NovelToon NovelToon
Santri Bar-Bar Milik Gus CEO

Santri Bar-Bar Milik Gus CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Nikahmuda
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

~

​Nayanika Sadira Pangestu, gadis kaya raya yang cantik, nakal, dan bar-bar, akhirnya kena batunya. Karena saking seringnya bikin pusing, ia "dibuang" orang tuanya ke sebuah pesantren pedalaman untuk bertobat.

~

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 10

***

Sesuai ancamannya semalam, subuh hari Naya benar-benar tidak diberikan celah untuk membuat alasan. Matahari bahkan belum berniat memunculkan semburatnya ketika suara ketukan berirama konstan dan bertenaga mengetuk pintu Kamar Khadijah 3. Begitu Sarah membuka pintu dengan nyawa yang belum genap terkumpul, sosok tegap Gus Zayyan sudah berdiri tegak memegang daftar presensi santri.

Mata elang di balik kacamatanya langsung tertuju pada kasur Naya. Tanpa banyak bicara, suara baritonnya memanggil nama lengkap Naya, sukses membuat gadis Jakarta itu melonjak kaget dari balik selimut dengan rambut pirang yang acak-acakan mirip singa terbangun. Sepanjang subuh hingga kegiatan madrasah pagi, Naya terpaksa mengikuti ritme pesantren tanpa sempat membalas argumen karena rasa kantuk dan kelelahan yang luar biasa sukses mengunci ke-bar-bar-annya.

Namun, sore harinya, energi si Ratu Balap telah terisi penuh. Dengan modal kelakuan baik—atau lebih tepatnya kelakuan pasrah karena mengantuk sepanjang hari—Naya melangkah dengan penuh percaya diri menuju kantor ndalem. Hari ini adalah genap satu minggu dirinya berada di Al-Falah, dan sore ini adalah waktu penagihan kuota satu jam memegang ponsel sesuai kontrak.

"Asal lu tahu ya, Zayyan kaku, sore ini gue bakal scrolling Instagram sampai puas!" gumam Naya riang sembari merapikan gamis marunnya. Langkah kakinya terasa begitu ringan.

Tok! Tok! Tok!

Tanpa menunggu jawaban dari dalam, Naya langsung mendorong pintu jati kantor ndalem yang tidak terkunci. "Heh, Gus Kaku! Gue mau nagih janji—eh?"

Kalimat Naya terputus di udara. Kursi marmer hitam di balik meja kerja yang megah itu kosong. Tidak ada sosok pria berkacamata dengan kemeja formal rapi yang biasanya duduk dengan aura mengintimidasi. Sebagai gantinya, di sudut ruangan dekat rak buku, Bu Nyai Halimah sedang berdiri sembari merapikan beberapa berkas yang berserakan.

Wanita paruh baya berhijab anggun itu menoleh, lalu tersenyum sangat teduh begitu mendapati Naya yang mematung di ambang pintu.

"Eh, Naya. Masuk, Nak, jangan berdiri di pintu begitu," sapa Bu Nyai Halimah lembut.

Naya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, mendadak merasa kikuk karena salah masuk dengan gaya menggebrak. "Eh... sore, Umi. Maaf, Naya kira tadi ada si... eh, ada Gus Zayyan."

Bu Nyai Halimah terkekeh pelan, meletakkan bundel berkas terakhir ke dalam rak. "Zayyan sedang tidak ada di tempat, Nak. Tadi siang mendadak ada urusan, jadi dia harus berangkat bersama asistennya. Kemungkinan baru pulang besok pagi."

Naya seketika mengembuskan napas lega yang teramat kentara. "Bagus deh! Eh, maksudnya... sayang banget ya, Umi," ralat Naya buru-buru dengan cengiran kuda.

"Terus... HP Naya gimana, Umi? Kontrak seminggu ini kan Naya enggak bikin onar."

Bu Nyai Halimah berjalan mendekati meja kerja putranya, lalu membuka laci tengah. Beliau mengeluarkan kotak kayu kecil yang sangat familier di mata Naya. "Zayyan sudah berpesan pada Umi sebelum berangkat. Katanya, Nayanika sudah menyelesaikan persyaratan minggu pertama dengan cukup baik. Jadi, ini hak kamu."

