NovelToon NovelToon
Dibuang Di Jalan Tol, Mantan Suami Memohon Ampun

Dibuang Di Jalan Tol, Mantan Suami Memohon Ampun

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / CEO / Tamat
Popularitas:40.1k
Nilai: 5
Nama Author: Hadid Salman

Hanya karena latar belakangnya yang miskin, Naya selalu menjadi keset kaki di rumah suaminya, Reza. Puncaknya, Ningsih—sang ibu mertua—menuduh Naya mencuri uang puluhan juta rupiah. Tanpa mau mendengarkan penjelasan, Reza yang telanjur murka menurunkan Naya begitu saja di pinggir jalan tol yang sepi dan gelap.
Mereka tidak tahu bahwa Naya bukanlah wanita lemah tanpa kuasa. Di balik penampilannya yang sederhana, Naya adalah pewaris tunggal konglomerat yang sedang menyamar.


Langkah demi langkah, Naya mulai membalas. Mulai dari membekukan rekening, memecat Reza dari posisinya di perusahaan, menyita mobil, hingga mengusir mertuanya dari rumah mewah yang ternyata dibeli dengan uangnya. Di saat Reza dan Ibunya jatuh miskin dan mengemis di jalanan, sebuah kebenaran pahit terungkap: pencuri asli uang Ningsih adalah bukan Naya Saat penyesalan datang, pintu maaf Naya sudah tertutup rapat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid Salman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Konfrontasi dan Pengakuan Pahit

Malam merayap turun seperti cairan hitam yang pekat, menutupi langit pinggiran kota dengan selimut jelaga yang pengap. Gerimis tipis yang turun sejak sore tidak membawa kesejukan; ia hanya mengubah debu jalanan menjadi lumpur tipis yang lengket, menguapkan bau bensin eceran dan karat dari bengkel-bengkel liar di sepanjang jalan besar.

Reza Adijaya berjalan bagai bayangan yang lepas dari raga. Matanya yang merah bengkak menatap liar ke setiap sudut warung remang-remang, ruko-ruko kusam, dan gang-gang sempit yang dipenuhi pemuda tanggung. Ia tidak lagi peduli pada sandal jepitnya yang putus sebelah, atau kemeja usangnya yang basah oleh keringat dingin dan air hujan. Di dalam kepalanya, rekaman video berdurasi beberapa detik dari kamera pengawas Pak Joko berputar tanpa henti, membakar setiap jengkal sarafnya dengan api murka yang menuntut kepuasan.

Andi...

Nama itu kini terdengar seperti kutukan paling menjijikkan di telinga Reza.

Kakinya membawa Reza ke sebuah area di belakang pasar tradisional yang setengah terbengkalai. Di sana, di antara deretan ruko tua yang dindingnya dipenuhi coretan piloks, terdapat sebuah warung internet (warnet) bawah tanah yang merangkap sebagai tempat berkumpulnya para pelaku judi daring—sebuah dunia kelam yang baru belakangan ini Reza ketahui sebagai tempat persembunyian keponakan kesayangannya.

Aroma asap rokok murahan yang menyengat, uap mie instan, dan hawa panas dari mesin komputer langsung menyergap wajah Reza saat ia mendorong pintu tripleks yang lapuk. Di dalam ruangan yang remang-remang oleh pendar layar monitor, belasan pria duduk dengan mata terpaku pada grafik-grafik warna-warni yang naik turun.

Dan di sudut paling belakang, duduklah sosok yang ia cari.

Andi sedang bersandar di kursi plastik merah, matanya yang cekung menatap layar dengan intensitas yang gila. Jemarinya yang biasanya memegang tasbih kini menari liar di atas papan tik, sesekali meraba saku celananya yang tampak menggembung. Di samping keyboard-nya, tergeletak kantong beludru hitam yang sangat Reza kenal—kantong milik Ningsih.

Darah Reza mendidih seketika, naik ke ubun-ubunnya dengan kecepatan yang mengerikan. Ia melangkah lebar, mengabaikan tatapan heran dari beberapa pengunjung warnet. Sebelum Andi menyadari kehadirannya, Reza telah menjangkau kerah kemeja koko putih yang dikenakan keponakannya itu.

"Brengsek!"

Brak!

Dengan kekuatan yang lahir dari akumulasi rasa frustrasi berminggu-minggu, Reza menyentakkan tubuh Andi ke belakang hingga kursi plastik itu terbalik menghantam lantai semen. Tubuh ringkih Andi jatuh berdebam, kepalanya membentur meja komputer dengan keras hingga mengeluarkan rintihan kesakitan.

"P-Paman Reza?!" pekik Andi, matanya membelalak panik saat melihat wajah tirus pamannya yang kini tampak seperti iblis yang haus darah. Sifat santun dan teduh yang biasa ia pajang runtuh seketika, digantikan oleh kepanikan yang liar. "Paman... apa-apaan ini?! Kenapa Paman memukulku?!"

Reza tidak menjawab dengan kata-kata. Ia merunduk, mencengkeram kerah kemeja Andi dengan kedua tangannya, mengangkat tubuh pemuda itu dan menghempaskannya ke dinding batako yang berdebu.

