NovelToon NovelToon
Di Bawah Lampu Operasi

Di Bawah Lampu Operasi

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Starry Light

Dua orang yang dipaksa hidup untuk ambisi orang lain, bertemu di tempat paling brutal: ruang operasi. Tekanan membuat mereka hancur, tapi juga satu-satunya tempat mereka jujur.

Devan Adiguna Handaru, Konsulen Bedah Thoraks dan Kardiovaskular, 35 tahun. Pewaris rumah sakit swasta terbesar. Hidupnya cuma sekitar nama keluarga dan pisau bedah.

Savira, residen muda yang mimisan di tangga darurat. Tapi tetap senyum ke pasien. Hidupnya cuma jaga gawang ekspektasi mamanya.

Mampukah dua orang yang hanya kenal cairan infus dan darah... menambahkan warna untuk hidup satu sama lain? Atau ambisi Chandra Handaru yang akan menghancurkan mereka sebelum cinta sempat tumbuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Starry Light, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mama Anita

Nusantara Restaurant.

Pengunjung ramai memadati sebuah restoran yang menyediakan berbagai menu khas Nusantara. Baik ruang VIP, indoor, dan outdoor. Dari karyawan kantoran berdasi sampai buruk pabrik berkeringat, semua makan siang di tempat ini.

Harganya ramah di kantong kaum mendang-mending. Rasanya? Tidak perlu diragukan lagi. Autentik, kayak pulang ke dapur nenek sendiri. Wajar kalau restoran ini bertahan hingga 44 tahun. Pelanggan tetapnya udah kayak keluarga. Belum lagi para perantau yang tiap gajian pasti mampir, dengan alasan kangen masakan rasa rumah.

"Bu, pak Harun minta kepastian tentang lahan yang di Bogor." kata Lusi. Asisten mama Anita sambil menunjukkan email dari tablet nya.

Mama Anita menghela napas panjang. Tangannya meremas ujung blazer hitam nya. Lahan yang ditawarkan pak Harun memang sangat strategis untuk dijadikan tempat usaha seperti restoran yang selama ini dikelola nya. Akan tetapi dengan berbagai pertimbangan...

"Keputusan saya sama. Saya tidak ingin membuka cabang di sana." jawabnya tenang.

Lusi mengangguk paham, meskipun sangat disayangkan jika lahan sebagus itu di lepaskan.

"Kita sudah kehilangan beberapa pemasok rampah dan bahan baku. Bisa memenuhi kebutuhan di Jakarta dan Tangerang saja, butuh effort yang luar biasa." katanya mengingat sulitnya mendapatkan bahan baku, khususnya rempah.

"Andaliman tidak bisa diganti dengan merica, rasanya sudah beda. Saya tidak mau makanan di restoran kehilangan rasa autentik hanya demi ekspansi." katanya mengingat sulitnya mencari pemasok andaliman, salah satu rempah khas Batak.

Nusantara Restaurant selalu mengutamakan bahan pokok dan rempah-rempah yang khas dari setiap menu. Itulah salah satu kekuatan bisa tetap berdiri ditengah gempuran makanan kekinian. Dan Nusantara Restaurant tetap hadir dengan ciri khasnya.

Seperti kata pepatah: Setinggi apapun burung terbang, dia tetap kambali ke bumi. Itulah prinsip mama Anita. Orang-orang mungkin akan mencoba makanan kekinian, western, dan lainya. Tapi lidah mereka pasti ingin kembali merasakan makanan kampung halaman.

.....

Jam 20:45. Kunci berputar.

Mama Anita mendorong pintu rumah besar itu. Dingin. Hening. Hanya ada suara jam dinding di ruang tamu yang menyambutnya seperti biasa.

Delapan tahu lalu, tepatnya sejak ia berhasil menekan Savira kuliah kedokteran, rumah besar itu sepi. Seperti museum. Savira memberi syarat jika ia akan tinggal di apartemen setelah resmi menjadi mahasiswa kedokteran.

Mama Anita langsung menyetujuinya. Bukan tanpa alasan. Bukan ia tidak tahu cita-cita putrinya. Bukan ia tidak tahu betapa Savira tertekan hingga mimisan. Tapi ia bersikap seolah buta dan tuli. Ia memasang topeng sebagai ibu yang egois, ambisius, dan kejam.

Mama Anita menghela napas. Berat. Panjang. Kunci pintu ia gantung. Tapi kakinya tidak langsung melangkah, ia diam 10 detik. 20 detik. Menatap kosong kearah gagang pintu, seolah di sana ada jawaban kenapa rumah sebesar ini terasa seperti kuburan.

Akhirnya ia melangkah ke ruang keluarga. Matanya menyapu sofa, karpet, meja kayu. Dan di sana...di sana ia melihat dia lagi.

Savira kecil. Umur 5 tahun. Rambut terurai panjang. Berlari sambil tertawa. Mengejar pesawat kertas buatan mamanya. Suaranya menggema di dinding: "Mamaaaa! Lihat Aira." Tanpa sadar Mama Anita tersenyum, seolah bayangan itu nyata.

