NovelToon NovelToon
Cinta Tulus Sang Penguasa

Cinta Tulus Sang Penguasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / CEO
Popularitas:8.2k
Nilai: 5
Nama Author: Dewi Risnawati

Annisa, seorang TKI dari Indonesia, merantau ke Tiongkok untuk mencari nafkah. Ia bekerja sebagai pembantu di kediaman Chensi—seorang pengusaha kaya raya, pemimpin perusahaan raksasa, dan dikenal sebagai sosok yang kejam, dingin, serta tak ada yang berani menentangnya. Hidup Annisa terasa penuh ketakutan hingga suatu malam, Chensi pulang dalam keadaan mabuk berat dan melakukan perbuatan keji yang merenggut kehormatannya. Kejadian itu membuat Annisa hamil, memaksanya menghadapi pilihan sulit: bertahan atau kembali pulang dengan membawa beban yang tak terbayangkan. Akankah sang tiran yang dingin itu akhirnya berubah, atau justru menambah penderitaan bagi Annisa dan janin di dalam kandungannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Risnawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hukuman untuk Mei

Sejak kejadian malam itu, perubahan sikap Annisa terlihat sangat jelas. Ia tidak lagi bergerak tenang dan percaya diri seperti dulu. Setiap kali mendengar langkah kaki Chensi mendekat, tubuhnya langsung menegang, matanya mencari jalan keluar, dan ia akan segera mundur ke sudut ruangan atau memalingkan wajah secepat mungkin. Rasa trauma yang mendalam membuatnya melihat Chensi bukan lagi sebagai majikan, melainkan sebagai sumber ketakutan terbesarnya.

Namun, di luar dugaan Annisa, Chensi justru memahami hal itu. Ia tidak lagi mendekat secara tiba‑tiba, tidak lagi berbicara dengan nada tegas atau memerintah terlalu dekat. Jika ia ingin memanggilnya, ia akan melakukannya dari jarak yang aman, dan jika melihat Annisa mulai gemetar atau menunduk sangat dalam, ia akan segera berhenti berbicara dan membiarkan gadis itu pergi. Ia sadar, ia telah melukai jiwa wanita itu, dan sekarang ia harus menanggung konsekuensinya—menunggu, meski ia sendiri tidak tahu sampai kapan.

Hari‑hari berlalu dengan suasana yang tegang namun tetap terjaga. Sampai suatu pagi, ketika Annisa sedang mengangkat keranjang berisi pakaian bersih hendak dibawa ke ruang penyimpanan, ia dihadang oleh Mei—pelayan yang sejak awal selalu iri dan membenci keberadaannya.

“Diam di tempat!” bentak Mei dengan nada tajam, menghalangi jalan Annisa.

Annisa berhenti, menunduk dan berusaha melewatinya dengan sopan. “Maaf, izinkan saya lewat, saya harus menyelesaikan pekerjaan ini.”

Mei mendengus sinis, lalu melangkah semakin dekat. “Pekerjaan? Atau justru mencari kesempatan untuk mendekat lagi ke Tuan Chensi? Sudah terlihat jelas sejak lama! Berpura‑pura pendiam, berpakaian tertutup rapat, tapi ternyata caramu menggoda jauh lebih licik dari wanita lain!”

Wajah Annisa memucat, tangannya mencengkeram erat pegangan keranjang. “Kau bicara apa? Saya tidak pernah melakukan hal semacam itu. Saya hanya menjalankan tugas sesuai perintah.”

“Jangan berbohong!” sergah Mei semakin keras, menarik perhatian beberapa pelayan lain yang sedang lewat. “Semua orang melihatnya! Tuan Chensi yang selalu dingin dan kejam, bisa bersikap lembut padamu. Dia membiarkanmu berada di dekatnya, tidak memarahimu meski kamu pernah memecahkan barang berharga. Apa itu bukan tanda kamu sudah memikat hatinya dengan cara kotormu?”

“Itu tidak benar! Itu semua tuduhan tidak berdasar!” bantah Annisa dengan suara bergetar, matanya mulai berkaca‑kaca. Ia merasa terhina, apalagi kenyataan sebenarnya justru jauh lebih menyakitkan dari tuduhan itu.

Namun rasa iri sudah membutakan akal sehat Mei. Melihat Annisa membela diri, ia semakin marah dan tanpa pikir panjang, mendorong tubuh gadis itu sekuat tenaga.

“Bruk!”

