" Aku tidak membenci profesi mereka, aku hanya benci pada mereka yang seenaknya saja terhadap banyak wanita dengan membanggakan seragam yang mereka kenakan,, yah, memang tidak semuanya jahat,, namun apa yang pernah aku lihat dan aku alami membuatku Benci berhadapan dengan mereka " Hani Maharani Husein berucap penuh tekanan.
Masalalu membuatnya menjadi gadis yang begitu dingin dan angkuh jika berhadapan dengan seorang polisi. Hingga ia tak pernah bermimpi sekalipun untuk mempunyai teman seorang polisi. Dan jika mungkin maka Hani memilih untuk tinggal di sebuah kota dimana polisi tidak ditemukan.
Namun, di tengah jalan saat Razia pertemuannya dengan Raja seorang polisi tampan rupawan membuatnya lebih sering menemui Polisi bahkan sampai masuk kekantor polisi.
Dan sekali lagi Hani harus berhadapan dengan makhluk yang bernama Polisi.
" Gadis yang unik,, Entah mengapa aku sangat tertarik padamu " Raja Rahman Raharsya bergumam saat ada gadis yang tak tertarik padanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wulan Jadhoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 18 Nyanyian Rindu
Hani sudah tiba dirumahnya, disusul oleh Tia, setibanya dikamar, Hani langsung menyambar handuk, dan bergegas kekamar mandi, sementara Tia, langsung merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur.
kurang lebih satu jam Hani bergelut dengan air hangat dikamar mandi, padahal tidak biasanya Hani mandi selama itu, mungkin rasa gerah dan kesalnya harus dialihkan lewat ritual mandi yang cukup lama.
Hani keluar dari kamar mandi,, ia melihat Tia yang sudah terlelap.
" dasar gadis malas " gumamnya.
waktu sudah menunjukkan pukul 6 sore, artinya sudah petang, Hani yang sedang asik membaca novel, tiba-tiba melirik kearah Tia yang masih tertidur lelap.
" cih,, dasar kebo betina " Hani bergegas membangunkan Tia.
" Ti, bangun,, ini udah maghrib loh " Namun Tia tak merespon
" Ti,, ayo dong bangun,, cewek kok ngebo sih,, Tiaaaaa,, ayo bangun... " Hani menggoyangkan tubuh Tia dengan kencang, Tia mulai sadar.
" hoaamm,,, udah jam berapa sekarang? " dengan mata yang sedikit terbuka
" udah mau malam,, udah mandi sana,, cewek kok pemalas sih " ucap Hani, tanpa membalas ucapan Hani, Tia bergegas kekamar mandi.
tak lama kemudian Tia selesai membersihkan tubuhnya.
" duhh segernya. " kata Tia
" tumben kamu tidur selelap itu Ti, biasanya tidurmu kayak ayam "
" enatahlah Han,, mungkin aku kelelahan yang teramat sangat, abisnya aku tadi ngelamar didua perusahaan sekaligus"
" ohh,, jadi kamu mau tetap disini? " Tia meangangguk.
" yaudah,, turun yuk laper nih " mereka menuju keruang makan, dimeja makan hanya ada Hani dan Tia, sebab Lisa dan Husein sedang menghadiri acara pernikahan keluarganya di luar kota.
" kok sepi,, Tante sama Om mana ?"
" Mama sama Papa lagi keluar kota,, ada acara nikahan keluarga "
" kenapa kamu gak ikut?"
" malas ah "
tak ada percakapan lagi sampai mereka selesai makan malam.
Hani dan Tia kembali kekamar.
" duhh bosannya,, sepi kayak dikuburan " kata Tia, Hani hanya sibuk pada novel yang ia baca, mata Tia tertuju pada sebuah gitar yang ada dibelakang pintu.
" Han,,ini gitar siapa? "
" gitar aku"
" sejak kapan kamu main gitar? "
" sudah sejak lama "
" emang kamu bisa main gitar "
" dikit sih "
" kok aku gak pernah tau kamu bisa main gitar Han ? "
" yah karena kamu gak nanya "
"mmm iya juga sih,, ehhh aku pengen dengar kamu main dong,, lumayan kan bisa ilangin bosan " pinta Tia
" boleh,, yukk kebalkon,, " mereka menuju kebalkon, tak lupa membawa cemilan dan minuman dingin untuk teman santai.
" coba main Han,, aku gak sabar pengen dengar kamu mainin gitar ini"
" kamu mau lagu apa?"
"kamu bisanya lagu apa? "
" terserah, aku bisa semua "
" sombong,, yaudah terserah kamu aja deh " Hani mulai memainkan gitarnya.
jreng......
**selepas kau pergi,, tinggallah disini kusendiri,, ku merasakan sesuatu, yang tlah hilang didalam hidupku...
dalam lubuk hatiku,, ku yakin kau pun sebenarnya tak, inginkan lepas dariku.. tahukah kau kini ku terluka...
bantu aku membencimu,, ku terlalu mencintaimu,, dirimu begitu berarti untukku...
@laluna**
Hani begitu meresapi saat memainkan gitar sambil bernyanyi, dan Tia nampak menikmati alunan demi alunan yang dimainkan oleh Hani. selesai menyanyikan satu lagu, Tia bertepuk tangan.
