Naura Adisty, seorang reporter muda yang ambisius, terjebak dalam kekacauan demonstrasi kampus yang justru mempertemukannya dengan Kaelith Atharrazka, ketua BEM yang angkuh namun karismatik. Pertemuan yang diawali dengan insiden cedera dan perdebatan sengit itu menjadi awal mula Kaelith terus mengusik hari-hari Naura dengan godaan khas "berondong" yang menyebalkan sekaligus menggemaskan.
Namun, di balik layar organisasi BEM yang penuh intrik, Naura tanpa sengaja mengungkap skandal korupsi besar yang menyeret nama ayah Kaelith. Ketika ancaman teror mulai mengincar nyawa Naura, Kaelith pun menanggalkan sifat jahilnya untuk menjadi pelindung utama sang reporter. Kini, di tengah bahaya yang mengintai dan beban moral yang menghimpit, keduanya harus memilih antara mengungkap kebenaran yang pahit atau mempertahankan cinta yang baru saja bersemi di tengah konspirasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ohlyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 Dilema Redaksi
Kantor Media Warta Nusantara terasa seperti medan perang yang tak kunjung usai. Setelah kepergian Kaelith, suasana di ruang redaksi berubah menjadi dingin. Naura kembali ke mejanya dengan pikiran yang carut-marut. Ia masih bisa merasakan sisa genggaman tangan Kaelith di telapak tangannya.
"Lo beneran mau kerja sama sama dia?" tanya Alyssa pelan sambil menyodorkan segelas kopi instan. Ia mengamati Naura dengan tatapan menyelidik. "Nau, Kaelith itu bukan cuma Ketua BEM biasa. Dia anak dari Pramudita Atharrazka. Lo tahu sendiri siapa itu, kan? Pengusaha besar yang punya banyak kontrak kerja sama dengan yayasan kampus."
Naura menghela napas panjang, menatap laptopnya yang masih menampilkan draf berita. "Gue tahu, Al. Tapi tadi dia bilang sesuatu yang bikin gue kepikiran. Demo kemarin... dana yang dituntut mahasiswa untuk transparansi pembangunan gedung baru, ternyata memang ada yang janggal."
"Janggal gimana?"
"Katanya ada aliran dana yang nggak masuk akal ke pihak ketiga yang mengatasnamakan yayasan kampus. Kalau benar, ini bukan cuma soal demo mahasiswa, ini soal skandal korupsi besar-besaran," jelas Naura, suaranya dipelankan.
"Dan lo mau ikut campur dalam urusan itu? Itu bahaya banget, Naura!" Alyssa mendesis. "Lihat Dimas. Dia jurnalis senior saja masih hati-hati banget kalau mau nyentuh isu yayasan. Lo baru magang, jangan cari mati."
Naura menoleh ke arah Dimas yang sedang sibuk mengetik di mejanya. Dimas adalah sosok idealis, namun ia sangat teratur dan tidak suka mengambil risiko tanpa bukti yang kuat. Mengetahui bahwa Naura sempat berbicara dengan Kaelith di luar tadi, Dimas berkali-kali melirik ke arah meja Naura dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Gue nggak cari mati, Al. Gue cuma mau menjalankan tugas gue sebagai jurnalis. Mencari kebenaran," jawab Naura tegas, meski nyalinya sedikit menciut saat melihat Dimas berdiri dan berjalan ke arah mereka.
"Naura," panggil Dimas dengan suara beratnya. Ia berdiri di samping meja Naura, menatap gadis itu dengan tatapan mengintimidasi. "Gue lihat mahasiswa itu tadi. Kaelith, kan?"
"Iya, Mas Dimas," jawab Naura, berusaha terdengar santai.
"Jangan terlalu dekat sama dia," ujar Dimas singkat. "Dia anak dari orang yang paling berpengaruh di kampus itu. Kalau lo terlalu banyak tanya, lo bisa kena masalah. Fokus saja sama deadline berita hari ini. Berita soal demo kemarin harus sudah naik sore ini."
Dimas berbalik tanpa menunggu jawaban Naura. Alyssa langsung menyenggol lengan Naura. "Tuh kan! Dimas aja sudah ngasih peringatan. Dia peduli sama lo, Nau. Jangan sampai lo rusak reputasi lo cuma gara-gara ketua BEM yang sok asik itu."
Naura hanya terdiam. Ia memandang layar laptopnya. Benar, ia harus fokus pada tugasnya. Ia mulai menyunting beritanya, namun pikirannya justru melayang pada sosok Kaelith.
Siang harinya, saat Naura sedang sibuk dengan deadline, ponselnya kembali berdering. Bukan telepon, melainkan notifikasi pesan.
