Sejak Tuhan menitipkan sebuah janin dalam rahim seorang ibu. Sejak itu pula Tuhan telah menuliskan TAKDIRnya.
Hidupnya, masa depannya, kisah cintanya, jodohnya, bahkan sampai bagaimana cara dia meninggal.
Itu semua sudah tertulis indah dan sempurna di langit.
Pun, begitu dengan kisah cinta Daniel dan Ayara. Kisah cinta mereka tidak berjalan dengan mulus. Takdir membawanya ke dalam masalah-masalah yang pelik tak berujung.
Akankah keduanya bisa bertahan, sampai bahagia itu datang?
Atau justru mereka menyerah, dan membiarkan takdir mengambil alih semuanya?
Ikuti kisah selengkapnya!
A story'by Myhani
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Myhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Restu
Seluruh rangkaian acara telah selesai dan Daniel yang baru saja kembali ke tengah-tengah keluarganya setelah mengisi perutnya di belakang bersama Ayara, melihat kedua keluarga mereka sedang duduk santai mengelilingi sebuah meja panjang.
"Nah, ini dia putri kami," ucap Pak Riza ketika melihat Ayara mendekat.
Semua orang yang ada di meja itu menoleh, melihat pada Ayara yang masih bergandengan tangan dengan Daniel. Gadis itu terpaksa melepaskan genggaman tangannya, kemudian menyapa satu persatu keluarga Daniel termasuk Devan.
Ia terlihat terkejut ketika mengetahui bahwa Devan adalah adiknya Daniel, gadis itu menatap Daniel cukup lama seolah meminta penjelasan dan Daniel hanya tersenyum tipis menanggapinya.
Devan tidak banyak kata seperti biasanya, ia juga tidak mengatakan bahwa dirinya sudah mengenal Ayara. Kali ini pemuda itu mendadak jadi pendiam.
"Niel, kok kamu bisa bareng Ayara?" tanya Mamanya. Sejak tadi ia dan suaminya menebak-nebak apa hubungan antara anaknya dan gadis itu.
"Em, Daniel ..." Pemuda itu menatap semua orang yang juga sedang menatapnya.
"Ayara, calon istri Daniel," jawabnya setelah berhasil menarik tangan Ayara supaya lebih dekat dengannya.
"Jangan bercanda kamu, Niel? Ini ada orang tuanya loh di sini," ucap sang Papa yang merasa Daniel terlalu lancang untuk mengakui bahwa Ayara itu adalah calon istrinya di depan orang banyak.
Pak Riza dan Bu Elma terkekeh mendengar ucapan Pak Edwin, yang semakin menambah kebingungan bagi orang-orang itu.
"Daniel sudah meminta Yara secara langsung pada kedua orang tuanya, Pa, sejak seminggu yang lalu," jawab Daniel sambil menatap wajah kekasihnya.
"Benarkah? Lalu kenapa tidak berbicara pada kami, Niel?" tanya Bu Ismi, Mamanya.
David dan calon istrinya yang juga ikut berada di tengah-tengah mereka ikut memperhatikan Daniel yang kini berubah menjadi gugup, sementara Devan terang-terangan berdecih sebal.
"Mas, jangan salahkan Daniel. Dia hanya ingin menghargai kakaknya yang jelas-jelas tidak mau dilangkahi, sedangkan dirinya sudah sangat ingin menikah. Hubungan anak kita ini sudah terlampau lama untuk terus-terusan menjadi sepasang kekasih, masa mereka masih harus backstreet terus sih," jelas Pak Riza membuat kerutan di kening orang tua serta dua saudara Daniel semakin banyak dan dalam.
"Kalian pacaran?" tanya Devan yang entah sadar atau tidak dengan pertanyaannya.
Daniel menggenggam tangan Ayara dan membawanya ke dalam dekapannya, ia mengangguk yakin sebagai jawaban.
"Empat tahun," jawab Daniel.
"Hah?" Hampir semua orang terkejut, lebih-lebih Devan.
Sudah selama itu kakaknya berpacaran dengan teman satu kampusnya, itu berarti hubungan mereka dimulai sejak Ayara masih kuliah bersamanya dulu.
Pak Edwin menghela napas panjang, sepertinya kali ini tidak ada alasan lagi baginya untuk melarang Daniel memiliki kekasih toh David pun akan segera melepaskan masa lajangnya.
"Baiklah, Papa merestui kalian," ucap Pak Edwin membuat Daniel dan Ayara tersenyum bahagia. Bahkan Daniel tidak segan untuk mendatangi sang papa dan memeluknya seraya mengucapkan kata terima kasih.
"Tapi, ingat kalian harus meresmikan hubungan kalian setelah David menikah," ucap Pak Edwin lagi.
"Baik, Pa, terima kasih," jawab Daniel dengan senyum bahagianya.
Semua orang ikut bahagia, bahkan mama Daniel terang-terangan mengucapkan kata bahagianya karena dua orang putranya telah menemukan tambatan hati. Tapi, tidak begitu dengan Devan, ia merasa seperti ditinggalkan oleh semua orang. Karena hanya dirinya yang merasa patah hati oleh hubungan Ayara dan Daniel-kakaknya.
Bagaimana bisa, gadis yang menjadi cintanya ternyata selama ini dia sudah memiliki hubungan dengan lelaki lain dan yang lebih menyakitkan lelaki itu adalah kakaknya sendiri. Devan tidak tahu apakah ia harus benci pada keduanya, atau tidak.
Bersambung..
Cianjur-15-Juni-2021