Apa jadinya jika seorang gadis polos, belum pernah pacaran, harus merawat seorang CEO muda, tampan, dan dingin?
Tia, gadis itu, harus melayani semua kebutuhan sang CEO. Tidak hanya makan, minum, tetapi Tia juga harus membantunya untuk mandi.
"Mandi saja sendiri! Aku tidak mau membantumu!" maki Tia.
"Hei! Kamu dibayar untuk membantuku. Apa gunanya mereka menggajimu kalau kamu tidak bekerja dengan profesional?" tanya Erwin dengan pandangan tak suka.
"Tapi, aku ...."
"Aku, apa? Mau makan gaji buta, iya!" bentak Erwin. Ia melemparkan gelas yang ada di nakas ke arah Tia.
"Akh!!" Tia berteriak sambil menutup telinga. Tubuhnya gemetar ketakutan. Hari pertamanya bekerja, dia sudah terkena amukan sang majikan.
Bagaimana kelanjutan kisah Tia dan Erwin? Baca selengkapnya di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sekar Laveina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjalanan pulang
Billy sudah tiba di pulau dengan dua kapal feri. Satu kapal untuk membawa Tia, Erwin dan dua pengawal pribadinya, Aji dan Nurdin. Sementara satu kapal lagi untuk membawa barang dan delapan pengawal lainnya.
"Kalian sudah siap?" tanya Billy memastikan.
"Sudah," jawab Tia, Erwin, dan Nurdin.
Sedangkan Aji, dia sedang melaporkan hal itu pada Rudi. Aji berpura-pura sakit perut dan berpamitan ke toilet sebentar. Erwin sudah tahu dengan kenyataan bahwa Aji adalah mata-mata dari pamannya. Namun, ia tetap tidak melakukan apa-apa pada Aji.
Erwin sudah melakukan penyelidikan kepada keluarga Aji. Pengawal sewaan pamannya itu memiliki putri kecil berusia tiga tahun. Itulah yang membuat Erwin enggan untuk membeberkan serta membalas Aji.
"Aji!" panggil Nurdin dari depan toilet.
"Iya, Nur. Aku keluar sebentar lagi," sahut Aji. Ia membaca pesan dari Rudi.
'Jika rencana A gagal, kamu lanjutkan rencana B. Bunuh gadis itu supaya Erwin tidak bisa menikah. Kau satu kapal dengan mereka, seharusnya rencana B ini lebih mudah dikerjakan. Ada tiga puluh orang yang aku kirim dalam tiga kapal feri. Mereka sudah berpencar di beberapa titik. Saat mereka menyerang, kau tidak boleh menyerang siapa pun. Kau hanya harus bersiap melakukan rencana cadangan, jika mereka semua gagal, kau lakukan tugasmu.'
"Membunuh Non Tia? Tapi, gadis itu tidak mempunyai salah apa-apa. Aku juga dibayar untuk sekedar memata-matai mereka, kenapa jadi harus membunuh?" gumam Aji. Ia belum pernah membunuh sama sekali, mana berani dia membunuh, apalagi seorang gadis belia yang harus ia bunuh.
Tok! Tok! Tok!
"Iya, ya." Aji segera keluar saat mendengar ketukan pintu.
"Tuan Erwin sudah menunggu di kapal," ujar Nurdin.
"Iya, maaf. Tadi sakit perut, jadinya lama," sahut Aji beralasan.
Mereka segera pergi ke pantai dan menyusul naik ke atas feri. Dalam hati Aji, ia terus berpikir keras. Bagaimana caranya supaya ia tidak perlu membunuh Tia. Aji juga memiliki seorang putri. Ia memposisikan dirinya jika putrinya meninggal dibunuh orang.
Tidak. Aku tidak akan melakukannya. Ini tidak benar. Aku harus melindungi gadis itu. Aji mengambil resiko kehilangan pekerjaan dan nyawanya. Rudi tidak akan melepaskan pengkhianatan Aji begitu saja. Namun, Aji tetap memilih melindungi Tia dan berkhianat pada Rudi. Aku dibayar untuk menjadi mata-mata, bukan membunuh.
Kapal feri yang mereka tumpangi mulai berangkat, melaju, menyusuri luasnya lautan. Di tengah-tengah perjalanan, tiga buah kapal feri menghadang kapal Erwin. Sesuai dengan yang dikatakan Rudi dalam pesannya kepada Aji. Ketiga kapal feri itu melaju dengan kecepatan tinggi mengelilingi dua kapal feri milik Erwin.
"Tia! Merunduk!" seru Erwin. Ia berdiri di depan Aji.
Aji menganga saat melihat Erwin berdiri tegak. Erwin mengambil pistol di pinggangnya. Ia sudah tidak memedulikan keheranan Aji.
"Billy, kamu jaga Tia!" perintah Erwin sambil memasukan amunisi. "Nurdin, Aji, kalian ikit aku! Kita lawan mereka," ucapnya.
Kenapa dia mengajakku? Aku yakin dia sudah tahu kalau selama ini aku memata-matainya. Apa dia tidak takut kalau aku menembaknya? Ah, masa bodoh. Aku hanya ingin melindungi gadis itu. Aji berlari ke depan feri, berdiri di sana membantu Nurdin dan Erwin untuk menyingkirkan ketiga feri itu.
Doorr! Doorr!
Terdengar suara letusan senjata api saling bersahutan. Tia merunduk, merapatkan tubuhnya di lantai kapal. Billy duduk di sampingnya menemani. Beberapa kali Tia berteriak histeris. Meskipun, ia sudah menutup telinganya. Namun, suara tembakan itu masih menembus gendang telinganya.
Anak buah sewaan pamannya itu tumbang satu persatu. Lengan Erwin terserempet peluru. Nurdin tertembak di bagian betis. Hanya Aji yang masih berdiri tegak. Sepertinya Rudi mengatakan kepada mereka kalau Aji di pihak mereka.
Ketiga kapal feri itu mulai bergerak melambat. Salah satu anak buah Rudi mengarahkan pistol ke arah Tia karena gadis itu terlihat duduk. Aji melihat hal itu.
Doorr!
"Aakhh!" Tia berteriak saat pistol dari anak buah Rudi itu meletus.
"Tia!" Erwin dan Billy berteriak bersama.
"Non Tia!" Nurdin juga tidak kalah terkejutnya.
Setelah salah seorang dari mereka menembak Tia, ketiga kapal itu segera melaju cepat. Empat dari delapan anak buah Erwin terluka di kapal feri yang lain.
BERSAMBUNG
_______________