Alin, gadis yatim piatu yang dekil dan jerawatan, mendadak punya kekuatan magis: bisa berubah jadi bidadari glowing setiap kali makan ubi rebus! Sialnya, sihir ini punya kedaluwarsa dan luntur tepat tengah malam.
Masalah makin rumit saat Alin tidak sengaja merusak hoodie mahal seharga 8 juta milik Rakha Pratama Bagaskara—kakak kelas arogan yang ternyata tetangga kamar kosnya! Karena tidak bisa ganti rugi, Alin dipaksa menjadi budak pembersih kamar kos Rakha setiap hari.
Tensi makin memanas ketika Rayi Arjuna Bagaskara—kembaran Rakha yang super ramah—mulai gencar mendekati Alin. Sementara Rayi tulus menyukai Alin yang apa adanya, Rakha justru gila-gilaan mengejar sosok "Bidadari Glowing" malam hari, tanpa sadar kalau cewek itu adalah pembantu kosan yang setiap hari ia tindas!
Bagaimana jadinya jika sihir ubi rebus Alin habis tepat tengah malam di dalam kamar kos Rakha?
"Nggak usah panggil gue Kakak. Ntar kalau udah sah, baru lo panggil gue Sayang!" — Rakha.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11. Malam Jagal di Kediaman Alexius Part 3
"Hikss... Hiksss... Nyonya, saya mohon jangan bercanda! Tolong bangun! Saya takut... Nyonya!!" ucap Bi Susi dengan tubuh bergetar hebat di tengah hawa panas yang mulai mengepung ruangan.
Namun, di tengah duka yang menghimpit dada, naluri Bi Susi tersentak. Pesan terakhir Nyonya Alysa adalah sebuah perintah suci yang mutlak. Ia harus mengesampingkan rasa sedihnya sejenak; menangis bukanlah hal yang tepat saat nyawa Nona Mudanya sedang dipertaruhkan di lantai atas.
Bi Susi berbalik, berlari menaiki tangga marmer menuju lantai dua. Asap hitam pekat mulai memenuhi langit-langit langit, membuatnya terbatuk-batuk hebat dengan mata perih. Setibanya di depan pintu kayu jati kamar Linzy yang kokoh, ia menggedornya sekuat tenaga.
Tok! Tok! Tok!
"Nona Linzy... ini saya, Bi Susi!! Tolong buka pintunya, Nona!!"
Sunyi. Tidak ada sahutan sama sekali dari dalam kamar. Bi Susi mencoba memutar knop pintu besi itu, namun sia-sia karena pintunya terkunci rapat dari dalam menggunakan selot ganda. Ia tidak menyerah; dengan sisa tenaga yang ia miliki, ia kembali menggedor-gedor pintu jati itu, bahkan mencoba mendobraknya menggunakan bahunya yang mulai ringkih. Tetap saja, pintu mewah itu tidak bergeming sedikit pun.
Tubuh Bi Susi mulai melemas drastis. Paru-parunya terasa sesak luar biasa karena terlalu banyak menghirup gas karbon monoksida yang kini mengular memenuhi lorong lantai dua.
Dalam kondisi setengah lunglai dan kesadaran yang mulai menipis, ia terpaksa turun kembali ke lantai satu demi mengambil kunci cadangan yang tersimpan di dalam kamar pelayannya.
Ia berlari sekuat tenaga, mengabaikan hawa panas yang mulai menyengat kulit tuanya. Setelah berhasil menyambar serangkaian kunci cadangan dari laci kamarnya, ia kembali berlari menuju tangga marmer. Namun sialnya, karena terburu-buru dan kondisi lantai yang mulai licin akibat sisa air dari pipa pemadam otomatis yang pecah dan tidak berfungsi maksimal, Bi Susi tersandung oleh kakinya sendiri.
Brak!
"Aakhhh!"
Bi Susi meringis kesakitan, memegangi pergelangan kakinya yang berbunyi klik—terkilir parah. Namun, ia tidak menghiraukan rasa sakit itu. Fokusnya hanya satu: menyelamatkan Linzy, satu-satunya darah daging keluarga Alexius yang tersisa di muka bumi.