"Di mana emas-emas Ibu, Andi?! Di mana?!" raung Reza, suaranya parau dan bergetar hebat. "Aku melihatmu! Aku melihatmu di rekaman kamera Pak Joko kemarin malam! Kamu keluar dari kontrakan kami membawa barang berharga Ibu!"

Wajah Andi mendadak pucat pasi, pucat seperti kertas yang disiram air. Ia mencoba menatap ke sekeliling warnet, berharap ada orang yang membantunya, namun para pengunjung warnet lainnya justru mundur perlahan, tidak ingin ikut campur dalam urusan keluarga yang tampak berbahaya ini.

"Paman... dengarkan aku dulu... aku... aku terpaksa..." Andi terbata-bata, tangannya yang gemetar mencoba melepaskan cengkeraman Reza yang sekeras catok besi. "Aku hanya meminjamnya, Paman! Aku akan mengembalikannya setelah aku menang malam ini! Tolong lepaskan aku!"

"Meminjam?!" Reza tertawa getir, tawa yang terdengar sangat mengerikan di tengah kesunyian ruangan yang tegang itu. Ia melayangkan satu tinjuan keras tepat ke arah rahang Andi.

Bugh!

Kepala Andi tersentak ke samping, darah segar mulai merembes dari sudut bibirnya yang pecah. Tubuhnya luruh ke lantai semen yang kotor. Reza menginjak dada Andi dengan kaki telanjangnya yang berlumpur, menekan paru-paru pemuda itu hingga Andi megap-megap kehabisan napas.

"Kamu mencuri dari bibimu yang sudah tua renta! Kamu membiarkan kami kelaparan, berjalan kaki sejauh puluhan kilometer demi mencari uang beras, sementara kamu bersenang-senang di sini dengan uang hasil gadaian?!" teriak Reza, air mata kemarahan akhirnya luruh membasahi pipinya yang kotor oleh debu jalanan. "Di mana perhiasan itu sekarang?!"

"S-Sudah kugadaikan, Paman... di pasar loak... uangnya sudah habis untuk deposit judi..." ratap Andi di sela-sela napasnya yang tersumbat. "Ampun, Paman... ampuni Andi..."

Mendengar bahwa perhiasan ibunya—satu-satunya harapan terakhir mereka untuk bertahan hidup—telah musnah menjadi angka-angka digital di situs judi, dada Reza terasa seperti dipalu godam. Rasa sakit fisik akibat kemiskinan tidak ada apa-apanya dibanding rasa dikhianati oleh orang yang selama ini mereka agungkan di atas altar kesalehan.

Namun, di tengah gelombang amarahnya, sebuah ingatan buruk yang selama ini terkunci di dasar alam bawah sadarnya mendadak mendobrak paksa pintu kesadarannya. Ingatan tentang pagi yang dingin tiga minggu lalu. Tentang amplop cokelat berisi uang lima puluh juta rupiah yang hilang dari laci meja rias ibunya di Menteng.

Reza membeku sejenak. Ia menatap wajah Andi yang kini penuh darah dan ketakutan. Struktur wajah itu... ekspresi panik yang sama dengan ekspresi Andi saat pertama kali menunjuk Naya sebagai pencuri pagi itu.

"Andi..." bisik Reza, suaranya mendadak berubah menjadi sangat pelan, namun getarannya jauh lebih menakutkan daripada teriakannya tadi. Ia berjongkok, mencengkeram rambut Andi dan menariknya ke atas hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter. "Uang lima puluh juta milik Ibu... uang arisan tiga minggu lalu di Menteng..."

Andi membelalak, mencoba menggelengkan kepalanya dengan liar. "Bukan aku, Paman! Demi Allah, itu bukan aku! Itu Bibi Naya yang mengambilnya! Paman sendiri yang melihat buktinya!"

"Bohong!" Reza menampar wajah Andi sekali lagi, membuat kepala pemuda itu terantuk lantai semen yang dingin. "Naya tidak pernah menyentuh kamar Ibu! Hanya ada kamu di rumah hari itu! Katakan padaku yang sebenarnya, Andi! Katakan, sebelum aku benar-benar membunuhmu di tempat kotor ini!"

Reza merogoh saku celananya, menarik keluar pecahan botol kaca yang ia temukan di jalan tadi, mengarahkannya tepat ke depan mata Andi yang melebar ketakutan. Ujung kaca yang tajam itu berkilau dingin di bawah lampu neon warnet yang berkedip.

"Katakan!" raung Reza, jiwanya telah benar-benar lepas dari kendali akal sehat.

"Iya! Iya, Paman! Aku yang mengambilnya!" teriak Andi histeris, air matanya bercampur dengan darah di pipinya. Ia memejamkan mata rapat-rapat, tidak sanggup menatap ujung kaca tajam di tangan pamannya. "Aku yang mengambil uang lima puluh juta itu dari laci Bibi Ningsih subuh itu! Aku butuh uang untuk membayar utang lintah darat yang mengancam akan memotong kakiku!"

