NovelToon NovelToon
Kapten Basket Itu Suamiku

Kapten Basket Itu Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Perjodohan
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Aqilazahra

Nikah muda? ✅
Nikah online? ✅

Satu kelas sama suami sendiri yang ternyata idola sekolah? Nah, yang ini di luar prediksi BMKG!


Satu tahun lalu, sebuah ijab kabul via video call mengikat takdir Ellea dengan seorang pria di kota. Tanpa cinta, tanpa tatap muka langsung.

Kini, Ellea harus menyusul sang suami ke kota setelah kepergian neneknya. Namun, saat tiba di sana, justru pria itu kabur dari rumah dan takdir membawa mereka untuk bertemu kembali di koridor sekolah.

Pria itu bernama Albiru, pria yang paling dielu-elukan, sang kapten tim basket yang dingin dan tak tersentuh, ternyata adalah pemilik cincin yang sama dengan yang melingkar di jari Ellea.

Bagaimana cara Ellea menyembunyikan rahasia besar ini di depan teman-teman barunya? Dan mampukah sang kapten basket mengenali istrinya sendiri yang bercadar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aqilazahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Memasuki Babak Baru

Ellea melangkah ragu memasuki ruang kepala sekolah yang bernuansa sejuk akibat embusan pendingin ruangan. Langkah kakinya terasa berat, kontras dengan Alisa yang berjalan mendahuluinya dengan santai, seolah ruangan formal itu hanyalah perpanjangan dari ruang tamu rumah mereka sendiri. Atensi Ellea langsung tertuju pada sesosok pria paruh baya berkacamata yang duduk di balik meja kerja besar berbahan kayu jati.

Di sisi lain ruangan, Rendra sudah lebih dulu duduk di salah satu kursi, tampaknya baru saja menyelesaikan pembicaraan awal. Melihat tingkah putri bungsunya yang langsung melosor masuk tanpa beban, Rendra hanya bisa menggelengkan kepala pasrah.

"Pak Guru, titip kakak ipar—maksudnya kakak saya yang cantik ini, ya?" cerocos Alisa tanpa tedeng aling-aling, mencondongkan tubuhnya ke depan meja kerja sang kepala sekolah. "Awas kalau sampai diapa-apain atau ada yang berani usil sama dia di sini. Saya acak-acak kantor Bapak pakai jurus mata angin!"

Mendengar ancaman ekstrem bernada gurauan itu, kepala sekolah yang bernama Pak Tengku tersebut tidak marah. Beliau justru mengulum senyum maklum. Di SMA Garuda, siapa yang tidak mengenal Alisa? Gadis itu bukan cuma sekadar putri dari donatur terbesar yayasan, tapi juga menyumbang sederet piala emas sebagai juara karate tingkat provinsi sekaligus langganan juara melukis nasional. Karakter Alisa yang meledak-ledak namun berprestasi sudah menjadi rahasia umum bagi para staf pengajar.

"Alisa, jaga bicaramu. Masuk ke kelasmu sekarang!” perintah Rendra dengan nada suara berat yang tidak menerima bantahan.

Alisa langsung mengerucutkan bibirnya, berbalik menatap sang ayah dengan gurat manja. "Papa, Alisa kan masih kangen sama Kak El. Mau nemenin sampai selesai administrasi. Alisa tunggu di sofa sini saja, ya?" rengeknya.

Kringgg!!!

Bel berbunyi nyaring, memotong kalimat Alisa sekaligus menggema ke seluruh penjuru koridor sekolah. Alisa berdecak kesal, refleks menghentakkan kakinya ke lantai.

"Sialan, bel sekolah benar-benar nggak bisa diajak kerja sama," umpatnya pelan, nyaris berbisik namun masih bisa didengar oleh Ellea.

Sebelum benar-benar membalikkan badan untuk keluar, Alisa mendekati Ellea. Ia menggenggam jemari Ellea yang terasa dingin, lalu menatap sepasang mata teduh kakak iparnya dengan guratan cemas yang tulus. "Kak, kalau ada apa-apa, atau kalau ada manusia kurang kerjaan yang macam-macam di kelas nanti, langsung kasih tahu Alisa, ya? Jangan diam saja," pesannya protektif.

Ellea tersenyum di balik cadarnya, matanya menyipit lembut mengisyaratkan rasa terima kasih yang mendalam. Ia mengangguk pelan. "Iya, Alisa. Terima kasih banyak. Masuk kelas sana, jangan terlambat."

Setelah Alisa menghilang di balik pintu yang tertutup rapat, ketegangan baru mendadak merayap di dalam ruangan. Rendra kembali memperbaiki posisi duduknya, sementara Ellea memilih untuk menggeser langkahnya perlahan, menduduki sofa kulit paling ujung di sudut ruangan demi memberi ruang bagi kedua pria dewasa itu untuk bicara. Ia melipat tangannya di atas pangkuan, menunduk takzim.

Pak Tengku melepas kacamata bacanya, lalu menatap Rendra dengan gurat ragu yang sangat kentara di wajahnya. Ia melirik sekilas ke arah Ellea, lalu berbisik pelan, meski suaranya masih bisa tertangkap oleh indra pendengaran Ellea yang tajam.

"Pak Rendra ... maaf sebelumnya. Apakah Bapak benar-benar yakin gadis itu akan berpakaian seperti itu selama bersekolah di sini?" tanya Pak Tengku hati-hati.