Sementara itu, jauh di dalam kamar tidur Linzy yang kedap suara...
"Uhuk... uhuk... Ada apa ini?! Kenapa kamarku mendadak banyak asap?" Linzy terbangun dari tidurnya dengan napas yang terasa sangat sesak. Kamarnya yang luas kini mulai berkabut oleh asap abu-abu pekat yang menyelinap masuk melalui celah pintu bawah dan ventilasi AC sentral yang mati.
Gadis pirang itu langsung terduduk di atas tempat tidurnya, sepasang matanya yang semula sembab karena baru saja bangun kini melebar sempurna dipenuhi rasa ketakutan yang luar biasa.
Degggghh!
Jantung Linzy berpacu kencang layaknya genderang perang saat matanya menangkap bayangan cahaya kemerahan dan oranye yang menari-nari liar di balik celah bawah pintunya, diiringi oleh suara gemeretak kayu terbakar yang terdengar semakin mendekat.
Linzy terpaku lemas di atas kasurnya, menyadari sebuah kenyataan horor bahwa mansion mewah tempatnya berlindung selama ini, kini telah bertransformasi menjadi tungku api raksasa yang siap memanggangnya hidup-hidup.
Kamar tidurnya yang semula luas, sejuk, dan elegan kini telah bertransformasi menjadi panggung horor yang pekat. Gulungan asap kelabu yang tebal mulai berputar-putar di langit-langit, sementara lidah api berwarna merah kebiruan merambat cepat dari bawah ambang pintu. Api itu dengan rakus melahap gorden sutra yang menjuntai indah, lalu menjalar secepat kilat menuju seprai tempat tidurnya.
"Tolong! Kebakaran!! Ayah... Bunda... Kakak... Kamar aku kebakaran! Tolong!" jerit Linzy dengan suara parau yang langsung pecah.
Tenggorokannya terasa seperti disiram air keras. Setiap tarikan napasnya terasa sangat berat dan panas akibat terlalu banyak menghirup gas karbon monoksida.
Tubuh mungilnya mulai lemas drastis, kepalanya berdenyut hebat seperti mau pecah. Namun, insting bertahan hidup memaksanya untuk turun dari ranjang. Dengan langkah gontai dan napas yang tersengal-sengal, ia berusaha merangkak di atas lantai, menuju satu-satunya jalan keluar: pintu kamar.
"Awwss.. Shhh.. Panas!" rintih Linzy sejadi-jadinya saat telapak tangannya terpaksa menyentuh kenop pintu besi yang sudah memerah akibat suhu tinggi.
Sambil menahan perih luar biasa yang menyengat kulit telapak tangannya hingga melepuh, ia memutar kunci dengan gerakan gemetar.
Namun, tepat saat selot pintu itu berhasil terbuka, sebuah dentuman keras bergema dari luar lorong. Engsel pintu yang sudah rapuh akibat hantaman panas hebat itu copot seketika. Daun pintu kayu jati yang tebal dan sangat berat itu tumbang ke depan, menimpa tubuh Linzy yang sudah tak berdaya.
Breeettt... Brugg!
"Argghhhhh!!" Linzy memekik kesakitan sebelum suaranya hilang tertelan oleh gemuruh kobaran api yang kian beringas.
Bi Susi yang baru saja sampai di depan kamar dengan serangkaian kunci cadangan di tangannya langsung jatuh terduduk melihat pemandangan mengerikan di depan matanya.
Jantungnya seakan berhenti berdetak saat melihat nona mudanya terhimpit di bawah daun pintu jati yang mulai dijilati api.
Tanpa memedulikan keselamatan nyawanya sendiri, Bi Susi menerjang maju ke dalam kepulan asap. Ia mencengkeram pinggiran kayu panas, berusaha sekuat tenaga mengangkat dan memindahkan pintu kayu raksasa yang sangat berat itu.
"Nona Linzy! Bertahanlah, Nona!" tangis Bi Susi pecah bercampur batuk.
