kisah seorang gadis yang terpaksa menjadi simpanan Sugar Daddy demi bisa mendapatkan jaminan hidup layak setelah keluarga nya di kucilkan oleh keluarga besar mendiang sang ayah,mula nya kehidupan gadis bernama Ayana itu serba berkecukupan,tapi setelah ayah nya meninggal, seluruh aset kekayaan almarhum di kuasai oleh sang adik yang rakus akan harta kekayaan kakak nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Winda Lestary, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pernikahan siri part 2.
"saya nikahan engkau, Ayana.!"
"berhenti.!!"
suara seorang perempuan terdengar lantang menggema dari pintu masjid,semua orang yang ada di dalam masjid tersebut langsung menoleh bersamaan kearah yang sama.
Aurel berdiri dengan dada membusung dan nafas yang menggebu.ia tampak murka dengan apa yang sedang di lihat nya sekarang, sepasang mata nya menyaksikan Ayana dan om Wijaya duduk bersanding di hadapan seorang ustadz dengan di saksikan beberapa orang yang hadir sebagai tamu dan saksi.
"Aurel?!"
Ayana sontak saja berdiri tegap dengan jantung yang berdebar kencang, rasa takut nya Menyelimuti seluruh tubuh, menimbulkan keringat dingin yang mulai membasahi pelipis mata nya. Ayana terdiam ketakutan, tubuh nya kaku bak patung, matannya melotot menatap Aurel yang masih berdiri dengan wajah merah padam.
"sialan!! rupa nya kamu manusia tidak tau diri.!"
umpat Aurel yang melontarkan kata-kata kasar setelah melihat peristiwa yang hampir membuat nya kehilangan kendali. entah apa yang ada di pikiran Aurel, tiba-tiba ia mendekat dan langsung menjambak kebaya yang di kenakan oleh Ayana, Pak Wijaya jelas tidak tinggal diam, begitu juga dengan orang-orang yang ada di sana, mereka mencoba melerai tapi tenaga Aurel cukup kuat untuk terus berusaha menyerang Ayana.
"bangsa*t, prempuan jahat loe Ayana.!!"
triak Aurel memberontak saat pak Aryono dan istri nya memenangi tubuh nya yang menggeliat terus menerus.
"loe juga.! laki-laki bangkotan gak tau diri.! buat apa loe nikahan prempuan gak tau diri itu.!'
Aurel terus saja memaki mereka dengan kata-kata kasar, dada nya serasa di bakar api yang kian berkobar. Aurel sama sekali tidak bisa meredam amarah nya. selama ini hanya Wijaya satu-satu nya sugar daddy yang royal dan humble pada nya, apa lagi Aurel adalah anak yatim piatu yang tidak pernah mendapat kasih sayang dari orang tua nya termasuk peran seorang ayah, kehilangan Om Wijaya jelas menjadi pukulan berat, bukan hanya kehilangan sumber pendapatan, tapi juga kehilangan laki-laki yang selalu memahami diri nya dan bersikap layak nya seorang ayah.
"gue kecewa sama loe Ayana.!"
triak Aurel meluapkan semua uneg-uneg nya.
"cukup.! pergi kamu sekarang.! saya tidak mau acara pernikahan saya di ganggu oleh kamu.! apa perlu saya seret kamu keluar secara paksa?!"
ancam Pak Wijaya dengan mata yang ber api-api.
"seret dia keluar sekarang.!"
perintah Pak Wijaya ke pak Aryono. dengan sigap pak Aryono membawa Aurel keluar dari dalam masjid tersebut di bantu oleh istri nya, di sana ada sekitar tujuh orang termasuk ustadz yang akan menikah kan mereka. suasana sempat menegang saat Aurel tiba-tiba menerobos masuk di sela acara yang sudah akan di mulai.
" siapa sih ya? bikin gaduh aja. "
bisik salah satu Ibu-ibu ke Ibu yang satu nya. mereka berdua adalah teman dari istri pak Aryono yang di minta untuk menjadi tamu sekaligus saksi.
" simpanan nya juga kaya nya. bisik si Ibu satu nya dengan melirik ke arah Ayana, Ayana hanya tertunduk diam sementara tubuh nya masih gemetar hebat.
