Pernah gak sih, kamu sayang banget sama seseorang, tapi demi menjaga hati dan prinsip, kamu terpaksa bersikap sedingin es ke dia?
Itu yang dirasain Zaza. Waktu hatinya mulai telanjur jauh sama Rayyan, dia milih buat mundur perlahan. Gak ada chat basa-basi, gak ada modus pengen ketemu. Semua rindu dan riuhnya perasaan cuma dia tumpahin di sepertiga malam, langsung ke Pemilik Hati.
Rayyan pun sama. Dia kelihatan cuek dan gak peduli, padahal aslinya lagi berjuang mati-matian nahan rasa demi sebuah komitmen. Akhirnya, mereka berdua terjebak dalam kesunyian, sama-sama ngira kalau cinta mereka cuma bertepuk sebelah tangan.
Saling menjauh, tapi saling mendekat lewat doa apa mungkin cara sedekat ini malah bikin mereka makin jauh selamanya? Atau justru, menjaga jarak demi ibadah bakal berujung pada akhir yang gak terduga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Muslihat di Balik Topeng Kebaikan
Kehadiran Ghea di Dafril Group ternyata bukan sekadar urusan profesionalitas kerja. Di balik senyum manis dan pembawaannya yang modis, ada bara ambisi lama yang bukannya padam, melainkan kian berkobar melihat sosok Rayyan yang sekarang. Bagi Ghea, Rayyan yang matang, berwibawa, dan penyayang adalah sosok pria idaman yang sempurna dan kenyataan bahwa posisi itu kini dimiliki oleh Zaza, seorang perempuan sederhana dari Dinoyo, membuat hatinya terbakar cemburu.
"Dia cuma beruntung," gumam Ghea sinis sembari menatap pantulan dirinya di cermin ruang rias apartemen mewahnya di kawasan Soekarno-Hatta. "Kak Rayyan itu milikku sejak dulu. Perempuan itu cuma merebutnya lewat jalur perjodohan orang tua."
Pikiran egois itu terus merongrong akal sehat Ghea hingga melahirkan sebuah rencana nekat. Jika di kantor Rayyan begitu membentengi diri dengan profesionalitas dan batasan mahram, maka Ghea harus menyerang dari dalam: masuk ke dalam ruang paling privat kehidupan mereka, yaitu rumah tangga mereka sendiri.
Sabtu siang yang cerah di Dinoyo dikejutkan oleh suara taksi yang berhenti tepat di depan pagar rumah asri milik Rayyan dan Zaza. Zaza yang saat itu sedang merapikan beberapa ikat bunga mawar sisa pesanan RayyZa Florest di teras, perlahan berdiri. Dari dalam taksi, turunlah seorang gadis dengan setelan kasual namun mewah, menjinjing sebuah koper besar dengan wajah yang sengaja dibuat layu dan penuh kesedihan.
"Assalamualaikum..." panggil gadis itu dengan suara bergetar, seolah-olah baru saja menahan tangis yang hebat.
Zaza melangkah mendekati pagar, tatapannya teduh namun tetap waspada. "Waalaikumussalam. Maaf, mencari siapa ya?"
Ghea mendongak, menatap Zaza lekat-lekat. Ini adalah pertama kalinya ia melihat langsung perempuan yang telah memenangkan hati Rayyan. Di balik pashminanya yang dikenakan Zaza, Ghea harus mengakui ada aura ketenangan yang sangat kuat, namun hal itu justru semakin memicu rasa irinya.
"Kamu... Zaza, ya? Istrinya Kak Rayyan?" tanya Ghea, aktingnya dimulai dengan air mata yang mulai mengenang di sudut mata. "Aku Ghea, Za. Rekan kerja Kak Rayyan di kantor. Aku... aku benar-benar minta maaf datang mendadak dan gak sopan kayak gini."
Zaza tersentak kecil mendengar nama itu. Ia teringat cerita Rayyan beberapa minggu lalu tentang kedatangan rekan kerja baru dari masa lalunya. Sebagai seorang istri yang cerdas, Zaza tidak langsung terpancing. Ia tetap menjaga ketenangannya, membukakan pagar sedikit, namun tidak langsung mempersilakan tamu itu masuk ke dalam ruang privatnya.
"Oh, Mbak Ghea. Iya, Mas Rayyan pernah bercerita tentang Mbak," ucap Zaza dengan nada suara yang tetap santun dan tertata indah. "Ada keperluan apa ya, Mbak? Mas Rayyan kebetulan sedang keluar sebentar ke masjid untuk persiapan salat zuhur."
Ghea tiba-tiba memegang kedua tangan Zaza dengan raut wajah putus asa, seolah-olah Zaza adalah satu-satunya penolongnya di dunia ini. "Za, aku mohon tolongin aku... Aku benar-benar gak tahu harus ke mana lagi di Malang ini. Apartemenku baru saja mengalami korsleting listrik parah semalam dan semua fasilitasnya mati total. Mau pulang ke Jember pun gak mungkin karena jadwal kerjaan di Dafril Group lagi padat-padatnya."
Ghea mengembuskan napas panjang, berpura-pura menyeka air matanya. "Aku mau cari hotel, tapi semua barang dan dompetku tertinggal di dalam apartemen yang masih disegel untuk pemeriksaan keamanan. Aku cuma sempat bawa koper baju ini. Aku... boleh gak, Za, aku numpang tinggal di sini beberapa hari saja? Sampai urusan apartemenku selesai? Aku gak akan merepotkan, kok. Tolong aku, Za..."
