Andin seorang anak tunggal yang harus bekerja keras karena orang tuanya jatuh miskin dan bangkrut. Ia juga akhirnya terpaksa mau di menikah muda karena kondisi ekonomi keluarga yang mendesak.
Sementara Bimo terpaksa mau menikah dengan sistem perjodohan, karena adiknya Silvia sudah hamil duluan. Karena orang tua Bimo yang baru akan memberi restu untuk menikah pada Silvia setelah Bimo menikah, akhirnya Bimo menyetujui perjodohannya dengan Andin yang ia anggap hanya sebagai menyewa pelacur.
Akankah Silvia akan ketahuan?
Akankah Bimo mampu merubah pandangannya soal Andin dan bisa menerima Andin sebagai istrinya?
Akankah Andin mampu bertahan dengan segala ujian hidupnya dan ikhlas dengan segalanya?
Penasaran? Temukan jawabannya disini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dasp.98, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 19
Andin tak kunjung tidur, terlalu asik mengobrol dengan ayahnya di telepon. Bahkan beberapa kali Andin tertawa meskipun harus ia tahan agar tidak mengganggu yang lain, apalagi keluarga Bimo tengah ada masalah begini.
Sementara Andin asik menelfon, Bimo yang sudah siap tidur dan sangat mengantuk tak kunjung bisa tidur. Pikirannya tak tenang karena memikirkan sikap Andin yang mendadak menghindarinya. Sudah hampir tujuh kali Bimo membaca tulisan Andin sampai ia hampir hafal semuanya. Tapi Andin tak kunjung masuk kamar dan masih duduk di ruang tengah sambil menonton tv.
"Argh! Di kamar ada tv juga, ngapain di luar sih!!!" geram Bimo kesal lalu memutuskan untuk bangun dan melangkah keluar.
Baru beberapa langkah Bimo beranjak dari tempat tidurnya. Ia merasa sangat aneh. Untuk apa mencari Andin toh biasanya tidur sendiri-sendiri, biasanya malah tidur sendirian. Ngapain juga nyariin Andin, nanti juga datang sendiri kalau sudah selesai. Begitu pikir Bimo berusaha berpikir rasional dan kembali tiduran.
"Andiinn!!!" geram Bimo pada akhirnya memanggil Andin sambil berteriak dalam bantal.
Andin yang samar-samar mendengar namanya di panggil menghentikan aktifitas sejenak. Tak berapa lama ia kembali melanjutkan aktifitas menelponnya dengan asik. Bahkan beberapa cemilan juga hampir habis karenanya. Sampai akhirnya ponselnya low batt, Andin baru menyudahi teleponnya dan kembali ke kamar.
"Mas belum tidur?" tanya Andin saat melihat Bimo duduk bersandar di tempat tidurnya.
Bimo hanya menaikkan sebelah alisnya, sementara Andin mencarger ponselnya. Andin menguap sebentar lalu berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan wajahnya dan wudhu. Bimo hanya menatapnya saja. Andin kembali masuk ke kamar mandi dan mengganti dasternya dengan piamanya lalu bersiap tidur setelah memakai minyak zaitun di wajahnya.
"Mas, dah di obatin belum? " tanya Andin yang sudah tidur di sofa yang menjadi tempat tidurnya, lebih tepatnya hanya itu bagiannya di rumah.
"Belum," jawab Bimo singkat lalu mematikan tv.
Andin langsung bangun dari tidurnya. Bila Bimo sudah GR Andin akan mengobatinya ia salah. Andin malah mengambil kertas deskripsi Bimo.
"Ya di obatin dong Mas, nanti gak sembuh-sembuh memarnya... " ucap Andin lalu mulai membaca.
"O...ob...ob...obatin... " pinta Bimo malu-malu dan sangat pelan bahkan hampir berbisik.
Andin menurunkan kertasnya lalu menatap Bimo. "Aku dah wudhu Mas, ku ambilin aja ya," ucap Andin lalu bangun dan mengambilkan kotak obat untuk Bimo.
"Wudhu kenapa? " tanya Bimo heran.
"Sunahnyakan gitu," jawab Andin lembut.
"Tapi aku kan suamimu, lagian kenapa kamu segitunya ke aku?" keluh Bimo.
Andin hanya tersenyum lalu mengambil salep memar dan mulai mengobati wajah suaminya dengan lembut, mengoleskan salep dingin itu ke pipi, kening dan pelipisnya.
"Kenapa kamu gak pakek jilbab sekalian?" tanya Bimo yang dari tadi hanya diam dan memejamkan mata membiarkan Andin mengobatinya.
"Aku gak punya baju panjang," jawab Andin sambil merapikan kotak obat lalu meletakkannya di atas laci.
"Kenapa?"
"Dulu aku kayak Silvia gitu Mas bajunya. Jadi waktu bisnis ayah bangkrut aku gak bisa beli baju panjang, aku cuma pakai baju yang sopan saja. Lagian aku belum yakin bisa istiqomah Mas."
"Kenapa?"
"Ck! Mas Bimo tanya kenapa terus, jawabannya sama kayak yang tadi..." jawab Andin sambil tertawa pelan. "Mas, jangan berantem-berantem lagi ya."
"Kenapa?"
"Aku khawatir, jadi sakit juga kan?"
"Iya-iya besok gak lagi."
Andin hanya tersenyum lembut sambil mengangguk, lalu kembali ke sofa untuk tidur. Andin langsung terlelap dengan mudah, sementara Bimo di buat senang bukan main karena perhatian Andin padanya sampai semua kantuknya hilang dan semua inspirasi masuk ke kepalanya. Bimo langsung ke meja kerjanya dan menulis semua ide dan imajinasi di kepalanya. Andin benar-benar sumber inspirasi dan imajinasinya dalam menulis akhir-akhir ini, sampai Bimo akhirnya tidak tidur semalaman.
"Mas tumben dah bangun," ucap Andin yang bangun jam empat.
"Belum tidur, bukan baru bangun," ucap Bimo membenarkan ucapan Andin.
"Solat yuk!" ajak Andin lalu masuk ke kamar mandi untuk wudhu.
"Iya," jawab Bimo lalu menguap.
Tak lama terdengar suara cipratan air lalu Andin keluar dengan rambut dan wajahnya yang basah. Ia juga sudah berganti baju dengan daster lagi.
"Mas mau ke masjid apa di rumah?" tanya Andin setelah wudhu.
"Di rumah aja," jawab Bimo masih asik mengetik.
Andin langsung memakai mukenanya pemberian Bimo saat pernikahannya dulu. Buka mas kawin, mukena dan peralatan solat hanya sebagai hantaran saja. Sementara mas kawinnya adalah pelunasan hutang dan pengobatan ibunya.
"Mas..." panggil Andin yang hanya di jawab dengan dehaman oleh Bimo. "Mas Bimo gak pengen solat bareng? " tanya Andin.
Bimo hanya mengangguk lalu menghela nafas dan bangun dari duduknya sambil meregangkan tubuh. "Bentar," ucap Bimo lalu ke kamar mandi untuk wudhu.
kaciaaaan🤪
semoga hubungan pernikahan andin dan bimo bisa menjadi lebih baik lagi...
🤭🤣🤣🤣🤣🥰🥰🥰
😂😂😂😂