NovelToon NovelToon
Obsesi CEO Dan Garis Reinkarnasi

Obsesi CEO Dan Garis Reinkarnasi

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:499
Nilai: 5
Nama Author: Sharinn

Tidak semua pertemuan adalah kebetulan. Sebagian adalah janji yang menolak dilupakan waktu. Aruna menjalani hidup biasa hingga sebuah kecelakaan membuatnya mulai mengalami mimpi aneh yang terasa terlalu nyata. Dalam mimpinya, ia selalu menjadi perempuan yang berbeda… di kehidupan yang berbeda… tetapi dengan satu kesamaan: selalu ada seorang pria yang mencarinya. Pria itu adalah Adrian Mahesa, CEO muda, dingin, perfeksionis, dan dikenal publik sebagai sosok yang tak punya ruang untuk cinta. Saat Aruna tanpa sengaja bertemu Adrian di dunia nyata, sesuatu yang tak masuk akal terjadi. Tatapan pertama mereka bukan terasa seperti perkenalan… melainkan pertemuan kembali. Sejak hari itu, Adrian mulai muncul di setiap sudut hidup Aruna. Membantunya, mengawasinya, bahkan seolah mengetahui ketakutan dan kebiasaannya sebelum Aruna sendiri menyadarinya. Namun yang paling mengganggu adalah kalimat yang terus diucapkan Adrian “Kali ini aku tidak akan kehilanganmu lagi.” Aruna mengira itu hanya obsesi seorang CEO yang terbiasa mendapatkan apa pun yang diinginkan. Sampai perlahan ia menemukan rahasia yang mengubah segalanya: Dalam setiap kehidupan sebelumnya… mereka selalu saling mencintai. Dan di setiap akhir cerita… Aruna selalu mati. Kini garis reinkarnasi kembali berputar. Pertanyaannya bukan lagi apakah Adrian mencintainya. Tetapi.. apakah cinta yang bertahan melintasi banyak kehidupan akan menjadi penyelamat… atau justru obsesi yang menghancurkan mereka sekali lagi? ✨ Satu cinta. Banyak kehidupan. Dan dia… selalu menjadi obsesiku. Karya: Sarin

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sharinn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lelaki Yang Tidak Bisa Melupakan

Ruangan itu tiba-tiba terasa lebih sempit.

Aruna masih memegang kotak itu.

Kotak kecil.

Hitam.

Tidak berbeda dari yang lain.

Tapi tidak ada label.

Tidak ada nomor kehidupan.

Tidak ada catatan.

Hanya satu kalimat.

Jangan Dibuka

Aruna mengangkat kepala.

Adrian berdiri di seberang meja.

Dan untuk pertama kalinya—

ia terlihat benar-benar tidak ingin membahas sesuatu.

Bukan menghindar.

Bukan menyembunyikan.

Lebih seperti seseorang—

yang sudah terlalu lama hidup bersama satu bagian dirinya sendiri.

Dan tidak tahu bagaimana cara membagikannya.

Aruna bertanya pelan—

“…kenapa?”

Sunyi.

Adrian diam.

Lalu menjawab—

“Karena ini bukan tentang kau.”

Ruangan hening.

Aruna membeku.

Bukan tentang dia?

Selama ini semua yang mereka bicarakan—

selalu tentang dia.

Tentang ingatan.

Tentang kehidupan sebelumnya.

Tentang kehilangan.

Tapi kali ini—

bukan?

Adrian menarik kursi.

Duduk.

Lalu berkata—

“Buka kalau mau.”

Sunyi.

“Tapi kali ini…”

ia berhenti.

“…jangan baca sebagai seseorang yang pernah mengenalku.”

Tatapannya tenang.

“Baca sebagai orang asing.”

Aruna diam.

Lalu membuka kotak.

Di dalam—

tidak banyak.

Satu buku.

Satu foto.

Dan satu amplop.

Tidak ada tulisan.

Aruna mengambil foto dulu.

Dan langsung berhenti.

Karena di foto itu—

ada Adrian.

Lebih muda.

Sedang berdiri.

Sendiri.

Tidak ada dirinya.

Tidak ada siapa-siapa.

Di belakang foto tertulis:

Kehidupan yang tidak ada dia.

Aruna membeku.

Tangannya perlahan membuka buku.

Halaman pertama.

Tulisan tangan Adrian.

Aku pernah pikir kalau semuanya dimulai karena aku terlalu mencintai seseorang.

Ternyata tidak.

Aruna diam.

Membuka halaman berikut.

Ada satu kehidupan.

Aku tidak bertemu dia.

Tidak pernah.

Tidak kenal.

Tidak ada rumah kecil.

Tidak ada hujan.

Tidak ada buku hitam.

Tidak ada siapa-siapa.

Aku hidup normal.

Halaman dibalik.

Aku sekolah.

Kuliah.

Kerja.

Punya teman.

Pindah kota.

Punya hidup.

Normal.

Dan anehnya—

aku tetap merasa kehilangan.

Aruna diam.

Membuka lagi.

Awalnya aku pikir semua sudah selesai.

Sampai umur tiga puluh satu.

Aku lewat toko bunga.

Dan tiba-tiba berhenti.

Karena aku tahu seseorang suka bunga tertentu.

