Fatimah mengira pernikahan paksa dengan Rayhan Khalif adalah akhir dari impiannya.
Namun, saat ia mulai mencintai sang suami yang selalu memanjakannya, sebuah rahasia kelam terbongkar: Rayhan Khalif telah dijebak dan menikah siri dengan wanita dari masa lalunya.
Alih-alih mengamuk, Fatimah menghadapi pengkhianatan ini dengan cara yang elegan.
Menggunakan strategi psikologis dan ketenangan yang mematikan, sang istri bercadar siap merebut kembali kebahagiaannya. Air mata berbalut iman, siasat paling mematikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lia Lby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alasan di Balik Takdir
Ibu terpaku di tengah ruang tamu begitu melihat pintu kamar Fatimah terbuka. Langkah kakinya terhenti.
Wanita paruh baya itu bersiap menghadapi tatapan dingin atau punggung yang berbalik seperti pagi tadi. Namun, dugaan Ibu keliru.
Kali ini, Fatimah berdiri di sana tanpa ada jarak. Sepasang mata di balik cadar yang telah terbuka, digenangi air mata yang luruh dengan begitu deras.
Tanpa sepatah kata pun, Fatimah melangkah cepat. Dengan tubuh yang gemetar hebat, ia menjatuhkan dirinya berlutut di atas lantai semen, tepat di bawah kaki ibunya.
Kedua tangannya memeluk erat kaki sang ibu, menyandarkan keningnya di sana sembari menangis sejadi-jadinya.
"Ibu... maafkan Fatimah, Bu... Maafkan Fatimah," rintih Fatimah dengan suara yang tercekat oleh isak tangis.
"Fatimah berdosa... Fatimah sudah berprasangka buruk pada Ayah dan Ibu. Fatimah egois, Bu..."
Ibu tertegun, lalu seketika air matanya kembali tumpah. Ia ikut berlutut di lantai, merengkuh tubuh putrinya yang berguncang ke dalam pelukan hangatnya.
Di ruang tamu yang sepi itu, dua wanita itu saling mendekap, menumpahkan segala beban tersembunyi yang selama ini menyiksa batin mereka.
"Tidak, Nak... tidak. Ibu yang minta maaf karena tidak berterus terang sejak awal kepadamu."
Bisik Ibu sembari mencium puncak kepala Fatimah.
"Kami hanya tidak ingin membebani pikiranmu selama kamu mengabdi di pesantren, Fatimah."
"Kami ingin kamu fokus ibadah dan belajar."
Fatimah menggeleng kuat-kuat di dalam pelukan ibunya. Rasa bersalah kini merayapi setiap jengkal hatinya.
Ia ingat betul bagaimana kasarnya ia menuntut hak kuliah kemarin malam, di saat sang ayah mungkin sedang menahan nyeri yang tak tertahankan di dalam dadanya.
"Ayah... di mana Ayah sekarang, Bu?"
Tanya Fatimah setelah berhasil menguasai suaranya, meskipun napasnya masih tersengal-sengal.
"Ayahmu ada di kamar dalam, Nak."
"Sejak subuh tadi kondisinya agak menurun, jadi Mas Faisal sedang menemaninya di dalam," jawab Ibu dengan suara serak.
"Masuklah, temui Ayahmu. Dia sangat merindukanmu."
Fatimah perlahan melepaskan pelukan ibunya. Ia menyeka air mata di sudut matanya, melepaskan cadarnya yang masih bergantung di lehernya.
Dengan langkah yang terasa begitu berat
sekaligus tergesa-gesa, ia melangkah menuju kamar utama yang terletak di bagian tengah rumah.
Saat pintu kayu tua itu didorong pelan, pemandangan di dalamnya langsung menyayat hati Fatimah.
Di atas ranjang kapuk, Ayah terbaring lemah dengan selimut yang menutupi setengah badannya.
Wajah pria yang dulunya tampak gagah itu kini terlihat sangat tirus, pucat, dan gurat-gurat kelelahan tercetak jelas di sana.
Di samping ranjang, Faisal duduk sembari memijat kaki sang ayah, menoleh pelan saat menyadari kehadiran adiknya.
Faisal memberikan isyarat mata yang lembut, lalu berdiri untuk memberikan ruang bagi Fatimah.
"Dek... duduklah dekat Ayah."
Fatimah mendekat, menjatuhkan lututnya di sisi ranjang. Ia meraih tangan kanan Ayah yang terasa begitu dingin dan kurus, lalu mengecupnya lama dengan air mata yang kembali membasahi kulit keriput itu.
Merasakan sentuhan yang akrab, kelopak mata Ayah perlahan terbuka. Sebuah senyuman tipis dan sangat lemah terukir di bibirnya yang kering saat melihat putri keduanya telah kembali.
"Fatimah... anakku yang saleha."
Bisik Ayah, suaranya terdengar sangat parau dan pelan, nyaris seperti embusan angin.
"Kamu sudah pulang dari pesantren, Nak?"
"Iya, Ayah... Fatimah sudah pulang. Fatimah di sini."
Sahut Fatimah, mencoba sekuat tenaga menahan getaran di suaranya agar sang ayah tidak semakin terbebani.
Ayah menggerakkan jemarinya yang lemah, mengusap punggung tangan Fatimah.
"Maafkan Ayah, ya... Ayah kemarin membentakmu."
"Ayah hanya... Ayah hanya ingin melihatmu aman dan ada yang menjaga sebelum waktu Ayah habis di dunia ini, Nak."
"Pak Rayhan orang baik... Ayah sudah mengenalnya lama. Ayah tenang kalau menitipkanmu bersamanya."
"InsyaAllah, nak dia akan menjaga mu."
Mendengar penuturan tulus yang keluar dari sisa-sisa kekuatan ayahnya, runtuh sudah seluruh sisa ego yang dimiliki Fatimah.
Segala mimpi tentang universitas, tentang buku-buku kuliah, kini menguap tak bersisa.
Takdir ini mungkin bukan yang ia impikan, namun jika ini adalah cara terakhir untuk berbakti dan mengukir senyum di wajah ayahnya yang sedang menghitung hari, maka Fatimah tidak akan pernah mundur lagi.