Aldo pulang merantau dari kota karena mendengar kabar bahwa sebentar lagi Airin akan segera menikah, Kakak kesayangannya itu akan menikah sehingga dia harus segera pulang.
tanpa dia tahu bahwa sesuatu telah terjadi dan Aldo sama sekali tidak mendengar kabar tentang hal itu, bahkan hal yang begitu buruk akan segera menghampiri dia karena kedatangan dia ke desa ini hanya akan mengungkap apa yang telah terjadi kepada Airin yang telah lama menghilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21. suara di atas genteng
Aldo mengambil sepatu dari tangan Bu Hartini karena dia juga ingin melihat apakah itu memang sepatu milik Airin atau bukan, melihat dari inisial itu maka dia juga bergumam pelan bahwa kemungkinan besar ini memang sepatu milik Airin itu sendiri dan kenapa bisa ada di dalam tong sampah di desa ini.
Pertanyaan besar di dalam kepala mereka sehingga Aldo semakin yakin bahwa sesuatu buruk telah menimpa Airin ketika dia akan menghilang itu, namun sampai sekarang tidak ada saksi yang melihat bagaimana kejadian itu berlangsung dan bahkan teman Airin sendiri juga sama sekali tidak mengetahui tentang masalah tersebut di malam yang mengenakan itu.
Semua menutup mulut dan mengatakan bahwa mereka tidak tahu bahwa Airin tidak pulang ke rumah, Fitra sebagai seorang kekasih dia juga tidak bertanggung jawab dan malah mengatakan bahwa Airin pergi bersama dengan pria lain karena tidak ingin menikah dengan dia, jelas itu tidak bisa mereka percayai ucapan dari Fitra.
Sebab mereka semua tahu bahwa cinta Airin
yang begitu besar sehingga tidak mungkin dia dengan mudah berpaling kepada pria lain yang ada di desa tersebut, selama ini sudah banyak pria yang menggoda karena mereka tahu Airin adalah gadis yang cantik dan juga pekerja keras sehingga bila menjadi kekasih maka dia pasti tidak akan pernah merepotkan sama sekali.
Tapi perasaan suka dari orang lain dengan cepat Airin tepis karena cinta dia hanya seorang untuk Fitra, tidak ada pria yang bisa menggantikan sosok Putra di dalam dirinya sehingga mau seburuk dan sebesar apapun pemuda itu maka dia akan tetap menunggu dan akan terus memberikan uang walau Fitra adalah penyabu handal.
"Ini memang sepatu Kakak kan, Bu?" Aldo menoleh menatap Hartini.
"Iya, nomor sepatu itu juga pas dan ada inisial nama di sana." angguk Hartini.
"Maaf ya, bukan saya mau ikut campur atau berbicara sembarangan tapi ini semua seolah mengarah kepada Fitra." Pak RT berkata dengan hati-hati.
"Sejak awal Airin menghilang maka saya sudah curiga namun mau bagaimana lagi karena tidak ada bukti yang kuat untuk mengarah ke sana." Bu Hartini berkata dengan pelan.
"Astaga, pria itu memang tidak baik karena tidak ada pria yang baik menggunakan barang haram seperti itu." Aldo semakin emosi.
"Andai ada sedikit saja bukti yang bisa untuk mengungkap maka pasti masalah ini akan segera selesai." Pak RT berkata sambil menarik nafas panjang.
"Sabar saja dulu, Aku ada di rumah ini sehingga aku yakin pasti bisa untuk mengungkap masalah yang telah terjadi." Aldo percaya diri untuk mengungkap kematian Airin.
Entah mati atau tidak namun yang jelas Airin yang telah tidak ada lagi di desa ini dan mereka semua menjadi bingung, Pak RT sebenarnya ingin mengatakan tentang arwah gentayangan yang ada di kebun sawit itu Karena dia sudah curiga bahwa itu adalah arwah Airin yang ingin meminta keadilan kepada mereka semua.
Namun sekali lagi ketika melihat wajah sedih Bu Hartini maka dia menjadi tutup mulut dan tidak berani membuka suara, nanti yang ada wanita setengah baya itu akan semakin sedih dan beranggapan bahwa Airin memang meninggal dengan sangat tragis sehingga arwah dia gentayangan ke sana kemari meminta pertolongan dari semua orang.
