"Bagaimana jika kau tahu rahasia kehancuran dunia, tapi kau tidak boleh memberitahu siapa pun?"
Di masa depan, Wei Changqing adalah legenda tertinggi dunia persilatan—sang Mata Pedang Hijau yang ditakuti sekaligus dihormati. Namun gelar itu tak ada artinya ketika ia berdiri di atas puing-puing dunia yang hancur oleh perang agung, memeluk jasad wanita yang setia menantinya hingga akhir hayat.
Mengorbankan seluruh tingkat latihannya, Changqing memutar balik roda waktu dan terbangun di dalam tubuh mudanya yang berusia 19 tahun. Kembali menjadi pendekar mentah yang belum memiliki reputasi apa pun.
Kali ini, tujuannya hanya satu: Mencegah perang berdarah itu terjadi dan menyelamatkan wanita yang ia cintai.
Namun, merubah takdir memiliki harga mahal. Setiap peristiwa yang ia cegah melahirkan musuh baru yang lebih mengerikan. Lebih buruk lagi, demi menyatukan sekte-sekte yang egois agar tidak saling berperang, Changqing mungkin harus menelan fitnah terbesar dalam sejarah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 : Badai Emas di Atas Arena
Dua hari berlalu dengan cepat. Arena Utama Lembah Anggrek kini dipenuhi oleh sepuluh ribu penonton yang berdesak-desakan di lima tingkat tribun untuk menyaksikan Babak Perempat Final 32 besar.
Di area tunggu Sekte Lembah Bambu Biru, Paman Guru Lin memeriksa kondisi fisik Chen Wu dengan wajah takjub.
"Ajaib sekali!" seru Paman Guru Lin sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Luka memar di organ dalammu yang seharusnya butuh waktu dua minggu untuk sembuh total... kini sudah lenyap tanpa bekas hanya dalam dua malam! Ramuan herbal apa yang kau oleskan kemarin malam, Changqing?"
Changqing yang sedang duduk bersila sambil mengelap pedang besi hitamnya hanya tersenyum tipis. "Hanya sedikit racikan akar es salju yang kebetulan saya temukan di pasar malam kota, Paman Guru."
Di sudut arena seberang, Shen Yue yang mendengar percakapan itu dari kejauhan menyembunyikan senyum tipis di balik lengan jubah putihnya. Ia merasa senang dan bangga salep pusaka sektenya bisa membantu perwakilan Lembah Bambu Biru kembali bertenaga penuh.
Tenggg!
Lonceng perempat final berdentang keras.
"Partai Ketiga Perempat Final Arena Barat!" seru wasit arena. "Chen Wu dari Sekte Lembah Bambu Biru melawan Luo Han dari Sekte Gunung Batu!"
Chen Wu melompat naik ke atas Arena marmer dengan tubuh yang terasa dua kali lipat lebih ringan dan segar berkat Salep Teratai Salju. Menghadapi lawan bergaya keras seperti Luo Han, Chen Wu tidak lagi memiliki keraguan.
Ia memadukan ketenangan Bambu Menunduk Badai dengan ketajaman serangan balik di titik simpul pernapasan lawan. Hanya dalam tujuh jurus yang sangat mengalir, pedang putih Chen Wu berhasil menyergap tenggorokan Luo Han dari sudut buta!
"Pemenang: Chen Wu! Lolos ke Babak 16 Besar!" seru wasit mengangkat bendera.
Sorak-sorai penonton kembali meledak. Sekte kecil itu kini benar-benar telah melampaui seluruh ekspektasi dunia persilatan!
Satu jam kemudian, giliran Wei Changqing naik ke atas arena.
Lawannya di perkempat final adalah jagoan pedang ganda dari Klan Macan Putih yang berada di puncak Pendekar Menengah Tahap 5.
Saat pertarungan dimulai, lawan melancarkan serang bertubi-tubi bagaikan badai pisau. Namun Changqing berjalan melewati celah-celah tebasan pedang ganda itu dengan langkah santai seolah sedang berjalan-jalan di kebun bunga rumahnya sendiri.
Slat!
Tanpa perlu mencabut pedang besi hitamnya dari sarung, Changqing hanya menggunakan ujung sarung kayunya untuk mengetuk persendian siku kanan musuh, lalu memutar bahunya menabrak dada lawan dengan kelembutan teknik penyaluran tenaga.