Annisa terhuyung ke belakang, tubuhnya membentur dinding, dan keranjang pakaian di tangannya terlempar, isinya berserakan di lantai. Ia tertegun, menahan rasa sakit di punggungnya, namun lebih sakit lagi mendengar tatapan dan bisikan sinis dari pelayan‑pelayan lain yang mulai berkumpul.

Namun, perbuatan itu tidak luput dari penglihatan seseorang.

Dari ujung lorong, Chensi baru saja keluar dari ruang kerjanya ditemani Li Wei. Ia melihat jelas apa yang terjadi—bagaimana Mei menuduh, memaki, lalu mendorong Annisa sampai terjatuh.

Wajah Chensi seketika berubah menjadi sangat dingin dan mengerikan. Rahangnya mengeras, tatapannya menyala seperti api yang siap membakar apa saja di depannya. Langkah kakinya menjadi cepat dan berat, membuat semua orang di sekitarnya langsung terdiam dan menunduk ketakutan.

“Li Wei!” panggilnya dengan suara rendah namun menggema, penuh tekanan.

“Ya, Tuan?” jawab Li Wei segera mendekat.

“Ambilkan cambuk yang ada di gudang. Bawa ke sini sekarang juga,” perintahnya singkat dan tegas.

Mendengar perintah itu, darah seolah berhenti mengalir di tubuh Mei. Ia tahu betul apa arti cambuk itu—alat hukuman yang jarang digunakan, namun jika sudah dikeluarkan, artinya kesalahannya sudah tidak bisa dimaafkan.

“Tu… Tuan Chensi, saya… saya hanya menegur dia saja. Dia yang salah, dia yang…” cicit Mei mulai gemetar, mencoba membela diri.

Chensi tidak menoleh sedikit pun ke arahnya. Matanya hanya tertuju pada Annisa yang masih duduk di lantai, wajahnya pucat, dan matanya memandang ke bawah dengan rasa malu yang mendalam.

Tidak lama kemudian Li Wei kembali membawa cambuk panjang yang terbuat dari kulit keras. Ia menyerahkannya dengan hati‑hati ke tangan Chensi.

Chensi menggenggam gagang cambuk itu, lalu akhirnya menoleh ke arah Mei dengan tatapan mematikan.

“Kau berani menuduh orang tanpa bukti, menghina, dan melukai orang yang bekerja di bawah aturan rumah ini?” suaranya terasa menusuk tulang. “Siapa yang memberimu hak untuk bertindak seperti itu?”

“Saya minta maaf, Tuan! Jangan… jangan hukum saya!” Mei berlutut histeris, menangis dan memohon ampun.

Namun Chensi tidak peduli. Ia melangkah mendekat, lalu tanpa ragu mengayunkan cambuk itu ke udara.

“PRAANG!”

Suara benturan kulit memecah keheningan, menyentuh lengan dan punggung Mei. Wanita itu menjerit kesakitan, berguling di lantai.

“Jangan lagi kau buka mulut untuk menghina dia!” bentak Chensi sambil mengayunkan cambuk itu lagi, kali ini lebih keras. “Jangan lagi kau berani menyentuh rambutnya pun! Ingat baik‑baik, di rumah ini, dia adalah tanggung jawabku. Siapa pun yang menyakiti dia, sama saja menyakiti aku sendiri!”

Satu kali, dua kali, tiga kali… cambuk itu terus mendarat sampai suara jeritan Mei melemah dan tubuhnya tergeletak lemas di lantai, penuh bekas merah yang membengkak.

Semua orang terpaku ketakutan, tidak berani menoleh atau bergerak sedikit pun. Annisa pun menutup mulutnya dengan tangan, matanya terbelalak menyaksikan kekejaman yang dilakukan Chensi—bukan padanya, melainkan untuk membelanya.

Setelah merasa cukup, Chensi melempar cambuk itu ke lantai dengan bunyi keras. Ia mengusap telapak tangannya seolah membuang kotoran, lalu memerintahkan dengan nada datar.

“Bawa dia ke ruang jaga, obati lukanya. Mulai hari ini, dia dipecat. Jangan biarkan kakinya menginjak tanah halaman rumah ini lagi.”

Li Wei segera mengangguk dan memberi isyarat pada dua pelayan lain untuk mengangkat tubuh Mei yang lemah itu pergi.

Sekarang hanya tinggal Chensi dan Annisa di lorong itu. Chensi memutar badannya, lalu melangkah perlahan mendekati gadis itu, namun berhenti pada jarak yang cukup jauh agar tidak membuatnya terkejut.

