NovelToon NovelToon
Pembalasan Dendam Mantan Istri Ceo

Pembalasan Dendam Mantan Istri Ceo

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Finus Ina

Lima tahun lalu, Adeline Wijaya dijebak oleh adik tirinya sendiri hingga keguguran dan diusir oleh suaminya, Bramantara, dalam kondisi sekarat. Semua orang mengira Adeline telah tewas di dasar jurang.Lima tahun kemudian, ia kembali ke Kota Jakarta dengan identitas baru sebagai Elena Vance, seorang desainer perhiasan kelas dunia yang genius dan kejam. Tujuannya hanya satu: menghancurkan mereka yang telah merebut kebahagiaannya.Demi melancarkan aksinya, Elena mendekati Nicholas Syailendra, CEO tertinggi di balik konglomerat nomor satu sekaligus musuh bebuyutan mantan suaminya.

Nicholas menawarkan kesepakatan: "Jadilah istriku, dan aku akan memberikan dunia untukmu membalas dendam." Namun, Elena tidak tahu bahwa di balik pernikahan kontrak itu, ada rahasia masa lalu yang jauh lebih besar yang siap menguji hatinya sekali lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Finus Ina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 27

------------------------------

## BAB 27: Di Balik Tirai Malam

Embusan napas Nicholas Syailendra yang hangat terasa begitu nyata menerpa permukaan kulit wajah Elena Vance. Jarak wajah mereka yang hanya tersisa beberapa sentimeter di bawah temaram lampu kamar membuat Elena bisa melihat dengan jelas pantulan kilat gairah posesif di sepasang mata elang suaminya. Lengan kekar Nicholas mengunci mati tubuh Elena pada tiang ranjang kelambu, menutup seluruh celah baginya untuk melarikan diri.

"Dua minggu, Elena... itu waktu yang sangat lama jika kita mau memulainya malam ini," bisik Nicholas lagi, suaranya yang serak dan berat terdengar begitu sensual sekaligus mengintimidasi. Jemari tangannya yang hangat merayap perlahan dari pundak Elena, naik menyentuh leher jenjangnya yang sensitif.

Deg!

Jantung Elena berdegup kencang secara tidak teratur, mengirimkan sengatan debaran liar yang membuat seluruh urat saraf tubuhnya mendadak melemas. Kilat parfum maskulin Nicholas seolah mengunci logikanya. Namun, tepat saat wajah Nicholas bergerak semakin merunduk hendak menyatukan bibir mereka, sebuah bayangan kelam dari masa lalu mendadak berputar kejam di dalam benak Elena.

Hujan badai, darah segar yang mengalir menembus gaun tidurnya, dan rasa dingin aspal jalanan saat rahimnya dipaksa kosong satu bulan lalu. Trauma keguguran itu laksana hantaman palu gada yang seketika membuyarkan seluruh gairah di dalam dada Elena.

"Nicholas... hentikan," bisik Elena, suaranya mendadak bergetar samar bukan karena takut pada Nicholas, melainkan karena rasa sesak yang tiba-tiba mencekik tenggorokannya.

Elena menempelkan kedua telapak tangannya di atas dada bidang Nicholas, menahan pergerakan pria itu sembari memalingkan wajahnya ke samping. Sepasang mata indahnya yang berkilat tajam kini tampak meredup, dipenuhi oleh sisa-sisa luka masa lalu yang belum sembuh sepenuhnya. "Jangan melanggar pasal terakhir di draf kontrak kita. Aku... aku belum siap untuk memiliki anak lagi."

Nicholas tertegun sejenak. Mendengar perubahan nada suara Elena dan merasakan getaran samar di tubuh wanita dalam dekapannya, amarah dan gairah tirani di dalam sepasang mata elang sang penguasa kota seketika meredup, digantikan oleh secercah rasa iba dan penyesalan yang mendalam. Nicholas tahu persis trauma apa yang baru saja ia usik di dalam ingatan Elena.

