Bejo Mulyorejo pemuda berusia 18 tahun, dia hidup sendirian di Desa Krajan jauh dari hiruk-pikuk kota. Dia mendapatkan warisan dari leluhurnya menjadi Penggali Makam melanjutkan peninggalan sang kakek buyut.
Kehidupan sehari-hari Bejo terbilang cukup, dia selalu hemat dalam pengeluarannya. Walaupun sesekali dapat bantuan dari orang tak terduga tapi dia berusaha membuka usaha kecil-kecilan, akan tetapi perjalan panjang Bejo sedikit sulit.
Bukan kesulitan tentang kebutuhan tapi kesulitan dalam menghadapi segala penampakan setelah menggali makam, dia yang memiliki mata peka dan terbiasa dengan makhluk gaib namun dia juga memiliki rasa takut tersendiri.
Bagaimana kehidupan Sang Penggali Makam ini, kita lanjutkan dalam perjalanan panjangnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D.P. Auzora., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Entah Apa Ini
Stadion utama yang terletak di Kerinci lumayan jauh tapi perjalanan tidak sampai memakan waktu banyak. Di sana sangat ramai, berbagai macam jenis pedagang maupun pengunjung yang datang.
Bejo dan teman-temannya berjalan kaki mengitari stadion sebelum akhirnya pulang, setelah menghabiskan makanannya.
"Jo, pulang yuk!! Dingin banget malem ini," ucap Dinda.
"Iya habis ini pulang."
Bejo dan Dinda berjalan kaki menuju tempat parkir, setelah selesai mengitari luar stadion bersama teman-temannya. Kini mereka pulang bersama.
Namun perasaan waspada Bejo mulai terbangun, ia menatap kekanan lalu ke samping kiri. Perasaan tak nyaman terus menghantuinya, membuat Bejo lebih kencang membawa motornya.
Pertengahan jalan Bejo melihat sosok perempuan cantik berdiri sendiri di tepi jalan, ia hendak berhenti namun di urungkan. Bau anyir menyengat perlahan bersama bau busuk, membuat isi perut ingin keluar.
"Gak beres ini." Dalam hati Bejo.
Bejo terus melaju tanpa memperdulikan wanita di tepi jalan, ia terus melanjutkan perjalanan pulangnya. Jarot dan yang lain juga mengikuti Bejo, perasaan mereka merinding saat melewati jalan tersebut.
Saat sampai di Argapura mereka berhenti sejenak.
"Huh.. merinding bener lewat pohon besar tadi," seru Jarot.
"Iya lagi, mana bau busuknya bikin gak enak," imbuh Dirga.
Salsa dan Clara juga merasakan hal yang sama mereka turun membeli air mineral dan permen.
Tepat pukul 23.00 mereka semua melanjutkan perjalanan pulang kembali. Teman-teman Bejo berhenti karena beda dengan Salsa maupun Clara, sedangkan Bejo terus melanjutkan perjalanan menuju rumah.
"Din?," panggil Bejo.
"Hmm.."
"Kamu tidur?,"
"Ngantuk banget Jo. Udah sampai mana sih ini?,"
"Ini mau kerumahmu,"
Setelah sampai di depan rumah Dinda, Bejo ikut turun sebentar menunggu Salsa dan Clara yang katanya akan tidur di rumah Dinda. Saat mereka sampai Bejo berpamitan pulang.
"Pulang dulu ya Din?,"
"Iya Jo, hati-hati."
Bejo menyalakan motornya kembali lalu pulang.
Saat sampai rumah Bejo tidak masuk kedalam, ia berhenti sejenak merasakan sesuatu yang sejak tadi mengikutinya. Bulu kuduk meremang seketika disertai kulit yang merinding dingin, Bejo merasakan pandangan mata tajam ke arahnya.
"Sebenarnya apa yang anda inginkan dari saya?, sejak tadi terus mengikuti perjalanan pulang saya."
Bejo berkata lirih, tubuhnya bergetar menahan rasa takutnya.
"GRRRRHHHH"
Bejo semakin gemeteran setelah ia mendengar geraman tepat di belakangnya.
Bejo ingin menoleh tapi seluruh tubuhnya seperti tidak bisa di gerakkan sama sekali, hingga sosok perempuan cantik muncul dari dalam rumah Bejo.
Hempasan lembut membuat mahkluk gaib yang mengikuti Bejo ketakutan seketika. Sedangkan Bejo, ia semakin mematung melihat perempuan bisa menembus dinding rumahnya.
"Tak perlu takut," ucap sosok perempuan.
"Si-si-siapa kamu?.. ke-ke-kenapa ada di rumahku!!"
Bejo tergagap, rasa takutnya benar-benar nyata. Melihat seorang perempuan tiba-tiba datang dari tembok rumahnya.
Sosok perempuan cantik itu tersenyum, lalu hilang seketika. Hanya meninggalkan asap tipis mengepul di depan mata telanjang Bejo.
Bejo menelan ludahnya, mau melangkah rasanya sangat berat. Kedua kaki seperti ada beton menahannya, membuat Bejo tetap berdiri di teras rumah.
