Vandra dan Mia saling menyukai diam diam. Vandra cowo gaul yang tampan yang sukanya clubbing, brantem tapi atlet karate yang berprestasi. Sedangkan Mia cewe rumahan yang pintar dan manis.
cerita ini hanya perjalanan cinta anak sma yang dipenuhi intrik intrik kecil, persaingan,
rada setia kawan dan pengungkapan cinta yang manis.
Walaupun tetap ada konflik keluarga yang mengharukan. Tentang pengorbanan ibu dan anak, dan pertentangan keluarga yang sangat kaya raya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hati yang Lega
"Mau tetap di sini atau pulang?" tanya Vandra tak acuh.
"Emmm...." Mia menggigit bibir bawahnya bingung. Saat ini mereka tinggal berdua, teman teman mereka baru aja pergi.
"Kau kok bisa ikut ke sini?" tanya Vandra ingin tau.
"Tadi aku, emmm... les," jawabnya ragu.
"Rajin banget les melulu," sindir Vandra.
"Iya. Emang kamu." Mia balas menyindir membuat Vandra tertawa.
"Iya, kamu memang anak yang rajin. Tapi jangan ngirit makan dong. Nanti percuma banyak les kalo sering lapar kan?" sarkas Vandra membuat Mia terdiam.
"Aku banyak makan kok," sanggahnya.
"Banyak makan tapi kurus," cibir Vandra sinis.
"Biarin," sungut Mia kesal tapi malah membuat Vandra tertawa renyah.
"Ayo naik," kata Vandra setelah terhenti tawanya. Vandra lalu memiringkan motornya. Dengan ragu Mia menaikinya. Seperti dulu, Vandra meraih tangannya agar menempel erat pinggangnya. Vandra pun melajukan motor dengan kencang membuat Mia yang semakin erat menenpel padanya.
Tubuh Mia yang tadi gemeter sudah menghilang. Ganti jantungnya yang berdetak sangat kencang seakan memukul punggung Vandra. Vandra juga merasakan hal yang sama. Ada kelegaan dalam hatinya mengetahui Ando dan Mia tidak punya hubungan khusus.
Begitu memasuki gerbang, satpam langsung memeriksa identitas Vandra, setelah itu baru membolehkannya masuk. Akhirnya motor Vandra menepi d rumah mewah yang ngga jauh dari gerbang.
"Sampai kapan kamu di sini?" tanya Vandra setelah Mia turun dari motornya.
"Mungkin tiga hari lagi."
"Besok kamu berangkat sama Ando?" Sebenarnya Vandra ingin menjemput Mia. Tapi penolakan oenolakan yang sering Vandra terima membuatnya enggan.
"Iya."
"Aku ngga disuruh mampir?" Vandra menatap serius.
"Udah malam."
"Kalo siang boleh?" Vandra ngga menyerah. Dia masih enggan pulang sebelum membuat cewe ini tersipu.
Mia menatap Vandra yang ternyata juga sedang menatapnya.
"Mau ngapain mampir?" tanyanya grogi.
"Numpang minum," kata Vandra serius.
"Yuk, ke teras," ajak Mia.
"Ngapain?" tanya Vandra heran.
"Katanya mau minum," jawab Mia degan pipi merona saat melihat senyum menggoda Vandra.
"Buat besok aja. Aku pulang dulu?" kata Vandra sambil melajukan motornya meninggalkan Mia yang masih bengong.
Tanpa sadar bibirnya mengulas senyum dengan hati berbunga.
Vandra pun tersenyum melihat Mia yang juga tersenyum saat meliriknya di spion.
Senyum Vandra sirna begitu keluar dari gerbang melihat jejeran motor para sahabat keponya sedang parkir.
Vandra mengutuk dirinya yang pasti terlihat bodoh selama ini. Apalagi Ando juga tau.
Vandra pun menghampiri teman temannya. dia tau pasti mereka sedangbtersenyum dibalik helm sport mereka.
"Udah lega?" ganggu Eri sambil mengangkat kaca helmnya. seperti tebakan Vandra, senyum Eri begitu lebar.
