NovelToon NovelToon
Takdirku Bersama Suami Mafiaku

Takdirku Bersama Suami Mafiaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Penyesalan Suami / Balas Dendam
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: PUTRI

Zara, gadis sederhana dan polos, dipersatukan dengan Adrian Romanov — pria dingin berkuasa yang membuat hidupnya benar-benar menderita. Dituduh, disakiti, dikucilkan, ia terbelenggu takdir kematian yang mengikatnya erat, selalu membayangi setiap langkahnya.

Namun sebutir nyawa kecil yang tumbuh di dalam dirinya yang memberi alasan untuk bertahan. Namun di balik semuanya tersembunyi rahasia besar. Nanti saat kebenaran terkuak, akankah ia lepas dari belenggu itu… atau justru terjerat makin dalam?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PUTRI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

perjanjian di saat paling mendesak

Aslan sempat terdiam cukup lama, seolah sedang mengumpulkan keberanian untuk bertanya sesuatu yang sangat berat baginya. Hingga akhirnya ia kembali bersuara pelan: “Lalu bagaimana keadaan Ayah dan Ibu saat ini?”

Pertanyaan itu membuatku tersentak hebat, aku segera menoleh cepat ke arahnya. Udara di dalam ruangan itu seketika terasa menjadi begitu berat dan sesak. Suaranya terdengar tenang, tidak ada nada amarah yang meledak-ledak, namun aku bisa merasakan betapa besarnya rasa sakit dan kemarahan yang sedang ia tahan sekuat tenaga di dalam hatinya.

“Pasti… Ayah dan Ibu sedang dalam keadaan yang baik-baik saja di sana,” jawabku dengan suara yang terbata-bata, berusaha sekuat tenaga tersenyum meski hatiku sedang hancur berkeping-keping, lalu buru-buru menundukkan wajahku agar ia tidak melihat air mata yang mulai menggenang di mataku. Aku sama sekali tidak berani menatapnya terlalu lama.

Aslan tidak berkata apa-apa lagi setelah itu, ia hanya terus menatapku lekat-lekat dalam diam. Dari sorot matanya yang sayu itu, aku bisa melihat dengan jelas betapa besarnya rasa sakit dan amarah yang sedang ia simpan sendirian tanpa mau aku ketahui.

Perlahan aku bangkit berdiri dari tempatku berdiri, menatap sejenak ke arah Aslan yang masih memandangku dengan tatapan yang tak berubah sedikit pun. Aku pun melangkah keluar dari ruangan itu, menutup pintu dengan sangat pelan namun hati yang terasa begitu berat. Setiap langkah kakiku terasa seakan terseret beban yang tak terlihat, pikiranku kembali berputar kacau tak menentu: apakah benar Ayah dan Ibu masih hidup seperti yang kuharapkan? Dan dari mana lagi aku harus mencari uang sebanyak itu dalam waktu yang sesingkat ini?

Saat tanganku hendak memutar gagang pintu untuk keluar menuju halaman rumah sakit, tiba-tiba bahuku ditepuk cukup keras dari arah belakang. Aku menoleh dan melihat seorang perawat yang tampak sangat tergesa-gesa dan cemas. “Apakah Anda keluarga dari pasien bernama Aslan?”

Jantungku seketika berdegup sangat kencang karena rasa takut yang melanda. “Benar, saya kakaknya! Ada apa, Sus? Apakah terjadi sesuatu yang buruk pada adikku?!”

“Ikutlah saya segera ke ruangan sekarang juga, ada hal yang harus segera ditangani,” jawabnya singkat namun tegas. Aku segera berlari mengikuti langkah kakinya yang tergesa-gesa. Sesampainya di dalam ruangan, aku melihat Aslan sedang meringis kesakitan yang hebat, kedua tangannya mencengkeram kepalanya dengan sangat kuat seolah menahan rasa sakit yang tak tertahankan. “Sakit sekali… kepalaku terasa sangat sakit, Kak…”

Aku segera mendekatinya dengan tubuh yang gemetar hebat. “Lan, katakan pada Kakak bagian mana yang paling sakit! Bertahanlah sebentar lagi ya!”

Namun tiba-tiba tangannya menepis pelukanku dengan cukup kasar. “Pergilah Kakak… tinggalkan aku saja!”

Aku berdiri terpaku di tempatku dengan perasaan bingung bercampur ketakutan yang luar biasa — apa yang sebenarnya salah dengan dirinya? Tak lama kemudian dokter yang merawatnya datang, memeriksa keadaan Aslan dengan teliti sejenak, lalu berjalan keluar ruangan untuk berbicara denganku. Aku segera mengejarnya.

“Kita harus segera melaksanakan operasi itu hari ini juga,” ucap dokter itu dengan nada yang sangat serius dan penuh penekanan. “Jika hal ini masih terus ditunda, maka nyawa adikmu akan terancam bahaya yang nyata.”

Kaki-kakiku terasa seketika lemas tak bertenaga mendengar penegasan itu. Dokter itu hanya mampu menepuk pundakku perlahan dengan raut wajah yang tak berdaya seolah ingin menyampaikan bahwa ia pun tidak bisa berbuat banyak tanpa persyaratan yang ada, lalu berjalan pergi meninggalkanku sendirian di lorong itu.

Perawat yang tadi datang menyusul berdiri di sampingku. “Mohon segera selesaikan administrasi pembayaran di bagian pendaftaran, agar tim medis bisa segera mempersiapkan segala sesuatunya untuk operasi.”