Naya nyaris melompat kegirangan saat menerima kotak kayu itu dari tangan Bu Nyai Halimah. Dengan cepat, ia membuka tutupnya dan merengkuh ponsel pintar miliknya yang sudah seminggu penuh tidak ia sentuh. Layarnya menyala, menampilkan ratusan notifikasi yang masuk.

Namun, tepat saat jemarinya bersiap membuka aplikasi media sosial, gerakan Naya terhenti. Di atas meja sofa ruang kerja, Bu Nyai Halimah sudah menyuguhkan secangkir teh melati hangat dan sepiring pisang goreng yang masih mengepulkan asap tipis.

"Jangan buru-buru kembali ke asrama. Duduk sini dulu, temani Umi minum teh sore," ajak Bu Nyai Halimah sembari menepuk sisi sofa di sampingnya.

Naya menurut. Ia duduk di samping Bu Nyai Halimah, meletakkan ponselnya di atas meja dengan posisi layar menghadap ke bawah. Entah kenapa, kehangatan ruangan ini dan aroma pisang goreng membuat hasratnya untuk berselancar di dunia maya mendadak surut.

Bu Nyai Halimah memperhatikan penampilan Naya. Jilbab instan marun yang dipakai gadis itu sudah terpasang rapi, menyembunyikan rambut pirangnya dengan sempurna. Dengan gerakan yang teramat lembut dan penuh kasih sayang keibuan, Bu Nyai Halimah mengulurkan tangannya, mengusap puncak kepala Naya, lalu merapikan helai jilbab di dekat pipi Naya.

Sentuhan hangat itu seketika memukul dinding pertahanan hati Naya. Di Jakarta, tangan ibunya lebih sering sibuk memegang tas bermerek atau berjabat tangan dengan rekan bisnis, sementara tangan ayahnya lebih sering menggebrak meja saat memarahinya. Belum pernah ada tangan seorang ibu yang mengusap kepalanya dengan ketulusan sedalam ini.

Naya menundukkan kepalanya. Sepasang matanya mendadak terasa panas. Dengan nada suara yang getir dan sedikit bergetar, Naya akhirnya membuka suara.

"Umi..." panggil Naya lirih.

"Iya, Cah Ayu? Ada apa?"

"Umi... Umi sebenarnya enggak malu ya, punya santri titipan kayak Naya?" Naya meremas ujung gamisnya sendiri, enggan menatap mata teduh Bu Nyai Halimah. "Di Jakarta, semua orang bilang Naya itu anak nakal. Naya hobi balapan liar, hobi bikin rusuh di kelab malam, sampai ditangkap polisi. Papa sama Mama sampai muak dan buang Naya ke sini karena Naya dianggap cuma bisa bikin malu nama besar keluarga Pangestu. Naya beda banget sama anak-anak rekan bisnis Papa yang pintar, anggun, dan berprestasi."

Bu Nyai Halimah mendengarkan setiap bait kalimat pilu itu tanpa memotong sedikit pun. Senyuman di wajah sepuh itu justru semakin hangat. Beliau menggenggam kedua tangan Naya yang terasa dingin dan sedikit gemetar.

"Naya, lihat Umi, Nak," ujar Bu Nyai Halimah lembut.

Naya perlahan mendongak, memperlihatkan sepasang mata indahnya yang kini sudah berkaca-kaca menahan air mata yang siap tumpah.

"Setiap manusia itu diciptakan unik oleh Allah, tidak ada yang sama. Dan tidak adil rasanya jika kita mengukur kebaikan seseorang hanya dari satu sudut pandang saja," tutur Bu Nyai Halimah dengan suara yang begitu menyejukkan hati. Beliau mengusap punggung tangan Naya. "Permata, Naya... meskipun dia terlempar ke dalam lumpur yang kotor dan dalam, dia tidak akan pernah berubah menjadi batu kali, Nak. Dia tetaplah sebuah permata yang berharga. Dia hanya butuh waktu dan tempat yang tepat untuk dibersihkan, agar kilaunya yang indah bisa kembali terlihat oleh dunia."

