Berbekal ponsel hitam tanpa merek dengan AI yang sangat sarkastis, Reno mendadak menjadi peretas paling dicari oleh komplotan mafia teknologi. Di tengah pelarian yang menegangkan, Reno tidak hanya harus menghindari peluru, tetapi juga harus menahan malu karena asisten digital di ponselnya yang justru sering menjebaknya dalam situasi paling absurd
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: Detik-detik Kritis
Reno masih melayang di udara pada ketinggian yang jauh dari kata memukau untuk ukuran seorang pemain bola basket amatir.
Peringatan sistem mengenai sisa daya baterai yang kritis tersebut sukses membekukan seluruh fungsi saraf rasional di dalam kepalanya seketika.
Bola basket berteknologi tinggi yang berada di tangan kanannya mendadak terasa bertambah berat berkali-kali lipat dari hitungan detik sebelumnya.
Modul peretasan gravitasi yang selama ini menopang keajaiban lemparannya telah mati total tanpa menyisakan sedikit pun daya komputasi cadangan.
Sistem giroskop internal di dalam bola oranye tersebut langsung kembali tunduk secara mutlak pada hukum fisika dasar ciptaan alam semesta.
Gaya dorong dari lengan kurusnya sama sekali tidak memiliki perhitungan matematis yang tepat untuk memasukkan bola itu dari sudut lompatannya sekarang.
Lemparan tangan kanan Reno yang sedari awal memang cacat postur itu akhirnya meluncur bebas ke arah depan tanpa adanya panduan anomali digital.
Bola berharga mahal tersebut meleset sangat jauh dari target utamanya, melintasi udara dengan lintasan lurus yang sama sekali tidak melengkung.
Permukaan karet bola itu membentur keras sudut luar papan akrilik penyangga ring, menghasilkan bunyi pantulan yang luar biasa sumbang.
Bola oranye gelap tersebut terpantul liar ke arah luar lapangan, menyapu bersih seluruh ekspektasi ratusan penonton yang sudah bersiap menyorakkan keajaiban lemparan berikutnya.
Nahas bagi Reno, momentum lompatan konyol yang terlalu dipaksakan itu telanjur membawa tubuh kurusnya meluncur deras ke arah bawah tanpa kendali.
Tubuhnya jatuh mengarah lurus pada tiang penyangga utama keranjang basket, membuat seluruh insting bertahan hidupnya mengambil alih kesadaran secara paksa.
Ia merentangkan kedua lengan dan kakinya secara panik di udara, berusaha menggapai apa saja demi mencegah wajahnya berbenturan langsung dengan lantai beton.
Kesepuluh jari tangannya secara tidak sengaja mengait sangat kuat pada anyaman jaring tambang kasar yang menjuntai di bawah keranjang logam tersebut.
Guncangan keras langsung terjadi saat jaring tersebut dipaksa menahan beban seluruh berat badannya yang sedang berayun bebas mencari titik keseimbangan.
Persendian bahunya berderak pelan menahan tarikan gravitasi, membuat pemuda itu meringis kesakitan sambil mempertahankan cengkeramannya sekuat tenaga.
Ayunan tubuh yang sangat tidak seimbang itu membuat sebelah kakinya menendang liar ke arah atas untuk mencari pijakan darurat pada batang besi penyangga.
Ujung besi pengait jaring keranjang yang sedikit menonjol ke luar tanpa sengaja menyangkut tepat di bagian pinggang celana olahraga yang sedang ia kenakan.
Celana jogger kebesaran pinjaman dari Radit itu terbuat dari bahan parasut tipis yang sama sekali tidak dirancang untuk menahan beban tarikan seberat manusia dewasa.
Bunyi robekan serat kain yang sangat kasar terdengar menyayat hati, membelah kesunyian singkat yang sedang menyelimuti seluruh area lapangan utama kampus.
Robekan fatal itu memanjang cepat secara vertikal dari bagian ujung paha hingga nyaris memutus karet elastis di area pinggangnya.
Kain celana yang terbelah dua itu mengekspos celana boxer bermotif stroberi merah andalannya secara brutal ke hadapan ratusan pasang mata yang sedang menonton.
Reno kini berakhir dalam posisi bergelantungan yang luar biasa menyedihkan, tersangkut di bawah ring basket layaknya seekor primata yang gagal melakukan atraksi sirkus.
Ujung celana olahraganya yang robek masih tersangkut kuat pada kait besi jaring, membuat separuh tubuh bagian bawahnya tidak bisa digerakkan dengan bebas.
Ia berusaha keras menarik ujung kain tersebut menggunakan sisa tenaga di jari kakinya, namun posisinya yang bergelantungan menyulitkan setiap manuver penyelamatan mandiri.
Setiap kali ia menggeliat mencoba membebaskan diri, robekan pada celana parasut itu justru semakin melebar ke atas.
{Tamatlah sudah seluruh riwayat hidupku, alam semesta benar-benar tidak pernah bosan merancang skenario penghinaan paling kejam untukku di depan orang banyak.}
Reno memejamkan kedua matanya erat-erat, menolak keras melihat ratusan mahasiswa yang kini sedang memusatkan perhatian penuh pada penderitaan fisiknya.
||||
Keheningan massal yang sempat melanda barisan tribun penonton perlahan berubah menjadi suara bisik-bisik yang luar biasa bising.
Satu detik kemudian, tawa massal yang sangat menggelegar meledak serentak memecah ketegangan di seluruh penjuru lapangan bola basket Universitas Megantara.
Ratusan mahasiswa tertawa terbahak-bahak hingga memegangi perut mereka, menikmati suguhan komedi fisik gratis yang tersaji tepat pada jam istirahat siang.