Nicholas menarik napas panjang, lalu perlahan menjauhkan tubuh tegapnya. Ia tidak melepaskan Elena sepenuhnya, melainkan menggeser tangannya untuk menangkup lembut kedua pipi Elena, memaksa wanita itu untuk kembali menatap langsung ke dalam manik matanya.

"Maaf... aku tidak bermaksud mengingatkanmu pada kejadian malam itu, Elena," ucap Nicholas, suaranya mendadak melunak penuh kehangatan yang mendalam, sebuah ekspresi langka yang hanya ia tunjukkan pada wanita ini. "Aku kehilangan kendali karena melihat Kakek mencoba mendepak kita dari sini."

Elena menarik napasnya yang sempat tersengal, mencoba menguasai kembali detak jantungnya yang berantakan sebelum menatap Nicholas dengan senyuman miringnya yang khas. "Taktikmu di depan Kakek tadi terlalu nekat, suamiku. Mengumumkan kehamilan palsu di depan pria tua yang memegang kendali intelijen keluarga... itu sama saja dengan menyerahkan leher kita ke kapak algojo."

Nicholas terkekeh rendah—sebuah tawa renyah penuh pesona maskulin yang luar biasa memikat. Pria itu menuntun Elena untuk duduk di tepi ranjang mewah mereka, sementara ia sendiri berdiri bersandar santai pada tiang kayu di hadapan Elena.

"Kakek boleh saja memegang kendali intelijen, tapi dia sudah terlalu lama berada di luar negeri untuk menyadari bahwa seluruh laboratorium rumah sakit pusat Syailendra Group saat ini sudah berada di bawah enkripsi digital mutlak milikku," jawab Nicholas dengan senyuman miring yang terlihat sangat dingin dan kejam laksana serigala penguasa takhta.

Nicholas merogoh gawai pintar khusus miliknya dari saku celana. "Dua minggu lagi, saat tim medis Kakek datang untuk melakukan tes ultrasonografi dan draf cek darah, Bobi akan melakukan firewall bypass pada sistem komputer medis. Kita akan memalsukan draf laporan hasil laboratorium dan gambar janin itu dengan sangat rapi hingga tidak ada satu pun dokter di dunia ini yang bisa menemukan celahnya."

Elena Vance tertegun sejenak mendengarkan penjelasan taktik kontra-intelijen suaminya yang begitu terstruktur rapi. Debaran asmara asli yang sebulan ini ia coba sangkal di dalam hatinya, kini kembali meletup-letup dengan begitu hebat di dalam dadanya. Pria di hadapannya ini selalu memiliki benteng pertahanan yang tak tertembus untuk melindunginya dari kehancuran.

"Jadi, kita akan terus mempergelarkan drama kehamilan palsu ini sampai kapan, Tuan Nicholas?" tanya Elena sembari menyilangkan kakinya dengan anggun, menantang tatapan intens suaminya.

"Sampai Utama Group runtuh total besok pagi di pasar saham, dan sampai Kakek secara resmi menandatangani draf penyerahan saham warisan utama di hari ulang tahun dinasti Syailendra bulan depan," bisik Nicholas lirih, matanya berkilat memancarkan api ambisi yang membara. "Setelah takhta tertinggi berada di tangan kita, tidak akan ada yang bisa mendikte pernikahan kita lagi."

------------------------------

Keesokan paginya, badai perang bursa efek yang diprediksi oleh Nicholas benar-benar meledak mengguncang Kota Jakarta. Tepat pada pukul sembilan pagi, berita tentang manipulasi data proyek pelabuhan tiga tahun lalu yang sempat disebarkan oleh Siska dan Bram semalam mendadak hilang tanpa sisa dari seluruh platform media cetak dan digital nasional, dibungkam total oleh tim hukum Syailendra Group.

Sebaliknya, sebuah dokumen audit keuangan baru mengenai kebangkrutan tersembunyi Utama Group dirilis serentak ke publik.

Boom!

