Demi rasa iba, Arhan menikahi Dira, seorang gadis yatim piatu yang baru kehilangan kedua orang tuanya. Dira mengira pernikahan itu adalah awal dari kehidupan yang penuh kasih sayang. Nyatanya, ia hanya dijadikan istri untuk mengurus rumah, melayani suami, dan merawat ibu mertuanya.
Lima tahun berlalu tanpa kehadiran buah hati. Dira terus menyalahkan dirinya karena dianggap mandul. Ia tak pernah tahu bahwa setiap hari Arhan memberinya pil KB yang dikemas sebagai obat penyubur agar ia tak pernah mengandung.
Ketika alasan "mandul" itu digunakan Arhan untuk menikahi wanita yang sejak dulu dicintainya, hati Dira hancur. Lebih menyakitkan lagi, ia tak sengaja mendengar percakapan yang mengungkap bahwa selama ini dirinya hanyalah seorang babu yang sengaja dipertahankan sampai wanita pujaan Arhan kembali.
Namun, semua kebohongan memiliki waktunya untuk terbongkar. Saat rahasia pil KB akhirnya terungkap, penyesalan mulai menghantui Arhan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon peony_ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anggap Saja Sebagai Ibu Lara
"Ma, Dira hanya Arya anggap sebagai adik."
"Dira..." Panggil Bu Mira yang sontak membuat Dira dan Lara menoleh.
Kalimat yang Arya katakan menggantung begitu saja diatas langit-langit rumah. Tidak didengar dan hanya dianggap angin lalu saja oleh Bu Mira.
"Tante..." Dira menoleh, ia melihat keberadaan Bu Mira dan Arya yang sedang berdiri disana.
"Oma..."
"Mas Arya, sejak kapan kalian disana?" tanya Dira lembut.
Arya menggaruk tengkuknya, fokusnya teralihkan dengan wajah yang begitu hangat sore ini, kecantikan Dira mampu membuatnya merasa kikuk dan salah tingkah. Arya menggaruk tengkuknya yang tidak terasa gatal. "Emh...Ra. Mas baru dateng barusan." jawab Arya terkesan gugup.
Bu Mira tersenyum, ia sadar jika putranya itu sedang gugup.
Bu Mira berjalan pelan ke arah Dira dan Lara, senyum hangat masih mengembang pada wajahnya yang masih terlihat cantik di usianya yang sudah mencapai setengah abad lebih.
Arya mulai merasakan atsmosfer yang lebih hangat dari biasanya, di lorong dingin rumah mewahnya itu, jantungnya ikut berdetak kencang, sudah menebak kejadian apa yang akan terjadi selanjutnya. Lagi-lagi sorot mata tajam itu melirik wajah Dira yang sedang tersenyum pada Bu Mira, senyuman dengan binar mata yang masih tetap sama. Dan Arya sangat merindukan itu.
"Lara sayang, besok Lara tidak usah merasa sedih. Karena besok tante Dira akan temani Lara waktu tampil di pentas seni." ucap Bu Mira begitu saja.
Dira melebarkan kedua matanya, pasalnya ia bukan keberatan untuk menemani Lara. Tapi kabar ini sangatlah tiba-tiba.
"Ra.." Bu Mira melirik ke arah Dira. Sorot matanya yang teduh memandangi wanita yang sudah ia anggap sebagai putrinya.
"Iya, Tante? Emang boleh Dira yang temenin?" Dira melirik Arya sekilas, takutnya Arya merasa keberatan untuk membawa Dira datang ke sekolah Lara.
"Boleh sekali, kata siapa gak boleh. Ternyata Tante besok ada undangan dari rekan kerja tante, kamu temenin Lara ya sama Arya"
Tatapan Dira beralih pada Arya, seolah ia bertanya apakah ia boleh untuk pergi bersamanya, beberapa detik kemudian, binar mata itu menangkap anggukan samar dari Arya.