"Jo.. di panggil-panggil diem aja kamu."
Pak RT datang menepuk bahu yang di panggil diem saja sejak tadi.
"Astaghfirullahalazim pak RT.."
"Kenapa kamu?,"
Napas Bejo tersengal-sengal, keringat dingin dengan rasa takut yang masih ada di dalam jiwanya.
"Gak papa pak, cuman kaget aja."
"Hm.. dari tadi di panggil diem aja,"
"Maaf pak RT, saya enggak denger,"
"Besok warga desa mau bersih-bersih pemakaman, sekalian membantu karena terlihat sedikit lebat pohon-pohon nya,"
"Oke pak RT, besok saya akan ikut,"
"Ya sudah kalau begitu, saya pamit dulu."
Bejo memegang dadanya, dia memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan.
"Huh....."
Bejo dengan perlahan memasukkan motornya, setelah masuk ia duduk di ruang tengah dengan lampu di nyalakan. Bejo terdiam dengan pandangan kosong penuh pertanyaan, semua kejadian demi kejadian membuatnya sangat terkejut.
Untuk pertama dalam hidupnya, kejadian demi kejadian berturut-turut terus datang menghampirinya, entah apa yang membuat semua ini berubah tapi Bejo mendapatkan pelajaran dalam perjalanannya.
Dalam lamunan Bejo ada sepasang mata memandang penuh kesedihan nyata, ia tak bisa berterus-terang akan semuanya. Sosok perempuan cantik dengan pakaian china modern terlihat begitu menawan, tapi dia bukan manusia melainkan sosok arwah.
Sebuah manifestasi dalam kehidupan manusia yang masih tidak bisa meninggalkan dunia, kemungkinan terbesar ada sebuah perasaan ataupun pesan yang belum tersampaikan hingga arwah masih ada di dunia.
Bejo menutup pintu depan, lalu menghempaskan tubuhnya dalam ranjang usang. Ia memejamkan mata, merasakan rasa lelah letih untuk hari ini.
"Kenapa kamu belum tidur Intan?," tanya Marshanda.
"Gak bisa tidur aku ma," jawab Intan.
"Tumben gak bisa tidur!! Biasanya langsung hilang tiba-tiba,"
"Gak taulah ma,"
"Hmm.. ya sudah, jangan malam-malam segera tidur,"
"Iya ma."
Marshanda masuk kedalam kamarnya, meninggalkan sang putri yang masih terdiam dalam ruang tengah. Intan menyalakan televisi, lalu melihat foto di dalam ponselnya.
"Kak.. aku gak tau apa yang kamu suka dari pemuda ini!!, tapi aku bertemu dua kali dengannya."
Air mata Intan mengalir dalam kata memandang sebuah foto dalam layar ponselnya, ia merasakan kehilangan sosok sepupu yang selalu ceria kini pergi tanpa kembali.
Di balik kesedihan Intan ada yang memandang dari kejauhan, ia merasakan kesedihan yang sama seperti Intan saat ini. Dunia yang seharusnya masih lama, kini terpotong sudah sebab dari sang ayah.
Air mata penyesalan dalam arwah gentayangan belum sepenuhnya kembali, ia belum menyelesaikan urusan duniawi hingga membuat terjebak dalam di lema yang sama seperti masa hidupnya.
"Maafkan aku, semua ini bukan yang aku harapkan tapi sebuah karma yang di tinggalkan. Sebelum aku bertemu dengannya dan melihat apa yang sudah aku siapkan, diriku belum bisa sepenuhnya rela dalam kematianku."
Bayang-bayang putih samar dengan derai air mata kesedihan, ia terus memandangi Intan yang masih terdiam dalam memandang foto yang di kenalinya.
🌟 UNTUK SEMUANYA 🌟
Selamat membaca.
Terima kasih sudah mau membaca karya pertama saya. Semoga semuanya bisa menikmati karya saya ini, dalam hubungan yang rumit sekaligus penuh misteri.
Saya mau menyampaikan bahwa cerita ini hanya fiksi belaka jika ada nama yang sama, tempat, atau peristiwa apapun itu ketidaksengajaan semata.
📍PENTING
Novel ini khusus untuk yang sudah dewasa 18+. Untuk semuanya mohon bijak dalam membaca dan pastikan usia kalian mencukupi, semoga kalian nyaman dan suka.
Jika ada keliru dalam penerapan tanda baca dan lainnya mohon di maklumi karena saya memang baru terjun kedunia penulis, tapi saya juga akan belajar lebih giat lagi.
💌💌
Dukung karya saya dengan meninggalkan jejak di setiap babnya, Like, Comment, dan jangan lupa follow 😊.
🚧🚧
Info penting, bacalah di setiap babnya agar bisa memahami alurnya seperti apa. Jika melompati bab akan mempengaruhi alur cerita dan retensi tentang buku ini. Semoga kalian bisa memahami dan menikmati karya saya ini, semoga pesan saya ini tersampaikan dengan manfaatnya.
🌟 Selamat membaca dan menikmatinya 🌟
By: D.P. Auzora.
.•••••.