Bruk!
Lawan terlempar keluar dari garis arena dalam satu tarikan napas!
"Pemenangnya: Wei Changqing! Lolos ke Babak 16 Besar!"
Dua murid Lembah Bambu Biru resmi melaju ke daftar enam belas pendekar muda terbaik benua timur! Bahkan para ketua sekte besar di tribun kehormatan mulai berbisik-bisik menanyakan siapa guru yang mengajar di balik sekte terpencil tersebut.
Namun, pesta perayaan itu mendadak terkejut oleh gemuruh mengerikan yang meledak dari Arena Tengah.
Jdharrr!
Sebuah gelombang Energi keemasan yang yang dahsyat meledak menghancurkan lantai marmer di tengah lapangan utama. Seorang pendekar muda dari Sekte Harimau Besi terlempar melayang di udara dengan kondisi mengenaskan—kedua tulang lengannya patah remuk berdarah, dan dadanya terkoyak sangat parah!
Di tengah kepulan debu marmer yang hancur, berdiri Jiang Chen—murid jenius nomor satu dari Sekte Pedang Langit.
Jubah emas bermotif naganya berkibar garang. Pedang panjang berukir naga emas di tangannya memancarkan hawa penindasan mutlak dari tingkat Pendekar Tinggi Tahap 2. Ia menang di perempat final bukan hanya dengan mengalahkan lawannya, tetapi sengaja mematahkan tulang lawan untuk menyebarkan teror di arena!
Wasit Arena Tengah sampai bergetar suaranya saat mengibarkan bendera. "P-Pemenang: Jiang Chen dari Sekte Pedang Langit!"
Namun Jiang Chen tidak langsung turun dari arena.
Dengan dagu terangkat angkuh, pemuda berjubah emas itu memutar tubuhnya di tengah arena seluas empat ratus meter, lalu menodongkan ujung pedang naga emasnya lurus menembus keramaian—tepat mengarah ke wajah Wei Changqing yang berdiri di area tunggu barat!
Seluruh mata dari sepuluh ribu penonton di stadion seketika mengikuti arah tunjukan pedang emas Jiang Chen.
"Wei Changqing!" raungan suara Jiang Chen yang dialiri tenaga dalam bergemuruh menusuk telinga setiap orang di arena marmer. "Kemenangan-kemenangan kecilmu melawan kecoak kelas menengah tidak ada artinya di hadapanku!"
Jiang Chen melirik sengaja ke arah tribun Sekte Teratai Salju tempat Shen Yue duduk, lalu kembali menatap Changqing dengan senyum kejam.
"Sesuai bagan undian turnamen, kita berdua akan bertemu di Babak Semifinal besok pagi!" teriak Jiang Chen sombong. "Jika kau tidak berlutut menyerah sebelum naik ke arena besok... aku bersumpah akan menghancurkan keempat tulang mu di depan seluruh mata benua ini agar kau tahu perbedaan antara naga langit emas dan cacing lembah pedalaman!"
Arena marmer putih langsung bergemuruh heboh oleh sorak-sorai dan ketegangan yang mendidih! Provokasi terbuka antar kandidat juara telah dilancarkan di depan seluruh ketua sekte!
Di tribun timur, Shen Yue mengepalkan tangannya dengan wajah memerah, menahan marah melihat keangkuhan Jiang Chen yang begitu rendah dan merendahkan.
Di area tunggu barat, Zhou Hao dan Chen Wu menggertakkan gigi mereka.
Sementara itu, Wei Changqing tetap berdiri tenang di tempatnya dengan tangan kiri santai memegangi sarung pedang besi hitam kusamnya.
Ia menatap mata Jiang Chen di tengah lapangan. Wajah pemuda 19 tahun itu tidak menunjukkan kemarahan ataupun rasa takut sedikit pun. Sebaliknya, sudut bibir Changqing terangkat membentuk sebuah senyuman tipis yang teramat dingin—senyuman dari seorang legenda yang sudah melihat nasib seekor semut yang mencoba menantang gunung batu.
‘Kau ingin menghancurkan tulangku di semifinal besok, Jiang Chen?’ batin Changqing tenang. ‘Bagus. Aku juga butuh alasan resmi di atas arena untuk mematahkan sayap kesombongan Sekte Pedang Langit sebelum perang agung dimulai.’
lanjutkan Thor.....👍👍🙏