"Udah bilang Lo cinta belum?" Toni juga ikut mengganggu.
"'Mumet gue kalo lo lagi cemburu," kata Aldi disambut tawa mengekeh teman temannya.Vandra cuma bisa menatap kesal teman temannya yang masih saja tertawa.
"Gak nyangka kita dikerjain Ando juga," omel Doni yang langsung disetujui yang laen.
"Ando panasin Lo, Van," kekeh Eri ga bisa berhenti.
"Besok besok tanya dulu Van. Jangan langsung marah aja," ledek Irfan membuat para sahabat keponya makin ngakak. Tapi akhirnya Vandra pun ikut tertawa. Menertawakan kebodohannya.
*****
"Kita latihan drama lagi?" tanya Sita saat dilarang pulang oleh Mia.
"Iya, senin kan tampil," jelas Mia.
"Oiya ya. Untung aku bawa bendera kertasnya," ucap Selli menbuat mereka tersenyum.
"Banyak kan?" usik Adit membuatnya mendapatkan pelototan Selli.
"Awas kalo.kamu salah lagi ngerobeknya," ancam Selli membuat mereka sama tertawa
Akhirnya teman temannya pun langsung merapikan kursi kursi untuk setting latar.
"Aku ambil keyboard dulu di ruang musik," kata Mia langsung melangkah keluar kelas. Vandra mengikutinya dari belakang.
"Kalo jalan pelan pelan aja," kata Vandra membuat Mia menoleh dan menunggunya.
"Kok kamu ikut?" tanyanya heran. Kini mereka sudah melangkah berjejeran.
"Bantu kamu bawa keyboard."
"Vandra, aku masih kuat," katanya sebal.
"Iya tau."
"Kenapa kamu ikut, mending bantu bantu yang lain."
"Malam minggu besok mau ikutan ke karaoke?" Vandra membuka topik baru.
"Ngga lah. Aku ada les," jawab Mia cepat.
"Malam minggu malah les," sindur Vandra sinis.
Mia hanya tersenyum. Padahal bukan maksudnya les matematikan sama Bu Raya. Tapi mgajar les piano anak anak tk. Lumayan duitnya, apalagi kalo ada yang minta les privat.
"Malah melanun," tukas Vandra sambil menggoyang goyangkan tangannya di muka Mia.
"Eh,,,,,,, maaf," katanya spontan. Mia jadi salah tingkah karena Vandra sedang melihatnya dengan bibir tersenyum.
"Sepupu kamu ikut," kata Vandra menunggu reaksi Mia.
"Ando?"
Vandra tersenyum senang. Ando adalah sepupu cewe ini.
"Mungkin."
"Tadi kata kamu sepupu aku," kesal Mia manyun.
"Sepupu kamu yang lain," kata Vandra lag kemudian tersenyum.
"Siapa?" Mia berpikir sebentar. "Ooo.... Nesa," tebaknya yakin benar karena melihat Vandra mengangguk.
"Kok kamu ngga sekolah bareng mereka?" tanya Vandra.ingin tau.
"Kita ngga ketemu dong," goda Mia deg degan.
Vandra tertawa mendengarnya. Berani juga Lo godain gue, batinnya senang.
Akhirnya mereka sampai di ruang musik dan Vandra membawakan keyboardnya.
"Makasih," kata Mia tulus.
"Untuk apa?" tanya Vandra pura pura ngga ngerti.
"Bawain keyboardnya," ucap Mia sambil menunjukkan keyboard yang dibawa Vandra.
"Kamu itu kalo ga kuat, minta bantu orang lain," nasihat Vandra sok bijak.
Mia hanya tersenyum mendengarnya. "Kalo masih bisa sendiri kenapa nyusahin orang lain," kata Mia diplomatis.
"Sok kuat."
"Biarin."
"Kurus,"
"Tapi cantikkan," kata Mia percaya diri full.
"Pengen cium," kata Vandra nakal membuat Mia terdiam dengan wajah merona. Vandra tertawa lepas saat melihat ekspresi malu malu Mia.