Mendengar permohonan itu, batin Zaza bergejolak. Sifat dasarnya yang selalu diajarkan untuk menolong sesama dan memuliakan tamu berbenturan dengan intuisi tajamnya sebagai seorang wanita. Ada sesuatu yang terasa ganjil dari sorot mata Ghea sebuah kilatan yang tidak sinkron dengan air mata keputusasaan yang ditunjukkannya.
Sebelum Zaza sempat menjawab, suara langkah kaki yang tegas terdengar dari arah gang. Rayyan berjalan mendekat dengan baju koko dan sajadah yang tersampir di bahunya. Langkahnya seketika terhenti total saat melihat sosok Ghea berdiri di teras rumahnya bersama sang istri, lengkap dengan sebuah koper besar.
"Ghea? Sedang apa kamu di sini?" tanya Rayyan, nadanya berubah menjadi sangat dingin dan tegas, tidak menyembunyikan rasa tidak sukanya sama sekali.
Ghea langsung berbalik, mengubah ekspresinya menjadi semakin melas. "Kak Rayyan... tolongin aku, Kak. Apartemenku kebakaran kecil semalam, semuanya rusak dan disegel. Aku gak punya tempat tinggal sekarang di Malang. Aku gak tahu harus minta tolong ke siapa lagi selain ke Kakak dan Zaza."
Rayyan tidak langsung menjawab. Ia melangkah maju, memosisikan dirinya berdiri di depan Zaza, seolah menjadi perisai hidup untuk melindungi istrinya dari bahaya apa pun. Tatapan matanya yang tajam menatap Ghea tanpa ada rasa iba sedikit pun. Di atas hamparan sajadah sepertiga malamnya belakangan ini, Rayyan telah meminta kepekaan hati untuk menjaga keutuhan rumah tangganya dari segala bentuk fitnah dunia luar.
"Ghea, kalau urusan apartemen atau masalah pribadimu, kamu bisa minta bantuan ke bagian HRD kantor atau sekretaris Papa untuk dicarikan fasilitas hotel sementara. Dafril Group punya banyak jaringan," ucap Rayyan dengan kalimat yang sangat lugas, memotong tipis-tipis harapan Ghea. "Rumah ini adalah ruang pribadi saya dan istri saya. Tidak ada tempat untuk orang luar, apalagi perempuan yang bukan mahram, untuk tinggal bersama kami di sini. Itu melanggar batasan yang kami jaga."
Wajah Ghea seketika memucat mendengarkan penolakan yang begitu telak dan berjarak dari Rayyan di depan mata Zaza. "Tapi Kak... cuma beberapa hari—"
Zaza perlahan menyentuh lengan kemeja Rayyan, sebuah isyarat lembut yang langsung membuat suaminya itu meredakan ketegangannya. Zaza menatap Ghea dengan sebuah senyuman kecil yang sangat tenang, namun sarat akan ketegasan yang tak goyah oleh air mata palsu.
"Mbak Ghea, apa yang dikatakan Mas Rayyan benar," sambung Zaza, suaranya mengalun tenang namun terasa begitu menusuk ke dalam ego Ghea. "Bukannya kami tidak mau menolong, tapi kami harus menjaga keberkahan rumah tangga kami dari fitnah. Mengenai akomodasi Mbak, Mas Rayyan bisa membantu menghubungi pihak kantor sekarang juga untuk memesankan kamar hotel terbaik di dekat kantor agar Mbak tetap bisa bekerja dengan nyaman. Tapi untuk tinggal di sini... maaf, pintu rumah kami hanya terbuka untuk keluarga."
Ghea terdiam membisu, jemarinya yang meremas pegangan koper bergetar karena rasa malu berbaur dengan amarah yang tertahan. Muslihat pertamanya runtuh total sebelum sempat melintasi pintu rumah Dinoyo. Topeng kebaikan yang ia pasang ternyata sama sekali tidak mempan menghadapi benteng keteguhan prinsip yang dimiliki oleh pasangan Penyulam Aksara ini.
"Baiklah kalau begitu... maaf sudah mengganggu waktu kalian," ucap Ghea dengan nada ketus yang akhirnya keluar, tidak bisa lagi menyembunyikan kepalsuannya. Ia berbalik kasar, menarik kopernya pergi meninggalkan halaman rumah dengan hati yang kian dipenuhi dendam.
Rayyan mengembuskan napas lega, lalu berbalik menatap istrinya. Ia menggenggam kedua tangan Zaza dengan erat. "Maafkan aku ya, Za. Masa laluku malah datang membawa ketidaknyamanan ke rumah kita."
Zaza tersenyum sangat tulus, menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak apa-apa, Mas. Justru dari sini kita belajar, bahwa membatasi rasa dan menjaga jarak bukan cuma tugas kita di masa lalu sebelum menikah, tapi adalah perjuangan seumur hidup untuk menjaga rida Allah atas ikatan suci ini."
Rayyan membawa Zaza ke dalam pelukan hangatnya di bawah langit siang Dinoyo. Muslihat dari luar boleh saja datang silih berganti untuk menghancurkan, namun selama sajadah sepertiga malam dan prinsip menjaga batasan tetap tegak berdiri, lembaran baru rumah tangga mereka tidak akan pernah bisa terusik oleh bayang-bayang masa lalu mana pun.
beruntung kalo perjodohan itu mengarah kesana 😙
bikin abang rayyan bingung
si eneng berada dijalur lain sih 😁
. sampai kamu gak bisa meninggalkan sholat hehe