Satu tetes air mata akhirnya lolos membasahi pipi Naya. "Tapi Naya bar-bar, Umi. Naya enggak bisa diam, suka bantah, dan enggak tahu aturan."

Bu Nyai Halimah tertawa kecil, suara tawa yang sangat renyah. Beliau mengambil selembar tisu lalu menyeka air mata di pipi Naya dengan kelembutan seorang ibu kandung. "Ke-bar-bar-anmu itu adalah bentuk keberanian dan ketulusan, Nak. Umi tahu dari Sarah dan Aliyah, kemarin sore kamu menyemprot Fida pakai selang air karena membela Sarah, kan?"

Naya tersentak, wajahnya mendadak memerah karena malu. "Eh... itu... iya, Umi. Habisnya si Mbak Hijau itu keterlaluan banget mutusin bambu jemuran Sarah sampai bajunya kotor semua."

"Nah, itu yang Umi maksud. Kamu nakal di mata orang lain karena mereka belum melihat hatimu yang tulus. Kamu berani membela temanmu tanpa takut pada konsekuensinya. Itu sifat yang langka, Naya. Pesantren ini bukan penjara untuk menghukummu, tapi tempat untuk membantumu mengarahkan keberanian itu ke jalan yang lebih baik." Bu Nyai Halimah menatap Naya dalam-dalam.

"Jadi, jangan pernah berkecil hati dan membandingkan dirimu dengan anak-anak di Jakarta itu, ya?"

Naya mengangguk kuat, air matanya kembali mengalir, namun kali ini bukan karena rasa sakit, melainkan karena rasa lega dan haru yang luar biasa. Ia langsung menghambur ke dalam pelukan Bu Nyai Halimah, memeluk tubuh hangat wanita paruh baya itu dengan erat. Bu Nyai Halimah membalas pelukan Naya, mengusap punggung gadis itu dengan penuh kasih sayang.

Setelah beberapa saat menenangkan diri, Naya melepaskan pelukannya sambil menghirup teh melati yang disuguhkan untuk meredakan rasa canggungnya. Sambil mengunyah pisang goreng, mata Naya kembali melirik ke arah meja kerja Gus Zayyan yang rapi dan kaku.

"Tapi Umi... kalau Naya permata di dalam lumpur, berarti anak cowok Umi itu es batu di dalam freezer ya?" celetuk Naya spontan dengan gaya blak-blakannya yang mulai kembali.

Bu Nyai Halimah tertegun sejenak, sebelum akhirnya tertawa lepas mendengarnya. "Astagfirullah, Naya. Kamu ini ada-ada saja. Maksudmu Zayyan?"

"Iya, Umi! Sumpah, Gus Zayyan itu kakuuu banget. Mirip robot, enggak ada ekspresinya sama sekali. Kalau ngomong irit banget kayak pakai kuota berbayar, terus auranya dingin banget kayak es kutub. Naya heran kok bisa ada orang se-perfeksionis dan se-membosankan dia," adu Naya bersemangat, meluapkan kejengkelannya seminggu ini menghadapi sang Gus CEO.

Bu Nyai Halimah menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum penuh arti. Beliau ikut memandangi kursi kerja putranya.

"Zayyan memang seperti itu sejak remaja, Naya. Sifat kakunya itu bukan karena dia membencimu atau membenci orang lain."

"Terus karena apa, Umi? Turunan?" tanya Naya polos.

"Bukan," Bu Nyai Halimah tersenyum simpul, merapatkan duduknya. "Zayyan itu sebenarnya sama keras kepalanya dengan kamu waktu kecil. Dia anak yang aktif. Tapi, sebagai putra tunggal di pesantren ini, tanggung jawab yang diletakkan di pundaknya sangat besar. Belum lagi sejak usia dua puluh dua tahun, ayahnya sudah melepas gurita bisnis ekspor-impor keluarga untuk dikelola penuh oleh Zayyan."