Bi Susi berulang kali mengibaskan tangannya yang mulai melepuh kepanasan karena nekat menyentuh bagian pintu yang membara. Bahkan, ujung daster loak yang ia kenakan mulai terjilat api, namun fokusnya sudah mati rasa. Pikirannya hanya satu: Linzy harus keluar dari neraka ini hidup-hidup.
Setelah beberapa menit yang terasa seperti keabadian, Bi Susi akhirnya berhasil menarik tubuh Linzy keluar dari jepitan pintu kayu.
Dengan gerakan panik namun cekatan, ia menepuk-nepuk pakaian Linzy untuk memadamkan percikan api yang sempat membakar sebagian tubuh gadis itu. Tanpa menunggu sedetik pun, dengan sisa tenaga terakhirnya, ia membopong tubuh layu Linzy menembus kepulan asap pekat menuju jalan keluar paviliun.
Beberapa saat kemudian, suasana di dalam mobil ambulans yang melesat membelah malam terasa sangat mencekam. Suara sirine yang meraung-raung di jalanan Jakarta seolah sedang berpacu dengan detak jantung Linzy yang semakin melemah di atas brankar.
"Non Linzy... Hikss.. Bibi mohon!! Tolonglah bertahan!!" isak Bi Susi yang kini terduduk lemas di samping dokter. Wajah Bi Susi hitam kotor oleh jelaga, rambutnya acak-acakan, dan tangannya yang melepuh tampak bergetar hebat.
Meskipun rasa perih luar biasa menusuk saraf-saraf tangannya, ia tetap menggenggam erat tangan Linzy. Mata Bi Susi memerah saat melihat sekujur tubuh nona mudanya dipenuhi dengan luka bakar yang sangat memprihatinkan.
Gadis yang tadinya begitu cantik itu kini tak sadarkan diri dalam kondisi kritis total.
Sementara itu, di depan Mansion Alexius, suasana telah berubah menjadi lautan manusia. Cahaya biru dan merah dari puluhan mobil polisi dan armada pemadam kebakaran memantul di antara puing-puing bangunan yang runtuh. Warga sekitar menonton dengan wajah ngeri.
Tim pemadam kebakaran bekerja keras menjinakkan si jago merah, meski mereka tahu sudah terlampau terlambat untuk menyelamatkan kemegahan arsitektur Eropa tersebut.
Semuanya sudah rata dengan tanah, hanya menyisakan arang, abu hitam, dan kenangan pahit yang hangus.
Di sisi lain kota, di dalam sebuah ruang kerja mansion mewah yang tenang dan ber-AC dingin, seorang pria paruh baya duduk di balik meja kerja mahoninya yang berharga ratusan juta. Ia memegang ponsel dengan senyum misterius yang tersungging lebar di bibirnya.
"Oke, kerja bagus!! Pasti Tuan Abraham akan sangat senang melihat hasil kerjamu, Jack. Apakah kau sudah memastikan telah menghabisi seluruh garis keturunan Alexius?" tanya pria itu dengan nada dingin yang penuh kepuasan egois.
Di seberang telepon, Jack yang berada di dalam mobil pelariannya menjawab dengan nada sangat yakin. "Sudah beres, Bos. Semuanya mati terbakar tanpa sisa. Tidak ada satu pun manusia yang bisa keluar dari neraka bensin itu hidup-hidup."
Jack dan Bram sama sekali tidak menyadari bahwa takdir malam itu sedang memutar balikkan rencana mereka.
Mereka tidak tahu jika ada dua nyawa yang berhasil merangkak keluar dari maut berkat aksi nekat seorang kepala pelayan. Bagi para pembunuh bayaran itu, misi murni selesai dengan sempurna.
"Baiklah," ucap pria itu singkat.
Tut!
Ia memutuskan sambungan telepon, menyandarkan punggungnya ke kursi kulit kebesaran, lalu menyeringai lebar menatap kegelapan Jakarta dari balik jendela besar.
Baginya, kehancuran total keluarga Alexius adalah kemenangan bisnis terbesar yang sudah lama ia nantikan.
(Kilas Balik Selesai)