(Sequel terpisah Bukan Salah Jodoh)
Belum direvisi ⚠️
⚔️⚔️
Bagaimana jadinya, jika seorang mantan agen rahasia FBI, Jubir juga lawyer menjadi seorang singel parent untuk seorang bayi tampan tanpa identitas?
Inilah yang dialami dua pria muda tampan, Galaksi Renand Pradipta dan Gemintang Reynando Padipta.
Ketika memilih lepas dari dunia hitam yang membesarkan namanya, Black Brother ini harus kembali terjerat tanpa terikat. Bocah tampan ditinggalkan tergeletak begitu saja
Didepan rumahnya. Bagaimana kiranya, duo Pradipta ini akan menghadapi pase baru dalam hidup mereka. Menjadi singel parents tanpa
pernah mengalami yang namanya menikah terlebih dahulu.
⚔️⚔️
Baca Cerita Author yang lain juga :
1. Bukan Salah Khitbah (End)
2. Bukan Salah Jodoh (End)
4. Bukan Cinta Terencana (on going)
3. Bukan Dijodohkan ( on going)
5. Mistress (End)
6. Target Rasa Sang Cassanova (On going)
Follow IG Author juga @Karisma022 atau username Author @kaka shan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka Shan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17-Shoked
17-Shoked
"Aku shok bukan berarti tidak suka?!"-Gemintang Reynand Pradipta
****
Malam nampak pekat hari ini,tanpa hiasan bintang satupun dilangit. Ketika mobil mewah berwarna hitam itu memasuki pelataran rumah,jam tangan dipergelanganya sudah menunukkan pukul sebelas malam. Sambil menahan letih tiada tara,pria tampan itu keluar dari mobilnya. Membawa beberapa dokumen,sebelum mengaktifkan kunci mobilnya lewat sensor remot control digantungan kunci mobilnya.
Baru saja ia menginjakkan kakinya dirumahnya,setelah seharian ini bekerja dengan giatnya. Ada beberapa vendor besar yang menawari perusahaanya untuk bekerjasama. Oleh karena itu,ia sampai sampai harus lembuh karena meeting dadakan barusan. Ia bahkan rela membatalkan janji makan malamnya bersama Nau.
Hubungannya dengan dokter muda itu akhir akhir ini memang mulai membaik. Malahan bisa dibilang sangat amat lebih baik. Terakhir kali bertemu,mereka berdua bahkan sempat dinner berdua. Jika mengingat momen tersebut,Gemintang menjadi tersenyum-senyum sendiri. Rasanya terlalu mengembirakan jika diibaratkan.
Dengan senyuman tipis yang mengembang diwajah tampanya yang nampak letih. Dia melenggang memasuki hunian megahnya. Beberapa ruangan sudah nampak gelap,mungkin karena sudah tidak ada aktivitas jadi pencahayaanya dipadamkan. Tentu saja,karena ini sudah pukul sebelas malam.
Para maid sudah pulang empat atau lima jam yang lalu. Arini juga pasti sudah tidur dengan Astronot. Jika kakaknya,mungkin pria itu tengah sibuk ďengan tugas tuganya yang tiada habisnya. Namun,ada satu ruangan yang masih nampak terang yaitu dapur. Biasanya jam segini area tersebut sudah gelap gulit. Sensor pencahan dihampir selurih rumah inipun menggunakan sensor otomatis. Yang berarti,lampu akan tetap menyala jika sistem mendeteksi masih adanya kegiatan diruangan tersebut.
Karena penasaran,Gemintang memilih berbelok kearah dapur. Mencari taku alasan apa yang membuat sesnsor pencahayaan disana tetap aktif walaupun sudah tidak ada kegitan. Namun,baru satu langkah memasuki area dapur. Matanya sudah dibuat terbelalak sebesar mungkin.
Perisitwa dihadapan mata kepalanya sendiri sekarang ini terlalu membuatnya shoked. Sampai sampai dokumen yang dibawanya jatuh bertubrukan dengan lantai yang menimbulkan suara cukup nyaring.
"G-emi?" Kaget sang kakak-tersangka utama disana.
"Ap-a apaan barusan aku lihat itu,mataku sepertinya blur!" Ucap Gemintang asal.
