Liburan keluarga Pak Gunawan dan Bu Sri yang sedang hamil tua berakhir tragis ketika mereka, bersama dua pelayan dan seorang tukang kebun, ditemukan tewas mengenaskan di vila mereka.
Penyelidikan mengungkap bahwa pembantaian tersebut dipicu oleh aksi perampokan yang berubah menjadi pembunuhan brutal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kekhawatiran Lela
Beberapa hari kemudian, malam sebelum keberangkatan, Sri tengah sibuk di dalam kamarnya. Di atas kasur, sebuah koper kecil dan ransel besar sudah terbuka, dikelilingi oleh tumpukan baju, jaket tebal, dan beberapa keperluan pribadi yang sedang ia kemas ke dalam tas.
Tiba-tiba, pintu kamarnya terbuka pelan. Lela melangkah masuk, memperhatikan jemari putrinya yang cekatan melipat pakaian.
"Nak.. bisakah kamu tidak usah pergi ke desa itu?" Ucap Lela tiba-tiba. Suaranya memecah keheningan kamar, sarat akan rasa khawatir yang teramat sangat. Matanya menatap Sri dengan pandangan memohon yang begitu dalam.
Sri menghentikan lipatan bajunya, lalu menghela napas pelan. Ia berbalik menghadapi ibunya.
"Tidak bisa, Bu. Ini tugas utama Semester, proyeknya besar dan kompleks. Kalau Sri tidak ikut proses syuting ini, tentu akan berdampak langsung pada nilai kuliah Sri nanti. Bisa-bisa Sri tidak lulus mata kuliah ini." Sri mendekat, lalu menggenggam lembut tangan ibunya yang terasa dingin, mencoba menenangkan.
"Ibu tidak perlu sekhawatir ini. Sri pergi beramai-ramai dengan teman kelompok, ada anak-anak teater juga, jadi bukan cuma sendiri. Dan lagi, kata Bagas yang sudah tanya-tanya, orang-orang di desa itu baik-baik semua. Sangat ramah."
Mendengar kalimat terakhir anaknya, tatapan mata Lela mendadak menajam, menyiratkan trauma masa lalu yang begitu pekat.
"Kebaikan yang ditunjukkan oleh wajah, belum tentu adalah cerminan dari hatinya, Sri," ucap Lela dengan nada suara yang bergetar namun penuh penekanan.
Sri mengernyitkan dahi, merasa heran sekaligus bingung. Beberapa hari ini ibunya terus saja bersikap aneh. Di sela-sela kesibukan Sri mengemas barang, Lela terus-menerus memintanya untuk membatalkan kepergian dengan alasan khawatir yang terasa sangat berlebihan.
"Bu, Ibu tidak usah khawatir ya, Sri akan baik-baik saja di sana. Ibu cukup doakan Sri saja ya," kata Sri lembut, mencoba mengusir kabut kecemasan yang membayang di wajah ibunya.
Ia tersenyum manis, berusaha meyakinkan bahwa perjalanan ini hanyalah tugas kuliah biasa. Mendengar ucapan tulus anaknya, Lela tersadar bahwa penolakannya yang terlalu keras justru bisa memantik kecurigaan yang lebih besar dalam diri Sri.
Demi menyembunyikan rahasia masa lalu itu rapat-rapat, Lela akhirnya terpaksa mengalah. Dengan berat hati, ia menganggukkan kepalanya perlahan.
Namun, rasa takut di dada Lela tidak bisa diredam begitu saja.
Dia mencengkeram balik jemari Sri dengan erat, menatap dalam-dalam ke sepasang mata putrinya.
"Tapi, kamu harus janji satu hal sama Ibu," ucap Lela dengan nada suara yang mendadak sangat serius dan bergetar.
"Kalau sampai terjadi sesuatu hal yang aneh atau buruk di sana, kamu harus langsung pulang saat itu juga. Jangan pikirkan tugas atau apa pun. Pergi dan langsung lari dari desa itu."
Melihat gurat ketakutan yang begitu nyata di wajah sang ibu, Sri pun luluh. Ia membalas genggaman itu, menangkup tangan ibunya yang terasa dingin lalu berkata dengan penuh kesungguhan.
"Iya, Bu. Sri janji."
Janji itu sedikit memberikan kelegaan semu bagi Lela, walau di dalam hatinya, sebuah doa tak putus-putus ia rapalkan untuk keselamatan putrinya.
Setelah momen janji itu, Sri akhirnya menyelesaikan semua kemasannya, memastikan tidak ada keperluan pribadi yang tertinggal.
Lela pun melangkah keluar dari kamar putrinya, berjalan perlahan kembali menuju kamarnya sendiri dengan beban pikiran yang terasa kian menghimpit dada.