"ayo pak lanjutkan. "
pinta Pak Wijaya setelah memastikan keadaan kembali kondusif. setelah suara sah terdengar, Ayana mencium punggung tangan Pak Wijaya dengan hikmat, setatus nya kini benar-benar sudah berubah, yang tadi nya seorang single kini sudah menjadi istri orang. ada sedikit penyesalan dalam hati nya, tapi keputusan itu sudah di ambil dan di pertimbangan matang-matang. "
***
"Prak..!!"
tiba-tiba gelas yang di pegangan oleh Bu Ayu terjatuh ke lantai dan berserakan ke mana-mana. beliau tadi nya hendak duduk bersantai di teras rumah sambil menikmati secangkir teh manis hangat di pagi hari, tapi entah mengapa musibah tiba-tiba datang di tengah suasana yang tenang.
Bu Ayu terdiam bengong tanpa memperdulikan gelas yang sudah tidak berbentuk itu. entah mengapa perasaan nya seperti tidak nyaman.hati nya seolah merasakan sesuatu.
" astaghfirullah Buk.!"
Mbok Sumi berlarian kecil dari arah dapur mendatangi Bu Ayu yang berada di ruang tamu.
"Ibu kenapa? apa ada yang luka?"
tanya beliau dengan sigap.
" anu Mbok, saya-saya enggak apa-apa kok, Mbok."
ucap nya lirih namun dengan wajah yang terlihat binggung.
"sudah biar Mbok bersihkan, lebih baik ibu istirahat saja dulu. "
pinta Mbok Sumi yang merasa kondisi nyonya nya itu sedang tidak sehat.
"Mbok, nanti kalau ada Bu Dini, tolong suruh kesini ya, saya sudah lama gak ketemu dia. "
" iya baik Buk. "
sejak pertemuan itu, Bu Dini sekarang aktif bekerja di perkebunan teh milik Bu Ayu, mereka juga terlihat cukup dekat satu sama lain, meskipun derajat mereka berbeda, nyata nya Bu Ayu sangat senang bisa mengenal Bu Dini, mereka berdua sudah seperti sahabat karib.
***
sementara itu, Ayana yang sudah menjadi istri siri Pak Wijaya merasa tanggung jawab nya kian banyak, apa lagi dia harus tinggal se atap dengan suami nya. soal pendidikan yang di janjikan oleh Pak Wijaya pada nya. Ayana mencoba untuk menagih janji tersebut. Ayana ingin melanjutkan kuliah di Jogja dengan mengambil jurusan bisnis. mula nya permintaan itu di tolak oleh Pak Wijaya lantaran hal itu akan membuat kedua nya berjauhan. percuma rasa nya Pak Wijaya menikahi Ayana jika pada akhir nya mereka harus LDR.
"kamu boleh kuliah di kampus mana pun di jakarta ini,asal nggak di sana.! kenapa harus di jogja sih?! lagian apa beda nya.?!"
sungut pak Wijaya dengan muka masam. Ayana tetap bersikukuh untuk melanjutkan pendidikan di kota itu, lagi pula sejak masih duduk di bangku sekolah dasar, Ayana sudah memiliki cita-cita agar diri nya nanti bisa melanjutkan kuliah di Universitas kota kelahiran mendiang sang Ayah.setelah saling berselisih faham, akhir nya Pak Wijaya mengalah dan membiarkan Ayana menempuh pendidikan di kota impian nya, tapi dengan satu syarat, diri nya harus sering-sering pulang ke Jakarta dan tidak di izinkan berteman dengan laki-laki mana pun. sifat cemburu Pak Wijaya jelas menjadi kendala bagi Ayana, apa lagi jika harus di batasi soal pergaulan.
sebenar nya Ayana juga berniat untuk mencari tau siapa anak dari suami nya itu, apakah benar selama ini duga'an nya? tapi jauh di lubuk hati nya, Ayana berharap dugaan nya itu seratus persen salah. ia tak mungkin menikah dengan Ayah dari laki-laki yang sangat di cintai nya.
Ayana menarik nafas membuang semua perasaan-perasaan yang tidak bermanfaat bagi kesehatan mental nya. dia berfikir untuk tetap fokus pada tujuan nya dan membangun masa depan kluarga nya agar kembali memiliki kehidupan yang layak seperti dahulu kala. mau bagaimana pun, Ibu dan kedua adik nya lah yang selalu menjadi alasan dia kuat hingga detik ini, menghadapi semua hujatan dan membiarkan diri nya sendiri terjerumus dalam penderitaan.sering sekali Ayana menangis meratapi nasib hidup nya yang harus bergelut dengan dunia kelam ini. membiarkan kebahagiaan itu terkubur bersama perasaan cinta nya pada Regan.
untuk si Sera semoga mendapatkan karma nya lagi