NovelToon NovelToon
Calon Suamiku, Pak Perwira!

Calon Suamiku, Pak Perwira!

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Menikahi tentara
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: AnaDww

Slowburn—Romansa Komedi


Naira tidak pernah membayangkan dirinya akan dijodohkan.

Apalagi dengan Arka— seorang perwira muda pendiam yang baru dikenalnya beberapa jam, tetapi sudah membuat jantungnya gugup setiap kali lelaki itu menatap.

Sementara Arka sendiri tidak pernah pandai berbicara manis.

Ia hanya hadir dengan sikap tenang, perhatian sederhana, dan kebiasaan selalu datang tepat waktu.

Di antara suara radio tua, hujan sore, dan telepon wartel yang sering terputus, hubungan mereka tumbuh perlahan.

Canggung. Pelan. Tapi diam-diam menghangatkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaDww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 10

...~Sop, Pindang dan Sambal~...

Naira baru saja membuka pintu kamar mandi dengan tubuh yang jauh lebih segar. Ia telah berganti pakaian dengan seragam batik merahnya.

Aroma hangat tumisan bawang putih samar tercium dari arah dapur.

Ia menoleh ke sana. Ibunya—wanita dengan daster merah muda bercorak bunga—tengah asyik memasak.

Panci yang tadi digunakan untuk menumis bawang kini ditambahi air. Senandung lagu lawas dilantunkan perlahan. Jendela dapur dan pintu dibuka lebih lebar. Seekor anak kucing menanti di depan pintu.

"Ibu masak apa?" tanya Naira mendekat ke arah ibunya. Ia menyapu pandangannya pada area dipan.

"Masak sop sama goreng pindang."

Gadis itu melihat ke arah kucing yang mendekat, lalu melingkar di area kakinya.

"Ibu bikin kucing-kucing laper di waktu pagi."

"Ibu udah kasih jatah ya sama mereka sebelum masak."

Naira terkekeh pelan, lalu mengusir halus kucing ke arah luar pintu dapur dan menutup bagian bawah dari pintu belah.

"Ibu gak bikin sambel?" Naira kembali bertanya ketika pandangannya jatuh pada cobek yang masih telungkup, tapi pindang telah siap di dalam wadah enamel bercorak bunga yang tertutup setengah.

"Gak. Kan Mas Arka gak suka sambal."

Naira membulatkan matanya. "Tapi kan aku suka sambel."

"Kamu bikin sendiri aja ya."

Naira mencebikkan bibirnya. Gadis itu segera mengambil bawang dan cabai rawit di rak bumbu dekat kompor tungku minyak, lalu mengupas beberapa darinya.

"Kok Mas Arka belum dateng ya?" tanya ibunya dengan gelisah.

Naira menengok ke arah jam dinding di atas pintu dapur. "Ini masih jam setengah enam, Bu."

"Loh, emang kamu bilang jam berapa?" Ibunya mulai mengernyit, menunjuk dengan sendok sopnya. "Jangan bilang mepet jam berangkat ya. Kasihan nanti gak sarapan."

Naira menggeleng pelan. "Nggak. Aku suruh datang jam enam."

Cabai dan bawang di tangan Naira telah selesai dikupas. Ia mencucinya di wastafel dekat jendela dapur. "Ibu aja terlalu semangat."

"Gimana gak semangat?" Ibunya tampak tersenyum dengan lebar. "Mas Arka mau anterin kamu."

Wanita paruh baya itu menyenggolkan pinggangnya ke pinggang Naira. Senyum genitnya terlalu kentara, sedangkan Naira malah melongo melihat euforia ibunya.

"Jadi kamu minta dianterin?"

Naira menggeleng pelan. "Dia yang nawarin."

Ibunya semakin melebarkan senyum. "Ini namanya dia mau pe-de-ka-te."

"Ih, nggak ya, Bu."

Naira segera melangkah ke sisi lain, ke tempat di mana cobek tadi berada, lalu mulai menghaluskan bawang dan cabai rawit.

Beberapa menit kemudian, dapur hanya berisi senandung kecil ibunya dan suara cobek yang bergemuruh.

Kepulan uap dari panci sop terlihat kian jelas. Ibunya baru memasukkan sayurannya ketika suara deru motor terdengar berhenti tepat di depan rumah.

"Itu udah datang," ucap ibunya sambil melihat jam dinding. "Masih kurang sepuluh menit, buatin teh sana."

Ibu Naira bergegas ke luar ruangan untuk menyambut Arka.

"Mas Arka cepat banget datangnya."

"Maaf, Bu. Datang lebih cepat."

Naira mengintip dari pintu dapur. Arka baru saja dipersilakan untuk duduk. Ia mencuci tangannya sendiri sebelum membuatkan teh panas untuk Arka.

Gadis itu baru saja menuang seduhan teh kental ketika ibunya mengobrol dengan suara agak keras dari ruang tamu.

"Maaf kalau Naira merepotkan ya, Mas."

"Nggak kok, Bu. Saya yang nawarin Naira."

"Ya ampun, Mas Arka ini baik banget."

Naira merasa wajahnya memanas. Setelah teh itu berhasil dibuat, ia segera membawanya ke ruang tengah.

Arka ada di sana, tengah duduk di salah satu kursi anyaman rotan dengan ibunya duduk di seberang. Hari ini, pria itu memakai kaos hitam dengan paduan jaket kulit gelap serta celana jeans. Rambutnya yang cepak di sisi tampak cukup rapi.