Aku melangkah terhuyung-huyung menyusuri lorong rumah sakit yang panjang itu, dadaku terasa sesak berat seolah sedang ditindih oleh beban batu yang sangat besar. Biaya yang begitu besar itu… rasanya aku sudah jatuh ke dalam jurang yang paling dalam dan tak berdasar. Tanpa sadar langkah kakiku membawaku keluar dari gedung itu, hingga akhirnya aku duduk sendirian di sebuah bangku panjang di taman kecil rumah sakit, lalu menangis dalam kesunyian pagi itu. Aku merasa begitu bingung, lelah, dan tak berdaya — untuk sesaat aku tak lagi peduli pada tatapan orang lain yang mungkin melihatku. Aku hanya memejamkan mataku rapat-rapat sambil berdoa dalam hati, berharap Tuhan akan menunjukkan jalan keluar yang tak terduga bagiku.

Aku masih tertunduk dalam sambil membiarkan air mataku mengalir bebas, hingga sepasang sepatu kulit hitam yang tampak sangat mewah dan berkilau tiba-tiba muncul tepat di hadapan pandanganku. Perlahan aku mengangkat kepalaku untuk melihat siapa pemilik sepatu itu — dan seketika itu juga suasana di sekitarku terasa menjadi hening dan sunyi sepenuhnya.

Di hadapanku berdiri sosok pria yang tubuhnya sangat tinggi menjulang, mungkin mencapai tinggi sekitar seratus sembilan puluh dua sentimeter. Tubuhnya tegap dan kokoh, bahunya lebar namun tetap terlihat luwes; meski mengenakan kemeja putih yang disetrika rapi, garis otot pada bahu dan lengannya masih terlihat jelas terukir — bukan tenaga yang kasar, melainkan ketegasan dan kekuatan yang terlatih sejak lama.

Wajahnya… sungguh belum pernah kulihat yang seindah dan sekuat ini sebelumnya. Garis rahangnya tegas dan tegas, kulitnya tampak putih halus sehalus porselen yang bersih. Alisnya berwarna cokelat keemasan, tebal dan rapi, membingkai sepasang mata yang berwarna biru jernih sejernih bongkahan es abadi — tatapannya tajam namun entah mengapa terasa menyimpan kelembutan yang tak terduga, seolah mampu menembus langsung hingga ke bagian paling dalam dari hatiku. Hidungnya lurus dan mancung, bibirnya berwarna merah muda alami yang terlihat tenang namun menyimpan wibawa yang begitu besar hingga membuatku sesak napas hanya dengan melihatnya. Rambutnya yang berwarna pirang keemasan tampak bergelombang halus, sedikit berantakan secara alami — hal itu justru membuatnya terlihat begitu tenang namun karismanya terasa menyelimuti seluruh tempat itu. Ia tampak seperti seseorang yang berasal dari dunia yang sama sekali belum pernah kukenal sebelumnya.

Siapakah dia sebenarnya? Apakah dia orang yang sangat berpengaruh dan penting? Mengapa ia berhenti tepat di hadapanku? Dan apa sebenarnya yang sedang ia cari?

Belum sempat pikiranku melangkah lebih jauh, suara berat dan tenangnya terdengar jelas sampai ke telingaku — terdengar sopan namun menyimpan kedalaman yang tak terduga: “Selamat pagi. Bolehkah saya memohon sedikit waktumu untuk berbicara?”

Jantungku seketika berdegup sangat kencang tak terkendali. Suara ini… persis sama persis dengan suara pria yang menolongku semalam. Apakah benar-benar dia orangnya? Bahkan postur tubuh dan segala ciri-cirinya pun terlihat sama persis seperti yang kuingat samar-samar.

“Eh… selamat pagi juga, Tuan. Maafkan saya, apakah ada keperluan penting yang membuat Tuan sampai harus menemui saya?” tanyaku dengan suara yang pelan dan terbata-bata, sambil segera menundukkan wajahku karena merasa malu dan canggung berada di hadapan sosok yang begitu sempurna.

Ia menjawab pertanyaanku dengan nada yang lugas namun tetap sopan: “Mungkin kamu sudah melupakan pertemuan kita semalam, namun aku tidak pernah melupakannya sedetik pun. Izinkan aku menyampaikannya secara langsung — aku ingin mengajakmu untuk menyepakati sebuah perjanjian. Ikutlah aku sebentar saja, tempat yang akan kita tuju benar-benar aman bagimu.”

Sebuah perjanjian?

Aku merasa ragu seketika mendengar ucapannya. Ia terlihat sangat sopan, tenang, dan memancarkan wibawa yang nyata, namun bagaimanapun juga ia tetaplah orang asing yang baru pertama kali kukenal secara langsung. Bagaimana jika ini hanyalah sebuah jebakan yang disiapkan untukku? Bagaimana jika ia sebenarnya memiliki niat jahat yang tersembunyi di balik senyum dan tatapan tenangnya itu? Namun di sisi lain aku berusaha menguatkan hatiku sekuat tenaga: aku tidak akan mudah terpedaya oleh apa pun. Jika nanti terlihat ada sesuatu yang tidak beres atau mencurigakan, aku pasti akan tahu kapan waktunya untuk mundur dan pergi menjauh. Entah mengapa, meski akal sehatku penuh dengan rasa curiga dan ketakutan, namun hatiku justru berbisik pelan dan tegas — katanya aku harus percaya dan mengikuti langkah pria ini.

1
Nur Tang
💪
Nur Cha
fantasi kha ?
Putry Chan: sebenarnya bukan sih
total 1 replies
Intan Tan
👍
helena
😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!