Andi menangis tersedu-sedu, seluruh pertahanannya runtuh sepenuhnya.

"Aku sengaja menaruh seprai kotor di dekat laci agar Bibi Ningsih mengira Bibi Naya yang masuk ke sana! Aku yang menyarankan Bibi Ningsih untuk memeriksa laci hari itu! Aku melakukan semuanya, Paman! Tapi Bibi Naya memang pembawa sial, dia pantas disalahkan! Aku hanya memanfaatkan kebodohan kalian yang selalu membenci dia!"

Kata-kata Andi yang mengalir lancar dari mulutnya yang berdarah dirasakan Reza bagai ribuan jarum beracun yang ditusukkan langsung ke dalam otaknya.

Aku yang mengambilnya... Aku hanya memanfaatkan kebodohan kalian...

Dunia di sekeliling Reza mendadak sunyi senyap. Gendang telinganya berdengung hebat. Cengkeramannya pada rambut Andi perlahan melonggar, membiarkan kepala keponakannya itu jatuh kembali ke lantai semen. Pecahan botol kaca di tangannya terlepas, berdenting pelan saat menyentuh lantai.

Reza terduduk lemas di atas semen yang kotor.

Di dalam kegelapan batinnya, sebuah tirai besar baru saja dibuka secara paksa, memperlihatkan kebenaran yang begitu kejam hingga membuat jiwanya hancur berkeping-keping.

Naya tidak bersalah.

Wanita yang telah mendampinginya selama tiga tahun dengan ketulusan yang murni... wanita yang selalu menerima caci maki ibunya dengan kepala tertunduk patuh... wanita yang ia tampar hingga sudut bibirnya berdarah... wanita yang ia dorong keluar dari mobil dan ia buang di bahu jalan tol KM 26 yang gelap gulita di tengah malam...

Dia sama sekali tidak bersalah.

Dia adalah korban dari konspirasi murahan seorang parasit judi daring, yang dibungkus oleh kesombongan buta dan prasangka buruk kelas sosial dari dirinya dan ibunya sendiri.

"Naya..." bisik Reza, suaranya begitu tipis, hilang tertiup angin malam yang menyusup lewat celah pintu warnet.

Seketika itu juga, paralel karma menghantam dadanya dengan kekuatan penuh, memicu rasa sesak yang luar biasa hingga ia merasa ingin mati saat itu juga. Untuk menuduh Naya dulu, ia tidak memerlukan bukti apa pun selain ego laki-lakinya yang terluka dan kepongahan keluarganya. Namun kini, alam semesta menyuguhkan kebenaran yang begitu telanjang dan menyakitkan, tepat di saat mereka telah kehilangan segalanya dan membusuk di dalam lumpur kemiskinan.

Reza menatap telapak tangan kanannya—tangan yang sama yang ia gunakan untuk menampar pipi Naya subuh itu. Tangan itu kini kotor oleh lumpur, bergetar liar, dan terasa begitu menjijikkan di matanya sendiri.

Ia telah membuang seorang bidadari yang tulus melindunginya, demi memelihara seekor ular berbisa yang kini telah menguliti keluarganya hingga telanjang bulat tanpa sisa.

Di lantai semen, Andi masih meringkuk menangis meratapi rasa sakitnya. Namun bagi Reza, keberadaan Andi kini tak lebih dari sekadar monumen dari kebodohannya sendiri yang tak termaafkan. Penyesalan yang teramat sangat merayap naik dari ulu hatinya, mencekik lehernya, dan membakar habis sisa-sisa kewarasan yang ia miliki sebagai seorang Reza Adijaya.

1
Punkpunk 234
baru mulai ikutan baca.. udah ikut esmosi ..🤭
Iis Istiyani
suka.. tdk bertele-tele ceritanya
Pardjan Yono
mantab cerita ini , author keren tanpa basa basi, sayang nya selama penyamaran tanpa ada komunikasi ke perusahaan secara visual
Hartini Donk
makin runyam dan membagongkan.diulang ulang teross....rasanya mau kbor ini...
A.R
ceritanx keren,lngsung sat set,,biasanx ada pelakornx klau ini ngk ada cuma berurusan sama mantan suami dan mantan mertua 👍
A.R
seharusnya panggil KK atau Abang jgn paman kn keponakan emaknx
falea sezi
suka novel sat set gini g menye🤭
Margaretha Yenny
kalau panggil ningsih bibi, panggil reza ya abang atau kakak dong bukan paman, kan reza anak nya ningsih bukan suami nya nibgsih
Punkpunk 234: naa kaann.. jadi amburadul 😆..
total 1 replies
Thewie
novel tercepat dan terseru yg aku baca🙏
sunaryati jarum
🤣🤣🤣 rasain kesombongan dan keangkuhan kamu dan ibumu Reza
sunaryati jarum
Kok banyak cerita seperti ini, karena saking cintanya atau menguji kesetiaan pasangan
Grey Casanova: ceritanya pasaran dong kak🤭🤭
total 1 replies
sunaryati jarum
Baru mampir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!