Semakin dekat, Naira mencium aroma minyak pomade dan wangi tubuh yang harum. Berbeda dengan Arka beberapa hari lalu yang ditemuinya dengan kaos oblong dan keringat di mana-mana. Menurut Naira, Arka cukup menawan hari ini.

Naira buru-buru meletakkan cangkir teh ke meja, namun karena gerakannya yang gugup, teh itu sedikit tumpah ke tangannya.

"Hati-hati," ucap Arka melihat tangan Naira terciprat sedikit air panas.

Gadis itu melihat sesaat ke tangannya. "Gak apa-apa kok, Mas. Ini diminum."

Arka tersenyum sopan sambil mengambil cangkir teh tersebut. Naira memilih duduk di sebelah ibunya, sedangkan ibunya asyik tersenyum melihat Arka.

"Mas Arka udah sarapan?" tanya ibu Naira pelan.

"Belum, Bu..." Pria itu melihat jam dinding kayu berukir di sisi tembok depannya. "Tadi gak lihat jam, ternyata masih jam enam kurang," suaranya agak pelan.

Naira melihat sekilas ke pria itu. Bahkan tangan Arka sedikit gemetar seolah kedinginan. Dan terlihat jam tangan gelap di pergelangan kanan yang tertutup jaket.

"Kalau begitu sarapan di sini saja ya?"

"Nanti merepotkan, Bu."

"Nggak. Ibu sengaja masak pagi karena dengar kamu mau kesini biar Naira gak kesiangan."

Arka melirik ke arah Naira, rona wajah gadis itu sedikit memerah.

"Nai, siapin meja makan sana."

"Iya, Bu."

Naira segera melenggang ke arah dapur. Napasnya naik turun dengan tak tenang ketika sampai di dapur. Ia sempat menoleh ke arah ruang tengah dimana Arka dan ibu Naira sibuk bercengkerama.

Gadis itu segera merapikan meja makan kecil di sisi dekat pintu dapur. Meletakkan piring-piring enamel, menuang sop ke dalam baskom, dan menaruh ikan pindang serta sambal buatannya di sisi lain.

"Mari, Mas, kita sarapan," ucapnya di ambang pintu dapur setelah semua dirasa siap.

Naira memilih duduk di salah satu kursi. Dan sialnya, Arka memilih duduk di hadapannya. Kaki Naira yang sedikit diselonjorkan ditendang kecil oleh lutut Arka. Bahkan, pria itu tampak berhenti menatap Naira.

"Maaf," gumam Arka pelan.

"Gak apa-apa kok."

Ibu Naira yang memperhatikan sedikit tersenyum.

"Ayo Mas, dimakan." Ibu Naira sudah lebih dulu mempersilakan dan mengambil piring Arka.

"Mau nasinya berapa banyak? Segini cukup?" tanya ibunya sambil mencentong nasi hangat.

Arka segera menganggukkan kepalanya.

Lalu dilanjutkan gerakan ibunya menambahkan dua siur sendok sayur sop dan satu pindang goreng yang garing.

"Ini ya, Mas."

Naira yang memperhatikan gerak ibunya cukup terheran sesaat.

"Boleh minta sedikit sambalnya?" tanya Arka pelan.

Ibu Naira menatapnya dengan kernyitan halus. Naira juga meliriknya sesaat.

"Oh, boleh. Kebetulan sambal ini buatan Naira."

Ibu Naira mendekatkan sambal tersebut ke arah Arka. Dan pria itu mengambilnya seujung sendok, lalu mencampurkannya ke dalam piring.

Beberapa menit berlalu, uap sop hangat menyebar di meja makan. Tanpa obrolan seperti beberapa hari lalu, dentingan alat makan terdengar nyaring dan bersahutan.

Sesekali Naira melirik dari balik bulu matanya ke arah depan. Arka duduk di sana dengan wajah memerah, bahkan telinganya juga. Samar, ia mencium aroma sop yang bercampur minyak pomade Arka. Bibir tipis pria itu sesekali menahan rasa pedasnya, tapi tak terdengar suaranya.

Naira tersenyum tipis menyaksikan hal itu. Arka adalah orang sok kuat yang mencoba berani.

"Mas Arka butuh air?" Kali ini bukan ibunya yang menawarkan, tapi Naira sendiri yang sudah tak betah menahan tawa melihat wajah Arka yang memerah.

Pria itu buru-buru menganggukkan kepala.

Naira menuangkan air putih dari teko ke gelas kaca belimbing, memberikannya ke arah Arka. Dan pria itu segera meminumnya.

Senyum tipis Naira kian kentara, sedangkan ibunya yang duduk di sebelahnya menyaksikan semua dengan senyum dan alis yang naik-turun.

Naira buru-buru menundukkan kepalanya ketika menyadari mata Arka tengah mengintip di balik gelas belimbing. Rona wajahnya sedikit memerah.

Sialnya, desir di dada yang tak nyaman kian terasa.

...----------------...

1
Ana Dww
Ini adalah karya bergenre Romansa Komedi yang pertama aku buat.

Semoga cerita ini bisa dibaca dengan ringan, canda, dan tawa kepada kalian. Terimakasih atas dukungannya. ❣️

Salam hangat juga dari Arka—Naira, mereka selalu menunggumu membaca cerita mereka.
MayAyunda
keren👍👍
NonaAns
Salting niye 🤭 gemes bgt
NonaAns
Arkanya modus ah wkwkwkw
Ana Dww: Aduuhh, ketahuan dehhh
total 1 replies
Rian Moontero
mampiiirrr👍👍😍
Ana Dww: Terimakasih kak ❣️❣️❣️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!