"G-emi,barusan itu?"
"Ahk,ini sebenarnya ada apa? Apa aku berjalan sambil bermimpi sampai sampai melihat bang Galak-awww,sakit." Pekik Gemintang pada akhirnya.
Bukan dia yang mengubit tanganya,maupun pipinya. Melainkan lenganya yang terkena cubitan mautnya sendiri.
"Gemi,abang bisa jelaskan." Ujar Galaksi.
Walaupun dalam keadaan kepergok seperti ini,wajah flatnya tetap lebih mendominasi. Bahkan Arini saja yang disini seharusnya menjadi korban,terlihat sangat gelagapan.
Gemintang menatap kakaknya memincing. Matanya menatap keduanya bergantian disana. Wajah Arini bahkan sudah merah padam. Gadis itu hanya bisa berdiri dengan canggung,tanpa mengatakan sepatah kata apapun.
"Hm" Hembusan nafas gusar nampak terdengar darinya.
Sebenarnya,abangnya itu sudah cukup dewasa untuk mengatasi masalah ini. Hanya saja,karena sudah terlanjur kepergok kenapa lagi. Belum lagi,ia hafal betul tabiat sang kakak. Bisa bisa,pria berwajah datar itu mundur sebelum genderang perang dibunyikan.
"Jadi,apa yang mau abang jelaskan?"
Galaksi menatap adiknya dengan tatapan tak dapat diartikan. Sedangkan yang ditatap,sudah berjalan kearah meja makan dengan santainya.
"Arini,masuklah. Terimakasih untuk bantuanya." Itu bukan kata Gemintang,namun Galaksi.
Awalnya Arini merasa terkejut karena 'diusir' secara tiba tiba tersebut.
"B-baik tuan." Pamitnya undur diri,meninggalkan kedua tuanya tersebut.
Gemintang menatap kepergian Arini dengan alis bertaut,kemudian beralih kearah sang kakak yang terlihat biasa biasa saja dibalik wajah datarnya.
"Jadi,setelah berciuman abang mengusir dia pergi begitu saja?" Ada nada tidak suka didalam ucapanya tersebut.
"Aku bisa jelaskan!" Bantah Gemintang.
"Arini pasti merasa sebagai korban pelampiasan disini,ini tidak adil bang!"
"Gemi,iñi bukan tentang masalah adil atau tidaknya tap-"
"Itu firstkiss-nya abang kan?" Tanya Galaksi melenceng dari pembicaraan.
"B-ukan!"
"Oh,jadi bukan. Terus kapan?" Tanya Gemintang penasaran.
"Itu tidak penting."
Gemintang menggelengkan kepalaya spontan, "Justru itu penting bang,karena itu berarti abang harus bertanggung jawab sama perilaku abang."
"Tanggungjawab apa?" Bingung Galaksi.
"Gemi dengar,itu hanya spontanisan karena sebuah kehilafan. Tidak ada unsur lebih didalamnya." Tutur Galaksi menjelaskan.
"Benarkah?"
"Hm"
"Jelas,abang menabuh gendang perang dengan perasaan seseorang." Jeda sejenak,sebelum Gemintang beranjak dari tempatnya.
"Perasaan seseorang siapa yang tahu. Siapa tahu,karena hal sepele ini abang telah membuat perasaan seseorang berada diambang kebimbangan." Ujarnya sebelum benar benar melangkah pergi.
"Semoga saja abang mengerti." Gumam Gemintang sebelum benar benar pergi dari area dapur.
Galaksi menatap semangkuk mie yang tadinya akan menjadi penganjal perutnya,kini dengan tatapan nanar. Nafsu makanya entah menguap kemana. Hilang tanpa sadar,seiring dengan kenyangnya perutnya tanpa sadar.
Galaksi juga bingung dengan dirinya sendiri,
Kenapa bentuk spontanitasnya harus begini. Dia bisa gila sendiri,hanya karena terus dihantui rasa bersalah. Tapi entah kenapa,refleks yang diambilnya ketika dekat dengan wanita itu harus opsi yang ini. Bohong jika Galaksi juga tidak menyesal,ia bahkan lebih menyesal dari apa yang Gemintang tebak.