Savira Kirana Larasati. Putri kecilnya itu adalah anak yang ceria, sebelum ambisinya merenggut keceriaan itu.

Dulu, setiap mama Anita pulang dari restoran. Savira menyambutnya dengan tawa riang dan sebuah gambar di kertas HVS. "Buat mama yang paling cantik."

Anak sebaik itu, seceria itu. Sampai suatu malam, waktu umur 6 tahun. Dia menanyakan pertanyaan yang polos, seperti anak pada umumnya.

"Mah... Papa kemana? Temen Aira di sekolah, papanya jemput tiap pulang."

Dunia mama Anita berhenti. Pertanyaan itu jujur dan polos, tapi terasa seperti belati yang mencabik-cabik hatinya sampai remuk di tulang dada.

Bibirnya bergetar. Air matanya sudah bersiap jatuh, tapi ia tahan. Ia tidak akan menunjukkan nya di depan Savira.

Mama Anita tersenyum. Senyum indah itu adalah topeng. "Papa... Papa sudah meninggal. Papa kecelakaan di laut, jadi kita tidak bisa melihat kuburannya." Dia mengusap lembut kepala Savira, dengan tangan gemetar.

"Tapi Aira jangan sedih. Kan ada mama, mama akan lakuin semua yang terbaik untuk Aira. Mama yakin kita bisa hidup bahagia, walau tanpa papa. Jadi, Aira jangan tanya tentang papa lagi. Oke?"

Mata bening Savira berkedip beberapa kali, mencoba memahami apa yang dikatakan ibunya. "Bahagia walau tanpa papa." Sampai akhirnya gadis kecil itu mengangguk dengan polosnya.

Sejak malam itu, Savira tidak pernah bertanya tentang papanya. Kata itu benar-benar mati seperti yang dikatakan mama Anita. Dan mama Anita... Menang telak. Tapi kalah paling sakit hingga hari ini.

"Ibu butuh sesuatu?" tanya asisten rumah tangga mengejutkan nya.

"Bik Atun." memekik tertahan. "Kenapa bibi belum tidur?" tanyanya heran. Biasanya wanita tua itu sudah tidur saat mama Anita pulang.

Bi Atun senyum, nunjukin botol kosong. "Bibi mau ambil minum. Tadi lupa isi." katanya.

Mama Anita mengangguk. "Ya sudah, saya ke kamar dulu." katanya, membuka pintu kamarnya yang tidak jauh dari ruang keluarga.

Begitu masuk kamar, matanya tertuju pada sebuah bingkai foto di samping tempat tidur. Ia mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang, tangannya meraih bingkai itu.

Di dalamnya, ada foto Savira dan dirinya. Foto itu di ambil saat Savira berumur 7 tahun. Keduanya tersenyum lebar, dan bahagia. Savira memeluk mamanya, menandakan jika hubungan mereka sangat dekat.

"Putriku." bisik mama Anita mengusap senyum Savira dalam bingkai kaca dengan jempolnya.

Ia merindukan putrinya, senyum ceria dan sifat manja itu kini benar-benar hilang. Hubungan keduanya menjadi dingin, sangat dingin untuk ukuran ibu dan anak yang tadinya sangat dekat dan saling menyayangi.

"Mama rindu, nak. Maafin mama..." suaranya bergetar.

Tidak ada lagi sosok Anita Wulandari yang tegas, mandiri, dan kuat. Hanya seorang ibu yang rapuh, menahan rindu pada putri kesayangannya yang kini semakin jauh.

Jarak antara rumah dan apartemen Savira hanya dua jam, tapi gadis itu tidak lagi pernah pulang. Terakhir Savira pulang saat Bi Atun menghubungi nya, mengatakan jika Mama Anita pingsan dua tahun lalu.

Tapi Savira hanya dirumah 30 menit, dan berpesan pada Bi Atun, untuk membawa mamanya ke rumah sakit, jika pingsan lagi.

Ya, Savira sengaja menjaga jarak dan membangun benteng di antara hubungan ibu dan anak itu. Mama Anita paham jika Savira marah padanya.

Bagaimana manapun, dialah orang yang dengan sengaja mematahkan sayap anaknya yang ingin terbang tinggi. Savira kecil sangat pandai menggambar, gambarnya selalu bagus, selalu juara saat menaiki lomba. Wajar jika cita-citanya ingin menjadi seorang desainer.

Tapi apa yah dilakukan Mama Anita? Bukannya mendukung, tapi malah dengan sengaja mematahkan sayap itu. Memaksanya masuk dunia medis, di mana Savira harus menghitung setiap tetes obat, karena menyangkut nyawa orang lain.

Mama Anita memeluk erat bingkai foto itu di dadanya, seolah memeluk Savira. "Maafkan mama, Nak. Semoga suatu saat kamu mengerti, jika mama terpaksa. Mama tidak punya pilihan selain mendidik mu dengan cara tegas. Meski mama harus menerima kebencian darimu."

*

*

*

*

*

To be continued

1
Oktafiani Azzahra
alur nya bagus banget
Aryati Ningsih
lanjut Thor ..semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!