"Malam itu sebenarnya Aku sudah melarang dia untuk pergi dari rumah, tapi Airin mana bisa ditahan kalau Fitra yang mengajak dia pergi." ujar Bu Hartini.
"Airin ini juga kenapa bisa secinta itu dengan Fitra? apa yang dia lihat dari pemuda berandalan itu." Pak RT saja sampai bingung.
"Siapa teman-teman Kak Airin yang ada di desa ini, Bu?" Aldo ingin menyelidiki lebih jauh.
Bu Hartini segera mengatakan nama para teman Airin yang ada di desa ini dan mereka memang sering pergi bersama, Senina adalah teman yang paling dekat karena mereka selalu ke sana kemari berdua dan sering curhat satu sama lain di dalam rumah ini juga.
Namun Senina sekarang sudah meninggal dunia dan tidak mungkin bisa Aldo bertanya kepada gadis itu tentang apa yang telah terjadi, kemarin mereka sempat bertemu dan Aldo tidak bertanya banyak karena dia kurang nyaman bila berdampingan dengan gadis yang terlihat menyukai dirinya seperti itu.
Blaaaaaap.
"Aduh malah mati lampu, Ya sudah kalau begitu saya pamit dulu ya karena ini Ibu pasti takut dia sendirian di rumah." Pak RT segera menyambar kunci motor.
"Ya terima kasih banyak karena sudah mengantar sepatu milik Airin ya, Pak." ujar Bu Hartini.
"Sama sama, Aldo kalau butuh bantuan atau perlu apa saja silakan datang ke rumah saya." Pak RT berkata dengan sangat baik.
"Iya, Pak." Aldo juga sampai membungkuk karena dia senang dengan perhatian Pak RT.
Motor ketua RT ini segera meluncur pergi karena dia mencemaskan istri yang ada di rumah bila mati lampu seperti ini, terlebih lagi Pak RT juga kepikiran dengan sosok tak kasat mata yang sempat dia lihat ketika sedang duduk bersama dengan sang istri di teras rumah.
"Kenapa kok mendadak saja mati lampu seperti ini ya?" Bu Hartini menatap dengan seksama.
"Apa ini?!" Aldo mendadak saja merinding karena seperti ada seseorang yang berdiri di belakang dia sekarang.
"Ayo tidur dulu karena sekarang sudah malam." Bu Hartini tanpa menoleh masuk ke dalam kamar karena dia kembali menangis sedih.
"Tidak ada orang." Aldo juga tidak fokus dan malah menoleh untuk memastikan yang ada di belakang dia.
Kreteeeeek.
Kreteeeeek.
"Siapa yang memanjat di atas atap itu?" Aldo mendongak ke atas karena genteng rumah mereka berbunyi dengan begitu seram.
Maka tanpa pikir panjang pemuda ini segera keluar dari dalam rumah untuk memastikan siapa yang sedang berisik di atas atap tersebut, meski keadaan begitu gelap namun tetap saja dia berusaha untuk memberanikan diri karena penasaran siapa yang sudah memanjat atap rumah milik mereka.
"Siapa yang ada di atas sana?!" Aldo berteriak untuk memanggil orang tersebut.
Wuuuuusshh.
Wuuuusshh.
"Kak, apa itu memang dirimu yang datang untuk meminta pertolongan dari diriku?" Aldo bergumam pelan karena merasakan hembusan angin.
"Bila memang itu dirimu maka tolong bimbing aku mencari jalan untuk menemukan siapa yang sudah membunuh dirimu." sambung Aldo kembali.
Sebab Aldo merasakan sudah beberapa kali merasakan kedatangan dari Airin itu sendiri, mungkin saja gadis itu memang ingin meminta pertolongan karena dia telah menjadi arwah gentayangan seperti ini dan bila Aldo berhasil maka kematian Airin bisa terungkap dengan sangat jelas, siapa yang sudah membunuh dan tega melakukan hal itu terhadap Airin.
Selamat pagi, jangan lupa like dan komentar kalian semua ya. untuk dendam Anisa nanti dulu, kalau mood sudah bagus nanti author akan lanjutkan kembali.
GK JD member kah