Bu Nyai Halimah menghela napas pendek, matanya memancarkan rasa bangga sekaligus haru terhadap putranya. "Dia terpaksa mengubur sisi santainya demi terlihat berwibawa di depan ribuan santri, sekaligus harus tetap tajam dan disiplin di depan para rekan bisnis internasionalnya. Di balik sikap dingin dan kakunya itu, sebenarnya Zayyan memiliki sisi rapuh dan lelah yang mirip denganmu, Naya. Dia hanya tidak tahu bagaimana cara menunjukkannya selain lewat ketegasan."

Naya tertegun mendengarnya. Kunyahan pisang goreng di mulutnya mendadak melambat. Ia memandangi meja kerja marmer hitam itu dengan pandangan yang berbeda. Bayangan Gus Zayyan yang semalam berdiri di kegelapan sumur, memegang senter, lalu melemparkan sekotak detergen dan biskuit cokelat dengan wajah kaku namun diam-diam penuh perhatian kembali berputar di benak Naya.

Jadi... dia kaku karena terbiasa memikul beban berat ya? batin Naya, merasakan secercah rasa kagum dan pengertian yang mulai menyusup ke dalam hatinya yang bebal.

"Dia itu anak yang baik, Naya. Hanya saja, dia butuh seseorang yang bisa mencairkan benteng es di hatinya," sambung Bu Nyai Halimah, menatap Naya dengan pandangan penuh arti yang membuat jantung Naya mendadak berdegup dua kali lebih cepat.

Naya buru-buru menyambar ponselnya untuk menutupi salah tingkahnya yang kian menjadi-jadi. "Ah... masa sih, Umi. Menurut Naya sih dia cuma butuh piknik aja biar enggak stres," canda Naya, membuat Bu Nyai Halimah kembali terkekeh geli.

Sore itu berjalan dengan penuh kehangatan di ruang kerja ndalem. Di balik tawa dan obrolan mereka, Naya menyadari satu hal; pesantren ini perlahan tidak lagi terasa seperti penjara baginya. Dan tanpa ia sadari, benteng pertahanan di hatinya untuk membenci Gus Zayyan kini mulai terkikis, berganti dengan rasa penasaran yang teramat besar menunggu kepulangan sang Gus es batu dari Surabaya esok hari.

****

BERSAMBUNG

1
Kholiq Masbuhin
greget banget thorrr,antek2 Fida bikin darting.mapus di bikin Naya kicep🤣🤣
Kholiq Masbuhin
🥹🥹bikin mewekkk, semangat terus Thor
Kholiq Masbuhin
huhuhuhu terharu q thorr🥹🥹, seperti masuk dalam ceritanya
Kholiq Masbuhin
gilaaaa lanjutkan thorrrr,kamu membuat aku menghaluuuuu
Kholiq Masbuhin
thorrrrrrrrrrrrrr bom bas tis,ya Allah mengguncang hatiku,sampe deg deg serrrrrrrr.tidak bisa berkata-kata,karyamu bagusss bangettttt.semoga semakin bagus thorrrrr,lope lope banyak banyak🤍🥰😘
Kholiq Masbuhin
aaaaaa thorrrr di lope lope sama alur ceritanya 🥰🥰 ku tunggu punya yg banyak2 ya thorrrrr, semangat 💪
Kholiq Masbuhin
up nya jam berapa Thor ?setiap hari apa gimana? di tunggu Thor, semangat 💪💪😘
Kholiq Masbuhin
bagus banget,alur ceritanya santai ringan dan enak di bacanya.semangat nulisnya ya
Kholiq Masbuhin
suka banget sama alur ceritanya ,ringan dan santai.enak di bacanya.aku pernah baca novel seperti punyamu ini Thor, serupa tapi tak sama.semangatttt terus ya nulisnya,🤍
Kholiq Masbuhin: /Drool/
total 2 replies
Runi Mayantri
gus zayyan ud mulai trtarik ma si nay😄😄😄😍
Ell Fikar
udh up banyak tp msh kurang rasanya
ahhhh gus zayyan, naya yg di perhatiin aku yg baperrrrrrr

lanjut thor up yg banyak
guest1053527528
lanjut thor bagus ceritax dengan aksi bar2 dan menentang sy suka itu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!