"Iya boleh tante, Dira akan temenin Lara..." Dira seraya menganggukkan kepalanya sopan.
"Tante seneng banget, makasih ya Ra."
"Sama-sama Tante."
"Kalau gitu, Tante tinggal dulu kedepan ya."
Dira mengangguk dengan senyum yang tetap mengembang diwajahnya.
"Lara, gak usah sedih lagi ya. Besok anggap saja tante Dira ini sebagai ibu Lara.."
Deg.
Kalimat itu begitu terasa mengalun dari bibir Mira, bagai hembusan angin dingin yang bisa membuat seseorang membeku, seperti Arya dan Dira yang terpaku ditempat dengan mata yang terbuka lebar.
Bu Mira tersenyum miring, "Mama becanda kalian serius banget, apa mau dianggap serius juga gapapa, dengan senang hati. Kalian udah pada dewasa ternyata." Bu Mira disertai dengan kekehan kecil, meninggalkan dua manusia dalam posisi yang dipenuhi oleh kecanggungan.
"Tante jadi ibu Lara boongan?" Lara menatap Dira dan Arya bergantian, ia belum paham dengan apa yang dua manusia itu rasakan.
Arya menghela nafas ringan, sorot mata yang berseri itu tertuju pada putri kecilnya. Langkah panjang itu kembali berjalan dan semakin dekat ke arah Dira dan Lara. "Papa kangen putri kecil papa." Arya kini berada disamping Dira yang sedang menggenggam erat tangan mungil Lara. Arya menundukkan tubuhnya dan mencium kedua pipi gembul Lara.
Dira masih berdiri canggung disana. Batinnya terus berteriak karena rasa yang begitu canggung dengan Arya.
"Yaudah, ayok kita main di dalam. Sama tante Dira juga." Lara menarik tangan Dira untuk masuk kedalam kamarnya yang sangat luas, bernuansa pink dan terdapat play ground mini didalamnya.
Tapi. Dukk.
Kening Dira menghantam keras bahu Arya. Tarikan tangan Lara bersamaan dengan Arya yang kembali menegakkan tubuhnya.
Tidak terlalu sakit, hanya bikin kaget saja saat tangan besar itu menangkup pada kepala Dira. Gerakan refleks Arya.
"Gapapa Ra? mana yang sakit?" Arya dengan tangan yang menangkup pada kedua pipi Dira, rasa hangat dari kulit pipi Dira kini mulai menyerap pada telapak tangannya yang lebar.
"Engga mas, ga ada yang sakit kok." Dira seraya menggelengkan kepalanya.
Binar mata indah itu bertubrukan langsung dengan sorot mata yang tajam, lama saling pandang. Seolah keduanya saling menyelami netra indah didepannya. Arya sadar adik kecil yang kini dihadapannya bukan lagi anak ABG berponi yang menggemaskan, gadis kecil itu telah tumbuh menjadi wanita cantik dengan tutur kata yang halus serta kebaikan yang sangat tulus.
Begitupun Dira, bukan lagi wajah remaja Arya yang ia lihat, melainkan wajah seorang pria dewasa yang sudah matang dengan sorot mata yang selalu sama saat menatapnya. Wajah Arya yang terlihat lebih tampan dengan aura kebapak annya.
Lama saling tatap, akhirnya membuat Arya sadar dan menurunkan melepaskan tangannya dengan perlahan. "Maaf mas tadi gak sengaja."
Dira terkekeh pelan untuk lebih mencairkan suasana. "Santai aja mas, gak ada yang sakit kok."
"Maaf tante..."
"Gapapa sayang, ayok masuk Lara mau main apa?" tanya Dira lembut.
"Mas..." Dira memberi kode agar Arya masuk duluan kedalam kamar milik Lara.
"Kamu duluan.." Arya menarik dirinya, memberi sebagian tempat untuk Dira lewat.
Bersambung
Jangan lupa like ya readers 🤩
Author mohon dukungannya.