut gratis setiap hari ke rumah!’
Etek Nur tidak mau kalah. Ia langsung menyenggol bahu Uni Linda dengan kasar hingga wanita itu hampir tersungkur.
"Eeei, Linda! Jangan kau bawa-bawa si Vini itu ke sini. Semua orang di sini tahu kalau video si Vini itu hanya bikin rusuh saja!" Lalu, ia beralih pada Budiman yang masih layu.
"Diman, kau dengarkan Etek ya. Ini si Mimi, kemenakan dari suami Etek, aslinya kalem banget. Perawatannya tak banyak kayak si Mila anak Etek Suni, dan dia gak hobi main HP kayak si Vini. Dia pandai mengaji, taat beribadah, pandai memasak rendang. Cocok sekali jadi induak beras yang mengurus rumah tangga kau!"
Mila, gadis lulusan akuntansi kemenakan Etek Suni yang sejak tadi berdiri dengan percaya diri, langsung melangkah maju dan menatap Vilmey dari ujung rambut hingga ujung kaki. Kulitnya yang putih bersih tampak kontras di bawah terik matahari Tarusan.
"Maaf ya, Cece Vilmey," ujar Mila dengan nada suara yang dibuat sehalus mungkin tetapi penuh hasutan.
"Kami tahu Cece ini orang kaya dari kota, dan merupakan mitra bisnisnya Uda Diman. Tapi pernikahan di ranah Minang itu bukan cuma soal aliansi bisnis atau beli saham aja, Ce."
"Ini soal menyatukan suku. Kalau Cece mau melamar Uda Diman, suku Cece apa? Nanti garis keturunan anak-anak Uda Diman bagaimana kalau ibunya tidak memiliki suku?"
"Jadi, mendingan Cece fokus saja dalam mengurus NagariShop yang sudah menjadi kebanggan kami. Untuk urusan masa depan dan dapur Uda Diman, biar Mila yang ahli dalam bidang akuntan ini yang urus dan merapikannya."
Mendengar sindiran tajam yang terstruktur rapi dari Mila, suasana di pelataran parkir langsung memanas hingga mencapai titik didih. Emak-emak dari berbagai suku di Tarusan langsung bersorak riuh, merapatkan barisan di belakang Mila dan Etek Suni, membentuk dinding pembatas manusia seolah-olah sedang melindungi harta karun paling berharga di desa mereka dari serbuan orang luar.
Vilmey yang berdiri di tengah benturan dua kubu budaya itu mulai merasa agak terdesak. Wajah cantiknya kini merona merah akibat luapan emosi oleh kata-kata yang cukup menusuk hatinya.
Harga dirinya sebagai bos besar NagariShop sekaligus wanita mandiri kelas atas tidak membiarkannya mundur begitu saja. Ia melirik Budiman yang masih mematung di ambang pintu toko dengan tatapan penuh harap, seolah meminta sang pujaan hati untuk segera mengambil tindakan jantan dan melindunginya dari gempuran emak-emak kampung sini.
Sialnya, sang target perjodohan justru sama sekali tidak menangkap kode romantis tersebut. Jiwa Budiman sedang sibuk berkelana meratapi nasib.
‘Tuhan ... singkirkan lah koper mahar itu... singkirkan juga emak-emak sekampung ini ... awak tak mau kaya, awak tak mau menikah, awak tak mau punya istri akuntan atau anak siber ... awak cuma mau toko ini sepi dan awak bisa tidur tenang tanpa diganggu Sistem ya Allah ... Dulu saat miskin awak merasa susah. Ternyata menjadi kaya, lebih susah lagi ...’ jerit Budiman frustrasi, hampir menangis di tempat.
Melihat Budiman yang hanya diam seribu bahasa dengan wajah pucat pasi dan tatapan mata yang kosong, Anto yang istirahat, ikut menyaksikan Budiman yang menjadi rebutan.
"Ron, kau tengok Uda Diman kita itu," bisik Anto dengan nada suara yang penuh khidmat dan dramatis.
"Diamnya Uda ... sungguh di luar nalar! Aura kepemimpinannya keluar dengan sempurna. Dia sengaja membiarkan para wanita dan tetangga ini memperebutkannya demi menguji loyalitas pasar lokal sekaligus mengukur seberapa besar komitmen finansial dari aliansi bisnis Jakarta dan Padang!"
"Ini adalah strategi pemasaran lewat jalur asmara tingkat tinggi, sebuah taktik psikologi marketing yang belum pernah ada di buku kuliah mana pun!" desis Anto dengan mata berbinar-binar penuh kekaguman.
Roni mengangguk-angguk pasrah sambil menguap lebar. "Iya, Bang Anto. Uda Diman emang tak ada lawan di dunia ini. Orang biasa mah kalau belum mandi dan rambut awut-awutan begini pasti diusir. Akan tetapi beda dengan bos kita. Uda Diman malah diperebutkan sampai bikin macet jalur lintas Sumatera."
Merasa harus mengambil tindakan demi kemajuan korporasi, Anto tiba-tiba melangkah maju ke depan undakan ruko. Ia menarik napas dalam-dalam lalu berteriak dengan lantang, memecah perdebatan riuh emak-emak dan keluarga besar Vilmey.
"Etek-etek sekalian! Cece Vilmey yang terhormat! Mohon perhatiannya sebentar!" teriak Anto laksana seorang juru lelang profesional.
"Sebagai General Manajer resmi dari Budiman Mart, Ambo melihat antusiasme yang luar biasa dari kedua belah pihak. Demi asas keadilan dan transparansi korporasi, Ambo sarankan bagaimana kalau kita buka sistem tender lelang saja, Da?"
Refleks Budiman mengangkat kepala dengan kening yang telah berkerut, membuat kerutan itu semakin dalam mencoba mencerna ucapan adik iparnya.
"Siapa yang nilai mahar dan aset dukungannya paling masuk akal untuk modal ekspansi 10 cabang lagi, dia lah yang berhak mendapatkan tanda tangan di atas kontrak pelaminan Uda Budiman!" ucap Anto dengan semangat berkobar.
Hal ini membuat Etek-Etek yang mengerumuni pelataran parkir, semakin riuh. Semua terasa tak mungkin. Berbeda dengan raut wajah Vilmey yang terlihat semakin percaya diri jika lelang seperti itu memang ada.
"Gila kau, Anto!! Kau pikir awak ini barang rongsokan di gudang sampai dilelang macam itu?!" amuk Budiman, matanya mendadak melotot tajam, ingin rasanya menelan sang GM bulat-bulat saat itu juga.
Namun, belum sempat Budiman membubarkan massa yang semakin berisik menanggapi ide gila bin sesat dari Anto, pandangan mata Budiman mendadak berbayang.
Udara di sekeliling pelataran parkir ruko terasa berputar dengan hebat. Suasana mendadak menjadi berat, hologram bewarna biru berubah jadi keemasan adalah yang paling ia takuti di alam semesta ini. Cahayanya memancar dengan sangat silau, tepat di depan pelupuk matanya.
[ DING! ]
[ bersambung ]
Emang boleh masalah ini Sistem ikut campur juga?