Beberapa penonton di barisan depan bahkan sudah berlomba-lomba mengeluarkan ponsel pintar mereka dari dalam saku tas.
Kilatan lampu kamera menyambar berkali-kali dari berbagai arah, mendokumentasikan postur bergelantungan Reno dari sudut pandang yang sangat tidak menguntungkan.
Momen kehancuran harga diri seorang peretas amatir itu kini resmi terekam abadi ke dalam basis data digital ribuan mahasiswa fakultas.
Dika, yang sedari tadi dilanda keputusasaan di sudut lapangan, langsung menemukan kembali semangat hidupnya yang sempat padam.
Pemuda berjaket kulit mahal itu berjalan dengan langkah sangat santai menuju tepat ke bawah ring tempat musuh bebuyutannya sedang bergelantungan tak berdaya.
Senyum kemenangannya terlukis begitu lebar di wajah, memamerkan deretan giginya yang rapi dengan tingkat arogansi yang kembali menyentuh batas maksimal.
"Inikah bentuk penyelesaian akhir dari latihan teater ekstrem yang selalu kau banggakan itu, Tuan Peretas?"
Suara bariton Dika terdengar sangat lantang, sengaja dikeraskan agar seluruh mahasiswa di barisan depan tribun bisa mendengar ejekan tajamnya dengan sangat jelas.
"Kau terlihat sama persis seperti seekor kukang kebingungan yang lupa caranya memanjat pohon turun ke tanah."
Tawa meremehkan mengalir deras dari mulut pemuda pewaris kekayaan itu, memicu sorakan tawa tambahan dari gerombolan teman-temannya di pinggir lapangan.
Reno menggertakkan giginya menahan rasa malu yang luar biasa membakar wajahnya, tidak mampu membalas hinaan verbal tersebut dalam posisinya yang sangat terkunci.
Jari-jarinya mulai terasa kebas dan pegal akibat terlalu lama menahan beban tubuhnya sendiri di anyaman jaring basket yang kasar permukaannya.
Ia menoleh ke arah bangku pemain cadangan dengan sisa-sisa harapan terakhir, mencari keberadaan sosok sahabat gempalnya yang biasanya selalu memiliki ide penyelamatan darurat.
Radit justru terlihat sedang bersembunyi di balik punggung seorang mahasiswa berbadan besar, menutupi seluruh wajahnya menggunakan sebuah buku tulis kosong berukuran tebal.
Pemuda gemuk itu sengaja memasang tudung jaketnya menutupi kepala, menolak keras mengakui keberadaan Reno sebagai teman dekatnya di tengah badai penghinaan publik ini.
{Sialan kau Radit, di saat nyawaku sedang bergantung pada sehelai kain robek, kau malah berpura-pura tidak mengenalku sama sekali.}
||||
Reno mengalihkan pandangannya dengan susah payah, memutar lehernya sedikit untuk menatap deretan kursi kehormatan di barisan paling depan tribun.
Fokus utama sepasang matanya langsung tertuju pada sosok Luna yang masih duduk terdiam di tempat yang sama sejak awal pertandingan konyol ini dimulai.
Gestur tubuh gadis berprestasi itu telah berubah drastis dibandingkan saat Reno mencetak rentetan angka pertama tadi.
Luna tidak ikut tertawa terbahak-bahak atau mengeluarkan ponsel pintar untuk merekam kejadian tersebut layaknya ratusan penonton lain di sekitarnya.
Gadis bergaun biru dongker itu justru menundukkan kepalanya dalam-dalam, mengangkat telapak tangan kirinya untuk menutupi separuh wajah dari pandangan orang-orang.
Raut wajah cantik idaman jutaan umat itu terlihat sangat pias, memancarkan kombinasi rasa iba dan rasa malu yang luar biasa besar atas kejadian memalukan tersebut.
Ia bahkan sengaja memutar posisi duduknya menjadi sedikit menyamping, seolah enggan mengaitkan dirinya dengan pemuda bercelana boxer stroberi yang sedang bergelantungan di sana.
Penolakan visual secara terang-terangan dari sang pujaan hati itu menghantam ulu hati Reno jauh lebih keras daripada benturan fisiknya dengan tiang ring basket barusan.
Reno menyadari secara penuh bahwa seluruh usahanya untuk membangun citra pahlawan misterius telah hancur lebur berkeping-keping tanpa menyisakan sedikit pun harapan perbaikan.
Angka statistik ketertarikan tiga persen yang sempat ia ragukan semalam kini terasa sangat nyata, logis, dan masuk akal untuk diterima oleh akal sehat.
Posisinya di mata Luna mungkin sudah merosot jauh hingga menyentuh angka minus akibat insiden olahraga paling memalukan dalam sejarah kampus ini.
Dika masih terus berdiri kokoh di bawah ring, menunjuk-nunjuk postur menggelikan lawannya sambil sesekali memprovokasi penonton untuk semakin kencang menertawakan penderitaan Reno.
Pemuda sombong itu benar-benar menikmati setiap detik kehancuran mental musuh bebuyutannya, merayakan kemenangan mutlaknya yang sempat tertunda akibat keajaiban sesaat yang gagal bertahan lama.
Ponsel hitam X-Phreak 9000 yang teronggok mati di dalam saku kemeja Reno kini benar-benar menjadi saksi bisu dari akhir tragis sebuah kebanggaan semu yang dipaksakan.
Tanpa daya baterai penggerak dan konektivitas kecerdasan buatan sarkastisnya, Reno menyadari bahwa dirinya hanyalah seorang mahasiswa abadi biasa yang harus menanggung akibat dari kebohongan panjangnya sendirian.
semoga happy ending thor jangan bad ending im already tired for bad ending