Ia memang tidak memiliki niatan untuk mempermainkan perasaan seseorang,terutama Arini. Ia juga tidak mau membuat wanita itu salahpaham hanya karena tindakan spontanitasnya. Entah mengapa,ia menjadi sulit mendalikan dirinya sendiri akhir akhir ini. Seperti ada kabut yang menutup netranya layaknya obat bius dibawah kendali kesadaran otaknya. Terkadang semuanya tak terkendali,ketika sebuah tindakan tak dapat dipungkiri. Mau bagaimana lagi,hati kembali akan tersakiti jika begini.
Diantara kebingungan yang ada,kesalahpahaman ini terlalu menyulitkan. Padahal ia sudah janji kepada diri sendiri,jika ia tidak akan menginkari janji. Janji untuk setiap sehidup semati dengan seseorang yang dicintai nanti. Bukan soal pelambiasan tiada berarti,dia juga tidak tahu rasa ini pasti.
Tapi pada akhirnya Galaksi akan kembali memilih menjadi dirinya sendiri lagi. Menjauhi segala sesuatu yang berhubungan dengan perasaan,demi menjaga kedamaian jiwa dan raganya. Karena pada dasarnya,ia memang belum mau bermain main dengan yang namanya perasaan.
"Jadi,kamu mau ambil cuti?" Suara Gemintang yang cukup keras itu tentu mampu ditangkap oleh gendang telinganya.
"Berapa hari?"
"Tujuh hari tuan."
"Tujuh hari,selama itu? Lalu Astronot bagaimana?"
"Saya sudah mempersiapkan segalanya dengan matang. Persedian ASI untuk Astronot juga sudah saya simpan dilemari pendingin."
"Memangnya kamu mau kemana?"
"Hungary."
"W-what?"
Galaksi bisa mendengarkàn percakapan mereka berdua tentunya. Walaupun ada dinding yang menghalangi aksesnya saat ini.
"Bertemu saudarimu?"
"Iya tuan."
"Lalu Fubuking,bagaimana?"
"Saya bisa menanganinya sendiri tuan."
Semenjak insiden sepekan yang lalu,Galaksi memang memutuskan untuk menciptakan jarak itu lagi. Jarak yang nampak nyata dibangunya,demi membentengi hati yang mulai goyah. Dia tidak boleh lengah,hatinya harus tetap berada didalam keadaan yang sama untuk menjaga loyalitas tujuan hidupnya.
Biarlah dia dikata bodoh karena selalu mengabaikan perasaanya. Toh,semua itu ia lakukan karena memang egonya mendukung sifatnya tersebut. Mungkin,sampai kapanpun ia tidak mau ada seorang wanitapun yang mengisi hatinya.
"Darimana kamu?"
Gemintang berhenti sejenak dari langkahnya. Pria tampan yang tengah mengendong Astronot itu menatap kakaknya sejenak.
"Bandara."
"Untuk apa?"
Gemintang menutar bola matanya malas.
"Mengantar Arini,Astronot pasti ingin mengantar mamanya bukan?"
"Hm"
"Abang kenapa gak ikut?"
"Kemana?"
"Bandara."
"Untuk apa,buang buang waktu."
Gemintang tersenyum misterius,kemudian tanganya bergerak untuk menggerakan tangan si ķecil Astronot.
"Papa Galak tidak tahu,kalau mama Arini akan pergi kemana?" Ujarnya sambil berlalu tanpa penjelasan detail berikutnya.
"Memangnya dia akan pergi kemana?" Bingung Galaksi.
Namun detik berikutnya,ia menggeleng keras. Menghalau semua rasa penasaran yang hampir menguasai benaknya. Untuk apa juga dia,toh ia tengah menghindari wanita tersebut.
****
TBC
Selamat pagi readers🖑🖑
Maaf jarang update,aku lagi badmood kemarin. Selain itu,aku juga lagi siapin part "Katalog Cinta" sequel pertama BSJ. Hayoo,udah mampir blumm🤗🤗
Wokeee,jangan lupa tinggalkan jejaknya readers. Bantu koreksi typo juga yoo🖑🖑
Ok,jumpa lagi dipart berikutnya💕
Sukabumi 05 Sept 2020
07.30
#curhat dikit