“Sudah aman,” ucapnya dengan nada yang jauh lebih lembut dari sebelumnya. “Tidak ada yang akan berani mengganggumu lagi mulai sekarang.”

Annisa menatapnya dengan pandangan yang campur aduk—masih takut, masih benci, namun ada rasa bingung yang mulai tumbuh. Lelaki ini bisa sekejam itu menghukum orang lain, tapi di hadapannya, ia berusaha menjaga jarak dan melindunginya.

“Kenapa… Tuan melakukan itu?” tanyanya lirih, suaranya masih bergetar.

Chensi terdiam sejenak, lalu menjawab dengan jujur.

“Karena aku sudah berjanji pada diriku sendiri. Jika aku telah mengambil sesuatu dari dirimu, maka kewajibanku juga melindunginya sampai akhir. Tidak ada yang boleh menghina atau menyakiti milikku, sekalipun itu hanya dengan kata‑kata.”

Setelah mengatakan itu, Chensi berbalik dan pergi meninggalkan Annisa yang masih duduk termenung, membiarkan gadis itu memproses kenyataan yang semakin rumit—bahwa ia kini bukan lagi sekadar pelayan, melainkan telah menjadi bagian dari kehidupan lelaki kejam itu, terikat dalam sebuah hubungan yang tidak pernah ia inginkan.

Bersambung....

1
Kasih Bonda
next Thor semangat
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘNurrul P.❀∂я𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋💘
Jalanilah hubungan kalian berdua seperti ini dulu, sambil terus berdoa suatu saat jika Tuhan sudah berkehendak kalian untuk bersatu selamanya.
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘNurrul P.❀∂я𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋💘
Chensi saat ini mulai tertarik untuk mempelajarinya, siapa tahu suatu saat nanti atas ijin Yang Maha Kuasa Chensi tidak hanya mempelajari saja namun juga memperdalam ilmunya serta meyakini apa yang sudah ditegaskan di dalam setiap ayat-ayatnya.
Naufal Affiq
semoga chensi mendapat hidayah
Naufal Affiq
bagus chensi
❀∂я 𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋WIDYA ☘𝓡𝓳
lanjut kak dewi
❀∂я 𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋WIDYA ☘𝓡𝓳
seiring berjalannya waktu semoga hubungan kalian.bisa menemukan jalan yang baik
❀∂я 𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋WIDYA ☘𝓡𝓳
asingkan aliin keluar pulau terpencil biar tidak bisa balik lagi 🙄
Kasih Bonda
next Thor semangat
❀∂я 𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋WIDYA ☘𝓡𝓳
chensi mana mau dengar wong calon cucu sendiri mau di lenyapkan
Naufal Affiq
bagus chensi,buat mereka jera seumur hidup
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘNurrul P.❀∂я𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋💘
Rukun-rukun ya kalian berdua 🥰👍
Kasih Bonda
next Thor semangat
❀∂я 𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋𝐦ͬ𝐨ᷲ𝐨ᷯ𝐧ᷲ three
hukuman yg pantas buat kalian bertiga mk nya mikir sebelum bertindak
❀∂я 𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋𝐦ͬ𝐨ᷲ𝐨ᷯ𝐧ᷲ three
memang pengawal bodo hrsnya konfirmasi dl sm tuanmu , trima sj hukumnya nya skrg
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘNurrul P.❀∂я𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋💘
Akhirnya Aulin menerima hukuman dari Chensi, semoga saja dia benar-benar tak akan mengganggu kehidupan Annisa di kemudian hari 👍
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ༅Ƭɧเɛ💘❀∂я💋👻ᴸᴷ
kasiann Annisa semoga dia tidak apa apa dan Chensi cepat datang menolong 😟😟
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ༅Ƭɧเɛ💘❀∂я💋👻ᴸᴷ
bego banget penjaganya mudah percaya ditambah iming iming uang lagi harusnya konfirmasi sendiri sama Chensi mengenai kedatangan Ailin🤧😤
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ༅Ƭɧเɛ💘❀∂я💋👻ᴸᴷ
huaa senangnya mendengar pengakuan kalian sekarang jangan galau lagi Annisa nanti Chansi pasti pulang
Naufal Affiq
chensi cepat pulang,annisa di bawa ailin pergi dari rumah mu,alasan kau yang menyuruhnya.tolong annisa vhensi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!