Sesampainya di dalam kamar, Lela langsung mengunci pintu. Ia berjalan lunglai ke sisi ranjangnya, lalu duduk di sana dalam keheningan malam yang menyesakkan mengingat, jika besok Sri susah akan berangkat ke desa jahanam itu.
Tangan paruh bayanya kembali meraih selembar foto tua yang usang dari dalam laci rahasianya.
Sambil memandangi potret masa lalu yang penuh kenangan itu, jemari Lela yang gemetar bergerak mengelus lembut wajah Bu Sri yang sedang tersenyum anggun di dalam foto.
"Bu... anak Ibu akan kembali ke desa itu," bisik Lela dengan suara yang terputus-putus menahan sesak. Air matanya yang sejak tadi ditahan di depan Sri, kini runtuh menetasi permukaan foto.
"Tolong lindungi dia, Bu... Tolong kalian semua lindungi dia di sana," kata Lela lagi di sela isak tangisnya.
Dia menatap wajah Pak Gunawan, Mbok Warsih, Aji, dan Sumi di dalam foto tersebut, seolah meminta bantuan dari roh-roh mereka yang telah tiada.
Di kamar yang sunyi itu, Lela hanya bisa berserah pada doa, berharap agar darah daging majikannya itu selalu dilindungi dari marabahaya dan teror yang pernah menghancurkan hidup mereka dua puluh tahun silam di Desa Selogiri.
Keesokan paginya, matahari baru saja terbit dan sinarnya yang hangat mulai menerangi teras rumah. Sri sudah rapi dengan pakaian siap tempur untuk perjalanan jauh, menyandang tas ransel besarnya yang padat sembari memegang koper kecil di tangan kanan.
Teman-teman satu kelompok dan tim cast dari teater rupanya sudah menunggu di titik kumpul yang telah mereka janjikan sebelumnya.
Sebelum melangkah keluar pagar, Sri berbalik untuk berpamitan kepada ibunya yang sejak tadi mengekor di belakang dengan tatapan mata yang tak lepas darinya.
"Bu, Sri pergi dulu ya. Ibu di rumah baik-baik, kalau ada apa-apa atau Ibu merasa kurang sehat, langsung hubungi Sri ya," kata Sri penuh perhatian, mencoba mencairkan kecemasan yang masih tersisa di wajah ibunya.
Lela memaksakan sebuah senyuman, lalu mengusap lengan putrinya pelan.
"Ibu tidak apa-apa, Sri tidak perlu khawatir pada Ibu di rumah. Yang penting itu kamu. Sesampainya di desa sana nanti, jangan lupa kabari Ibu ya. Begitu menginjakkan kaki di sana, kamu harus langsung kabari Ibu."
"Iya, Bu. Pasti Sri langsung kabari," jawab Sri menenangkan.
Mendengar jawaban itu, Lela tidak bisa lagi menahan gejolak di dadanya. Ia langsung maju dan memeluk Sri dengan teramat erat, sebuah pelukan yang penuh dengan rasa sayang, kerinduan, sekaligus ketakutan yang dalam.
Di dekapan hangat itu, Lela membisikkan untaian kalimat yang sarat akan peringatan.
"Jaga diri kamu baik-baik di sana, Nak. Hati-hati. Dan ingat pesan Ibu, jangan pernah percaya pada siapa pun yang ada di desa itu," bisik Lela dengan suara bergetar di dekat telinga Sri. Peringatan terakhir ibunya terdengar begitu dingin dan misterius, namun Sri yang terburu-buru hanya menganggapnya sebagai bentuk kekhawatiran berlebih seorang orang tua yang melepas anak gadisnya pergi jauh.
Sri melepaskan pelukan itu dengan senyuman, lalu melambaikan tangan, melangkah pergi menuju takdirnya yang telah menunggu di Desa Selogiri.
Baru pertama kali ini dalam hidupnya, Sri melihat sang ibu begitu cemas, protektif, dan dipenuhi ketakutan yang tidak masuk akal. Kalimat-kalimat peringatan ibunya terus terngiang-ngiang di kepalanya.
Sri mencoba mencari pembenaran logis di dalam benaknya. Atau, mungkin ini semua hanya karena selama ini mereka tidak pernah berpisah? pikir Sri dalam hati.
Sejak kecil, Sri memang selalu berada di dekat ibunya. Mereka hanya hidup berdua, melewati segala suka dan duka bersama tanpa pernah terpisahkan jarak yang jauh atau waktu yang lama.
Sri menduga, keputusannya untuk pergi syuting ke desa terpencil selama berminggu-minggu inilah yang memicu sindrom kecemasan berlebih pada ibunya, sebuah rasa takut kehilangan yang wajar dirasakan oleh seorang ibu tunggal.