" yeee,, kamu hebat Han,, gak nyangka aku kalau kamu bisa punya keahlian kayak gini "
" ahh biasa aja Ti"
" eh,, siapa yang ajarin kamu main gitar,, papah kamu yah? "
" bukan "
" lalu siapa? "
" ada,, seseorang yang sangat berarti dulu "
" hah,, siapa? mantan kamu yah? " Hani mengangguk..
" astaga,, apa mantan kamu pak polisi yang hadang kita tadi sore? "
" siapa? " Hani mencoba berpikir
".ihhh itu loh,, pak polisi yang tadi sore,, aku liat kok, kamu kayaknya kenal banget sama polisi itu,, tadi aku mau nanya, ehh lupa hehe "
" oh itu,, bukan,, mana mungkin dia jadi mantan aku "
" jadi pak polisi itu siapa? "
" bukan siapa-siapa "
" jadi ?"
" yah gak jadi apa-apa "
" hufttt,, Hani, jadi mantan kamu yang kamu maksud yang mana? "
" oh itu,, dia udah pergi "
" hah,, jadi dia ninggalin kamu,, kenapa? dia selingkuh? "
" tidak "
" trus?"
" dia udah ninggalin aku, ke tempat yang jauh, ketempat yang lebih tenang,, dia udah pergi duluan ke surga " Hani nampak sedih mengingat prianya dimasa lalu
" opsss,, maafin aku Han " Tia nampak merasa bersalah
" gak apa-apa kok Ti,,,, namanya Wira,, dia kakak kelas aku di SMA, saat dia menjadi kaka pendamping di kelasku waktu MOS, dia selalu memperhatikanku, kelakuannya berbeda denganku dibanding dengan teman-temanku dikelas, sampai saat MOS berakhir, sekolah adakan bina akrab untuk siswa baru, nah pada saat itu Wira nembak aku. so sweet banget,, disekolah Wira punya band, dia gitaris dibandnya, karena aku suka saat dia main gitar, jadi aku minta di ajarin main gitar sama dia, dan dia dengan telaten ngajarin aku, sampai aku bisa main gitar. hari-hari yang kulalui bersamanya sangat berarti. kita gak pernah berantem, kalaupun ada cuma sejam aja kita baikan lagi. dan aku bahagia banget jalani hubungan selama dua tahun dengannya. sampai pada akhirnya saat acara kelulusannya dia begitu sibuk mengatur acara karena dia bagian dari panitia, hari itu dia benar-benar sibuk, dia harus bolak balik naik motor entah kemana, dan pada akhirnya dia kecelakaan, aku ada diambulans bersamanya waktu itu, tapi belum sampai di rumah sakit, dia udah pergi " tak terasa air mata Hani jatuh seketika, memang benar Wira adalah cinta pertamanya, dan setelah itu Hani tak mampu membuka hati lagi, meski Wira sudah tidak lagi ada, tapi bayang-bayangnya selalu ada bersama kenangannya.
" yang sabar yah Han " Tia ikut larut dalam kesedihan sahabatnya
"kamu tau gak Ti,, gitar ini dari Wira,, waktu aku ulang tahun dia beliin gitar ini,, dan lagu yang tadi aku nyanyiin, adalah lagu pertama yang aku pelajari.,, kalau aku nyanyi lagu itu aku merasa rindu banget sama Wira... " Hani menatap langit malam,, diatas ada bintang-bintang,, Hani tersenyum membayangkan wajah Wira ada disana.
" Han,, aku gak nyangka kalau kamu punya masalalu yang begitu sedih,, aku gak bisa bayangin bagaimana kamu jalanin hari-hari kamu sebelum ketemu aku "
" untungnya saat itu masih ada Maya,, jadi aku ngerasa ada yang nguatin,, tapi setelah Maya pergi aku benar-benar rapuh,, aku jadi mikir kenapa orang-orang yang aku sayang cepat pergi? apa aku ini pembawa sial "
"jangan ngomong gitu dong Han,, semua orang punya takdirnya masing-masing,, kita hanya bisa menjalani saja "
" aku takut Ti,, "
" takut kenapa?"
" aku takut, kamu juga akan pergi ninggalin aku "
" ya ampun Han,, aku akan selalu ada kok buat kamu, begitu juga dengan Andri,, udah jangan dipikirin lagi yah, aku yakin, orang-orang yang kamu sayang udah bahagia diatas sana " sambil menunjuk langit Tia mencoba menenangkan Hani. Hani tersenyum.
" mending kamu nyanyi lagi aja Han, mana tau Wira bisa mendengar nyanyian rindu kamu "
" ihh apa sih,, " Hani mulai terhibur,, dengan sigap Hani memainkan gitarnya kembali.
satu lagu dua lagu tiga lagu dan seterusnya, semua yang ia mainkan semua berkaitan dengan kenangannya bersama Wira. meski sudah lima tahun lamanya, Hani tidak dapat melupakan cinta pertamanya itu. entah mengapa, tapi bagi Hani Wira hanya satu dan tidak ditemukan sama sepertinya diamanapun.
Wira,,,, aku merindukanmu,, sangat sangat merindukanmu. Batin Hani