Padahal aku nggak tahu siapa.

Halaman berikut.

Aku mulai mimpi.

Bukan tentang wajah.

Tentang rasa.

Tentang menunggu.

Tentang seseorang yang belum pernah kutemui.

Aku pikir aku sakit.

Aruna diam.

Tangannya bergerak lebih cepat.

Halaman berikut.

Aku pergi terapi.

Aku bilang ke dokter:

Rasanya kayak kehilangan seseorang yang nggak pernah ada.

Dia bilang itu normal.

Aku bohong.

Karena rasanya nggak normal.

Halaman berikut.

Tulisan mulai berantakan.

Aku mulai cari.

Bukan orang.

Tapi bukti kalau aku nggak gila.

Tidak ada.

Tidak pernah ada.

Dan untuk pertama kalinya—

aku berharap semua kehidupan sebelumnya nyata.

Karena kalau enggak…

berarti aku cuma orang yang mencintai kehampaan.

Aruna berhenti.

Dadanya terasa aneh.

Ia membaca halaman berikut.

Dan membeku.

Tahun itu aku menikah.

Jantung Aruna langsung berhenti sesaat.

Ia membaca lagi.

Dia baik.

Dia lucu.

Dia nggak salah apa-apa.

Aku pikir aku akhirnya sembuh.

Aku pikir hidup normal itu cukup.

Aku nggak pernah cerita apa pun.

Kami hidup biasa.

Tiga tahun.

Aruna diam.

Tangannya mulai dingin.

Halaman berikut.

Tulisan lebih rapi.

Lebih tenang.

Dan justru lebih sedih.

Lalu suatu hari dia tanya:

“Kenapa kamu kadang sedih kayak kehilangan seseorang?”

Aku jawab:

“Enggak kok.”

Dia senyum.

Terus bilang:

“Kalau memang ada orang itu—

aku harap suatu hari kamu berhenti cari.”

Sunyi.

Aruna diam.

Halaman berikut.

Pendek.

Sangat pendek.

Hari kami cerai.

Dia bilang:

“Aku nggak marah.

Aku cuma capek dibandingin sama seseorang yang bahkan nggak ada.”

Aruna langsung mengangkat kepala.

Adrian diam.

Tidak melihatnya.

Hanya duduk.

Tenang.

Aruna menunduk lagi.

Membuka halaman terakhir.

Tulisan sangat kecil.

Hari itu aku sadar.

Masalahnya bukan aku nggak bisa melupakan seseorang.

Masalahnya—

aku nggak pernah belajar hidup tanpa menunggu.

Dan itu nggak adil buat siapa pun.

Jadi aku berhenti.

Aku berhenti cari.

Aku berhenti percaya.

Aku hidup biasa.

Sampai…

aku ketemu Aruna.

Dan untuk pertama kalinya—

aku nggak ingat siapa pun.

Aku cuma merasa…

aku ingin kenal orang ini.

Aruna diam.

Tangannya berhenti.

Tidak ada halaman lagi.

Tidak ada pengakuan besar.

Tidak ada takdir.

Tidak ada keajaiban.

Hanya—

seorang laki-laki.

Yang pernah mencoba hidup biasa.

Dan gagal bukan karena cinta.

Tapi karena kehilangan sesuatu yang tidak pernah bisa ia jelaskan.

Aruna menutup buku.

Ruangan terlalu sunyi.

Lalu bertanya—

pelan.

“…kenapa nggak pernah cerita?”

Adrian diam.

Lalu tersenyum kecil.

Dan menjawab—

“Karena aku takut.”

Aruna menatapnya.

Pria itu tertawa kecil.

Sangat kecil.

Lalu berkata—

“Kalau kau tahu aku pernah hidup tanpa kau…”

Jeda.

“…aku takut kau pikir semua ini cuma kebiasaan.”

Sunyi.

Tatapannya turun.

“Padahal bukan.”

Ia mengangkat mata.

Lalu berkata—

“Justru karena aku pernah hidup tanpa siapa-siapa…”

Jeda.

“…aku jadi tahu bedanya.”

Ruangan menjadi sangat tenang.

Aruna diam.

Lalu bertanya—

“…bedanya apa?”

Adrian tidak menjawab lama.

Lalu tersenyum kecil.

Dan berkata—

“Menunggu bikin capek.”

Sunyi.

Tatapannya lembut.

“Tapi kenal sama seseorang…”

Jeda.

“…nggak.”

Ruangan hening.

Dan untuk pertama kalinya—

Aruna melihat sesuatu.

Mungkin Adrian bukan lelaki yang tidak bisa melupakan.

Mungkin—

dia lelaki yang sudah mencoba melupakan.

Dan tetap memilih.

Saat itu—

Aruna melihat amplop terakhir di dasar kotak.

Belum dibuka.

Di depannya hanya tertulis:

Dia bohong waktu bilang dia yang selalu pergi.

Jantung Aruna berdetak.

Perlahan—

ia mengangkat kepala.

Adrian langsung diam.

Dan untuk pertama kalinya—

tatapan itu terlihat seperti penyesalan.

Bersambung...

1
Allfa Rizky
apakah ada tragedi yang terus berulang ?
Sarin: Sesuai judul kak reinkarnasi tetapi ttep aku modif biar ga bosen bacanya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!