Dalam waktu kurang dari dua jam, saham Utama Group menukik tajam ke bawah hingga menyentuh batas Auto Reject Bawah (ARB) berturut-turut. Ratusan investor massal menarik modal mereka karena panik, membuat dinasti bisnis keluarga Clarissa Utama hancur berantakan di dasar jurang kehancuran.

Di dalam rumah utama keluarga Syailendra, suasana sore hari mendadak terusik ketika Nenek Syailendra melangkah masuk ke dalam ruang paviliun pengantin baru bersama dua pelayan senior yang membawa sebuah draf undangan mewah berwarna emas logam.

Tok! Tok!

Nenek Syailendra mengetukkan tongkat emasnya ke lantai marmer dengan satu ketukan keras, menatap bergantian ke arah Nicholas dan Elena yang sedang duduk di ruang tamu paviliun.

"Nicholas, Elena," panggil wanita tua itu, nadanya berat bercampur intrik yang sulit ditebak. "Kabar tentang kehamilan Elena sudah sampai ke telinga seluruh silsilah keluarga besar dewan komisaris. Untuk merayakan kesuksesan proyek perhiasan baru kalian sekaligus menyambut kehadiran calon cicit pertama keluarga... dewan keluarga memutuskan untuk mengadakan acara liburan akhir pekan bersama di Vila Puncak Syailendra mulai besok malam."

Nenek Syailendra menyipitkan matanya yang sedingin es langsung ke arah perut Elena. "Seluruh anggota keluarga besar, termasuk Clarissa Utama yang saat ini sedang mengemis bantuan dana darurat pada kita, akan hadir di sana. Ini adalah tradisi dinasti kita untuk menyucikan draf darah penerus baru di luar hiruk-pikuk kota."

Deg!

Elena Vance meremas pelan jemari tangannya di balik sofa, insting tajamnya langsung mendeteksi ada bau busuk jebakan kotor di balik undangan liburan keluarga yang mendadak ini. Nenek Syailendra dan sisa-sisa sekutu Clarissa pasti sengaja merencanakan liburan di tempat terpencil seperti Vila Puncak untuk menguji keaslian kandungan Elena menjauh dari perlindungan teknologi IT kantor pusat milik Nicholas.

Namun, sebelum Elena sempat membuka suaranya untuk menolak, Nicholas sudah lebih dulu menggenggam erat telapak tangan Elena yang mungil ke dalam genggamannya yang besar dan hangat. Nicholas menyunggingkan sebuah senyuman miring penuh pesona kemenangan yang terlihat sangat kejam di hadapan Neneknya sendiri.

"Kami akan dengan sangat senang hati menghadiri undangan liburan itu, Nenek," jawab Nicholas dengan suara beratnya yang penuh dengan kepastian mutlak. "Sampaikan pada Clarissa dan sisa keluarga yang lain... bersiaplah menyambut kami di sana."

Begitu Nenek Syailendra melangkah keluar meninggalkan ruangan, Elena langsung menoleh dengan pandangan mata yang menyipit tajam menatap Nicholas. "Nicholas! Kamu gila?! Vila Puncak itu adalah areanya Ardi dan ibunya! Pergi ke sana saat draf kehamilanku baru diumumkan... itu sama saja dengan berjalan masuk ke dalam sarang serigala yang kelaparan!"

Nicholas tersenyum miring—sebuah senyuman kejam namun penuh pesona maskulin yang luar biasa memikat. Pria itu menarik tubuh ramping Elena masuk ke dalam dekapan lengan kekarnya secara posesif, mengecup kening istrinya dengan begitu dalam. "Aku tahu itu sarang serigala, Elena. Makanya aku membawamu ke sana... karena aku ingin memastikan seluruh serigala di dalam rumah itu hancur berkeping-keping di bawah kaki kita di tengah kabut Puncak nanti malam."

Babak baru dari pertempuran maut di atas kertas emas kini telah resmi bergeser menuju area terisolasi di pegunungan, mengunci sepasang penguasa takhta dalam sebuah ketegangan intrik keluarga kelas atas yang jauh lebih berdarah, kejam, dan mematikan.

------------------------------

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!