Rendra menaikkan sebelah alisnya, ekspresinya mendadak mengeras. "Ya. Memangnya kenapa? Ada yang salah dengan pakaian men—maksud saya, anak saya?"

Pak Tengku mengusap wajahnya kasar dengan telapak tangan, mengembuskan napas panjang yang sarat akan beban pikiran. Di kota metropolitan seperti Jakarta, apalagi di sekolah internasional yang isinya anak-anak borjuis ini, keberadaan siswi yang berpakaian serba tertutup, longgar, lengkap dengan selembar cadar hitam seperti Ellea adalah pemandangan yang teramat langka. Jelas hal ini akan memicu gelombang desas-desus yang tidak berkesudahan.

"Pak, Bapak Rendra tahu sendiri bagaimana tipikal murid-murid di SMA Garuda ini. Mereka berasal dari kalangan atas yang terkadang... sulit dikontrol opininya. Saya hanya takut kehadiran Ellea dengan penampilan seperti ini akan memicu protes dari wali murid lain atau mengganggu kenyamanan siswa," jelas Pak Tengku, mencoba mencari kata-kata sehalus mungkin agar tidak menyinggung pria berkuasa di depannya.

"Masa protes? Memangnya anak saya seorang penjahat sampai harus diprotes?" sahut Rendra dingin seraya melirik Ellea sekilas. Sorot mata Rendra memancarkan perlindungan yang mutlak. "Dia hanya menjalankan apa yang diyakininya. Selama dia tidak melanggar aturan nilai akademik dan hukum sekolah, saya rasa tidak ada alasan bagi siapa pun untuk protes."

Pak Tengku tertegun, lalu akhirnya hanya bisa mengangguk pasrah. Di satu sisi, ia memang mengkhawatirkan dinamika sosial di sekolahnya. Namun di sisi lain, ia juga sadar betul siapa Rendra. Pria di depannya ini adalah penyokong dana terbesar yang membiayai seluruh fasilitas mewah di SMA Garuda. Kehilangan dukungan dari keluarga Samudra sama saja dengan memicu kemunduran besar bagi yayasan. Lagipula, Rendra sengaja mewanti-wanti sejak awal untuk merahasiakan status pernikahan Ellea dan Albiru demi kenyamanan belajar mereka, sebuah permintaan yang harus dijaga kerahasiaannya dengan taruhan jabatan.

"Baiklah kalau begitu, Pak Rendra. Kami dari pihak sekolah akan berusaha memastikan Ellea mendapatkan hak belajarnya dengan baik," ucap Pak Tengku, akhirnya mengalah sepenuhnya.

Pria paruh baya itu kemudian menekan tombol interkom di meja kerjanya. "Tolong panggilkan Ibu Sarah, wali kelas dua belas IPA 1, ke ruangan saya sekarang."

Tidak butuh waktu lama, pintu ruangan kembali diketuk. Seorang wanita paruh baya berwajah ramah dengan pakaian blazer formal masuk dengan senyum mengembang. "Selamat pagi, Pak Tengku, Pak Rendra," sapanya sopan.

"Pagi, Bu Sarah. Ini ada siswi baru pindahan dari salah satu pesantren di Jawa. Namanya Ellea. Sesuai dengan instruksi yang sudah dibahas sebelumnya, dia akan masuk ke kelas yang Ibu pimpin," jelas Pak Tengku straight to the point.

Ibu Sarah mengalihkan pandangannya pada Ellea yang langsung bangkit dari sofa dan mengangguk hormat. Meskipun sempat terkejut melihat cadar yang melekat di wajah Ellea, Bu Sarah dengan cepat menguasai ekspresinya. Senyum tulus terbit di wajah wanita itu. "Oh, iya. Mari, Ellea. Ibu antar langsung ke kelas."

Ellea berjalan mendekati Rendra, lalu mencium punggung tangan mertuanya dengan takzim. "Ellea ke kelas dulu, ya, Papa."

"Belajar yang baik, Nak. Jangan takut pada apa pun, ada papa dan Alisa di sini," bisik Rendra lembut, memberikan ketenangan yang sangat dibutuhkan Ellea saat ini.

"Baik, Papa. Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam."

Ellea kemudian melangkah keluar dari ruangan, berjalan beriringan di samping Ibu Sarah. Setiap langkah yang diambilnya menyusuri koridor yang mulai sepi karena jam pelajaran sudah dimulai terasa begitu mendebarkan. Jantungnya bertalu-talu hebat, telapak tangannya dingin dan basah.

Di ujung koridor sana, sebuah papan nama bertuliskan "XII IPA 1" sudah terpampang nyata. Di dalam ruangan itulah, sekat antara dirinya dan Albiru akan runtuh. Ia harus siap menghadapi kenyataan bahwa suaminya mungkin akan menjadi orang pertama yang menolak kehadirannya.

Dengan satu tarikan napas panjang di balik kain cadarnya, Ellea menguatkan hati, bersiap melangkah memasuki babak baru yang penuh misteri.

“Albiru, apakah pertemuan kita kali ini akan membuat hatimu luluh dan menerimaku?” batin Ellea.

1
Iped Suhendi
sangat bagus cerita nya.
Iped Suhendi
semangat ya nulis nya.Bagus banget cerita nya.Saya suka 😍
Aqilazahra: terima kasih Kak, sudah mampir. semoga suka ya
total 1 replies
Muharlita Muharlita
saya suka
Devan Davin
bgus skli
Aqilazahra: terima akak sudah mampir
total 1 replies
rattna
bagus
Aqilazahra: terima kasih kakak, sudah mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!