“Mbak Reporter, sudah makan siang belum? Jangan lupa kalau kaki bengkak butuh banyak asupan biar cepet pulih. Gue baru aja kirim bubur ayam ke meja resepsionis buat lo. Nggak usah GR, itu cuma bentuk tanggung jawab gue karena udah bikin lo cedera kemarin.”
Naura mendengus keras, membuat beberapa rekan kerjanya menoleh. Ia mengetik balasan dengan perasaan kesal yang dibuat-buat.
“Gue bisa beli makan sendiri! Nggak usah sok perhatian, Kaelith!”
Balasan datang hampir instan. “Galak banget. Padahal buburnya enak, lho. Gue yang pilih sendiri menunya, sengaja nggak pakai seledri karena gue inget lo kemarin sempat bilang benci seledri pas makan di kantin. Makan, ya? Jangan bikin gue khawatir.”
Naura tertegun. Kaelith mengingat hal sepele seperti itu? Ia mengalihkan pandangan ke arah resepsionis, di mana memang ada sebuah kantong plastik yang dititipkan untuknya.
"Siapa yang kirim?" tanya Alyssa penasaran saat Naura kembali dengan kantong bubur di tangannya.
"Anak BEM," jawab Naura singkat.
"Oh, Kaelith lagi?" Alyssa terkekeh. "Dia niat banget ya. Flirting level dewa kayak gitu sih namanya. Awas ya, kalau lo baper!"
"Gue nggak baper! Ini murni karena dia ngerasa bersalah aja," bantah Naura, padahal hatinya sedikit melunak.
Sore harinya, saat Naura sedang beranjak dari meja untuk pulang, ia tidak sengaja berpapasan dengan Kaelith di lorong depan kantor. Pria itu tampak baru saja keluar dari mobilnya, entah sedang apa di sana.
"Lho, ngapain lo di sini?" tanya Naura heran.
Kaelith menatap Naura dengan senyum tipis yang menyebalkan. "Mau jemput calon mitra kerja. Tapi kayaknya Mbak Reporter belum siap, ya? Masih mau jalan sendiri dengan kaki kayak gitu?"
"Gue bisa naik ojek online!"
"Ojek online nggak bakal nawarin lo tumpangan gratis," Kaelith melangkah mendekat, tubuhnya yang tinggi membuat Naura sedikit mendongak. "Lagipula, ada hal penting yang mau gue kasih tahu soal aliran dana gedung baru itu. Gue punya dokumen salinannya."
Naura menahan napas. Dokumen itu adalah kunci untuk berita investigasinya. Ia melihat sekeliling, memastikan tidak ada orang dari kantornya yang memperhatikan.
"Oke," bisik Naura akhirnya. "Tapi jangan harap gue bakal berubah ramah sama lo cuma karena lo punya dokumen itu."
Kaelith tertawa, suara tawa yang terdengar sangat santai dan sedikit jahil. "Iya, iya, Mbak galak. Ayo, masuk ke mobil. Gue jamin kali ini nggak ada demo, nggak ada rusuh, cuma ada gue, lo, dan dokumen yang lo cari."
Naura masuk ke mobil Kaelith. Saat mobil mulai melaju, Kaelith melirik Naura sekilas. "Lo cantik kalau lagi kesel gitu, Mbak. Bikin gue makin semangat buat gangguin lo tiap hari."
Naura menoleh ke arah jendela, berusaha menyembunyikan senyum yang hampir muncul di bibirnya. "Jangan kepedean. Gue cuma butuh datanya."
"Iya, iya," Kaelith terkekeh sambil menyalakan radio. "Tapi jujur deh, lo belum pernah kan dijemput ketua BEM paling ganteng se-universitas?"
"Paling ganteng atau paling narsis?"
"Dua-duanya," jawab Kaelith tanpa rasa malu sedikit pun.
Naura memutar bola matanya, tapi di dalam hatinya, ia harus mengakui bahwa keberadaan Kaelith mulai menjadi bagian dari harinya yang paling ia tunggu-tunggu, meski ia terus berusaha keras untuk menolaknya. Hubungan mereka belum masuk ke fase romansa yang serius, namun godaan dan sikap jahil Kaelith sudah cukup untuk membuat jantung Naura berdetak lebih kencang setiap kali mereka bertemu.
Di balik kemudi, Kaelith memperhatikan Naura dengan sudut matanya. Ia tahu, ia baru saja memenangkan langkah kecil hari ini. Ia tidak terburu-buru. Ia tahu, Naura adalah tipe wanita yang harus didekati dengan perlahan, dengan bumbu jahilan yang tepat sasaran. Dan ia sangat menikmati prosesnya.